Dimalam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Aku memebekap mulut ku tak percaya sambil menatap nanar dua garis biru yang terpampang nyata di testpack kubeli tadi. Aku mencengkram rambutku frustasi, air mata ku luruh begitu saja.
Aku bingung apa yang harus ku lakukan sekarang?
Aku hamil anak Karan, mantan pacar ku yang telah berpisah denganku beberapa bulan yang lalu karena hubungan kami tidak mendapat restu dari orang tua. Dan anak yang kini ku kandung adalah hasil dari amarah Karan padaku karena aku memilih mendur tak mau memperjuangkan hubungan kami.
Sekarang dia sudah menikah dengan pilihan orang tua nya. Dia akan bahagia dengan wanita lain.
Sedangkan bagaimana dengan ku? Apa aku harus meminta pertanggung jawaban padanya? Sedangkan dia sekarang sudah memiliki istri.
Aku berdiri kemudian merebahkan tubuhku diatas ranjang, tangan ku mengusap perut ku yang masih rata. "Apa yang harus Mama lakukan sekarang Nak? Papa mu sudah jadi milik orang lain." gumam mu miris.
Tak ingin kedua orang tua ku tahu aib ini. Aku memilih mengepak semua pakaian ku kedalam tas, aku memilih pergi dari rumah ini. Untung saja kedua orang tua ku masih tertidur membuatku leluasa pergi dari rumah.
Digemerlap malam ini aku memilih pergi terlebih dahulu ke rumah Karan untuk mengabarkan kabar ini padanya. Entah apa reaksinya nanti, intinya aku hanya ingin memberitahukan kehamilan ini padanya.
Saat ini aku tepat didepan rumah Karan. Dan bertepatan itu Karan sedang menjawab telepon di teras rumah. Aku dengan cepat menghampirinya dengan air mata yang sudah keluar deras.
"Karan." panggilku lirih. Karan menatapku terkejut, dia mematikan sambungan telepon nya kemudian memandangku sinis.
"Ada apa lagi?" jawabnya datar.
Aku sungguh ketakutan. "A-aku hamil." cicitku.
Tubuh Karan menegang. "Hamil? Anak siapa?"
"Anakmu. Kejadian waktu itu menumbuhkan nya disini." balasku menunduk malu. Tak seharusnya aku meminta pertanggung jawaban nya sedangkan dirinya sudah memiliki istri.
"Kau berbohong?"
"T-tidak Karan. Maafkan aku, a-aku."
Karan tiba-tiba memeluk ku. "Tunggu disini. Jangan pergi kemanapun."
Karan berlari kedalam rumahnya, jantungku berdegup cepat akan reaksi Karan. Reaksi Karan benar-benar diluar dugaan ku. Apakah dia menerima ku dan anak nya? Lalu bagaimana dengan istrinya.
Karan kembali sambil membawa tas juga dan ditangan nya ada kontak mobil. Lalu dia menggandeng tangan ku. "Ayo kita harus pergi dari sini. Sebelum dia datang." ajak nya dengan nafas menderu.
Sontak aku menghempaskan tangan nya. "Kau gila? Lalu bagaimana dengan istri mu!" aku tidak setega itu membuat Karan meninggalkan istrinya disaat malam pertama nya.
Karan menangkup wajahku. "Dengar. Aku sama sekali tidak mencintai nya. Aku mencintaimu dan anak kita. Lebih baik sekarang kita pergi dari sini. Kita membangun keluarga yang bahagia meskipun tanpa restu kedua orang tua kita."
"Ayo! Sebelum mereka datang. Kita harus pergi!"
Karan menggeret tangan ku paksa menuju mobil. Dengan gerakan cepat dan penuh ketakutan Karan menstater mobilnya. Tak hanya Karan juga yang ketakutan, aku pun begitu. Tapi mungkin pilihan ini lah yang terbaik.
Namun saat perjalanan ada sebuah mobil mengikuti mobil kami dan ternyata itu adalah mobil istri Karan.
"Kar, apa yang harus kita lakukam sekarang!" panik ku.
Karan menoleh kearahku. "Tenanglah. Aku akan menjagamu dan anak kita."
Karan melajukan mobilnya lebih cepat, mencoba melewati jalan-jalan sempit mengindari kejaran mobil istrinya namun sial jalan yang Karan pilih ternyata buntu. Dengan terpaksa aku dan Karan keluar dari mobil.
Ternyata istri Karan tidak sendirian, disana ada dua bodyguard yang siap membunuh kami.
"Maafkan segala dosa ku. Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi jangan kembali pada mereka, pergilah dan jagalah anak kita."
Aku disuruh Karan bersembunyi dibalik dinding, sedangkan disana Karan tengah bertarung hebat dengan kedua bodyguard itu. Aku menangis dibuat menyesal, mantan ku yang ku sia-sia kan ternyata sangat mencintai ku.
Karan berhasil menghabisi kedua boyguard tersebut, namun tiba-tiba istri Karan menghunus kan pisau tepat dijantung Karan hingga Karan meninggal dunia.
"Karaaannnn!" teriak ku dengan histeris. Dengan cepat aku menghampiri jasad Karan kemudian menatap istri Karan dengan tatapan membunuh.
"Kau akan menyesal telah membunuh ayah bayiku!" aku mengambil pisau dari tangan Karan dan langsung menancapkan nya tepat di wajah nya.
Darah nya melumuri wajahku. Mereka semua meninggal. Menyisakan diriku saja dan anak ku. Tak lama suara sirine mobil polisi terdengar.
Dengan cepat aku berlari sejauh mungkin meninggalkan semua jasad disana. Jika aku tau ini akhirinya, aku tak akan memberitahukan Karan tentang kehamilan ini.
Mungkin pilihan hidupku selanjutnya nanti adalah membesarkan buah hatiku tanpa adanya Karan. Di malam yang kelam ini aku bertekad akan melupakan semua kekadian disini dan memulai hidup baru ditempat yang jauh meskipun pasti akan sulit.
"Terimah kasih mantan pacarku."