Semilir angin menembus tubuhku. Seakan tidak menginginkanku untuk tinggal. Cahaya mentari yang yang redup seakan tahu bahwa diri ini tengah dilanda kesepian. Pasir putih yang indah hanya membuatku semakin terasa hampa. Jejak kenangan membawaku ke dalam kenangan terdalam.
" Andai ada seseorang yang menemaniku saat ini, dan mau membagi semua cerita " Ucapku menghela nafas, aku pun tidak tahu kenapa aku bisa berkata seperti itu. Mungkin karna suasana laut yang menenangkan membuat pikiranku kacau.
" Boleh aku menemanimu?" Suara itu berhasil membuatku terkejut. Suara seorang lelaki yang dengan lembutnya, membuatku menoleh. Bisa langsung aku tangkap wajahnya yang terkena siluet cahaya mentari.
" Boleh? " Lelaki itu bertanya kembali dengan sebuah senyuman yang merekah dibibirnya.
" Tentu, " ucapku dengan tersenyum tipis. Aku kembali menatap langit yang mulai menggelap.
" Sudah hampir malam! " Aku menoleh. Senyuman manis itu kembali terlihat. Tapi sekali lagi aku tidak berniat untuk berbicara dengan lelaki ini.
" Setiap pulang kerja aku kesini, Untuk melihat matahari tenggelam diantara lautan dalam, Sangat indah bukan? Hingga terkadang membuat seseorang merasakan ketenangan sekaligus rasa hampa, " Kini terlihat dengan jelas ada sebuah kesedihan di mata lelaki yang ada disampingku ini.
" Iya terkadang cahayanya menyiksa orang yang tengah sendirian " Ucapku dengan memandang cahaya yang mulai tiada dari arah barat.
" Apa kamu tidak pulang? "
" Sebentar lagi, Setelah cahayanya benar-benar menghilang diantara lautan" ucapku dengan terus memandang luasnya lautan.
Keheninganpun menghampiri. Tidak ada kata lagi yang terucap. Kini hanya ada deburan ombak yang mengiringi pikiran kita berdua masing - masing
öööööö
" Mas apa kamu nggak capek? Seharusnya kamu nggak usah jemput aku. Aku juga nggak papa kok kalau pulang sendiri, " Ucapku pada Mas Agil.
" Aku nggak capek kok Nis. Masak mau jemput kamu aja aku nggak bisa" Mas agil tersenyum dan membelai pucuk rambutku.
" Ayo kita pergi sekarang! Nati keburu hujan lho, " Mas agil menggenggam tanganku. Ada rasa hangat yang mengalir darinya. Membuatku tidak bisa menolak untuk ia genggam.
" Ayo pasang dulu helmnya! " Mas agil memakaikan helm berwarna merah jambu itu padaku. Aku tersenyum sangat nyaman rasanya ada seseorang yang memperhatikanku.
" Udah siap? " Tanya Mas Agil memastikan.
" Udah mas " Setelah aku bersuara. Mas agil mulai menghidupkan motornya. Entah sengaja atau tidak Mas Agil menyentuh tanganku membawanya masuk ke dalam saku jaketnya. Aku terkejut dengan tindakannya. Tapi aku merasa senang dengan hal itu.
" Supaya nggak kedinginan Nis, " jelasnya.
Motor Mas agil mulai melaju. Memecah Jalanan yang mulai ramai. Mungkin karna ini sudah sore hari, waktunya para karyawan mulai bersiap pulang.
Hembusan angin menerpa wajahku. Menyadarkanku bahwa aku saat ini tidak sendirian. Sejak pertemuanku dengan Mas Agil di pantai. Hubungan kami semakin dekat. Tapi masih ada rasa takut yang menghinggap di hati. Takut akan ditinggalkan lagi. Takut akan terluka kembali. Namun Mas Agil terus berusaha mengobati lukaku. Dan membuatku terbiasa bersamanya.
" Nis, Nisa udah nyampek nih, " Suara Mas Agil menyadarkanku dari lamunku. Aku benar-benar tidak merasakan bahwa aku sudah sampai di depan Kos-kosanku. Aku pun segera turun dari motornya.
" Mas, Terima kasih ya udah mau nganterin aku, " Aku tersenyum ke arahnya.
" Iya Nis, sama-sama, " Mas Agil tersenyum manis ke arahku.
" Ya udah Mas, Nisa mau masuk dulu ya " Aku langsung membalikan badanku. Ingin rasanya beristirahat. Tubuh ini sudah terlalu lelah seharian ini.
" Nis, Mas mau ngomong sama kamu " Tangan Mas Agil menghalangiku, dia memegang tanganku. Membuatku tertarik ke arahnya. Hampir saja aku terjatuh. Dengan cepat aku menahannya menggunakan tanganku.
" Iya Mas, Mas mau ngomong apa? "
" Nis, Kamu tahu selama ini aku selalu mendekatimu. Aku selalu berusaha untuk menyembuhkan luka yang ditorehkan seseorang padamu. Bisakah kamu memberikan aku kesempatan untuk masuk ke hatimu, dan mengobati luka yang masih tersisa? Aku suka sama kamu Nis, " Dengan tangan yang masih ia genggam. Pernyataannya membuatku sedikit terkejut. Ada rasa senang sekaligus rasa ragu di hati. Aku terlalu takut untuk memulai semuanya kembali. Tapi aku pun tidak mau mengecewakan Mas Agil.
" Mas, Bisa beri aku beberapa hari untuk menjawabnya. " Terlihat dengan jelas raut wajah kecewa Mas Agil. Tapi saat ini aku benar-benar harus memantapkan hati. Dan meyakinkan diri sendiri. Mas agil tersenyum ke arahku seakan mengerti apa yang aku pikirkan.
" Iya Nis, Mas akan selalu menunggu jawabanmu " Mas Agil tersenyum manis kearahku. Dan mencium keningku. Awalnya aku terkejut dengan tindakannya. Namun langsung aku ubah raut mukaku membalas senyumannya.
" Ya udah sana sana masuk, nanti keburu gerimis" Aku mengangguk. dan melenggang masuk ke kamar Kosanku dengan perasaan bimbang. Aku bingung, aku tidak mau mengecewakan Mas Agil.
Setelah beberapa jam memikirkannya. Aku putuskan akan mencoba kembali. Aku putuskan untuk menerima Mas Agil. Dia sudah membantuku menghilangkan rasa hampa pada hatiku. Besok aku akan menjawabnya secara langsung padanya.
Besok harinya. Seperti rencana aku akan mengatakannya langsung pada Mas Agil. Aku sengaja sedikit berdandan hari ini. Karna sebentar lagi Mas Agil akan menjemputku.
TIN....TIN...
Suara motorpun berbunyi. Menandakan orang yang aku tunggu kini tengah berada didepan kosanku. Dengan cepat aku merapikan kembali pakaianku dan keluar untuk menemuinya.
" Hai, Selamat pagi Nisa, " Sapa Mas Agil.
" Selamat Pagi Mas, " Sunggingan senyum berada tepat dibibirku.
" Apa sudah siap semuanya? "
" Udah dong " Ucapku ceria.
Mas Agil mengantarku ke pabrik tempatku bekerja. Sesuai rencana aku akan mengatakannya ke pada Mas Agil saat ini juga.
" Mas! " Seruku.
" Iya Nis, kenapa nggak masuk? "
" Mas aku akan jawab sekarang, soal pertanyaanmu kemarin Mas " Mas Agil Yang langsung paham inti dari pembicaraanku pun sedikit merasa cemas. Aku tersenyum melihat wajah tegangnya.
" Mas, " Panggilku lagi
" I-iya Nisa, "
" Aku mau jadi pacar kamu Mas " Mas agil tampak sumringah.
" Be-bener Nis? Kamu mau? "
" Iya Mas, Aku mau! "
ööööö
Sebulan berjalan Mas agil masih perhatian padaku. Tapi tiga bulan kemudian, sikapnya benar-benar berubah. Sikap manisnya padaku kini berganti dengan sikap kasar yang sering kali ia lakukan padaku. Awalnya aku berpikir mungkin akhir-akhir ini Mas Agil sedang Banyak pikiran. Tapi berjalan tiga bulan. Kami benar-benar lost kontak. Aku coba beberapa kali menghubunginya. Tapi tetap saja tidak bisa.
Hingga terjadilah peristiwa yang tidak pernah aku inginkan. Saat tengah bertemu teman di restorant. Langsung bisa aku kenali sosoknya. Sosok orang yang beberapa hari ini tak bisa aku hubungi.
Kini dia tengah bersama wanita lain. Sempat terpikir olehku, mungkin saja itu saudaranya. Tapi dugaanku salah. Mana ada seorang lelaki mencium bibir saudaranya sendiri.
Hatiku hancur! Rasa kecewa menyelubungi pikiranku. Orang yang aku pikir tidak akan pernah menyakitiku. Dan akan selalu bersamaku. Kini dia mengores kembali luka yang dia obati.
Aku berjalan ke arah mereka dengan air mata yang tak terhenti.
" MAS.... Kamu tega sekali sama aku.... Hikss... Aku pikir kamu gak akan pernah nyakitin aku. Tapi semua salah, aku terlalu percaya dengan janji manismu itu. Aku... Hikss... " Aku berteriak. Kini aku sudah tidak memperdulikan orang lain tengah memperhatikanku. Kini hatiku benar-benar hancur. Aku salah, aku salah telah mempercayakan hatiku padanya.
" Nis, Nisa aku bisa jelasin... " Mas agil dan wanita itu terperanjat saat mendengar teriakanku. Dia berusaha untuk menjelaskannya. Mas Agil memegang tanganku saat aku ingin pergi.
" Ngejelasin? Apa yang mau kamu jelasin hah? Apa? Kamu mau ngejelasin kalok kamu selingkuh dari aku? Maaf aku sudah cukup ngeliat adegan ciuman kalian, " Ucapku sinis. Mas Agil sudah tak bisa mengelak lagi. Dia kini hanya terdiam memandangku.
" Kita putus! Jangan pernah kamu temui aku lagi, " Aku pergi dengan hati yang terluka. Aku tidak menyangka aku akan kembali mengalami hal seperti ini lagi. Hatiku hancur!! Hatiku sakit, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini lagi?
Rintik hujan menjadi saksi. Suara piluku tak terdengar direruntuhan hujan. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku masih sakit!
Terima kasih telah memberiku luka sedalam ini. Bahkan lebih perih dari pada yang dulu!!
End
🍁🍁🍁 ( Maaf bila ada kesamaan nama atau yang lainnya^_^ )