"Oooeeee ... oooeeee ..." nyaring terdengar suara tangisan bayi di sebuah bilik kecil milik sepasang suami istri bernama Ira dan Bowo. Suara isak tangis haru terdengar keluar dari bibir keduanya. Bagaimana tidak, telah lama keduanya menanti kehadiran buah hati di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Sudah hampir delapan tahun mereka menikah, namun ciri-ciri Ira akan mengandung tak kunjung datang. Hingga pada tahun ke sembilan tanpa sepengetahuan suaminya, Bowo, Ira mengikuti saran seorang nenek tua yang tak sengaja ia temui saat mencuci pakaian di sungai untuk berendam di tengah sungai tak jauh dari tempat Ira mencuci saat itu. Entah dari mana datangnya asal mula nenek tersebut. Tiba-tiba saja ia datang saat Ira sedang duduk termenung memikirkan kesedihannya yang tak kunjung memiliki anak.
"Mengapa kamu terus melamun seperti itu, cu? suara nenek itu mengejutkan Ira yang sedang duduk termenung seorang diri di sebuah batu di tepi sungai.
"Ah, nek. Tidak apa-apa, nek. Nenek mau kemana?" sapa Ira ramah sambil berdiri membantu sang nenek yang kepayahan saat berjalan.
"Nenek mau pulang. Untuk apa kamu merenung seperti itu?" tanya nenek itu kembali. Wajah Ira nampak sendu, namun tak ingin kesedihannya diketahui oleh siapapun termasuk nenek itu yang baru saja ia temui.
"Tidak apa-apa, nek. Saya hanya lelah." jawab Ira dengan tersenyum. Sang nenek pun duduk bersebelahan dengan Ira.
"Nenek tahu kalau kamu sedih karena belum memiliki anak bukan?" pertanyaan nenek membuat Ira terperanjat. Bagaimana sang nenek tahu sedangkan Ira belum menceritakan apa yang ia rasakan.
"Ah, nenek. Apa yang nenek bicarakan?" Ira pura-pura tak mengerti. Bukan apa-apa, sungguh ia tak ingin berbagi kesedihan dengan orang lain.
"Nenek tahu kesedihanmu, cu. Kalau cucu bersedia, nenek akan membantumu supaya segera memiliki anak." ucap sang nenek membuat mata Ira berbinar. Ada secercah harapan disana. Namun apa mungkin seorang manusia biasa bisa mengabulkan permintaannya yang menurut Ira mustahil.
"Kamu tidak percaya sama nenek?" tanya nenek membuyarkan lamunan Ira. Ira tersenyum.
"Apa benar nenek bisa membantuku?" tanya Ira ragu-ragu.
"Tentu saja. Tapi setelah itu, akan ada timbal balik yang akan kamu berikan sebagai gantinya." ucap sang nenek dengan mimik raut serius.
"Maksud nenek apa saya harus memberikan tumbal? Saya tidak mau, nek. Saya takut." ucap Ira sedikit beringsut.
"Hihihihi ... bukan begitu. Bukan tumbal yang harus kamu berikan sebagai gantinya." jawab sang nenek tertawa terkikih.
"Lantas, apa yang harus saya berikan sebagai gantinya?" tanya Ira tak mengerti.
"Kamu juga akan mengandung benih dari siluman ular yang akan memberikanmu keturunan." jawaban sang nenek membuat nyali Ira menciut. Syarat apa-apaan yang harus ia terima hanya karena ingin memiliki seorang anak. Bagaimana mungkin ia mengandung anak ular. Lantas apa yang akan dikatakan suaminya kalau tahu ia melahirkan anak ular. Ira bimbang, entah keputusan apa yang akan di ambil.
"Tak perlu takut. Anak itu tidak akan kamu rawat sendiri. Ia akan di ambil oleh keluarganya. Kamu hanya akan di jadikan tempat titipan saja." jawab sang nenek.
"Lalu bagaimana dengan saya?" Ira semakin tak mengerti dibuatnya.
"Kamu tetap akan merawat anakmu sendiri." sang nenek menjawab dengan tatapan tajam dan senyum menyeringai.
"Ira ... Ira ..." terdengar sayup-sayup suara Bowo suami Ira memanggil. Rupanya hari sudah hampir petang. Pantas saja suaminya menyusulnya ke sungai.
"Ira, kamu kenapa melamun sendirian disini?" tanya Bowo pada istrinya yang sedang duduk termenung sendirian duduk di atas sebuah batu.
"Anu, mas. Ira ... " ia tak melanjutkan kata-katanya saat ingin mengenalkan sang nenek pada suaminya namun sang nenek sudah menghilang entah kemana. Matanya mencari kesana kemari sosok nenek tersebut. Tidak mungkin si nenek pergi begitu cepat, sedangkan untuk berjalan pun tadi harus di papah olehnya.
"Apa yang kamu cari?" tanya Bowo melihat istrinya nampak kebingungan.
"Ah enggak apa-apa, mas. Yasudah, ayo kita pulang." Ira pun bangkit dari tempatnya duduk dibantu oleh Bowo suaminya. Di jinjingnya keranjang berisi cucian.
"Sini, biar aku yang bawa." pinta Bowo pada Ira. Sungguh ia tak tega melihat Ira terlalu lelah, ia berharap dengan menjaga istrinya tetap sehat akan membuat mereka segera diberikan kepercayaan oleh sang kuasa. Hanya saja Bowo tak ingin mengungkapkannya di depan Ira istrinya, karena ia tak ingin membuat istrinya merasa sedih dan terbebani.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Mas ... " panggil Ira pada suaminya yang sedang menyeruput kopi panas yang dihidangkannya bersama ubi goreng.
"Hhhmmm ... " jawab Bowo singkat.
"Apa mungkin aku bisa hamil? Sedangkan sudah selama ini kita bersabar tak kunjung diberikan anak juga oleh sang kuasa." ucap Ira sambil menunduk sedih.
"Sabar. Mas juga pengen punya anak. Tapi kehendak yang kuasa kita belum diberi kepercayaan, jadi sebisa mungkin kita harus lebih berusaha." ucap Bowo berusaha menenangkan istrinya yang gundah gulana.
Malam ini Ira tak dapat memejamkan mata. Ucapan sang nenek tua yang tadi ia temui di pinggir sungai selalu terngiang-ngiang di telinganya. Diliriknya sang suami yang sudah terlelap. Dipandangnya wajah suaminya itu. Nampak wajah lelah dan kesedihan disana. Ira tahu, kalau sebenarnya suaminya juga sangat menginginkan hadirnya sang buah hati di dalam keluarga mereka. Ira pun bertekad untuk menemui sang nenek lagi esok hari. Ira sudah meyakinkan diri untuk menyanggupi syarat yang diberikan yang penting ia bisa hamil dan memiliki anak.
~~~~~~~~~~~
Sore itu Ira berpamitan kepada suaminya untuk mencuci di sungai. Walaupun baju kotor masih sedikit, Ira beralasan karena tak ingin terlalu lelah kalau harus menunggu baju kotornya terkumpul banyak. Tentu saja Ira tak mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Bowo. Sang suami pun mengijinkannya.
Sesampainya di sungai Ira mencari sosok nenek yang ia temui kemarin sore. Mata Ira kesana kemari mencari tahu keberadaan sang nenek, namun nihil hasilnya. Raut wajah Ira berubah sendu saat tahu harapannya hanya tinggal harapan, nenek yang menawarkan bantuan kepadanya kemarin datang menemuinya. Ira pun segera menyelesaikan cuciannya.
"Kamu sudah memikirkannya, cu?" tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Ira yang akan beranjak pulang.
"Nenek." panggil Ira sumringah. Ia merasa harapannya muncul lagi. Sang nenek yang ia cari akhirnya muncul juga.
"Bagaimana dengan tawaran nenek?" tanya nenek itu dengan tersenyum aneh. Namun tak Ira hiraukan, karena yang ada di dalam pikirannya ia ingin segera hamil dan memiliki anak.
"Eeemmmm ... " Ira mengangguk mantab.
"Nanti malam kamu harus kemari. Berendamlah di tengah sungai itu." ucap sang nenek sambil menunjuk ke arah tengah sungai.
"Mengapa harus tengah malam, nek?" tanya Ira takut.
"Kamu tak perlu takut. Nanti nenek akan menemui mu disini." ucap sang nenek. Karena tekadnya yang sudah bulat, Ira pun setuju. Dengan hati riang ia pun berjalan pulang menuju rumahnya. Kini Ira hanya mencari cara bagaimana dia bisa ke sungai tengah malam nanti tanpa di ketahui oleh suaminya.
"Mas, tidur yuk. Aku ngantuk." ajak Ira pada suaminya.
"Ayuk, lagian memang sudah jam sepuluh malam." jawab suaminya.
Bowo sebenarnya menginginkan sesuatu dari istrinya. Namun dengan beralasan mengantuk dan lelah, akhirnya Bowo mengalah. Ia pun menyusul istrinya yang sudah terlelap. Pura-pura tidur yang sebenarnya Ira lakukan. Ia berniat akan keluar setelah suaminya tertidur pulas. Sesuai rencana, Bowo pun tertidur dengan nyenyak karena rasa lelah yang melanda setelah seharian bekerja di ladang. Dengan mengendap-endap Ira pun keluar dari rumah dan pergi menuju sungai. Ia berjalan dengan sangat hati-hati supaya suaminya tidak terbangun dan tidak di ketahui oleh tetangga. Setelah melihat sekitar dan dirasa aman, Ira melanjutkan perjalanan ke arah sungai. Di sana nampak sang nenek sudah menunggu.
"Gantilah bajumu dengan kain jarik ini." perintah sang nenek. Tanpa membantah Ira pun melakukannya. Ia melepaskan semua pakaiannya dan mengganti dengan kain jarik yang nenek itu berikan. Hawa dingin yang menusuk tulang tak ia hiraukan. Ia hanya ingin segera mengabulkan permintaan suaminya, yaitu memiliki anak.
"Mari aku antar kau ke tengah." ajak sang nenek sembari menggandeng tangan Ira. Setelah menceburkan diri ke sungai, sang nenek pun melepaskan pegangannya pada tangan Ira.
"Berjalanlah perlahan ketengah. Jangan bersuara ataupun berteriak. Hiraukan apapun yang mendekat dan kau rasakan." pesan sang nenek pada Ira yang di jawab dengan anggukan perlahan. Ira pun berjalan ketengah sungai dan memejamkan mata seolah sedang bertapa.
"Oohhh ... " Ira merasakan sesuatu menjalar di kakinya. Ia merasakan sesuatu merayap dan menyusup ke daerah bawahnya. Ira ingin berteriak karena kaget dan takut, karena ia merasakan ada sesuatu yang merayap dan masuk ke organ vitalnya. Namun karena pesan sang nenek, ia menahan rasa takut dan nyeri yang ia rasakan. Ira terdiam dan terus melakukan pertapaannya. Sunyi, sepi, hanya suara binatang malam yang Ira rasakan. Kini sesuatu yang merayap sudah menghilang dan Ira merasakan bahwa ada sesuatu yang bersemayam di dalam perutnya.
"Naiklah, sudah mau pagi. Sudah cukup ritualmu." ucap sang nenek. Ira segera menepi mendekat kepada sang nenek.
"Ganti lagi pakaianmu, dan ajaklah suamimu untuk melakukannya." ucap sang nenek.
"Tapi, nek. Tadi ada sesuatu yang merayap dan masuk kedalam sana. Apa tidak apa-apa kalau Mas Bowo melakukannya denganku?" tanya Ira takut.
"Tidak apa-apa. Dia nanti yang akan tinggal di rahimmu. Dia yang di titipkan untuk kamu kandung, dan dia juga yang nanti akan di ambil oleh pemiliknya kembali. Ia hanya akan menemani calon bayimu di dalam sana. Dia akan menjadi saudara anakmu kelak." ucap sang nenek. Ira pun mengangguk tanda mengerti. Ia pun segera beranjak pulang. Ia tak mau suaminya kebingungan jika tak mendapati dirinya di sampingnya. Untung berpihak padanya, suaminya masih terlelap. Perlahan Ira membuka pintu kamar.
"Kamu dari mana, dik?" tanya suaminya yang tiba-tiba terbangun mendengar suara pintu kamar dibuka.
"Ira dari kamar mandi, mas." jawab Ira mesra. Ia pun melancarkan aksinya seperti yang sang nenek perintahkan.
~~~~~~~~~~~~~
"Mas, Ira telat datang bulan." ucap Ira pada suaminya pada suatu pagi. Sudah satu bulan lebih sejak kejadian di sungai Ira merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah Mak Enok." jawab suaminya dengan wajah cerah dan bersinar. Ada harapan terpancar diwajahnya. Mak Enok adalah dukun bayi di kampung Bowo. Ia terkenal telaten dan teliti saat menangani kehamilan dan bayi.
"Istrimu lagi hamil, mas. Dijaga kandungannya." ucap Mak Enok membuat Bowo berbahagia. Kabar kehamilan Ira tersebar ke seluruh penjuru desa. Rasa bahagia akhirnya menyelimuti pasangan tersebut.
Hari semakin hari kandungan Ira semakin besar. Bowo dengan telaten dan sabar merawat Ira yang mudah lelah dan mengeluh sakit pinggang. Demi buah hati yang selama ini mereka idamkan, Bowo tak pernah mengeluh meskipun dia sendiri juga lelah karena seharian bekerja di ladang. Ira pun juga selalu menjaga kehamilannya. Ia selalu makan makanan bergizi dan banyak beristirahat.
Hingga tiba saatnya ia melahirkan. Mak Enok sore itu sudah di jemput Bowo ke rumahnya. Dengan telaten Mak Enok mengurus proses kelahiran anak Ira. Mak Enok karena seorang dukun bayi terkenal, ia merasakan sedikit keanehan pada kehamilan Ira. Ia mengetahui kalau janin Ira ada dua, namun anehnya saat dilahirkan hanya satu. tentu saja kejadian itu sering terjadi di kampung tersebut. Jadi tidak mengherankan bagi Mak Enok.
"Ya Tuhan ... " seketika Mak Enok terkejut saat melihat bayi ular keluar dari jalan lahir Ira. Namun karena tak ingin membuat Ira dan Bowo khawatir, ia segera menutupi kejadiannya dan membiarkan bayi ular itu keluar dan bersembunyi.
"Coba kamu kubur ari-ari anakmu, nak Bowo." perintah Mak Enok pada Bowo dan menyerahkan ari-ari untuk Bowo cuci dan di kuburkan. Disaat itulah Mak Enok menanyakan kejadian tersebut pada Ira.
"Apa kamu mendapatkan anak ini dari siluman ular?" tanya Mak Enok perlahan, takut Bowo mendengar. Ira terperanjat mendengar ucapan Mak Enok. Bagaimana Mak Enok tahu ? sedangkan selama ini ia telah merahasiakan semua itu dari siapapun.
"Mak tau dari mana?" tanya Ira.
"Ini, dia lahir darimu." ucap Mak Enok sambil menunjukkan seekor ular kecil di tangannya. Wajah Ira memucat, tentu saja ia takut bukan karena rahasianya di ketahui oleh orang lain. Namun ia takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Ibu, aku anakmu juga. Aku saudara kembar adikku itu. Aku akan sering berkunjung untuk menemuinya. Sekarang aku akan kembali ke sungai. Sering-seringlah menemuiku, ibu." tiba-tiba ular kecil tersebut berubah menjadi seorang anak laki-laki kecil dengan sisik di tubuhnya. Ira tak mampu menjawab, ia hanya termenung melihat ular itu berubah dan berbicara hingga ia pergi menghilang di balik pintu.
Hingga sekarang sudah sepuluh tahun usia anak Ira dan Bowo yang mereka rawat dan berjenis kelamin perempuan itu, saudara kembar putrinya sering datang menemui adiknya dan mengajaknya bermain. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bowo suaminya. Rani anak Ira dan Bowo sering menceritakan tentang Romy saudaranya pada ayahnya. Namun ayahnya hanya menganggap kalau Rani berhalusinasi dan Romy adalah teman khayalannya.