Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil.
Aku tidak menyangka, jika apa yang telah kami lakukan dua bulan silam telah menghasilkan sesuatu yang tumbuh dalam rahimku.
Lantas aku harus apa?
Apakah aku harus berlari naik ke atas pelaminan, dan mengatakan kalau aku hamil dan kamu adalah Ayah dari bayi yang aku kandung.
Ada berapa hati yang akan terluka atas perbuatanku itu nantinya.
Istrinya, wanita yang ada di sampingnya pasti akan terluka menerima kenyataan jika pria yang belum genap sehari menjadi suaminya, ternyata mempunyai anak dari wanita lain.
Kedua orang tuanya juga terluka karena malu akan perbuatan anaknya.
Kedua orang tua istrinya pun terluka, mengetahui jika pria yang menikahi putrinya adalah pria brengsek.
Kedua orang tuaku juga pasti terluka, jika tahu putrinya mengandung di luar pernikahan.
Aku pun terluka saat menerima cacian dan hinaan dari orang lain, karena tidak dapat menjaga kesucian diri.
Dia yang pernah aku sayangi juga terluka, mengapa harus sekarang aku mengatakannya, di saat kami sudah tidak bersama lagi.
Lihatlah banyak hati yang terluka dan sakit.
Andaikan malam itu aku tidak jalan berdua dengan sahabatnya, kami mungkin masih bersama.
Yah semua memang salahku, aku penyebab kami berpisah.
Biarlah aku menebus kesalahanku, dengan merawat hadiah kecil dari Penciptanya.
Selamat berbahagia, Mas.