Gia sedang menunggu dosen pembimbingnya di cafe Say Stories. Hari ini dia akan bimbingan, sebelum bimbingan Gia memberikan kabar dulu kepada dosen pembimbingnya itu dan dosen pembimbingnya menyuruhnya untuk bertemu di cafe Say Stories.
Seorang pria berwajah tampan menarik kursi di hadapan Gia membuat Gia tersenyum dan menyalami dosen pembimbingnya itu. Brian, dosen pembimbingnya itu terlihat berbeda karena pakaian yang dia gunakan terlihat lebih santai, sangat berbeda jika berada di kampus.
"Mana skripsi kamu Gia?"
Gia segera memberikan draft skripsinya kepada pak Brian. Gia terus merafalkan do'a, semoga revisinya hanya sedikit. Pak Brian terlihat serius, dan semakin membuatnya tampan. Gia memperhatikan pak Brian dengan seksama, menahan nafas ketika dosennya mengernyitkan keningnya.
Beberapa menit kemudian pak Brian memberitahu Seulgi bagian mana yang harus di benarkan atau di revisi. Brian mendengarkan dengan seksama.
"Okay selesai. Saya mendadak lapar. Kalau kita makan berdua apakah suami kamu akan marah?" tanya pak Brian memastikan apakah suami dari anak didiknya itu akan marah atau tidak jika dia mengajaknya makan bersama.
"Tidak Pak, saya sudah bilang suami saya," jawab Gia dengan senyum manisnya.
Keduanya mengobrol menunggu pesanan mereka. Tak jarang keduanya tertawa ketika pak Brian bercerita tentang sesuatu yang lucu. Gia sampai menghapus air matanya karena tak habis pikir dengan tingkah dosen pembimbingnya itu, yang bisa bercerita dan bertingkah konyol di hadapan mahasiswanya.
***
Gia memasuki rumahnya dengan langkah yang aneh. Sejak dua bulan lalu setelah kejadian di kantor, Gia membiarkan semuanya berjalan mengikuti alur Tuhan. Jika suaminya ingin bercerai, dia akan menyetujuinya, jika tidak ya dia tidak akan memintanya.
"Sudah puas berkencan dengan pria lain?"
Gia menghentikan langkahnya dengan sedikit ringisan ketika mendengar suara suaminya yang ternyata sedang duduk di sofa ruang tamu dengan masih mengenakan pakaian kantornya.
"Maksud Mas apa ya. Saya habis bertemu dengan dosen pembimbing setelah itu saya main di kostan teman saya."
Sena tersenyum miring mendengar perkataan istrinya. Main dari pagi sampai jam delapan malam, main apa. Dengan jalan yang aneh. Pikiran Sena berkelana kemana-mana, memikirkan yang tidak-tidak.
"Di kostan sampai jam delapan malam, main apa sampai membutuhkan waktu sebanyak itu. Kamu ingat 'kan kalo kamu punya suami, kamu seharusnya kabarin saya kalau kamu mau pergi." Sena menatap tajam mata Gia.
"Saya sudah ngabarin Mas, tapi Masnya aja yang gak ngaktifin ponsel."
"Alasan, ponsel saya selalu aktif. Bilang saja kalau kamu mau bertemu dengan pacar kamu makanya kamu tidak mengabari saya." Gia menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan dari suaminya.
"Saya gak punya pacar, saya bertemu dengan dosen pembimbing saya setelah itu saya ke kostan..."
"Iya ke kostan pacar kamu, menghabiskan waktu berdua di atas ranjang."
Mata Gia berkaca-kaca mendengar tuduhan suaminya yang semakin menjadi-jadi. Entah karena pria itu yang habis melakukan apa yang dia bicarakan atau itu alasan agar dia menceraikannya.
"Mau Mas apa sebenarnya? Kalau Mas sudah muak dengan pernikahan ini kenapa gak ceraikan aku aja. Jangan fitnah aku yang enggak-enggak, aku gak pernah punya pacar. Ceraikan aku supaya Mas bisa sepuasnya bermain dengan wanita-wanita pilihan Mas, dan jadikan satu ibu untuk Miko." Nafas Gia tersenggal-senggal setelah berhasil mengeluarkan unek-uneknya.
Sena menatap tajam Gia ketika mendengar isi hati istrinya selama ini. Berjalan menuju Gia menarik paksa tangan Gia, membuat sang empunya meringis.
"Sakit Mas!" Gia berusaha memberontak dari tarikan Sena.
"Mana yang sakit?" tanya Sena menatap Gia masih dengan tatapan tajamnya.
"Ka..kaki aku."
"Bagian yang mana?!"
"Paha aku."
Mata Sena menggelap mendengar jawaban istrinya. Mengangkat tubuh Gia ke punggungnya, seperti mengangkat sekarung beras, membuat Gia memukul punggung suaminya dengan membabi buta.
Sena melempar tubuh Gia keatas kasurnya. Membuka kemejanya dengan cepat dengan mata yang masih menatap istrinya dengan tajam. Seulgi yang merasa dalam bahaya segera bangun berusaha kabur dari suaminya.
"Saya harus menghilangkan jejak pria brengsek itu di tubuh kamu." Gia menggelengkan kepalanya, pria siapa yang suaminya maksud. Sedangkan dia tidak disentuh oleh pria manapun.
Gia mundur dan dengan cepat Sena menangkap kaki Gua menariknya dengan kuat, membuat Gia menangis.
"Akkkhh Sakiit"
Sena menyingkap dress istrinya hingga memperlihatkan paha mulus istrinya. Menatap tajam luka di paha mulus istrinya yang memerah. Gia berusaha menutupi pahanya yang terekspos tapi dengan cepat Sena menahannya.
"Kenapa bisa kaya gini?" tanya Sena dengan gusar dan sedikit lega, dia pikir istrinya sakit karena sehabis berhubungan dengan seorang pria yang tadi dia temui di cafe.
"Kena air panas," jawabnya gugup.
Sena beranjak mengambil salep luka di paha istrinya. Gia melepas tas dan sepatunya yang masih melekat di tubuhnya setelah itu membenarkan duduknya.
Sena duduk di ranjang kemudian menyingkap kembali dress istrinya, meletakkan satu kaki istrinya di atas pahanya, mengolesnya dengan perlahan.
"Sshhh pelan-pelan Mas." Gua mencengkram tangan suaminya yang sedang mengoles salep di pahanya.
"Iya ini pelan-pelan." Sena meneguk ludahnya susah payah. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat paha mulus milik istrinya itu.
Setengah jam kemudian perhatian Sena teralihkan dari paha mulus milik istrinya. Menatap wajah istrinya yang sudah terlelap. Sena menundukkan wajahnya ke arah paha istrinya mengecupnya perlahan, berharap besok pahanya sudah baik-baik saja.
Sena melepas outer istrinya kemudian membenarkan tidur istrinya. Menatap wajah damai istrinya yang terlihat sangat menggemaskan. Mengecup bibir istrinya sebelum berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Papah Miko : Bun..Tolong ambilkan berkas di ruang kerja saya ya. Tolong antarkan ke kantor, sekarang.
Gia mendengus membaca pesan singkat dari suaminya. Semenjak satu minggu yang lalu, tepatnya insiden luka di paha. Suaminya itu jadi sering mengirim pesan kepadanya dan lebih perhatian. Tapi menyuruh ke kantor, ini kali pertamanya suaminya menyuruhnya untuk datang ke kantor.
Gia mengambil berkas di ruangan suaminya setelah itu berjalan keluar menuju mobil dengan supir yang sudah menunggu. Miko akhir-akhir ini sering dengan kakek dan neneknya sehingga Gia merasa sepi. Hanya mereka berdua terkadang membuat suasana menjadi canggung jika keduanya diam setelah bercerita.
Setelah membutuhkan waktu beberapa menit akhirnya Gia sampai di kantor suaminya. Gia berjalan menuju ruang suaminya. Tanpa mengetuk pintu Gia masuk kedalam ruangan suaminya.
Gia memperhatikan Ayu yang berdiri di samping meja suaminya. Di kursinya Sena memijat pelipisnya. Di atas meja Sena terdapat satu cangkir kopi. Suaminya pecinta kopi, kemungkinan dia pusing karena kopi sangat sedikit.
Gia berjalan menghampiri suaminya, meletakkan dokumen yang suaminya pesan di atas meja. Mendorong tubuh Ayu agar menjauh dari suaminya. Suaminya telah menceritakan kepadanya masalah di kantor waktu itu. Ayu ternyata berusaha menggoda Sena. Sena berusaha menghindar sehingga bibir Ayu mendarat di kerah kemeja suaminya.
"Anda bisa pergi sekarang Ayu," ucap Gia dengan sombong. Ayu berjalan pergi dengan menghentakkan kakinya.
"Mananya yang sakit?" tanya Gia menangkup wajah suaminya. Keringat bercucuran di kening suaminya membuat Gia cemas.
"Panas Sayang. Saya gak kuat," jawab Sena dengan sedikit geraman menahan sesuatu.
"Yasudah buka baju aja, Ac-nya di gedein ya," sahut Gia mencari remot Ac tapi segera di tahan oleh Sena.
"Gak mempan Sayang. Saya butuh kamu. Ayu masukin obat perangsang di kopi saya." Gia mengumpat dalam hati akan tingkah murahan sekertaris suaminya itu.
Kenapa dari dulu sampai sekarang. Obat perangsang menjadi salah satu cara menggoda, hingga membuat lawan bertekuk lutut.
"Yasudah ayook."
Sena melumat bibir istrinya dengan perlahan. Mendudukan tubuh istrinya di pahanya. Tangannya bergerak mengelus seluruh tubuh istrinya. Menekan pinggul istrinya agar mempersempit jarak keduanya. Gia melepas jas di tubuh Sena dengan terburu-buru. Sena melepaskan ciuman panasnya. Mengecup sebentar kening istrinya.
"Kita ke kamar ya."
Sena membawa Gia yang berada di gendongannya ke kamar yang berada di ruangan Sena. Mengunci pintunya kemudian merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan.
Membuka dress istrinya. Terpampang lah dalaman cream milik istrinya. Sena meneguk ludahnya dengan susah payah melihat betapa mulus kulit istrinya. Wajah Sena turun menuju paha istrinya. Mengecup nya perlahan. Luka bekas terkena air panas masih nampak sedikit.
"Masih sakit?"
Gia menggelengkan kepalanya. "Enggak."
Sena menangkup wajah istrinya, mencium istrinya dengan lembut. Mencoba bertahan dengan akal sehatnya. Tidak mau kalah Gia pun membuka kemeja suaminya perlahan.
Sena melepaskan ciuman panjangnya, menyatukan kening keduanya. Mengecup bibir istrinya sekilas. "Cakar, pukul, gigit saya kalau kamu ngerasa sakit. Okay baby." Gia mengangguk.
"Maaf kalau malam pertama kita, kita habiskan di kantor," bisik Sena detik berikutnya bibirnya meraup bibir istrinya dengan menggebu-gebu.
Sena mengerang merasakan kulit mulus istrinya menyentuh kulitnya. Matanya memperhatikan perubahan ekspresi di wajah istrinya. Cantik dan Sexy.
"Masshh."
"Iyaa Sayanggg."
Suara dering ponsel di atas nakas samping ranjang, membuat Sena mengumpat. Dia akan memecat orang yang telah menganggu aktivitasnya jika telponnya tidak penting.
"APA?!!"
"...."
"GAK PENTING!"
"..."
"KAMU SAYA PECAT!!"
Sena melempar ponselnya ke sembarang arah. Melanjutkan kegiatannya bersama istrinya. Gia mendesah memanggil nama suaminya membuat gairah Sehun melambung tinggi.
Satu jam kemudian mereka menyelesaikan kegiatan panas mereka.
"I love you Babyyy."
Sena mengecup bibir istrinya kemudian menarik tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya. Mengambil selimut di kakinya untuk menutupi tubuh polos keduanya.
"Terimakasih Sayang." Sena mengusap punggung telanjang istrinya dibalas Gia dengan anggukan di kepalanya.
"Mas, kamu beneran cinta sama aku?" tanya Gia mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.
"Iya lah, kalo gak cinta ngapain saya nikahin kamu Baby." Sena mengecup bibir istrinya di balas cubitan di perut kotak-kotaknya.
"Tapi ketika pertama kali kita nikah kamu..."
"Saya ngerasa bersalah dengan mendiang istri saya karena saya mencintai kamu sebelum dia meninggal. Tepatnya setelah liburan keluarga kamu dan keluarganya. Saya berusaha menghilangkan rasa itu tapi saya selalu gagal."
Gia tertegun mendengar perkataan suaminya. Dia juga mencintai suaminya itu ketika liburan keluarga Sinta dan keluarganya. Gia juga berusaha menghilangkan rasa cintanya tapi dia juga selalu gagal. Tapi apakah kematian Sinta karena ini.
"Kematian dia murni karena kecelakaan Sayang." Gia kagum ketika suaminya langsung memberi tahu tanpa dia bertanya terlebih dahulu.
"Kenapa kamu mencintai aku Mas?" tanya Gia mengelus rahang suaminya yang tajam.
"Cinta gak butuh alasan Baby," jawab Sena dengan smirk-nya membuat Gia terpesona dan merasa was-was.
"Jangan senyum kaya gitu," bisik Gia mengelus bibir suaminya.
"Kenapa?"
"Kaya Badboy."
Sena terkekeh mendengar jawaban Gia.
"Tapi kamu suka 'kan?" goda Sena yang berhasil membuat Gia bersemu.
"Suka banget."
T A M A T
jangan lupa like dan komentar yaa🤗