Alexandria Island : The Dawn
——————————————————
Catatan :
Cerita ini hasil dari pemikiran acak penulis. Jika ada kesamaan dengan cerita, latar belakang & waktu, dan tokoh, penulis mohon maaf.
————————————————
Satu dari sekian hal yang Julias ingat tentang tadi malam hanya; karena persedian dapur sudah menipis, Julias harus pergi ke swalayan hari itu juga.
Melihat jam digital pada ponsel, Julias menghela napas pendek, "Setelah pulang kerja, aku akan pergi ke Archeli de Store." katanya sembari memasuki lift.
Kemudian saat jam kerja benar-benar berakhir, Julias lantas keluar, menghiraukan berbagai ajakan dari rekan kerja untuk minum atau sekadar makan malam, lalu menjalakan mobil camero bewarna perak miliknya,
Setelah beberapa waktu Julias berkendara, pada blok ketiga yang dilalui, dari kejauhan Julias dapat melihat papan Archeli de Store. Lalu pada blok kelima akhirnya mobil Julias berbelok.
Dia berniat parkir di pinggir jalan, karena Julias tidak membeli begitu banyak, hanya yang darurat, paling tidak untuk beberapa hari ke depan, harus cukup sampai dia menerima gaji untuk bulan ini.
"Aku parkir di sini saja," katanya, namun raut wajah Julias sontak berubah asam tatkala menemukan petugas keamanan berdiri tidak jauh di salah satu mobil yang terparkir.
Parkir sembarang berarti tilang, begitu pikir Julias.
Tangan Julias sontak bergerak cepat memutar kemudi, iris Julias terus memerhatikan kaca spion dan petugas itu secara bergantian, "Pergi ke tempat parkir, mau tidak mau."
Karena jalanan di blok itu hanya satu jalur, mau tidak mau, Julias harus memutar satu blok untuk sampai di tempat parkir Archeli de Store. Setibanya di tujuan, Julias memilih parkir yang agak dekat dengan pintu masuk.
Tidak butuh waktu lama, Julias telah kembali ke mobil dengan satu kantong kertas di tangan kanan, masuk ke dalam mobil dan meletakkan semua yang dia pegang ke kursi penumpang, termasuk ponsel dan dompet.
Menyalakan mesin, berkendara keluar tempat parkir, kini tujuan Julias berkendara adalah Alexandria Island, pulau kecil yang berada di timur Michigan Town.
Julias melirik jam digital yang tertera pada radio, "Jam 10.54 malam," Julias menghela napas pendek. "Aku lupa makan malam."
Selama mobil camero itu membelah malam, terkadang ekor pandang Julias melirik barbagai cahaya yang berasal dari lentera...,
Julias terkesiap, "Aku tidak ingat."
"Apa...," tangan Julias terangkat menyentuh kening yang banjir keringat, memeriksa dirinya sendiri yang masih berpakaian lengkap, lalu menyadari dia telah berada di rumah, di kamarnya.
Julias sontak bergerak bangun, beranjak tergesa ke dapur dan jantung Julias hampir lepas dari tempatnya tatkala dia menemukan barang belanjaan, ponsel dan dompet, juga kunci mobil, berada di atas meja pantry.
"Mobil," iris Julias membulat sempurna, dia lantas mengambil langkah cepat, bahkan tanpa sadar berlari menuju garasi. Namun,
Stagnan, si pemuda berhenti di pintu garasi, Julias dapat merasakan teror pada perutnya, suara Julias terdengar tegang seperti senar biola yang ditarik paksa, "Ada," katanya, "mobilku, mobil cameron-sialan-perak yang sering mogok, ada, terparkir di garasi."
Iris hijau-biru Julias menangkap ada sesuatu yang bergerak kecil di sudut ruangan, terhalang mobil, sontak hal tersebut membuat tingkat waspada Julias naik 100% dalam satu waktu.
Iris Julias lantad berlarian, mencari benda yang bisa digenggam. Sialnya, hampir tidak ada benda yang berada dalam jangkauan Julias, jadi dia mengambil sepatu yang masih dipakai–keduanya, mengangkat tinggi-tinggi.
"Kurang ajar!" Julias melempar kedua sepatunya secara bergantian namun beruntun.
"Aw! Sakit!"
Julias stagnan, mendengar suara perempuan menjerit, ditambah pergerakan yang kian signifikan. Bersamaan dengan gerakan itu, barang-barang di sekitarnya jatuh.
Iris Julias membulat tatkala pemilik suara itu kini benar-benar menampilkan sosoknya, berdiri di belakang mobil, menghadap Julias yang berada di seberang.
Perempuan. Cantik. Tinggi. Putih bersih. Rambut perak, panjang bergelombang. Tanduk hitam di kepala. Lalu, sayap.
"S, sayap," tanpa sadar Julias bergerak mundur. Ingatan-ingatan tentang cerita dongeng yang diceritakan oleh sang ibu dan nenek ketika kecil;
Cerita bagaiman penduduk lokal, Xyanth, begitu memuja Dewi mereka, Dewi Alexandria, dan tetap menerima para pendatang. Dalam cerita, Xyanth menyebut para pendatang dengan sebutan The Dawn, karena membawa pengetahuan tentang Bahasa Lama.
Ingatan masa kecil Julias, sontak menyerang benak sekaligus. Kepala Julias bergerak statis, bergumam ketakutan, "Alexandria...,"
Kepala perempuan itu bergerak miring, "Kamu mengenalku?" katanya, suaranya begitu merdu dan anehnya manis seperti madu.
Meski begitu, bak disiram air dingin, Julias tidak dapat bergerak ke mana pun saat dalam sekejap sosok perempuan itu telah berada tepat di hadapannya.
"Kamu mengenalku?" Perempuan itu kembali mengulangi pertanyaannya, iris perak itu memaku iris hijau-biru milik Julias yang bergetar ketakutan.
Julias hendak bergerak mundur sekali lagi, ketika kedua tangan perempuan itu terangkat lalu bergerak maju untuk menyentuh wajahnya, namun sial, Julias dapat merasakan pintu garasi di balik punggungnya.
Rahang Julias mengeras, tatkala jemari itu hampir menyentuhnya. Dan saat itu juga iris Julias terpejam. Menarik seluruh emosi agar membuat dirinya kembali bergerak.
Aku harus keluar dari sini! Pikiran Julias bekerja keras memerintah tubuhnya untuk bergerak dari sana.
Selama iris Julias terpejam, si pemuda tidak merasakan sesuatu, sentuhan jemari lentik perempuan itu, pada wajahnya.
Perlahan Julias membuka kembali irisnya, dia terkejut ketika menyadari jemari itu berhenti beberapa senti dari wajahnya. Begitu juga dengan wajah si perempuan, Julias melihat sekelebat riak kesedihan dan kecewa pada iris perak itu.
"Kamu mengenalku," suara perempuan itu kembali terdengar, tapi Julias mendengar riak sedih menghujani setiap kata yang terucap. "Kamu mengingat namaku, Julias, tapi kamu tidak mengingatku."
.
.
—The End—
01 Maret 2022