"Dimalam pernikahan mantan pacarku, aku hamil."
Plakkk...
Satu tamparan keras mendarat di pipiku, sementara ibu berusaha menahan tangan ayahku yang kembali akan mendaratkan tangan besarnya.
"Katakan ! Siapa ayah dari bayi itu? Laki-laki brengsek mana yang berani menodai putriku? Katakan! " teriak ayah penuh emosi.
"Sudah yah, tenang dulu. Kita bicarakan baik-baik," ucap ibu berusaha menenangkan ayah.
Sementara aku hanya bisa tertunduk, menangis. Mana mungkin aku mengatakan jika Kak Ilham adalah ayah dari bayi yang ada dalam rahimku, sementara besok pagi ia akan mengucapkan ijab Kabul dengan Mbak Maya, kakak kandungku. Bagaimana aku bisa mengatakannya?
"Naya, sayang bilang sama ibu nak, siapa yang sudah menghamilimu!" bujuk ibu, ia juga terlihat meneteskan air mata, ibu mana yang rela melihat anaknya mengalami nasib seperti ini.
"Sudahlah. Ambil ini, gugurkan kandungan mu! Ayah tidak mau tahu lagi, bila perlu pergilah ke luar kota untuk beberapa saat," tukas ayah, melemparkan kartu ATM di pangkuanku, "Besok mbak mu akan menikah, Ayah tidak mau jika sampai kamu menjadi aib keluarga dan membuat pernikahannya batal." pungkasnya berlalu pergi.
"Kamu yang sabar ya nduk," ibu hanya bisa mengelus rambut ku .
***
Hari ini, tepat dimana pria yang berjanji akan menikahiku justru berakhir menjadi kakak iparku sendiri, menorehkan luka yang teramat sangat padaku. Di usiaku yang baru saja menginjak 22 tahun, aku harus membuat keputusan terbesar dalam hidupku dan hidup janin yang ada di dalam kandunganku, dengan penuh rasa takut aku datang ke dokter kandungan, untuk pemeriksaan.
Dokter wanita itu mengatakan jika aku mengandung bayi kembar, aku tidak tahu perasaan apa yang menyeruak dalam hatiku, ada kehangatan yang tidak bisa kujabarkan dengan kata-kata.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan semuanya, keluargaku dan juga lelaki yang telah mengkhianatiku, aku membeli beberapa kebutuhan yang ku perlukan dan tiket. aku berencana untuk menjauh dari semua orang dan memilih membesarkan kedua malaikat yang dititipkan tuhan padaku, aku tidak akan berani untuk merenggut nyawa yang bahkan belum sempat melihat dunia. Cukup aku yang melakukan dosa jangan sampai kedua putraku juga menderita karena dosaku.
Lima tahun kemudian.
Jika kau bertanya bagaimana keadaanku saat ini, maka jawabannya adalah aku baik-baik saja. Setelah perjuangan yang cukup berat menjalani kehamilan dan proses melahirkan tanpa adanya dukungan keluarga, tapi sekarang semua baik-baik saja.
Tuhan memberikanku dua malaikat yang sangat lucu, Kenzo dan Kenan. Usianya mereka sudah menginjak empat tahun, tingkah lucu mereka adalah obat paling mujarab untuk melupakan semua luka masa lalu.
Satu lagi, aku bertemu dengan dewa penolong yang menyelamatkanku dari segala keterpurukan, disaat orang-orang terdekat membuang dan mengabaikanku ia hadir bagai oasis di tengah gurun pasir. Dia adalah Johan, suamiku.
Johan menerimaku dengan segala kekuranganku, membantuku melewati masa-masa tersulit dalam hidup ini, dan sekarang dia adalah sosok ayah yang sangat baik dan penyayang, kami bahagia.
Hari ini setelah lima tahun lamanya, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuaku, bersama dengan suami dan kedua putraku.
Orang tua ku menyambut kedatangan kami dengan bahagia, ayah yang awalnya tidak menerima kehadiran Kenzo dan Kenan pada akhirnya juga luluh pada kelucuan mereka.
Kupikir aku sudah siap tapi ternyata rasa sakit itu masih ada saat netra kami bertemu kembali setelah lima tahun berlalu, dia masih sama seperti dulu tapi aku merasa tidak ada lagi kilau ketampanan yang membuatku tergila-gila sampai membuatku rela menyerahkan mahkotaku untuknya, sekarang dia sama seperti pria biasa yang sering kutemui sambil lalu, tidak ada lagi getaran yang terjadi.
"Naya? Bagaimana kabarmu?" ucap Kak Ilham dengan senyuman.
"Aku baik ," jawabku singkat.
"Anak-anakmu lucu sekali ya, kamu nikah kok nggak ngomong sama keluarga?" tanyanya.
"Ngomong-ngomong, mbak Maya mana buk?" tanyaku, mencoba mengalihkan topik.
"Mbak mu lagi ngambek lagi, abis berantem sama nak Ilham" jawaban ibu membuatku mengernyit.
"Memang kenapa?" tanyaku lagi.
"Biasalah, kalau menikah sudah lama tapi belum punya momongan juga, ya begitu," jelas ibu, "Kayaknya Nak Ilham kurang tok cer," sindir ibu.
"Cukup ya buk, saya disini memang hanya anak mantu, tapi saya tidak terima jika terus direndahkan seperti ini. Kejantanan dan benih saya ini tidak ada masalah, mungkin Maya anak ibu yang bermasalah," jawab kak Ilham emosi.
"Halah alasan saja," timpal ibuku.
"Jika ibu tidak percaya, tanya saja Naya, dia pasti tahu, Kenzo dan Kenan adalah buktinya, sebenarnya mereka adalah anak saya, saya dan--"
"Kak Ilham!" seruku memotong ucapan kak Ilham yang bisa berakibat fatal.
"Apa maksudnya ini ?" tanya ayah yang sedari tadi hanya diam.
"Benar, saya sudah tahu Naya hamil saat saya harus menikahi Maya, saya adalah laki-laki yang sudah menghamili Naya, saya adalah ayah kandung Kenzo dan Kenan."
Satu bogem mentah mendarat di wajah kak Ilham,
"Sudah lama, aku ingin melakukan ini, dan akhirnya ketemu juga, laki-laki brengsek yang sudah membuat Naya ku menderita," Johan kembali mendaratkan pukulannya di wajah kak Ilham hingga sudut bibirnya berdarah.
"Kau bisa mengatakan apapun sesuka hatimu, tapi semenjak hari dimana dia bertemu denganku, dia adalah milikku, begitu juga dengan kedua putranya, mereka adalah putraku. Jangan berani mendekati mereka, karena aku tidak akan tinggal diam jika ada seujung rambut pun dari mereka yang terluka."
ancam Johan.
"Kau hanya laki-laki yang memungut bekasku, jangan sombong. Aku lah yang pertama bagi Naya."
"Kak Ilham benar, Johan adalah lelaki yang memungut ku disaat aku membutuhkan uluran tangan, dia yang sudah memberikanku kebahagiaan melebihi yang sanggup kuminta. Jadi, hanya karena kakak adalah ayah kandung mereka, bukan berarti kamu memiliki hak terhadap mereka. Sejak hari dimana kakak tidak mau mengakui hubungan kita dihadapan seluruh keluarga maka sejak hari itu pula kakak sudah kehilangan hak untuk mengakui mereka sebagai anakmu," tukasku meluapkan semua emosi yang terpendam selama ini.
"Saya kemari untuk meminta restu kalian, tapi dengan ataupun tanpa restu kalian saya akan tetap membawa Naya dan anak kami, saya hanya berharap tidak ada lagi kesalahpahaman diantara Naya dan keluarganya. Jika kalian tidak bisa membahagiakan dia tidak masalah, saya sudah bertekad untuk menghabiskan sisa hidup saya untuk kebahagiaan Naya, Kenzo dan Kenan. Jadi kami permisi."
Dengan langkah pasti Johan menarik tangan ku untuk meninggalkan rumah masa kecilku. Bersama, kami meninggalkan luka masa lalu dan mengukir indahnya masa depan bersama. Jika kemarin adalah hujan badai bukan berarti hari esok tidak akan ada mentari. Selama masih ada nafas untuk tetap bertahan, maka pasti masih ada kesempatan untuk meraih kebahagiaan.
the end.