Di malam pernikahan mantan pacar aku hamil.
1 bulan yang lalu kami tidak sengaja melakukan dosa besar. Saat itu kekasihku yang bernama Bertrand Bakhtiar mengajak diriku untuk mendampingi ke sebuah pesta rekan kerjanya, yang dimana dalam pesta itu harus membawa pasangan.
Aku terpaksa menyetujuinya karena Bertrand memaksa. Padahal selama 1 tahun kami menjalin hubungan diriku tak pernah di publikasikan karena itu permintaan dariku sendiri. Perbedaan kami jauh berbeda. Bertrand pewaris BAKHTIAR GROUP sedangkan aku hanya seorang karyawan biasa yang bekerja di perusahaannya.
Kedua orang tua Bertrand mengetahui hubungan kami karena Bertrand pernah memperkenalkanku kepada mereka. Sejak awal aku sudah berpikir jika hubungan kami di tentang. Ya malam itu kedua orang tua Bertrand murka dan merendahkan aku.
"Sayang apa kamu sudah bersiap?" Bertrand mengirim pesan kepadaku.
"Sudah sayang," aku pun membalas pesan itu dengan singkat.
"Oke aku akan segera ke sana," sekali lagi Bertrand mengirim pesan, sedangkan aku tidak membalas lagi.
15 menit mobil sport mewah memasuki perkarangan rumah kontrakanku. Dari teras kecil aku bersama Adik kesayanganku menunggu Bertrand. Bertrand turun dan langsung bergegas menemui kami dengan senyuman mempesona nya yang selalu membuat jantungku berdebar.
"Dek Kakak pergi dulu, kamu berhati-hati di rumah. Hmmm jangan lupa kunci semua pintu," ucapku mengingatkan Lala.
Lala mengangguk pertanda dia mengerti. Kami pun segera meluncur ke tempat pesta di adakan yaitu hotel berbintang.
Kami memasuki lobby hotel dengan tangan Bertrand melingkar di pinggang ramping bak biola milikku seakan ingin menunjukan kepada tamu rekan bisnisnya jika aku adalah wanitanya. Aku canggung dengan keadaan ini karena ini pertama bagiku untuk mendampingi Bertrand, apa lagi dengan posisi seperti ini.
Bertrand selalu menebarkan senyuman karena para rekan bisnisnya memuji dan kagum akan kecantikan dan keramahan yang kumiliki. Seolah tidak ada yang mereka dapatkan dari wanita-wanita yang menjadi pasangan mereka.
Kami di suguhkan dengan minuman. Karena aku orangnya terlalu polos hanya meminum non alkohol. Tanpa kami sadari ternyata dalam minuman kami dicampuri sesuatu. Sepertinya ada tangan-tangan jail atau ingin ada maksud tertentu.
"Sayang kenapa kepalaku sangat pusing?" kataku kepada Bertrand sambil memegang kepala yang sangat berat.
"Aku juga merasakan hal yang sama," lirih Bertrand berusaha menahan sesuatu.
"Aaah kenapa tvbvhku sangat panas," lirihku kembali dengan gan gelisah.
Bertrand mendongak menatapku dengan sorot mata memerah. Dia berusaha bangkit dan langsung menggendongku ala bridal menuju kamar hotel. Aku tidak menolak bahkan sangat nyaman dengan sentuhan, gesekan dari tvbvh Bertrand.
"Kita sepertinya minum obat perangsang," kata Bertrand kepadaku sehingga membuatku membeku, ya walaupun gelora menyerang seluruh tvbvhku tetapi kesadaranku masih setengahnya.
"Apa?" jawabku kaget.
Bertrand semakin memepet tvbvhku dan hal itu membuatku sedikit nyaman. Sekuat apapun kami mempertahankan benteng itu tetapi tetap runtuh, ya pertahanan kami runtuh. Malam penuh dosa itu terjadi begitu cepat.
"Aku akan bertanggung jawab sayang, apapun yang terjadi," itulah yang aku dengar samar-samar sebelum masuk ke dunia mimpi.
1 bulan kemudian
Aku tiba-tiba merasa tidak enak badan. Rasa pusing dan mual menyiksa bagiku. Akhir-akhir ini porsi makanku melebihi sehingga teman-teman di kantor mengataiku minum obat gemuk karena porsi makanku tak seperti itu. Tetapi di pagi ini aku kehilangan nafsu makan. Aku bergegas berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutku, entah sudah berapa kali aku mengeluarkan cairan kekuningan itu. Sungguh tvbvh ini lemas dan pusing tak kunjung menghilang. Aku putuskan tidak masuk bekerja karena memang tak sanggup lagi. Aku tertidur dan terbangun pas jam makan siang. Aku berusaha membuka mata, berangsur-angsur rasa pusing mulai menghilang. Aku putuskan pergi ke bidan yang hanya berselang 5 rumah dari rumah kontrakan kami. Aku minta obat pusing dan mual tetapi sayangnya Bu Bidan menganjurkanku periksa terlebih dahulu karena ia melihat ada yang ganjil, entah begitulah yang ada dalam pikiran wanita paruh baya itu. Bu Bidan memberi resep obat sesuai permintaanku tetapi ekor mataku melirik benda aneh yang tidak pernah aku pegang. Seketika mataku membulat mengetahui benda apakah itu.
"Untuk apa itu Bu?" tanyaku dengan wajah pucat pasi.
"Ibu anjurkan hmmm kamu juga paham Ra," jawabnya. Ya namaku adalah Lara yang sering dipanggil Ra.
Aku menahan nafas sejenak dengan mengigit bibir bawahku. Berusaha membuka mata, mengintip hasil testpack, yang seharusnya garis satu.
Duarr
Malam itu bagai disambar petir menghantam ragaku. Kedua kakiku tak dapat menompang tubuhku sehingga merosot ke lantai kamar mandi yang sangat dingin, tetapi rasa itu seolah beku. Aku menangis tersedu-sedu dengan kedua tangan menompang wajahku. Ya akibat perbuatan dosa itu janin tumbuh di rahimku. Ini antara kabar gembira dan sedih bagiku, jika kami adalah sepasang suami-istri tentu saja ini adalah kabar gembira.
Aku bergegas bangkit dan menenangkan diri sejenak. Merasa tenang aku nekat menemui Bertrand bermaksud memberitahu kabar gembira ataupun sedih ini. Aku tau bahwa ini adalah malapetaka tetapi aku ingin janin ini memiliki Ayah. Aku tidak yakin Bertrand ada di Mansion orang tuanya karena sudah 3 minggu setelah 1 minggu dari kejadian itu mereka tidak pernah bertemu dan bahkan berkomunikasi. Bertrand selama 3 minggu tidak masuk kantor sehingga sulit untuk aku menemuinya.
Di gerbang Mansion aku di hadang oleh pengawal.
"Bisa tunjukan kartu undangannya Nona," ucap salah satu dari mereka kepadaku. Aku bingung apa yang mereka katakan.
"Kartu undangan apa?" tanyaku begitu polos sehingga membuat mereka mengerutkan dahi dan saling memandang.
Seketika aku baru sadar didalam taman Mansion sangat ramai seperti ada pesta. Tiba-tiba wanita paruh baya menuju ke arah kami yang tak lain adalah Mami dari Bertrand, Ayah dari janin yang ada di rahimku.
"Kembali bertugas!" Tegas Mami Bertranditu kepada mereka yang menahanku. "Ikut aku," titahnya menunjuk diriku yang penuh rasa penasaran. Aku mengikuti dari belakang dengan jantung dag dig dug.
Mami Bertrand berhenti tepat di tempat cukup sepi. Beliau menatapku dengan tajam seperti ingin memangsaku.
"Masih berani kamu menampakan diri? apa kamu tidak sadar siapa kamu?" cecar, hinaan, makian menyambut kedatanganku. Aku menunduk tidak sanggup melihat bola mata menghujam itu.
"Lara, Lara kamu pikir Bertrand mencintaimu?" ejeknya penuh tawa.
"Tentu Nyonya," jawabku memberanikan diri karena itulah kenyataannya.
Hahaha....
"Jangan percaya diri. Coba lihat itu," Mami Bertrand memegang kedua bahuku untuk menghadap ke arah yang membuat tubuhku ambruk.
Deg
Selamat berbahagia Bertrand dan Maura
Aku terkekeh menertawakan diriku sendiri tanpa berhenti bulir bening ini membanjiri wajah pucatku.
"Apa kamu masih yakin putraku mencintaimu?" ejek Mami Bertrand sekali lagi. Aku terperanjat dan sadar atas kedatanganku ke Mansion ini.
"Nyonya aku sedang mengandung darah daging Bertrand," hanya itu yang bisa aku katakan, bagaimanapun aku harus mengatakan itu sembari menyerahkan benda kecil itu agar Mami Bertrand percaya.
"Belum tentu itu anaknya dari Bertrand. Aku tau wanita-wanita yang berusaha mengejar Bertrand, berbagai macam cara untuk dilakukan," jawaban itu seperti tamparan bagiku.
"Tidak Nyonya saya harus menemui Bertrand," kataku berusaha berjalan menuju singgasana kedua mempelai.
Mami Bertrand mengumpat serta sumpah serapah di tunjukan kepada diriku tetapi tidak membuatku untuk menghentikan langkahku.
Drett
Ponselku tiba-tiba berdering, entah sudah berapa kali. Aku lihat itu panggilan dari dokter sahabatku sendiri dan mengirim pesan agar aku mengangkat telepon darinya. Mau tidak mau aku mengangkatnya khawatir ada yang penting, walaupun urusanku lebih penting.
Kabar dari seberang membuat jantungku berhenti berdetak untuk waktu sesaat. Air mata ini tidak dapat terbendung lagi, belum saja mengering kembali mengalir deras. Aku ambruk ke rerumputan yang terasa dingin. Mami Bertrand tersenyum sinis dan penuh ejekan. Kejutan demi kejutan yang aku terima malam ini.
"Aku bersedia mengoperasikan Adikmu asalkan kamu berjanji untuk menghilang dari hidup Bertrand selama-lamanya," ya wanita anggun itu mendengar apa yang dikatakan dokter lewat sambungan telepon karena tanpa sengaja aku menyalakan spiker. Mendengar tawaran itu membuatku menadah wajah ke atas sehingga pandangan kami bertemu. Tanpa menunggu lama aku menjawab setuju karena lambat sedikit nyawa Adik kesayanganku tak tertolong. Ya aku tidak punya uang dalam jumlah besar, jangankan jumlah itu, untuk makan sehari-hari saja kami irit. Bertrand selalu menawarkan bantuan tetapi aku menolaknya dengan halus agar tidak menyingung perasaannya.
"Bagus! Kamu boleh melihat mantan pacarmu mengucapkan janji suci pernikahan," ejek Mami Bertrand untuk kesekian kalinya. Sedikitpun beliau tidak iba dengan nasib malang ini.
Aku menyaksikan orang yang sangat aku cintai menikah dengan orang lain. Hati ini terasa di sayat ribuan pisau tumpul sehingga perlahan-lahan koyak. Khayalan berjalan di akhtar dan mengucap janji suci pernikahan dengan orang yang dicintai sirna begitu saja.
Tes tes tes
Aku berjanji ini adalah terakhir meneteskan air mata. Aku sama sekali tidak mengutuk Bertrand karena rasa cinta tulus ini mengalahkan semuanya.
"Sayang kamu jangan khawatir, ada Mama yang selalu menyayangi dan mencintaimu. Mama janji kamu tidak kekurangan kasih sayang. Mari semangati Mama untuk memulai dari bawah, kita tinggalkan masa lalu yang begitu pahit. Kita tidak bisa melawan takdir sayang," kataku seolah-olah berbicara dengan calon anakku sembari mengusap perut yang masih rata. Aku melangkah berat sembari menggenggam bukti ada janin dalam rahim ini tanpa menoleh ke belakang. Memilih diam itulah takdirku!
Tanpa aku sadari ternyata Bertrand menyadari kehadiranku.
"Aku minta maaf sayang, semua demi keselamatan kamu dan Adikmu. Sampai kapanpun namamu dalam hati ini tak tergantikan," Bertrand membatin dengan pandangan sendu kearah bayanganku yang mulai menghilang.