Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Rasanya masih tidak percaya, malam ini menjadi malam yang sangat menyedihkan untuk hidupku. Aku harus menghadiri pesta pernikahan mantan pacarku dan menerima kenyataan bahwa aku sedang mengandung darah dagingnya.
Sedih, tentu tidak. Kecewa, tidak juga. Kami melakukannya suka sama suka saat itu. Kami pikir, semuanya akan aman dan tidak akan terjadi hal sebesar ini. Namun, semuanya sudah terlambat. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan kekasiku, Nagata Abinaya. Aku diputuskan begitu saja.
Ya, panggil aku Sekar. Namaku Diajeng Sekar Ayu. Aku menjalin hubungan dengan Nagata sudah cukup lama. Hingga akhirnya kenikmatan sesaat itu membuatnya harus memutuskanku dan memilih menikahi wanita lain. Aku memang bodoh, tetapi Nagata menurutku memang sengaja melakukan ini kepadaku.
Aku berjalan gontai ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada pernikahan Nagata Abinaya dan pengantin wanitanya, Bintang Asri Kemuning. Lebih menyakitkan lagi, ternyata mantan pacarku telah menikahi sahabatku.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucapku. Aku berusaha kuat untuk menghadapi kenyataan pahit di hadapanku.
Kehilangan orang yang kucintai dan sekarang aku menanggung beban seberat ini. Ingin kugugurkan kehamilan ini, tetapi aku tidak tega untuk membunuh satu nyawa yang tidak berdosa ini.
"Terima kasih," jawab Nagata.
Mantanku itu terlihat sangat bahagia menggandeng mesra tangan istrinya. Wanita beruntung itu juga terlihat bahagia dan sangat antusias menerima ucapanku.
"Aku tidak menyangka, Sekar. Ternyata Mas Naga menikahiku. Padahal aku sempat cemburu sama kamu. Habisnya Mas Naga ganteng, sih," ucap Bintang dengan binar bahagianya. Sementara Nagata yang mendengarkan ucapan istrinya ikut tersenyum puas dengan apa yang didapatkannya.
"Bintang, boleh kupinjam suamimu sebentar? Aku ingin berbicara berdua dengannya," pintaku.
Tentu saja Bintang mengizinkan. Lagi pula, Nagata sudah menjadi mantan untukku. Bintang tidak akan khawatir lagi.
"Silakan saja, Sekar. Mas Naga sudah sah menjadi suamiku. Jadi, aku tak perlu takut lagi untuk membiarkannya berbicara dengan siapapun termasuk denganmu," jawab Bintang.
Aku mengajak Nagata ke sudut Ballroom hotel yang tidak terlalu ramai. Aku tidak berani membawa pria itu keluar dari area pernikahan. Aku takut kalau dia tidak mau berbicara denganku.
"Mas," ucapku mengawali pembicaraan.
"Hemm, ada apa? Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Nagata ketus. Sepertinya dia tidak suka dengan keberadaanku.
"Mas, kamu ingat kejadian malam itu. Di mana kita telah melakukan hal yang seharusnya belum boleh kita lakukan." Aku berusaha memutar kembali ingatan Nagata.
Nagata terdiam. Tampaknya mulai ingat akan kejadian malam itu. Dia menatapku dengan tatapan yang nyaris seperti orang tidak peduli.
"Lalu, apa hubungannya denganku? Bukankah setelah kejadian itu, aku sudah memutuskan hubungan denganmu? Sekarang apalagi?" Nagata menyudutkanku dengan berbagai pertanyaan itu.
"Aku hamil, Mas." Kata itu yang mampu kuucapkan. Air mataku hampir tidak terbendung. Namun, aku berusaha untuk tetap menahannya.
Jeduar!
Nagata bagaikan mendapatkan sesuatu yang sangat tidak diinginkannya. Malam pernikahannya seharusnya menjadi malam terindah baginya. Menerima kabar seperti itu membuat Nagata harus mengambil sikap tegas. Dia tidak mungkin menerima Sekar kembali karena sudah menikahi Bintang.
"Maaf, Sekar. Aku tidak bisa bertanggung jawab dengan berita yang kamu sampaikan barusan. Kita baru melakukannya sekali dan kemungkinan hamil itu sangat tipis," kilahnya.
Rasanya badanku hampir luruh ke lantai. Dengan mudahnya pria itu mengatakan hal segampang itu.
"Jadi, maksudmu aku berpura-pura hamil di depanmu, hah? Lihat tespek ini! Aku juga tidak pernah melakukannya dengan orang lain." Aku berusaha untuk meminta pertanggungjawaban darinya. Aku menunjukkan bukti tespek yang sejak tadi berada di dalam tasku.
Nagata menatap getir tespek itu dan buru-buru mendorongku untuk menyimpannya.
"Simpan saja benda itu! Tidak ada lagi hubungan di antara kita. Jangan coba-coba kamu memberitahukan pada semua orang tentang kehamilan itu. Aku juga tidak akan bertanggung jawab padamu karena aku akan hidup bahagia bersama Bintang," tolak Nagata.
Aku hancur. Perjuanganku untuk mendapatkan pertanggungjawaban darinya malah mendapatkan penolakan yang menyakitkan itu.
Aku tidak bisa memaksanya lagi. Nagata bergegas kembali ke pelaminan karena sejak obrolan kami berlangsung, Bintang selalu saja berusaha memanggilnya.
Aku keluar dari Ballroom itu membawa luka, beban berat, dan masa depan yang telah menghancurkan hidupku. Kesalahan satu malam yang membuat hidupku semakin berantakan. Penyesalan tiada gunanya lagi. Sekarang aku harus bertanggung jawab seorang diri untuk melanjutkan kehidupanku dengan janin yang kukandung. Mentalku harus siap menerima hinaan dan cemoohan dari orang-orang sekitarku. Belum lagi tentang keluargaku dan yang paling penting orang tuaku. Mereka pasti kecewa dengan apa yang kudapatkan hari ini. Pelajaran yang sangat berharga untuk tidak melepas sesuatu yang paling berharga sebelum waktunya tiba.