Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil...
Benarkah?
Aku Hamil?
Bagaimana kalau benar?
Apa yang harus aku lakukan?
Entah sudah berapa lama aku duduk di pos ronda ini. Tubuhku rasanya lemas memikirkan kemungkinan bahwa aku hamil, dan sialnya yang "menghamiliku" sedang ada di pelaminan sekarang.
Aku dan 4 orang teman lainnya menghadiri pernikahan mantan pacarku. Dia teman kita juga sebenarnya, teman satu SMA. Kami membicarakan tentang banyak hal awalnya, hingga pembicaraan beralih ke topik hamil muda. salah satu temanku sedang hamil muda sekarang. Dia menceritakan tentang perubahan tubuhnya yang lebih mudah lelah, mudah lapar, dan tidak terlalu suka dengan bau parfum.
Dalam hatiku membenarkan semua gejala itu, aku jadi lebih mudah lelah sekarang. yang biasanya bisa mengambil lembur saat bekerja di pabrik, sudah dua mingguan aku tak pernah mengambil lembur. Aku yang biasanya tak terlalu suka camilan, jadi memiliki banyak stok di lemari kamar.
Aku hanya menjawab tadi sudah makan saat teman teman mengajak mengambil makanan. selera makanku hilang. Dalam pikiranku penuh dengan kebodohan yang bulan lalu aku lakukan dengan mantan pacarku.
Bulan lalu saat tahu bahwa dia minggu depan akan melamar seorang gadis dari desa sebelah, membuat amarahku memuncak. Aku mendatangi rumahnya yang memang dekat dari rumahku, kita tinggal di satu dusun. Dia di ujung selatan saya diujung utara. Aku melampiaskan amarahku kepadanya.
Bukankah kita masih pacaran?
Kenapa kamu menerima perjodohan itu?
Katanya dulu ingin memperjuangkan restu dari bapak dan ibuknya?
kenapa aku harus tahu dari tetangga bahwa kamu akan melamar gadis lain? padahal orang kampung tahu kalau kita dekat.
Dia hanya menjawab bahwa ia tak ingin menjadi anak durhaka, hanya ingin mengikuti permintaan orangtuanya. Tapi aku tak percaya, aku yakin bahwa dia menyukai gadis itu, dia pasti cantik. Gadis itu pasti sesuai dengan gadis impiannya. Aku semakin marah
Saat amarahku tak terkendali, dia memelukku yang sudah menangis sesenggukan saat itu. awalnya hanya pelukan erat, lalu usapan pelan dipunggung, dan entah bagaimana kami melakukannya. hubungan terlarang itu. Aku menyadari perbuatan laknat itu saat rasa sakit akibat senjatanya yang mendobrak mahkotaku terasa.
Aku menangis sesenggukan lagi setelah menyadari apa yang telah kami lakukan. Saat aku meminta pertanggung jawabannya ia memohon kepadaku untuk merahasiakan ini.
"aku bisa digantung ayahku, besok keluargaku akan melamarnya, waktu pernikahannya sudah ditentukan bulan depan. kita hanya akan malu nantinya. "
"Bagaimana denganku? " Saat kutanya begitu, jawabannya benar benar membuatku speechless
"Kita rahasiakan saja, kalau kita diam, tak akan ada yang tahu. ya? Orangtuamu juga tidak akan malu. bagaimana nanti kalau kita menjadi pergunjingan tetangga. "
"Kamu tidak mau bertanggungjawab? kamu mau aku diam saja? "
"kamu juga menikmatinya tadi. Kamu tidak menolak sama sekali. andai kamu menolak pun aku tak akan meneruskan. jadi aku mohon kita rahasiakan saja ya? "
"B*JINGAN"
Aku langsung meninggalkannya setelah mengatakan itu. Sesampainya dirumah baru ku tumpahkan lagi air mataku. Untungnya dirumah sedang sepi, musim panen dan tanam jadi orangtua sedang sibuk. Aku memaki maki dirinya dalam hati, mengatainya bajingan, otak mesum, tak bertanggungjawab, dan lain sebagainya. Seminggu lamanya aku hanya berangkat kerja, pulang dan mengurung diri dikamar. orangtuaku masih sibuk dengan musim tanam jadi mereka tak menyadari perubahanku. Setelah berpikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk diam, dan berusaha melupakan semuanya. Benar kata orang jika dua insan berduaan di tempat yang sepi, yang ketiga adalah setan.
Setelah cukup lama berusaha melupakan kenyataan bahwa aku sudah tidak perawan lagi, kenyataan bahwa mungkin sekarang aku sedang hamil membuatku syok. Aku masih memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang, dan belum mendapatkan jawabannya. Akirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku sudah tidak peduli lagi jika teman teman nantinya akan mengolok olok bahwa aku belum move on dan kabur dari pesta pernikahan mantan pacar. Aku sudah tidak peduli.
Dua garis. Aku benar benar hamil. Sekarang aku harus bagaimana? Aku bingung. Tak mungkin aku mengaborsi dia, cukup bagiku zina tidak mungkin aku menjadi seorang pembunuh juga. Tapi bagaimana dengan keluargaku? mereka akan malu menjadi bahan gunjingan satu kampung. Dan sepertinya mentalku juga tak akan kuat.
Meminta pertanggungjawaban dia? Tidak mungkin. Dia pasti sedang bahagia, dan aku tak mau menjadi istri kedua. Istrinya cantik, kalem, tidak pecicilan sepertiku, dan rumor mengatakan bahwa keluarganya kaya. Aku semakin yakin bahwa dia menyukai istrinya.
Setelah beberapa hari berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Akhir minggu ini, setelah mendapatkan gaji aku akan mengundurkan diri dan pergi dari rumah tanpa pamit. Bapak dan ibu terbilang masih muda, masih diawal 40 tahun. Adikku satu satunya tahun depan lulus SMA, kita hanya berjarak 1 tahun 2 bulan. Kemungkinan mereka akan baik baik saja bila ku tinggalkan.
Pagi ini aku akan menjalankan rencana yang telah ku susun dengan matang. Hari minggu bapak dan ibuk di sawah, adikku pergi dengan temannya. Aku berangkat menggunakan motor yang sehari hari ku pakai. Sesampainya di pasar ku titipkan sepeda di tempat biasa aku memarkirkan motor kalau ke pasar bersama ibuk. Kunci ku rekatkan di dalam selebor depan agar memudahkan bapak yang akan mengambil motor nanti.
Di sekitar pasar ada halte bus antar kota dan ada stasiun kereta api. Aku memilih naik kereta api dengan tujuan paling jauh yang ada. Setelah menukarkan tiket online dan masuk ke kereta aku baru berani berpamitan dengan bapak.
Assalamualaikum, pak titis pergi merantau ke luar kota, maaf ndak bilang bilang. Titis takut kalau ndak dibolehin bapak sama ibuk. Ndak usah cari titis, insya Allah titis akan baik baik saja. Doakan saja titis sukses diperantauan. Semoga bapak, ibuk, sama adek juga sehat sehat saja. maafkan titis.
Oh iya ini kartu parkir sepeda motor, nanti tolong diambil di tempat parkir langganan ibuk dipasar ya? Kuncinya ada di selebor depan, stnknya di jok. Titis sayang bapak ibuk dan adek.
Aku tidak berani mengatakan bahwa sedang hamil, takut bapak akan marah ke mantan pacarku dan membuatku semakin malu. Aku memang pernah meminta ijin untuk merantau keluar kota saat SMA kelas 3,tapi tidak diperbolehkan. Semoga bapak akan mengerti kali ini. Dengan bekal sisa gaji yang ada, satu tas ransel pakaian (aku tak membawa banyak, karena berat), dan satu kalung emas beserta suratnya pemberian ibuk untuk keadaan darurat.
Sesampainya di stasiun tujuan, aku menyempatkan mampir ke rumah sakit, ingin melihat kandungan ku. Ah rasanya masih tak percaya ada kehidupan lain di dalam perutku sekarang.
Setelah antri beberapa lama akhirnya giliranku. Setelah melakukan tanya jawab singkat kini aku akan melihat dia melalui USG.
"Ini Kira kira sudah 9 minggu mbak, mau dengar detak jantungnya? "
"bisa dok? "
Dokter yang memeriksa hanya tersenyum dan terdengarlah suara detakan teratur dari alat yang dokter pegang. Dadaku kini terasa sesak, dipenuhi rasa haru. Antara percaya dan tidak, bahwa di perutku kini ada kehidupan lain, aku bisa melihatnya sekarang, bahkan bisa mendengarkannya.
Setelah mendapat wejangan dari dokter untuk ibu hamil dan mendapat resep, kini aku sedang mengantri untuk obatnya. Sambil mengantri pikiranku dipenuhi oleh rencana rencana kedepan. aku berjanji untuk menjadi ibu terbaik dalam versiku, cukup bagiku melakukan kesalahan sekali dengan melakukan hubungan laknat itu, aku tak akan melakukan kesalahan fatal lagi. aku akan mencari nafkah dan tempat tinggal terbaik yang ku bisa, dan semoga bapak ibuk adek dan aku diberi umur panjang, hingga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti untuk meminta maaf secara langsung.