Senin, 13 Desember 2021
Hai, perkenalkan, namaku adalah Aini. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang nomor dua bernama Icha dan adik ketiga ku bernama Ian. Kami hanya berjarak setahun. Aku berumur 15 tahun, Icha 14 tahun dan Ian 13 tahun.
Hari ini kami punya rencana akan pergi ke Jakarta menemui Papa dan Mama yang tinggal di sana, kebetulan Papaku kerja di Jakarta jadi Mama ikut mendampinginya tinggal di sana. Sedangkan kami bertiga tinggal di Bandung ditemani Nenek. Karena sekolah kami libur selama seminggu jadi kami liburan di Jakarta.
Seperti biasa kami bersiap dari malam, semua baju dan perlengkapan lainnya sudah siap, jadi paginya kami tinggal mandi dan sarapan. Kami diantar oleh Pak Dadang, supir pribadi Papa. Setelah berpamitan dengan Nenek, kami segera berangkat ke Jakarta.
Di perjalanan, kami habiskan waktu dengan tidur, biar tidak terasa lama. Siang kami sampai di rumah. Karena Papa kerja, kami disambut oleh Mama dan Bibi Lima. Bibi Lima adalah pengasuh kami sejak Icha masih bayi, Mamaku sudah menganggap Bibi Lima seperti kakaknya sendiri, walaupun umur mereka selisih 15 tahun. Ya, Mamaku lebih muda 15 tahun dari Bibi.
Kami bertiga kemudian membereskan pakaian masing-masing dan memasukkannya ke dalam lemari yang tersedia. Setelah itu kami membersihkan diri sebelum makan siang. Bibi pintar sekali memasak, hari itu kami disuguhi lauk sambal udang, petay,dan sayur tumis kangkung. Sedap sekali, Icha sampai makan dua piring.
Tanpa terasa sore hari menjelang, Ian tidur sendiri sedangkan aku sekamar dengan Icha. Papa baru pulang kerja, setelah mandi Papa dan Mama berbincang-bincang dengan kami. Oh ya, aku lupa menceritakan bahwa pembantu di rumah kami ada tiga selain Bibi Lima tentunya, mereka adalah Bibi Sri, Bibi Ima dan Bibi Tuti. Mereka bertugas menyapu, mencuci,dan menyetrika, sedangkan Bibi Lima khusus memasak saja.
Mama sengaja memperkerjakan pembantu banyak tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menemaninya saja apabila Papa sibuk bekerja. Rumah kami cukup besar, dengan banyak kamar, hal itu di sebabkan karena baik Mama dan Papa punya saudara yang banyak. Kalau Hari Raya Iedul Fitri mereka semua pasti kumpul di rumah, Maklumlah Papa adalah anak tertua di keluarganya, saudara Papa berjumlah sembilan orang.
Setelah sholat maghrib, aku dan Icha menonton tv , hanya ada kami berdua, Ian asik main game di kamarnya, sedangkan Mama dan Papa sedang istirahat. Ruang keluarga sangatlah luas dengan jendela yang besar. Sementara para Bibi sedang istirahat dibelakang. Tiba-tiba aku mendengar suara bisik-bisik di belakang kami, aku bertanya pada adikku."Cha, kamu dengar suara orang sedang bisik-bisik tidak?",tanyaku kepada Icha. Icha hanya diam, dia masih asik menonton televisi. Baik Icha dan Ian memang memanggilku dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel panggilan Kakak. Kami berdua menoleh ke belakang ternyata tidak ada siapa pun. Kami kemudian memutuskan untuk masuk ke kamar.
Jam tiga malam, aku ke kamar mandi, suasana di kamar mandi terasa sedikit menyeramkan, seperti ada kabut, aku memberanikan diriku, lalu dengan cepat kembali di kamar. Icha masih tidur dengan nyenyak, aku merasa ada yang mengawasi. Dengan cepat aku menutupi wajahku dengan selimut, malam itu aku mendengar bunyi detak jantungku sendiri cukup keras.
Keesokan paginya, ketika sarapan pagi, aku menanyakan perihal bisik-bisik itu kepada Ian, dia diam saja, malah asik menikmati sarapan paginya, Icha menanyakan apakah tidurnya nyenyak, Ian hanya mengangguk. Aku tidak meneruskan pembicaraan itu ketika kedua orang tuaku juga ikut sarapan.
Aku baru menyadari kalau suasana seram itu hanya terjadi menjelang malam saja, seperti halnya pada malam ini, aku dan Icha memutuskan tidak akan menonton televisi lagi, kami lebih memilih membaca buku di kamar, tanpa sadar mataku menatap ke arah gorden kamar, gorden itu terangkat padahal tidak ada siapa pun disitu. Aku menyenggol tangan Icha sambil menunjuk kearah jendela, Icha menutup seluruh tubuhnya dengan selimut begitu juga aku. Kami berdua tidak ada yang berani ke kamar mandi.
Paginya aku kembali menanyakan hal itu kepada Ian, lagi-lagi responnya sama. Aku dan Icha hanya bisa menyimpan kejadian itu dalam hati. Malam ketiga, tidak seperti biasanya Ian memasuki kamar kami sambil membawa selimut, tanpa berkata apapun,dia tidur diantara aku dan Icha. Aku hanya memandang dengan heran. Lalu diriku melanjutkan membaca. Tak beberapa lama, aku merasakan kehadiran seseorang di samping tempat tidurku, bulu kudukku merinding, aku melihat kearah Icha, dia santai saja, karena dia tidur disebelah tembok. Sedangkan Ian sudah tidur dari tadi.
Pelan-pelan aku meletakkan buku ku di meja samping tempat tidurku tanpa menoleh sedikitpun. Aini, ia menyebut namaku, suaranya persis di dekat telingaku, aku dengan cepat menutup wajahku dengan selimut, anehnya selimutku tiba-tiba ada yang menarik, aku dengan cepat berlari keluar kamar menuju ke kamar orang tuaku, begitu juga dengan adik-adikku. Malam itu akhirnya kami semua tidur bersama Mama dan Papa.
Pagi hari, aku bertekad menanyakan soal kejadian semalam kepada Bibi Lima. Bibi Lima hanya terdiam dan tidak menjawab . Aku tidak menyerah, aku kembali bertanya kepada Bibi Sri, dia juga tidak menjawab. Begitu pula dengan Bibi Ima, hanya saja dia tersenyum menatapku. Kali ini aku menyerah, aku berpikir Bibi Tuti juga pasti mengatakan hal yang sama.
Sore hari, aku , Icha dan Ian berjalan keluar rumah untuk membeli baso. Baso didekat rumah katanya enak, jadi aku dan Ian berinisiatif membelinya. Sesampainya di tempat baso, kami memesan enam porsi. Ketika dalam perjalanan pulang aku melihat Bibi Ima keluar rumah, aku segera memanggilnya, tapi sepertinya ia tidak mendengarkan aku, Ia memasuki kebun disebelah rumahku.
Setibanya di rumah,Icha menyerahkan tiga bungkus baso buat Bibi ku. Mereka mengatakan tiga bungkus itu kebanyakan, mereka hanya mengambil dua bungkus saja. Aku hanya diam saja, satu bungkus baso Icha masukkan kedalam lemari es.
Malam ini kami tetap tidur di kamar Mama dan Papa. Seperti biasa jam tiga malam aku pasti ke kamar mandi, tapi karena ini adalah kamar mandi Mama dan papa, suasananya tidak seseram kamar mandi di kamar kami. Di kamar Mama dan Papa setiap tidur pasti lampunya dimatikan, gorden kamar pasti dibiarkan terbuka separuh. Aku secara tidak sengaja melihat ke jendela itu, Sesosok perempuan memakai baju putih sedang menatapku. Aku gemetar, kakiku terasa berat, aku ingin berteriak tapi tidak satupun suara keluar dari mulutku. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri.
Aku terbangun di atas tempat tidur kedua orang tuaku. Mereka bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Aku hanya terdiam. Setelah mandi pagi, aku keluar rumah hanya untuk sekedar menghangatkan tubuhku. Di jalan depan rumahku aku bertemu dengan teman sebayaku yang bernama Nadin, dia bertanya apakah aku betah tinggal di rumah ku yang sekarang ini, aku heran dengan pertanyaannya, lalu ia menceritakan bahwa rumah ku ini adalah tanah lapang tempat terjadinya pembantaian, sekitar 100 orang penduduk dibunuh dengan keji pada jaman penjajahan Belanda.
Ketika rumah ini akan dibangun, ternyata masih ada sisa-sisa kuburan yang tertinggal, makanya rumahku ini dijual dengan harga yang murah. Dan pembelinya adalah kedua orang tuaku. Aku bergidik ngeri, setelah itu aku berpamitan dengan Nadin dan masuk ke dalam rumah. Ketika aku melihat ke arah Nadin dia sudah menghilang.
Aku melihat Bibi Tuti sedang menyetrika pakaian, jadi aku iseng mendekatinya, aku pun menanyakan kebenaran cerita Nadin tadi karena Bibi Tuti adalah penduduk asli kampung ini. Dia membenarkan cerita Nadin, aku juga melihat Bibi Lima dan Bibi Sri sibuk dengan pekerjaannya. Aku bertanya kemana perginya Bibi Ima, tiba-tiba tubuh Bibi Tuti menegang, dia memandangku dengan heran.
Bibi Tuti pergi meninggalkanku, berbicara dengan Bibi Sri dengan serius, keduanya lalu mendekatiku. Dengan wajah serius mereka menggandeng tanganku membawaku ke kebun samping rumah. Di kebun samping rumahku itu terdapat dua buah kuburan, yang satu bertuliskan nama Ima dan di sebelahnya ..... bertuliskan nama Aini..
Siapakah sebenarnya Bibi Sri dan Bibi Tuti itu?, Bibi Sri adalah Ibunya Nadin dan Bibi Tuti adalah adiknya Bibi Sri , mereka semua adalah sebagian kecil korban pembantaian tentara Belanda. Bibi Ima adalah Ibuku. Hihihihi...dan Namaku adalah Aini..
TAMAT.
Peringatan ; Dilarang membaca cerita ini sendirian dimalam hari.
Selamat Membaca.