Dimalam pertama pernikahan mantan pacarku aku hamil.
Bagai tersambar petir memang, getir hatiku berasa tercabik cabik, ada luka dalam jiwaku yang teramat sangat, bagaimana tidak semuanya terjadi begitu saja, aku menangis sejadi jadinya, namun semuanya sudah terjadi, isak Syifana meratapi nasibnya kini.
Syifana sebenarnya gadis yang sangat cuek bahkan dirinya terkesan sulit untuk di dekati kaum pria, bahkan Syifana harus menerima kebencian dari salah satu temannya Dalia, sebelumnya Syifana menjadi rebutan para pria dikampusnya, namun Syifana tidak pernah meresponnya apalagi membuka hatinya untuk pria tersebut.
Namun entah kenapa Dalia begitu membencinya, padahal awalnya Dalia sangat dekat dengan Syifana, saking dekatnya Syifana kerap berkunjung kerumah Dalia, bahkan Syifana sudah menganggap ibu Dalia seperti ibunya sendiri, semua itu karena ibu Dalia begitu perhatian padanya.
Syifana merenung seorang diri, mengingat pertemanannya dengan Dalia menjadi retak.
" Kenapa gara gara pria kamu menjadi sebegitu bencinya padaku Lia," guman Syifana dalam hati.
" Syi,,, kamu kenapa?" tiba tiba terdengar suara di dekatnya, dan membuyarkan lamunannya.
"Kamu Zilla, ko bisa tahu aku disini?" tanya Syifana.
" hmmm tahu lah Syi, aku tadi nyari nyari kamu tapi karena kamu tidak ketemu, ya tentunya aku kemari, karna aku tahu tempat ini favorit kamu kalao lagi galau, heheheee" Zilla terkekeh.
" huuuhhh " Syifana menarik napas.
" Kamu kenapa lagi sichhh, mikirin mahasiswa baru y?" tanya Zilla.
" Idih amit amit deech mikirin cowok super jutek dan angkuh itu" jawab Syifana.
"Lantas kamu kenapa, sampai harus mojok disini dan melamun?" tanya Zilla.
" Aku tadi sempet ketemu Dalia, terus aku sapa, tapi,,,??? Syifana tidak melanjutkan kata katanya.
"Tapi kenapa Syi di cuekin lagi?" Zilla.
"Dalia memalingkan wajahnya dariku dan berlalu begitu saja, y karena dikelas tidak ada mata kuliah makanya aku kesini saja, males kalau dikelas pada berisik, mending mojok ditaman ini, adem terus bisa cuci mata dech lihat pemandangan juga bunga bunga hehee" Syifana berusaha tersenyum memandang temennya, cuman Zilla teman yang paling mengerti akan dirinya.
Zilla yang mengerti betul akan Syifana sebenarnya sudah berusaha membantu Syifana menjelaskan kalao Syifana tidak menyukai Zulio pria yang disukai Dalia.
Namun entah kenapa meskipun Dalia tahu kalau Syifana menolak Zul, sikap Dalia kian menunjukan ketidak sukaannya, parahnya Dalia membuat rumor seolah olah Syifana suka merebut pacar orang.
masih teringat ketika Wirda menjalin hubungan dengan seseorang, ketika itu tanpa serta merta Dalia mewanti wanti Wirda untuk hati hati dan melarang Wirda memperkenalkan kekasihnya itu kepada Syifana dengan alasan bisa bisa kekasih Wirda ikut ikutan bersaing menarik simpati Syifana dan meninggalkan Wirda.
Syifana, Zilla,Wirda, Dalia dan Sisil merupakan Lima sekawan yang sangat akrab.Semuanya gara gara Zulio menolak Dalia, pertemanan mereka menjadi berpecah belah, ketika itu Dalia mengungkapkan perasaannya terhadap Zul pria terpopuler di kampus selain ketampanannya yang memukau Zul juga pria yang genius, Dalia sangat menyukai zul namun disayangkan maksud hati Dalia ditolaknya mentah mentah, bahkan terdengar kabar Zul sampai bersikap kasar, dan mengatakan kalau Zul hanya mencintai Syifana, tentu saja hal itu menyakiti hati Dalia.
" Syi sudah yuk kita pulang saja, mungpung tidak ada mata kuliah" tiba tiba Zilla menyela.
" Sudah kamu duluan saja Zi, aku masih mau disini" ucap Syifana
" udahlah ayooo" Zilla menarik lengan Syifana hingga Syifana ikut tertarik dari kursi.
Dengan rasa malas Syifana mencoba berdiri, namun lagi lagi dirinya terkejut dengan pemandangan yang tidak biasa, Syifana melongo menatap ke arah yang berjauhan namun nampak jelas siapa yang sedang dirinya liat." Delfano" bisik dalam hatinya.
Zilla yang meliat Syifana melongo mencoba mengikuti tatapan sahabatnya itu.
" Hmmm sepertinya ada yang mulaii tertarik tuh" celoteh Zilla dengan gaya khasnya melirik ke arah Syifana.
"Bukan begitu Zilla,,, tapi aku males kalau harus pulang dan melewati mereka" Syifana mencoba duduk kembali.
" Heyy jangan duduk lagi ayoo pulang, kenapa kamu seperti baper begitu biasanya juga cuek," Zilla.
Sementara di lain tempat,,, beberapa pria berkumpul bercanda bahkan sesekali terdengar celotehan celotehan tengil dan sesekali terdengar gelak tawa, namun tidak dengan sesosok pria yang bernama Delfano, mahasiswa baru yang kini menjadi incaran para mahasiswi, dirinya nampak terlihat kalem dan irit bicara, sesekali matanya melirik ke arah tempat duduk Syifana.
" ada apa kawan" tanya zeki sambil mengerutkan dahinya dan celengak celengok mencari arah yang sesekali di lihat Delfano.
"Zeki, Zeki apa kamu tidak lihat tuh,,, Dino menjulurkan telunjuknya ke arah Syifana dan Zilla berada.
" Oooohhh Zilla,,, boleh juga tuh Fan masih kosong dia heheheheee" celoteh Zeki.
" Sok tahu kamu Zek" balas Dino sambil mengusap muka Zeki hingga tatapannya tertutup tangan Dino.
" Kalo bukan Zilla lantas siapa, Syifanaa? jangan harap Fan, sudah banyak yang ngincar termasuk Zulio" ucap Zeki.
Delfano cuman menyimak celotehan teman temannya tanpa terpengaruh apapun, hanya saja dirinya merasa heran kenapa gadis seperti Syifana begitu banyak di sukai pria, di lihat dari bentuk tubuhnya tidaklah begitu menarik, terlebih baginya yang bertubuh tinggi menjulang, dirinya berpikir kalo Syifana bukanlah tipenya. Delfano mencoba membuyarkan pikirannya sendiri.
Delfano Andriano merupakan mahasiswa baru pindahan dari Fakultas ternama, dirinya terpaksa pindah karena ada suatu hal, sementara sekarang dirinya mengemban ilmu di kampus yang ter golong biasa, hingga baginya tidaklah begitu sulit dalam mengikuti mata kuliah hingga prestasinya pun bisa di bilang cemerlang bahkan bisa menyaingi kemampuan Zulio dalam hal akademik, begitu pula kepopulerannya dalam mengambil simpati baginya sangatlah mudah, dengan gaya dan kerakternya membuat mahasiswa dan mahasiswi. kini Delfano menjadi pusat perhatian para gadis, termasuk Dalia.
Semenjak kehadiran Delfano, Dalia kian gencar mendekati Delfano, apalagi setelah cintanya di tolak Zul, dirinya merasa memiliki kesempatan untuk bisa menggaet Delfano. Bahkan dirinya akan berupaya untuk mendapatkan Delfano, dirinya tahu kalau Zul tidak akan menyerah mendapatkan cinta Syifana.
" Fan, sampai kapan kita merumpi disini, cari tempat lain yuk" tanya Dino yang merasa sudah bosan.
" lagian kamu yang ngajak kesini, tapi kamu sendiri cuman jadi pendengar saja mana tidak pokus lagi, " Dino menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, ekspresinya menunjukan kejengkelan.
"Bener Fan cari tempat lain yuk?" timpal Zaki, sementara yang lain mengikuti ajakan Zaki juga Dino.
Mendengar teman barunya gelisah dan mulai resah, Delfano kembali melirik ke arah Syifana.
" Kenapa gadis itu masih betah disitu, kenapa belum beranjak juga" Gumannya dalam hati.
Akhirnya Delfano pun menyerah mengikuti ajakan teman temannya, namun dirinya masih menyimpan rasa penasarannya terhadap gadis bernama Syifana, tidak butuh waktu lama, dirinya dan temen temannya berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Di tempat Syifana dan Zilla keduanya mencoba bertahan walaupun Zilla enggan untuk berlama lama disitu, demi sahabatnya Zilla rela menunggu sampai sosok Delfano dan temen temannya lenyap dari pandangannya.
"Syi tuh pergi juga mereka, yukkk pulang jangan sampai mereka datang lagi dan menghalangi jalan kita" Zilla.
" Ayooo" jawan Syifana sambil beranjak dari kursi kesayangannya.
D ikediaman Syifana, setelahnya pulang dari kampus dirinya langsung menuju kamar, dirinya langsung menjatuhkan tubuh mungilna di kasur, di pandangnya langit langit kamar dengan tatapan sendu, kamarnya tidaklah mewah namun baginya bisa membuat dirinya melepas penat. Pikirannya melayang jauh, hatinya bertanya tanya yang kemudian di jawabnya pula oleh hatinya sendiri.
Sebenarnya Syifana gadis periang, namun sesuatu telah membuatnya menjadi gadis cuek tetutama terhadap pria, sementara terhadap sesama wanita Syifana sangat hangat dan manis hal itulah yang memudahkannya dekat dengan para wanita, hanya satu kekurangan Syifana dalam berteman yaitu dirinya banyak disukai laki laki dan alasan inilah yang menjadikan para wanita iri dan kian takut kalo kalao pasangannya jatuh cinta ke Syifana.
Syifana mencoba bangkit dari tidurnya, namun kembali menjatuhkan tubuh nya.
" Delfano,,," tanpa disadari dirinya menyebut sosok pria berkulit agak hitam namun sangat manis dan bola mata yang sipit menarik perhatiannya.
"Ya ampun kenapa aku menyebut namanya" gumannya.
Entah kenapa syifana merasakan sesuatu yang tidak nyaman dalam dirinya, semenjak pertemuannya yang tanpa sengaja, ketika itu Syifana saat memasuki kelas dan bertemu Dalia, rupanya Delfano berada diluar kelas hendak masuk, namun ditahannya, sampai kemudian Syifana keluar kelas dan saat itulah tatapan Delfano begitu melekat menatapnya penuh tanya.
"Apa pria itu mengikutiku" batin Syifana.
"lantas kenapa tadi pria itu berada disekitar taman" tanya nya lagi dalam hatinya.
"Syifana Syifana kamu ko ke PEDEAN" bisiknya lagi.
" Dalia,,," Syifana mengingat temannya itu, seakan akan menjadi peringatan akan dirinya untuk tidak hanyut dalam perasaan yang dirinya sendiri tidak mengerti.
" Tidak mungkin aku menyukai Delfano, tidak mungkin Delfano menyukaiku jg." gumannya lagi.
Syifana mencoba menepis kegalauannya, hatinya menjadi tidak tenang, untuk pertama kalinya Syifana merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, perasaan gelisah dan bayang bayang Delfano, terlihat jelas dalam kelopak matanya sikap Delfano yang dingin dan seolah tidak perduli padanya.
"kenapa aku seperti rapuh seperti ini, ini menyiksaku" batin syifana nampak kacau.
Di kediaman Delfano. Rupanya apa yang dirasakan Syifana ternyata dirasakannya pula oleh Delfano. Namun bedanya Delfano pernah merajut cinta dengan beberapa wanita sebelumnya, bahkan bisa dibilang wanita wanita sebelumnya jauh lebih cantik dan menarik, bahkan dirinya yang sempat berpikir tidak akan mungkin menyukai wanita sekelas Syifana, kini dirinya merasa keheranan, ada sesuatu yang menarik hati Delfano bukan dari fisiknya dan sangat sulit untuk di jelaskan.
Kemudian dirinya teringat dengan gadis yang dijodohkan dengan dirinya.
" Vitaly,,, apa aku harus menolak perjodohan ini", guman Delfano.
"Bagaimana perasaan Vitaly kalao aku menolaknya?? acchhh sudahlah", Delfano mencoba menepis kemungkinan yang belum terjadi.
"Derrrr ",
suara HP bergetar di lihatnya panggilan dari kontak bertuliskan Momy.
" Ya mam " terdengar suara dari perempuan yang dipanggilnya mama, memingatkannya dengan berbagai hal yang harus dilakukan Delfano.
"Iya mam, Delfa mengerti", setelahnya telpon pun terhenti, Delfano tertegun.
Di Sebuah kampus, berdiri Zulio menunggu kedatangan Syifana gadis idamannya, sementara dari tempat lain mata tajam terus menyorotinya dengen mimik muka sinis dan kecut. Dalia tidak jauh dari keberadaan Zulio dirinya sudah tahu kalo Zulio sedang menanti Syifana, begitu juga tidak jauh dari keberadaan Zul dan Dalia berdiri tertegun mengamati seolah olah ingin tahu apa yang akan terjadi. Delfano yang hendak melangkah menuju kelas terpaksa terhenti karena meliat Zul mematung di depan pintu, kemudian melihat Dalia yang sedang menatap ke arah Zulio berada.
" kenapa kita berhenti Fan,"? tanya zeki.
"Sudahlah kita lihat saja," jawab Delfano dengan tatapan fokus ke arah Zul dan Dalia.
Delfano berusaha mencari tempat yang aman yang bisa memperhatikan mereka tanpa ada yang melihatnya.
Tiba tiba Syifana dan Zilla datang, Sisil bahkan Wirda datang beriringan yang kemudian di ikuti para mahasiswa/wi lainnya.
Syifana dan Zilla mencoba masuk namun tertahan oleh tubuh dan tangan kekar Zulio.
" Tunggu Syi aku mau bicara sebentar, kumohon?" pinta zulio.
" Tapi zul, aku tidak bisa" jawab Syifana sementara Zilla menyimak tidak ikut campur, ini bukan pertama kalinya Zulio melakukan demikian, dan Zilla juga sudah tahu apa maksud Zul mengajaknya berbicara, tiada lain ingin meyakinkan Syifana klo dirinya ingin menjadi kekasih Syifana.
" Ayolah Syi ",Zul mencoba memaksa Syifana yang hendak masuk kedalam, Delfano yang melihat dari kejauhan merasa geram dan hendak mendekati mereka, namun Zaki memberi kode untuk tidak ikut campur, Delfano pun terdiam. Sementara Dalia sangat berharap keduanya jadian dan mendukung penuh sekalipun Zulio memaksa Syifana, karena baginya Syifana ancaman dalam mendekati Delfano, rupanya Dalia sudah mendengar desas desus kemungkinan Delfano memiliki rasa terhadap Syifana, begitu jg Syifana dirinya sangat mengerti betul dengan mantan temannya itu, Dalia bisa melihat gelagat Syifana yang diam diam menyukai Delfano meskipun keduanya selalu menampik.
Waktu berjalan begitu cepatnya, perasaan Delfano terhadap Syifana akhirnya terjawab juga, diam diam Delfano mencari tahu keberadaan Syifana sampai kemudian Delfano mengetahui kenapa Syifana sangat cuek dan selalu mengalah dari teman teman gadisnya, dirinya tahu kalo Syifana memiliki pengalaman buruk dengan Rumah tangga Orang tuanya, diman kedua orang tua nya menikah tanpa cinta, terlebih ibunya sering memberi imeg negatif terhadap Ayahny, hingga membuat Syifana tidak ingin jatuh cinta.
Semenjak mengetahui keberadaan Syifana, Delfano melakukan pendekatan diluar perkuliahan, dirinya kerap memberikan perhatian terhadap Syifana, sikapnya juga sangat hangat dirasakan Syifana, bukan Delfano kalau tidak bisa meluluhkan hati wanita.
Demikian pula halnya dengan Syifana lama kelamaan dirinya merasakan sebuah kenyamanan, kepercayaan terhadap Delfano, imeg burukna mengenal laki laki sedikit perlahan berubah, hingga buih cintapun dirasakannya oleh Syifana.
Hingga sebuah tragedipun terjadi terhadap Syifana, dirinya sudah terbuai dengan sikap dan cinta tulus Delfano.
Disuatu ketika Delfano mengajaknya berlibur kesebuah Villa, mereka berdua mencurahkan prasaannya bagaimana besarnya cinta mereka, tidak lagi dapat di gambarkan, keduanya hanyut dalam buaian napas mereka berpacu dalam kerinduan yang tidak tertahankan, keduanya bergelut dengan napsu yang memburu, baginya melepas keindahan dengan orang yang dicintainya sangatlah membahagiakan, hingga keduanya larut dalam kenikmatan sesaat, jiwa Syifana melayang melepas kesuciannya, dirinya tidak lagi berpikir hal negatif mengenai laki laki, dirinya yakin Delfano sangat mencintainya dan akan bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Zulio bahkan Dalia pada akhirnya harus menelan kepahitan karena orang yang mereka sukai justru kini telah berbagia menjalin kasih.
Terlebih Zulio dirinya begitu dendam dengan Delfano bahkan beberapa kali keduanya kerap baku hantam dan terlibat perkelahian.
Zulio tidak tinggal diam rasa cintanya juga pengorbanan waktunya yang selalu menunggu Syifana tidak ingin sia sia, dirinyapun berusaha mencari kebusukan Defano, hingga dirinya mendapati kabar, kalau Delfano sudah dijodohkan dan mau menikah, Zul pun menemui Syifana meskipun Syifana menolak berbicara dengannya, Zul terus berusaha sampai akhirnya Syifana mau mendengarkan sesuatu tentang Delfano.
" Apa yang tidak aku ketahui tentang Fano, tolong katakan Zul?" tanya Syifana dengan rawut meyakinkan kalo apa yang akan di sampaikan Zul itu tidaklah berarti dan hanya akal akalan Zul.
Syifana berpikir dan yakin kabar yang di dapatkan Zul tidak akan mempengaruhi hubungannya dengan Delfano.
" Syi,,, apa kamu tahu kalo Fano itu sudah dijodohkan dan mau menikah?" Zul meyakinkan.
" Aku tahu kalo Fano dijodohkan, tapi Fano sudah menolakny dan mengatakan kepada keluarganya kalo Fano tidak menyukai gadis itu, fano menolak perjodohan itu Zul" Jawab Syifana penuh keyakinan.
" Tapi Syi, Fano akan tetap menikah, bahkan tanggal pernikahannya sudah di tentukan" balas ny Zul.
Kali ini perasaan Syifana mulai merasa tak tenang, naluri kewanitaannya tidak bisa dirinya sangkal, dirinya mulai merasa gelisah bahkan tubuhnya merasa lemas, dirinya merasa tak berdaya.
Syifana tidak mampu lagi menjawab apa yang disampaikan Zul, dirinya lebih memilih pergi namun tentu saja dengan pikiran kacaunya,
Di kampus Syifana mencoba menghubungi Delfano, di tunggunya di kampus namun keberadaan Delfano tidak juga terlihat, sampai jam perkuliahan habis Delfano tidak nampak batang hidungnya, Zilla yang mengerti kegelisahan sahabatnya tidak bisa berbuat apa apa, dirinya sudah berusaha membujuknya untuk pulang bareng, namun Syifana menolaknya, begitu juga Zul berusa menawarkan bantuannya untuk mengantarnya pulang, lagi lagi dirinya di tolak.
Syifana tidak lagi bisa menyembunyikan kecemasan juga kesedihan, rasa takut akan kebenaran kabar yang dirinya terima dari Zul, membuatnya sangat prustasi.
Satu minggu tidak ada kabar dari Delfano, tiba tiba Hp Syifana berbunyi sebuah pesan masuk, Syifana dengan beribu ribu kecemasan berusaha menguatkan diri membuka pesan dari Delfano.
" Syi sayang kamu boleh membenciku,,, aku sudah berusaha berjuang untuk cinta kita, namun apa dayaku semuanya ada di tangan orang tuaku, kedua orang tuaku sudah membuat kesepakatan yang tidak bisa di batalkan dengan keluarga Vitaly, jika aku bersikukuh mempertahankan hubungan kita dan membatalkan perjohan dengan Vitaly maka secara otomatis aku dikeluarkan dari daftar harta waris. Syi sayang percayalah kalao aku sangat mencintaimu bahkan ingin menikahimu,,, tapi pada kenyataannya takdir berkata lain, aku harap kamu ikhlas dan memaafkan aku"
Teg dada Syifana terasa sesak membaca pesan dari Delfano, tubuhnya terkulai lemah terhunyung mendarat kesebuah tembok, yang kemudian dirinya menangis sejadi jadinya, hingga dirinya tak dapat lagi menghitung berapa banyaknya air mata yang mengalir membasahi pipinya, entah berapa lama dirinya terhuyung bersandarkan tembok, pikirannya melayang ke tempat dirinya memadu kasih, terngiang ngiang kata kata manis Delfano, jerit Syifana menjerit dan berteriakkk..
"Delllfaaanoooo kamuuuu jahat huk huk hukkk" Syifana menangis, dilihatnya kembali Hp nya dibacanya pesan berikutnya.
" Aku tidak butuh kata kata manismu, kalao kenyataannya kamu akan menikahi gadis lain" isak Syifana mengomentari pesan Delfano, kemudian dirinya juga menerima kartu undangan di situ nampak jelas kapan Delfano akan melangsungkan pernikahan.
" Ooohhj rupanya dirimu selama ini menghilang, ternyata dirimu tengah mrmpersiapkan pernikahanmu sendiri" guman Syifana kecewa.
Syifana menyeka air matanya dirinya berusaha tegar dan ingin bangkit, dirinya harus bisa melupakan Delfano.
Pernikahan Delfano tingg menghitung hari, sepanjang itu pula Syifana banyak menyendiri, bahkan Zilla pun tidak di perkenankan menemuinya, dirinya cuti dari kampus sampai dirinya bener bener bisa melewati masa masa dimana pernikahan Delfanio dan Vitaly terlewati.
Malam pun tiba, dirasakannya dingin malam menggerogoti tubuh mungilnya, sepoyan angin masuk melalui sela sela jendela, Syifana terpaku dalam diam.
" Malam ini adalah malam pertamanya Delfano " isaknya Syifana sedih.
Dirinya terpaku dalam diam, kenangan bersama Delfano kembali terbayang, air mata kembali berjatuhan dan tiba tiba dirinya merasakan pusing, ada rasa mual menyeruak dalam dadanya,, seketika dirinya berlari menahan mulutnya seakam akan ada yang mau keluar dari mulutnya, dengan cepatnya dirinya masuk kamar mandi, dan sesampainya di kamar mandi huekkk huuuueeekkk Syifana mrmuntahkan sesuatu, sampai berulang ulang Syifana memutahkan sesuatu dari mulutnya hingga tubuhnya terasa lemas, dan dirasa tidak kuat lagi akhirnya dirinya merobohkan tubuhnya kelantai.
" Mungkinkah aku hamil, tidak, apa yang harus aku lakukan" bathin Syifana sedih.
"Haruskah aku memberitahu Delfano kalo aku hamil, saat ini tentu saja Delfano akan menghabiskan malam pertamanya bersama Vitaly, dadaku sesak, jiwaku kembali terkoyak, amarah yang berkobar dalam jiwaku kembali menghadirkan rasa benci terhadap laki laki, aku bener benar hancur, masa depanku hancur" Syifana menangis sejadi jadinya.