Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil..
Aku menatap sendu kedepan, semuanya hancur dalam satu malam?
Bagaimana ini, apa ini memang nasibku?
Melihat keluarga Rion yang sudah bahagia, aku merasa tak tega menyampaikan kabar buruk ini padanya?
Kalau benar begitu, bukankah aku adalah perusak hubungan orang lain?
Aku juga wanita, aku tau rasanya sakit hati.
Aku tidak mau menjadi benalu di keluarga ini...
Dan aku juga tak mau menggugurkan bayi tak berdosa ini..
Rania mengusap perut ratanya yang baru 3 minggu ia ketahui, “Nak, ini mamah sayang. Mamah akan menjagamu walau.....kau,” bibir Rania terasa kelu matanya memerah hingga air mata jatuh membasahi pipinya, “Yatuhan, mengapa ini terjadi padaku. Aku....aku apa yang akan ku katakan pada anak ini saat dia besar nanti.” keluh kesahnya pada sang pencipta yang memberikan situasi rumit ini.
“Aku harus pergi dari sini, tanpa dan atau siapapun yang ikut denganku,” lirihnya, Rania mengambil koper besar yang ia simpan di atas almari, mulai memasukkan barang-barang seperlunya. Walau air mata berjatuhan menangisi nasibnya. Ia harus tegar.
Wanita mana yang harus tegar disaat seperti ini, bahkan tangan Rania tak berhenti gemetar beberapa waktu yang lalu.
Cklek
Mengambil kunci mobil setelah mengunci rumahnya, ia berjalan pelan dengan memandang lurus kedepan, tangannya aktif mengelus lembut perutnya. Tanpa suami atau Papah bagi anaknya, ia bisa! Tekadnya.
Ia akan pergi ke rumah orang tuanya di surabaya, aku jadi menyesal tidak mendengarkan nasihat orang tua ku untuk tidak ke jakarta.
Mereka mengatakan, jakarta adalah ibukota yang padat, di kota yang besar ini dan sendirian tanpa siapapun yang mendampingi...
Harusnya...
BRM...
***
“Rania! Sudah matang nak, kita makan sama sama!” panggil seorang wanita paruh baya.
Rania keluar dari kamarnya, ia memandang sendu orang tuanya, kala netranya bertemu dengan ibunya, ia memaksakan senyumnya, ia baik.
Ia tak mau orang tuanya sedih karena ia murung dan tak bahagia. Pulang dari jakarta bukannnya membawa prestasi ataupun membahagiakan orang tua. Ia pulang membawa beban yang harus ia pikul di pundaknya.
Bayinya.
Dreet..
Kursi berderit mengalihkan atensi seorang pria paruh baya yang tengah membaca korannya, pria itu membenarkan kaca-matanya yang melorot dan tersenyum tipis memandang putri satu-satunya, “Baiklah, Rania makanlah yang banyak. Pak tua ini ingin cucunya kuat seperti mamahnya,” selorohnya mengusap pelan pucuk kepala putrinya.
Rania menunduk, merasakan lembutnya belaian tangan sang ayah pada surainya. Ia tersenyum lebar menatap ayahnya, ia menatap ibunya yang termanggu di samping meja makan dan segera mengalihkan pandangan bila ia bertemu putrinya.
Bukan, bukan karena ia marah maupun sedih dengan putrinya, ia hanya tak mau terlihat rapuh dihadapan Rania.
Rania tau, bahkan tanpa orang tuanya bilang sekalipun dari pergerakan, maupun tatapan. Rania sudah menduga bahwa keduanya kecewa terhadap dirinya.
Namun, bagaimanapun aku tetap anaknya, jadi karena kasihan ia di izinkan tinggal dirumah ini. Rania masih ingat kala setiap hari ibunya keluar rumah pasti harus menghadapi cacian serta hinaan para warga dan tetangga sekitar.
Bahkan paman dan bibinya pun malu dengan keponakan sepertinya. Rania menghela nafas dengan tabah.
Sudah satu bulan ini ia hidup dengan anaknya di rahimnya, ia mulai berusaha menyayanginya.
Ibu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya dan juga Rania, ia tersenyum lembut menatapnya, “Rania, jangan dengarkan perkataan orang lain,” cetusnya, Rania mengernyit bingung menatap ibunya penuh tanya, “Apa bu? Perkataan?” bingungnya.
“Ya, aku sangat menayangimu beserta calon cucu ibu. Walau ibu tak tau siapa ayah dari bayi ini. Tapi jangan khawatir kita akan selalu bersama disetiap langkahmu nak,” jelasnya panjang lebar.
Rania memandang ibunya teduh, ia mengedarkan pandangannya dan mulai berdiri dan menjauhi ruang makan, “Akan kuberitahu siapa anak ini bu,” Rania menggandeng tangan kedua orang tuanya. “Apa maksudmu nak? Mengapa membawa kami kemari?” tanya ibu menatap bingung pergerakan Rania yang menyalakan televisi di depannya.
Rania menoleh, “Ibu ingin tau siapa ayah dari bayi yang ku kandung, bukan?” tanyanya dibalas kedua orang tuanya dengan anggukan serempak. Jari Rania menunjuk seorang pria yang dikabarkan adalah salah satu pemegang saham diperusahaan, “Rion Fernando, ayah dari bayi ini.” paparnya memandang kedua orang tuanya tanpa semangat.
Ibu membekap mulutnya syok sedangkan ayah menatapku dengan sorot mata anehnya, “Bagaimana bisa?” lirih ibu menatapku.
“Bisa, dia adalah donatur di universitas ku, dan juga mantan pacarku disana. Kami saling mencintai namun, orang tuanya menjodohkannya dengan rekan bisnisnya jadi....dia menikah dengan wanita lain, bu.” lontarnya memandang ibunya dengan berkaca-kaca.
“Ibu faham. Ibu akan mendukung semua pilihanmu Rania.” Ibu segera mengucapkan kata-kata penenang pada anaknya.
***
2 bulan kemudian...
Rania mengelus lembut perutnya yang semakin membesar.
Tok
tok
tok
Suara ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan, ia berjalan gontai dan membuka pintu. Terpampanglah mantan kekasihnya, Rion.
Rania mundur kebelakang saat ia menatap Rion yang terlihat marah padanya, kakinya gemetar. 'Apakah ia akan dibunuh karena telah menghancurkan rumah tangganya lewat anak ini?' batinnya tak percaya.
Whuss
Rania semakin melotot melihat Rion berjongkok di depannya dengan mengelus perutnya dengan lembut, “R-rion?” serunya tak percaya.
Rion mendongak menatap Rania dengan lembut, kemarahan seakan sirna dari kedua matanya, “Aku sudah menceraikan istriku, orang tua ku setuju karena kau hamil anakku, dan mungkin ini sudah terlambat...” ia menjeda perkataannya sejenak, “Maukah kau menikah denganku, Rania?” tanyanya lembut.
“T-tapi istrimu..?” tanya Rania terbata-bata.
“Dia selingkuh dan orangtuaku mengizinkanku bersamamu.” Matanya menatap Rania lembut dengan perkataan santainya.
“Baiklah, dengan senang hati.” terimanya tersenyum lebar.
Drett..
Suara deritan pintu mengalihkan perhatian Rania dan Rion, serempak kedua orang tua Rania, menatap Rania dengan pandangan terkejutnya, “Rania kau..” lirih keduanya.
“Ini mantan kekasihku ibu.” jelas Rania. Rion berdiri dan memeluk Rania dengan erat, “Kami akan menikah.” seru keduanya.
Ayah dan ibu hanya tersenyum lembut menatap kami seraya mengangguk tanda menyetujui.
Dan akhirnya kami menikah dan bahagia selamanya...