"Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil.Apa ini? Mengapa aku mengandung anak darinya yang akan menikah. "Gumam Diana saat berada dikamar mandi dengan tespek ditangan nya.
Diana masi ingat betul saat itu ia masih bercinta dengan Veri. Di waktu itu Veri datang kerumahnya Diana dengan maksud ingin memberi kabar pernikahannya minggu ini.
Tapi saat itu keadaan rumah Diana hanya ada mereka berdua. Entah apa yang ada dikepala Diana sampai ia berani mendekat ke Veri.
"Sayang... Aku mencintaimu, kemana saja kamu selama ini. Aku menunggumu." Ucap Diana tersenyum sambil mengelus wajah Veri.
"Sayang? Apa maksudmu aku akan segera meni....."
Tiba-tiba Diana memotong pembicaraan itu dengan mencium bibir Veri. Awalnya Veri hanya diam tapi lama kelamaan ia membalas ciuman itu juga dengan hangat. Bisa saja ia menolak dan mengabaikan Diana, tapi yang namanya cinta bersarang dihati kecil akan sulit menolak itu.
Disinilah awal kenapa Diana hamil walau sudah beberapa bulan lalu. Dan dia tak sadar perutnya sedikit buncit. Saat dia bangun dari tidurnya lalu pergi ke kamar mandi dan merasakan mual-mual disitulah dia curiga bahwa dia sudah hamil dengan membuktikan pakai tespek.
Diana keluar dari kamar mandi lalu melihat surat cantik berupa undangan pernikahan. Disitu tertulis nama Veri dan Risa. Matanya terbelalak saat mengetahui undangan itu ada didepan mata dan membuatnya semakin panas. Ia bergegas mengganti pakaiannya lalu bersiap pergi menuju pesta itu dengan niat akan meminta pertanggung jawaban pada Veri.
Saat ia keluar dari pintu kamar itu terlihat sosok laki-laki berbadan tinggi kulit putih dan tampan berdiri didepannya, hanya menggunakan celana training hitam panjang hingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya itu.
"Siapa kamu!" Tanya Diana dengan keras karena terkejut.
"Sayang.Ini aku Fauzi suamimu."Jawab Lelaki bernama Fauzi dengan mendekat dan memegang lengan bahu Diana.
" Lepaskan aku! Berani sekali kamu memegangku. Dan apa itu, kamu bukan suamiku."
Fauzi hanya bisa tersenyum lalu menjauhkan tangannya dari Diana dan berdiri menjauh dari Diana.
"Keluar kamu dari rumah ini. Aku akan menelpon polisi jika kamu tak pergi dari hadapanku." Ujar Diana dengan melotot pada Fauzi.
Fauzi mengikuti apa yang dikatan Diana dengan keluar dari rumah itu. Sedangkan Diana yang telah berpakaian rapi juga keluar perlahan setelah laki-laki itu, lalu menaiki mobil sedannya untuk bergegas menuju pesta Veri malam ini.
Dijalan ia sempat ragu dengan apa yang akan dia lakukan disana nanti. Ia ingin mengatakan dengan tegas bahwa anak yang dikandungnya ini anak Veri. Disatu sisi ia juga tak ingin merusak acara itu. Tapi kalau ia tidak mengatakannya, anak ini ketika besar akan bertanya siapa ayahnya bila Veri tak mengakui.
Pikiran itu membuatnya tak sadar bahwa ia telah sampai didepan pesta itu. Diana turun dari mobil lalu dengan cepat langkahnya mencari sosok Veri yang berdiri diatas panggung dengan senyuman.
"Veriansyah Putra!" Pekiknya ditengah ramai tamu undangan.
Semua orang terkejut lalu diam memandangi Diana dan musik melow yang diputar juga ikut berhenti.
"Kamu harus tanggung Jawab! Lihat perut ini. Ini adalah anakmu!" Dengan lantang ia mengatakan itu dengan menunjuk ke arah Veri.
Veri hanya tersenyum begitu juga dengan mempelai wanita yang merupakan istrinya. Sebagian orang ada yang bingung namun sebagian dari keluarga nya Veri hanya bisa menghela nafas.
"Kenapa kamu tersenyum. Apa hatimu sudah rusak menganggapku hanya mainan. Dasar laki-laki berengsek!" Matanya mulai berkaca-kaca.
Saat umpatan itu terdengar Veri dia ingin turun dengan wajah serius, namun tertunda karena sosok laki-laki tampan dibelakang Diana. Laki-laki itu menarik tangan Diana.
"Kamu lagi. Kenapa mengikutiku. Aku menyuruhmu pergi dari hadapanku. Aku bukan istrimu dan jangan campuri urusanku!" Ucap diana berusaha melepaskan cengkraman dari laki-laki itu.
Diana mulai berteriak histeris sambil menangis. Orang-orang mulai mengelilingi Diana untuk meredam suasana. Tiba-tiba ia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Dengan sigap laki-laki tampan itu memegang tubuhnya.
Diana dibawa pergi dari tempat itu menuju rumahnya. Fauzi terus memandangi Diana didalam mobil dengan tegar.
"Sayang.Semoga saat kamu bangun semua bebanmu hilang dan kamu sembuh." Gumam Fauzi seraya berdoa didalam hati.
Sudah tiga hari Diana terbaring diatas ranjangnya sejak kejadian malam itu. Fauzi tetap setia menemani perempuan yang dipasangkan inpus pada lengannya. Diwajah laki-laki itu tampak senyum dan bahagia, bukannya khawatir namun bersemangat bahwa ia yakin Diana setelah bangun akan sembuh.
Bel rumah berbunyi pertanda ada orang yang bertamu kerumah mereka. Fauzi keluar dari kamarnya dan membuka pintu rumah yang ternyata tamu itu adalah Veri dan Risa.Ia senang mereka datang karena tau ini momen yang tepat untuk menjelaskan pada Diana karena mereka berdua adalah penguat penjelasannya nanti.
"Bagaimana keadaan Diana. Apa dia sudah siuman?" Tanya veri yang duduk setelah dipersilahkan oleh Fauzi.
"Semoga sebentar lagi akan sadar. Terimakasih kalian telah datang kemari. Aku menghargai kebaikanmu." Jawab Fauzi.
"Aku harap semua akan selesai bahagia harini." Balas Veri.
"Aku juga berharap begitu."
"Boleh aku melihatnya?" Tanya Risa.
"Jangan dulu. Biar aku yang disana dan saat dia sadar aku akan memanggil kalian. Aku takut ketika dia sadar melihat Veri pikirannya terguncang."
"Baiklah."
Perasaan Fauzi tiba-tiba menunjukkan akan ada hal baik. Lalu dia mencoba melihat kembali Diana. Benar saja, perasaan seorang suami pada istrinya tak pernah salah. Diana mulai membuka matanya perlahan. Fauzi yang duduk disamping Diana tersenyum lalu perlahan memegang tangan Diana.
"Diana." Ucap Fauzi dengan lembut.
Diana hanya diam memandangi wajah laki-laki yang dipikirannya seperti ia mengenal wajah itu.
"Jelaskan siapa kamu sebenarnya." Tanya Diana dengan lirih.
"Apa kamu akan baik-baik saja kalau aku katakan?"
"Katakanlah, hatiku sepertinya sudah menerima apapun."
"Diana. Aku ini adalah suamimu.Kita telah menikah beberapa bulan yang lalu. Kamu sudah lama putus dengan Veri karena dia telah dijodohkan orangtuanya pada perempuan lain."
Diana hanya diam dan berusaha menahan gejolak dihatinya. Perlahan dia mulai mengingat memori yang hilang di pikirannya.
"Aku datang saat kamu tengah bersedih. Memberikan kasih sayang untuk menggantikan Sahabatku Veri dihatimu. Sudah lama aku mencintaimu, tapi aku tak bisa mendatangimu karena kamu masi menjalin kasih dengan sahabatku."
"Apa Veri yang memintamu menjaga hatiku?"
"Iya sayang. Veri mendatangiku dengan wajah yang sedih. Dia tak mau melihatmu menikah bersama laki-laki lain kecuali aku. Saat kalian putus dan kamu mulai depresi, aku datang dan selalu ada disampingmu. Saat aku tau kamu berada dirumah sakit karena depresi, dokter menjelaskan padaku bahwa kamu memiliki penyakit yang tak bisa disebutkan apa nama penyakit itu. Dokter hanya tau dari pengalaman hidupnya, orang seperti kamu akan sembuh bila kamu menikah atau kamu melihat kekasih yang kamu cintai menikah. "
"Apa kamu mengambil keputusan menikahiku diawal saat aku sedikit sadar?"
"Iya, waktu itu kamu mulai melupakan Veri ketika ajakan kencanku kamu terima. Lalu saat itu juga aku tak banyak basi-basi lagi padamu dan kamu juga menyatakan pikiran yang sama denganku. Aku pikir kamu akan sembuh saat menikah denganku. Namun saat malam pengantin itu kamu melihatku seperti Veri dan terus membayangkan aku adalah dirinya."
Diana bangkit dan duduk lalu memegang tangan Veri yang memandangi wajahnya.
" Teruskan. "Ucapnya.
Veri dan Risa mulai melihat dan memperhatikan dengan penasaran dibalik pintu kamar yang tak tertutup rapat oleh Fauzi.
" Aku sadar kamu belum sembuh total, besoknya kamu tak mengenaliku. Bahkan kau mengusirku karena kami menganggap aku orang jahat. Walau hatiku sakit tapi aku tetap sabar menghadapimu dan berdoa pada tuhan semoga kamu sembuh dengan cepat. "
" Apa aku berbuat kasar padamu? " Tanya Diana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Sayang. Apapun yang kamu lakukan aku tetap sabar karena aku mencintaimu. Sampai aku mencoba mengusulkan pernikahan Veri dengan Risa dipercepat setelah kita menikah duluan. "
Tangannya mulai memegang erat genggaman Fauzi.
"Aku berdiskusi pada keluarga Veri dan memohon pertolongan apapun yang terjadi di pesta pernikahan mereka nanti tolong dimaklumi dan aku juga meminta maaf atas permintaanku yang kurang sopan ini. Untungnya Keluarga itu menerima ucapanku karena Veri."
"Diana Aku berharap saat kamu melihat Undangan itu, kamu teringat saat berdua denganku dipelaminan. Aku sengaja tak meletakkan foto pernikahan kita didepan matamu memandang,karena takut pikiranmu terguncang lalu kamu pingsan. Namun saat kamu telah menyaksikan Veri menikah keyakinanku semakin kuat kamu akan sembuh, walau aku juga khawatir saat kamu pingsan. "
" Apakah ini benar anak kita? "
" Iya sayang, itu anak kita. Veri bercerita padaku ia meninggalkanmu saat kamu ingin menciumnya.Semua yang kamu pikirkan itu hanya hayalanmu karena kamu depresi. "
" Fauzi... " Panggil Diana yang membuat Fauzi terkejut ketika namanya disebutkan oleh perempuan itu. Lalu tangan Diana memegang pipi Fauzi dengan lembut.
Air mata perempuan itu tak tertahankan lagi membasahi pipinya, laki-laki itu juga begitu. Fauzi memeluk Diana dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan aku sayang."
"Terimakasih kamu telah menjagaku. Aku ingat semuanya dan aku sudah sembuh." Sambung Diana dan mengelus rambut Fauzi yang menangis memeluk tubuh Diana.
"Terimakasih tuhan telah menjawab doaku."
"Aku mencintaimu Fauzi."
Veri dan Risa yang tadi memperhatikan semua itu, masuk secara perlahan menghampiri mereka berdua.
"Tersenyumlah kawan. Istrimu sudah kembali kepelukanmu." Ucap Veri memegang pundak kiri Fauzi meneguhkan hatinya.
"Veri maafkan aku telah membuat keributan diacara pernikahanmu." Ujar Diana.
"Maafkan aku juga telah membuatmu terluka."
Diana berdiri setelah melepaskan jarum inpus dan pelukannya dari Fauzi, lalu mendekat ke Risa memeluk tubuhnya.
"Risa jagalah suamimu dan jangan membuatnya tersiksa seperti yang kulakukan."
"Kamu harus membalas perhatian itu pada suamimu sekarang. Aku bersyukur kamu telah sembuh dan nantinya kita bisa berkumpul tertawa seperti yang lainnya."
"Tolong jaga Veri." Balas Diana dengan lembut.
"Baik Diana."
Diana melepaskan pelukannya lalu menatap Veri.
"Boleh aku memeluknya?" Tanya Diana pada Risa. "
Risa tersenyum memanandakan iya dalam bahasa senyum itu.Diana memeluk Veri tapi tidak dengan air mata. Kesedihan itu sepertinya sudah hilang akibat cerita Fauzi yang menyentuh hatinya.
" Sayang jangan lama-lama memeluknya hatiku jadi sakit lo. Kamu harus tanggung jawab." Ujar Fauzi sembari bercanda.
"Enggak akan aku berpaling dari laki-laki yang setia menungguku kembali." Balas Diana setelah melepaskan pelukannya dari Veri dan berjalan kearah Fauzi lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Hei kalian, apa dirumah ini hanya ada kalian berdua." Ucap Veri.
"Haha maafkan kami ya."Jawab Diana dengan tersenyum dan tertawa malu.
TAMAT