Genre : Horror
Cek yuk, Update setiap hari Senin & Kamis, Jam 18.00.
YUDI BERTERIAK LAGI. Dia mundur ketakutan ke arah dinding. Saat anak kecil itu semakin mendekat, tiba - tiba ia menghilang. Yudi melotot. Pasti ini semua cuma mimpi buruk sama setiap dia sesak napas, pikirnya dalam hati. Sebentar lagi dia akan terbangun. Yudi menutup matanya. Menghitung sampai tiga..... Satu. Dua. Tiga. Yudi membuka matanya. Kali ini dia memang tak melihat setan anak kecil itu lagi. Namun, sepasang tangan tua berkuku hitam panjang berurat mengerikan berada di depannya. Tangan milik nenek bongkok yang mencekiknya delapan tahun lalu. JELANGKUNG... JELANGKUNG... DATANG TAK DIJEMPUT PULANG TAK DIANTAR Ini bukan Prequel ini bukan Sequel.
Tahun 1993 Yudi amat takut kehilangan napasnya.
Serangan asma adalah saat yang paling menakutkan baginya. Dia tak bisa bernapas normal.paru - parunya mengerut, tak bisa menarik atau mengembuskan udara keluar dari tubuhnya. Sesak, sebuah rasa sakit yang terekam baik di ingatannya. Sama seperti kenangan buruk yang tak akan dilupakannya.
Kenangan itu terjadi pada suatu malam di bulan Juni tahun 1993. Di malam kemarau itu, hawa panas tiba - tiba berubah menjadi dingin. Nyamuk - nyamuk yang berkeliaran seketika menghilang dan membuat malam semakin hening. Malam itu hanyalah satu malam kemarau yang sepi....
Saat itu Yudi berumur sepuluh tahun dan lagi - lagi dirawat inap di sebuah rumah sakit.
Lorong remang rumah sakit menjadi saksi bisu kejadian itu. Nyaris tak ada suara lain yang terdengar kecuali napas - napas pasien, bunyi detak jam atau suara binatang malam. Di mata suster atau para keluarga pasien yang sesekali lewat lorong, tak ada yang aneh disana. Bagi mereka, semua normal.
Namun ada yang terlewat dari pandangan mata mereka. Sesuatu tak kasat mata yang mampu menembus dinding - dinding tebal rumah sakit.
Bukan. Bukan gadis pucat yang menggendong boneka di tepi lorong atau jiwa - jiwa malang yang duduk menunggu badan koma mereka di ruang ICU.
Makhluk tak kasat mata itu melayang mengikuti lorong remang. Bila ia mengikutimu, maka hawa mendingin, bulu kudukmu berdiri, dan kamu akan gelisah. Makhluk
itu seakan memilih kamar yang ingin dia masuki.
Dikamar 313, Yudi kecil mulai gelisah. Keringat dingin mulai mengalir dari dahinya. Napasnya sesak. Yudi kecil panik !
" Ma.... Ma ! MAMA !!! " teriaknya diantara embusan napas. Namun Yudi yang tertidur tak bangun juga.
Hawa dingin mulai menembus pintu kamar. Mengalir sperti air menuju tempat tidur Yudi. Merayap menaiki kaki tempat tidur. Yudi kecil semakin tak bisa bernapas. Udara tersangkut di lehernya tak mau keluar dan dia tak bisa menghirup udara baru. Tangan kecilnya menekan - nekan lehernya, berusaha melancarkan pernapasan. Yodi kecil berusaha menenangkan diri sementara hawa dingin itu sudah masuk ke balik selimutnya. Dia berusaha meraih inhaler dimeja samping tempat tidurnya.
Tapi terlambat.
Dua buah tangan tua berjari panjang dan berkuku tajam keluar dari balik selimut. Tangan - tangan itu mencekik leher Yudi.
Yudi kecil berusaha berteriak. Tak ada suara yang keluar. Napasnya terputus - putus. Dia menggerakkan kaki untuk meraih tangan mamanya yang tidur didekat kakinya. Namun mamanya tak bangun juga. Sementara itu semakin erat mencekik Yudi.
Si pemilik dua tangan seram itu mulai menunjukkan siapa dirinya. Seorang nenek bongkok berkulit hijau. Rambutnya yang putih menutupi sebagian kepalanya. Matanya putih dan nyaris keluar dari lubang tengkorak. Kerutan di wajahnya membuat kulitnya seakan kulitnya seakan melorot.
Cekikan si nenek bongkok semakin kencang.
Yudi kecil semakin sulit bernapas. Tangannya berusaha melawan eratan di leher. Namun percuma, cekikan itu terlalu kencang untuk dilawan. Ditambah lagi kedua tangan Yudi yang berusaha melawan malah menambah kekuatan cekikan. Yudi mencekik lehernya sendiri.
Napas Yudi semakin berat. Bunyinya seperti bunyi sapi yang dipotong lehernya.
Tangan seram itu menambah cekikannya. Kuku - kukunya yang tajam menembus leher Yudi. Menimbulkan luka dalam. Darah mulai menetes dari luka itu.
Yudi kecil menatap mata putih si nenek bongkok. Matanya menunjukkan kemauan kerasnya untuk terus hidup.
Yudi kecil tak mau mati di malam musim kemarau itu.
RUPANYA, Yudi bisa bertahan malam itu. Apa yang terjadi setelahnya adalah mamanya bangun, memanggil dokter, lalu si nenek bongkok itu hilang seketika. Yudi sembuh dan bisa pulah ke rumah.
Yudi tak bisa menceritakan kejadian malam itu karena dia akan bilang : ' tukang bohong ' lagi oleh orang tuanya. Bukannya Yudi suka berbohong, hanya saja imajinasi di kepalanya terlalu liar.
Ia sering berkoar kepada teman - temannya kalau dia pernah berkemah di Gunung Jayawija. Berkata kepada mamanya kalau dia mempunyai piaran ular di bawah tempat tidurnya dan berkata kalau ada sahabat baiknya bernama Bora tinggal di atap rumah.
Bagi Yudi, berbicara ' besar ' dapat membuatnya diperhatikan lebih daripada orang lain. Sebenarnya imajinasi itu ia gunakan untuk lari dari rasa bosannya. Yudi selalu bosan karena tak bisa bermain bersama temannya. Dia tak bisa menikmati es krim atau tak boleh terkena debu karena akan membuatnya terbaring sesak napas di rumah sakit.
Saat umur sebelas tahun, kebohongan Yudi mencapai puncak. Dia menelepon pemadam kebakaran kalau rumah tetangganya mengalami kebakaran. Dua truk pemadam kebakaran langsung berangkat. Tetangga - tetangga yang mendengar sirine langsung panik hingga seorang nenek mati karena serangan jantung mendadak.
Akibat ulahnya tersebut, Yudi kena marah orang tuanya. Bahkan mereka berniat rumah karena malu. Yudi stress, lalu jatuh sakit karena terus diomeli orang tuanya. Hingga mereka pun memasukannya ke rumah sakit. Saat malam di rumah sakit itulah nenek bongkok itu datang pada Yudi untuk pertama kalinya. Dan ia selalu datang tiap kali asma Yudi menyerang.