Menceritakan tentang Alexa yang diacuhkan keluarganya dan mengutamakan Alice sang kakak yang mengidap penyakit jantung. Alexa hanya memiliki Sahabat disisinya, hingga akhirnya Rafael masuk ke dalam kehidupannya dan membuatnya Jatuh Cinta ❤️.
KENAPA??, kenapa penyesalan itu selalu datang terlambat. kenapa😭 saat aku baru menyadarinya kalau dia begitu berharga, dia telah pergi. Dan kini yang tertinggal hanya sebuah penyesalan yang sangat mendalam. Itulah yang dialami seorang pria yang bernama Rafael, Hidupnya bener-bener berubah saat ia kehilangan sosok yang selalu memberikan warna bagi hidupnya. Kini semuanya tidak ada lagi, wanita itu pergi untuk selamanya dan Rafael tidak lagi bertemu dengannya.
+++++++++++
Part 01:
Apa kalian pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga?. Kalau iya, boleh aku bertanya bagaimana rasanya?. Aku tak pernah merasakannya, yang aku rasakan hanyalah rasa acuh yang ku dapat dari keluarga ku {Alexa}
"Apa yang kakak lakukan disini" ucap Alexa. saat melihat kakaknya berada didalam kamar miliknya, Alice berbalik dan tersenyum menatap Alexa.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan Alexa" ucap Alice antusias. Alexa tersenyum miring 😏 mendengar ucapan Alice.
" Apa Kakak ingin Ayah dan Ibu memarahiku lagi " ucap Alexa dan membuat senyum diwajah Alice luntur. "Terakhir kakak mengajakku jalan-jalan, aku mendapat sebuah tamparan dari Ayah. Apa kakak Lupa" Lanjut Alexa sambil menatap datar pada Alice 😑
Alice menundukkan wajahnya, saat mengingat kejadian itu, saat itu ia mengajak Alexa jalan-jalan, tapi saat dalam perjalanan pulang ia jatuh pingsan dan Alexa segera membawanya ke rumah sakit. Ia menghubungi Ayah dan Ibunya dan saat ayah dan ibunya sampai, Alexa langsung mendapatkan tamparan telak dipipinya dan sang Ayahlah yang melakukannya.
" Sebaiknya kakak keluar, aku ingin istirahat" ucap Alexa dingin dan memasang wajah datarnya. Alice menatap wajah sang adik. Alexa Melepaskan tasnya dan duduk disisi kasurnya dan beberapa saat kemudian sebuah kristal bening meluncur dari dipipinya. Alexa menatap pandangan didepannya dengan datar dan dingin, ini sudah menjadi pemandangannya setiap hari. Alice akan selalu mendapatkan perhatian lebih dari Tuan dan Nyonya Smith, dan Alexa selalu tidak dianggap dirumah besar itu.
Alexa berdiri dari duduknya dan berjalan menuju balkon kamarnya dan menatap langit yang gelap.
" Kapan, aku bisa merasakan kehangatan keluarga lagi. sejak saat itu, Ayah dan Ibu selalu mengacuhkan ku seakan-akan aku tidak ada dirumah ini" ucap Alexa dibarengi dengan air mata yang meluncur dipipinya.
ya, sejak Alexa berumur 5 tahun, ia tidak lagi mendapatkan perhatian dari tuan dan nyonya Smith, karena perhatian mereka selalu tertuju pada Alice yang mengidap penyakit jantung.
+++++++++++
Part 02:
Alexa berjalan menuruni tangga, dengan tas yang ada ditangannya. Hari ini, ia akan berangkat ke kampus lebih pagi dari biasanya. Alexa berjalan menuju dapur dan melihat orang tuanya dan Alice sedang sarapan bersama.
Alexa duduk ditempat biasanya ia duduk. ia kemudian mengambil beberapa helai roti, kemudian memakannya. Alice menatap Alexa dengan sendu🥺. Sementara Tuan dan Nyonya Smith tidak memperdulikan kehadiran Alexa disana. Alexa beranjak dari duduknya setelah ia merasa kenyang, setelah itu ia langsung meninggalkan meja makan.
Alexa berjalan keluar dari rumahnya dan segera menuju halte dekat rumahnya, walaupun Alexa berada dikeluarga Kaya Raya, tapi Alexa sama sekali tidak tergantung akan segala Fasilitas yang ada dirumahnya. Bahkan, mobil yang sudah disediakan untuk nya tidak pernah ia naiki. Dan Bahkan Alexa lebih memilih berkerja paruh waktu ketimbang harus meminta uang pada orang tua nya untuk memenuhi kebutuhan nya.
saat ini Alexa sudah sampai dikampusnya, saat ia memasuki kampus ia melihat Alice turun dari mobil sang Ayah. Dan setelah mobil sang Ayah pergi, Alexa kembali melangkahkan kakinya menuju kelasnya dengan pandangan datar, Di Universitas ini Alexa mengambil Jurusan Designer.
" Alexa"
Alexa menghentikan langkahnya dan membalikan badannya, dan melihat Gebby Sahabatnya sedang berjalan kearahnya dengan tersenyum 😊 menghiasi wajahnya.
" Ada Apa?" Tanya Alexa dengan wajah datarnya.
"Jangan memasang wajah datar mu didepanku Alexa" ucap Gebby memandang Alexa tidak suka.
"Aku lebih suka kau menampilkan wajah aslimu ketimbang topeng datar seperti itu" lanjut Gebby.
Ada beberapa saat kemudian wajah Alexa berubah menjadi sedih.
" Apa aku harus menampilkan wajah seperti ini didepan semua orang?". Alexa menatap Gebby yang ada didepannya dengan pandangan sendu.
"Tidak" Tegas Gebby.
" Aku memintamu tidak memasang topeng didepanku, hanya di depan ku Alexa. Kau tahu, aku sangat menyayangimu" ucap Gebby.
" Ya, aku tahu itu" ucap Alexa sedikit memberikan senyumannya pada Gebby.
" Kau selalu mengerti diriku Gebby. Bahkan masalah yang ku hadapi kau tahu tanpa aku memberitahu mu. kau tahu aku beruntung bisa menjadi orang yang kau sayangi " ucap Alexa tulus.
Gebby terharu mendengar ucapan Alexa dan segera saja Gebby langsung memeluk Alexa.
" Aku selalu ada untuk mu " ucap Gebby.
" Ya, aku tahu itu. Terima kasih Gebby " Alexa mengeratkan pelukan Gebby padanya. Gebby adalah orang yang berarti bagi Alexa selama ini. Gebby lah yang selalu berada disampingnya, mendengar keluh kesahnya dan Gebby juga yang kadang membantunya jika Alexa dalam kesulitan.
Dan tanpa mereka sadari, Alice yang berada tidak jauh dari sana melihat mereka. Alice sangat iri pada Gebby yang bisa memeluk Alexa seperti itu.
" Alice "
Alice menoleh ke samping kiri nya dan mendapatkan seorang pria yang ternyata adalah Rafael, sudah berdiri disana.
" Apa yang kau lihat disini Alice " tanya pria itu memandang Alice.
" Tidak ada" ucap Alice. kemudian melangkah kakinya meninggalkan Rafael.
" Selalu seperti itu " ucap Rafael.
++++++++++++++++++++++++++
Part 03:
Alexa berjalan memasuki rumahnya, saat ia hendak naik ke tangga, seseorang memanggilnya. Alexa berbalik dan mendapati Tuan smith yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
" Ini kelakukan mu selama Ayah dan Ibu tidak di rumah, Alexa " ucap Tuan smith menatap marah kepada Alexa. " Apa kau tidak melihat Jam, huh! ".
Alexa menghela nafasnya, kemudian ia menatap tuan Smith yang masih menatap nya tajam.
" Ada yang harus ku urus, jadi aku pulang terlambat".
Tuan Smith bisa merasakan nada bicara putri bungsunya itu, nada bicaranya terkesan dingin. Tuan Smith melangkahkan kakinya kearah Alexa dan melemparkan beberapa foto kearah wajah Alexa.
"Urusan? apa yang kau maksud urusan itu, huh!" ucap Tuan smith sambil menunjukan foto yang ada dikaki Alexa. Alexa melihat foto itu dengan datarnya. Foto yang menampilkan dirinya menjadi pelayan di kafe.
"Apa yang salah dengan foto itu?"
"kau bilang apa yang salah? Alexa, kau itu adalah anak dari keluarga kaya raya dan apa maksud mu kau berkerja menjadi pelayan di kafe itu".
"Aku tidak ada maksud untuk berkerja disana, tidak ada yang tahu kalau aku putrimu. Jadi jangan mengkhawatirkan yang tidak perlu" ucap Alexa kemudian pergi meninggalkan Tuan smith.
"Alexa"
Langkah Alexa kembali berhenti saat namanya dipanggil dengan lembut. Alexa memejamkan matanya sejenak kemudian berbalik. Ia bisa melihat sang Ayah yang masih menatap nya dengan tajam dan disamping sang Ayah ada sosok Alice yang memanggil nya.
Alexa hendak melanjutkan langkahnya, tapi lagi lagi namanya dipanggil. "Ayah belum selesai bicara denganmu".
Alexa tidak menghiraukan ucapan Tuan smith, ia tetap melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk kekamarnya. saat ini Alexa ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Alexa membaringkan tubuh lelahnya diatas kasur empuk miliknya. Ia menatap langit langit kamarnya dengan diam.
klekk~
Alexa mengalihkan pandangan menuju pintu kamarnya yang terbuka dan menampilkan sosok Alice yang menatapnya dengan sendu.
"ada apa" tanya Alexa yang saat ini sudah duduk dipinggir kasurnya. Alice berjalan menghampiri Alexa dan duduk disamping Alexa.
"Aku----aku ingin bertanya sesuatu padamu"
"tanyakan saja"
"kau----apa selama ini kau bener-bener berkerja dikafe itu sebagai pelayan?" tanya Alice hati-hati.
"Kalau aku mengatakan iya, apa itu sudah cukup untuk mu?" ucap Alexa sambil menatap Alice datar.
"kenapa? kenapa kau melakukan itu Alexa?"
"apa kakak ingin tahu mengapa aku melakukan itu?" sebuah anggukan Alice berikan pada Alexa.
"aku melakukan ini semua untuk memenuhi kebutuhan ku"
"Kebutuhan? Kenapa kau tidak minta uang saja pada ayah dan ibu, Alexa. kau tidak perlu berkerja seperti itu"
"memangnya apa yang salah dengan perkerjaan itu? kau dan Ayah menganggap kalau perkerjaan menjadi pelayan itu adalah perkerjaan yang hina, bukan"
Alice terdiam mendengar perkataan Alexa.
"kalian tidak perlu khawatir, karena tidak ada yang tahu kalau aku salah satu anggota keluarga kalian"
"Alexa---"
"aku lelah kakak, aku ingin istirahat"
+++++++++++++++++++
Part 04:
"ah melelahkan sekali" keluh Gebby yang baru saja selesai membersihkan meja. Alexa yang sedang sibuk menyapu menatap Gebby dengan senyuman.
"Kau tidak seharusnya melakukan ini Gebby" ucap Alexa yang sudah duduk didepan Gebby.
"Tak apa Alexa, aku senang melakukannya dan aku juga kasihan melihat mu melakukannya sendiri"
"aish kau itu, kau kan pemilik kafe ini jadi sebaiknya kau duduk diam. sebentar lagi Bella datang dan membantuku"
"ya aku mengerti itu nona Alexa"
Gebby menatap wajah Alexa yang saat ini menampilkan raut terkejut. walau tidak terlalu terlihat tapi Gebby dapat melihat ekspresi wajah Alexa yang berubah. Gebby menatap Alexa sejenak, kemudian ia membalikan tubuhnya dan melihat Ayah Alexa tengah berdiri dipintu kafe bersama Alice.
Tuan Smith dan Alice memasuki kafe milik Gebby dan menatap Alexa yang juga tengah menatap mereka. sementara Gebby hanya bisa meneguk ludahnya dan memandang wajah Alexa yang terlihat tenang.
"bodoh, kenapa kau menampilkan wajah sok tenangmu itu" batin Gebby.
Gebby sedikit tersedak saat Alexa menghampiri ayahnya dan Alice sambil mengucapkan selamat datang.
PLAKKK
Tamparan itu sukses mendarat dipipi kanan Alexa, sangat keras hingga pipi Alexa memerah seketika. Gebby yang melihat itu segera menghampiri Alexa...
"apa yang anda lakukan pada teman ku?" ucap Gebby yang berusaha menekan emosinya.
"Jangan urusi urusan orang nona, dia ini putriku dan aku berhak melakukan apapun"
"termasuk menampar nya?" ucap Gebby cepat. Sementara Alexa masih memegang pipinya yang sakit dan sedikit nyeri.
"kalau Alexa putrimu, kenapa ia bisa berkerja disebuah kafe sebagai pelayan? sementara anda, Anda merupakan orang terpandang dikota ini" kembali Gebby membuka suaranya.
"jangan mengakui Alexa putrimu jika anda tidak memperlakukan nya seperti anakmu"
wajah Tuan smith mengeras mendengar ucapan yang dilontarkan Gebby padanya. Tuan Smith hendak menampar Gebby tapi tangan Tuan Smith langsung ditahan oleh Alexa.
"jangan sentuh dia"
Alexa menghampaskan tangan Tuan smith.
"kau boleh menamparku atau apapun itu, tapi jangan sentuh temanku". Tuan Smith dan Alice terkejut dengan apa yang dilakukan Alexa.
"kau sudah berani melawan Alexa"
"Aku tidak melawan, aku hanya menyelamatkan teman berharga ku"
"Teman berharga mu? apa wanita ini lebih berharga dibandingkan keluarga sendiri?"
"tentu saja" ucap Alexa cepat dan yakin.
"bahkan aku rela melakukan apapun untuk dirinya jika ia meminta sesuatu dariku"
"Alexa"lirih Alice
"Sebaiknya kalian pergi dari sini" ucap Alexa
"Ayah belum selesai bicara denganmu"
"kita bisa bicarakan dirumah nanti, sebaiknya kalian pergi. kafe ini akan segera dibuka" dan setelah Alexa mengatakan itu, Tuan smith dan Alice pergi meninggalkan kafe.
"kau tidak apa-apa Alexa?" tanya Gebby dengan khawatir. "sebaiknya kita kerumah sakit, pipimu bengkak"
"tidak apa-apa Gebby, ini cuman sedikit sakit"
"tapi pipimu bengkak Alexa"
"aku bisa mengoprasnya dengan air nanti"
Gebby menghela nafasnya kemudian menatap Alexa. "hari ini kau ku liburkan, sembuhkan lukamu dulu"
"Tapi Geb---
"Aku tidak menerima penolakan Alexa Smith"
Gebby menarik Alexa untuk duduk di kursi sementara dirinya berjalan ke arah dapur dan mengambil air untuk mengopres pipi Alexa.
"akhh" ringis Alexa saat Gebby menempelkan saputangan yang sudah ia basahi dengan air dipipi Alexa
"perih ya" Alexa menganggukkan kepalanya pada Gebby. "kita ke rumah sakit saja ya?" kembali Gebby mencoba membujuk Alexa untuk ke rumah sakit. "tidak, ini pasti sudah sembuh besok".
"keras kepala" cibir Gebby
+++++++++++++++++++++
part 05:
Keesokan paginya Alexa berangkat ke kampus bersama Gebby, kemarin Gebby memaksa Alexa untuk menginap dirumahnya. Dan pipi Alexa masih ada bekas tamparan Tuan smith kemarin, walau sudah tak sakit lagi tapi hasil tamparan itu membekas dipipi Alexa.
"pipimu masih biru Alexa"
"tak apa, mungkin 2-4 hari juga hilang"
"hari ini apa kau sibuk?"
"tidak, setelah kuliah ku selesai aku akan langsung menuju kafe, memangnya kenapa?"
"aku ingin mengenalkan seseorang padamu"
"Siapa? apa kekasih mu"
"hm, nanti aku akan mengajaknya ke kafe"
"baiklah, aku menantikannya, hahahah"
Gebby bahagia, ia bisa membuat Alexa tertawa seperti ini. walau tidak ada ikatan darah antara dirinya dan Alexa, Tapi Gebby sudah menganggap Alexa seperti saudaranya dan Gebby sangat amat menyayangi Alexa.
"Aku ingin bicara denganmu"
Tawa Gebby dan Alexa langsung berhenti saat Alice muncul didepan mereka. Alexa menatap Alice sejenak, kemudian menatap Gebby.
"kau duluan saja kekelas, nanti aku akan menyusul"
"Baiklah" Gebby kemudian pergi meninggalkan Alexa dan Alice.
Alexa dan Alice saat ini sudah berada di kantin kampus, mereka duduk dimeja paling pojok
"kenapa kau tak pulang semalam Alexa?" tanya Alice memecahkan keheningan diantara mereka. "Kau tahu Ayah menunggu semalaman"
"Menungguku? apa ayah menunggu ku pulang untuk mendengar penjelasan ku?"
"Jangan mengkhawatirkan ku"ucap Alexa kemudian beranjak dari sana
"apa dia begitu berharga untukmu dibandingkan keluarga mu?" tanya Alice saat Alexa hendak melangkah kan kakinya.
"Aku sudah mengatakannya kemarin. dan kurasa kau mendengarkannya, bukan"
"Kenapa? kenapa dia begitu berharga dibandingkan keluarga mu sendiri?"
Alexa menatap Alice dengan tajam, "dia, dia menyayangi ku dengan tulus, Dia selalu ada untuk ku. dia selalu memperhatikan ku. Dia yang membantuku, walau bagaimanapun aku menolak kehadiran nya dihidupku dulu, dia tetap datang padaku. saat aku merasakan kesedihan, dia orang pertama yang tahu tanpa aku mengatakannya dan dia juga yang akan menghiburku. Dia--- lebih berharga dari kalian semua".
Alice tertunduk mendengar ucapan Alexa, Alexa tahu, Alice pasti sedih mendengar apaa yang dikatakannya barusan. Tapi ini kenyataannya, Alexa menganggap Gebby lebih berharga dibandingkan Alice yang berstatus kakaknya.
Alice menatap Alexa dengan air mata yang membanjiri pipinya, hati Alice sangat sakit mendengar perkataan adiknya.
"bisakah aku juga masuk kedalam orang yang berharga untukmu, Alexa?"
jujur Alexa sangat sedih melihat Alice menanggis dan bertanya seperti itu. Alexa menahan air matanya untuk tidak keluar.
"bagaimana bisa kau masuk dalam orang yang berharga dalam hidupku sementara dirimu yang menjadi akar penderitaanku"
"Alexa---"
"Aku menyayangimu Kakak, tapi aku lebih menyayangi Gebby"
Sementara itu, dimeja lain yang tak jauh dari Alexa dan Alice, Nampak Rafael memandang kearah mereka. Sejak tadi matanya tak lepas dari dua bersaudara itu.
"Siapa wanita yang bersama Alice itu?" tanya Rafael pada diri sendiri.
Alexa melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Alice, tapi lagi lagi Alice menghentikan langkahnya.
"apa selama ini kau bener-bener menderita karena kakakmu ini?" tanya Alice dengan nada sedih.
"Jawaban apa yang kakak ingin dengar dariku, bukankah kak bisa melihat keadaan ku selama ini" ucap Alexa
"ya, sekarang aku tahu kalau diriku akar penyebab penderitaan mu selama ini. karena diriku Ayah dan Ibu mengacuhkan mu"
"apa kakak baru menyadarinya?"
Alice tidak menjawab pertanyaan Alexa.
"Jika ada kehidupan selanjutnya dan aku lahir kembali, aku tidak ingin menjadi adikmu lagi" ucap Alexa dan membuat Alice tersentak.
Alice merasakan dadanya tiba-tiba sakit, Alice mencengkram kuat dadanya. Alexa yang menyadarinya hanya diam memandang Alice dengan datar
"ALICE"
Alexa menatap seorang pria yang menghampiri Alice yang tengah menahan rasa sakit didadanya. Sepertinya penyakit Alice kambuh.
"yak apa yang kau lakukan pada Alice??" teriak pria itu yang ternyata adalah Rafael.
"aku tidak melakukan apa-apa padanya, bawa dia kerumah sakit jika kau ingin menyelamatkan nya" ucap Alexa kemudian pergi dari sana.
"Alexa" lirih Alice sebelum jatuh pingsan.
Rafael yang melihat itu segera menggendong Alice menuju mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit.
+++++++++++++++++++++++++++
Part 06:
Alexa mengikuti mobil Rafael yang akan membawa Alice ke rumah sakit, Sampai dirumah Sakit. Alexa segera turun dari Taxi dan mengikuti Rafael masuk ke dalam. Alexa menyembunyikan tubuhnya dibalik tembok saat Alice masuk kesebuah ruangan, sementara Rafael menunggu diluar dengan khawatir.
Dan tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu dan menghampiri Rafael. "kau tidak perlu khawatir".
Rafael menghela nafasnya dengan lega mendengar ucapan dokter. Ia kemudian masuk ruangan itu untuk melihat Alice, sementara Alexa yang mendengar ucapan dokter juga ikut lega mendengar keadaan Alice.
"akhh" ringis Alexa
"Tidak ku mohon jangan sekarang" pinta Alexa dengan sedih. Ia pun merogoh tasnya dan mencari sesuatu. setelah ia menemukan nya ia segera membukanya dan meminumnya segera.
Alexa terduduk diatas lantai rumah sakit yang dingin dengan diam. Dan setelah ia tidak merasakan sakit lagi, ia bangkit dan segera meninggalkan rumah sakit.
Rafael mengantarkan Alice kerumahnya, setelah sampai ia segera turun dari mobilnya dan membantu Alice. "aku tidak apa-apa Rafael"
"jangan keras kepala Alice"
Rafael tetap membantu Alice berjalan memasuki rumah Alice, kemudian Rafael menyuruh Alice duduk diruang tamu.
"bagaimana keadaan mu sekarang?"
"sudah lebih baik"
"Alice"
Kedua orang tua Alice yang baru saja masuk kedalam rumah dan melihat Alice dan Rafael yang ad diruang tamu. "Wajahmu pucat sayang, apa yang terjadi?" tanya Ny.Smith.
"Aku tidak apa-apa Bu"
"dia jatuh pingsan dikampus tadi" ucap Rafael cepat.
Alice menatap Rafael tajam. sementara Tuan dan Ny. Smith terkejut mendengar ucapan Rafael.
"kita kerumah sakit sekarang ya sayang"
"tidak perlu Bu, aku tadi dari sana"
"benarkah, lalu apa kata dokter"
"Bibi tidak perlu khawatir, kata dokter Alice tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
"ah,, syukurlah" ucap Ny. Smith kemudian memeluk Alice. sementara Tuan Smith mengelus kepala Alice penuh sayang.
Alexa yang baru masuk kedalam rumah melihatnya, Ia terdiam sejenak. kemudian melangkah kan kakinya masuk kedalam.
"Alexa"
Alexa menghentikan langkahnya saat Tuan Smith memanggil namanya, Sementara Rafael terkejut melihat Alexa berada dirumah Alice.
"Kau---bukankah kau yang membuat Alice pingsan dikampus" ucap Rafael marah pada Alexa.
Tuan Smith memandang Alexa marah. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Alexa.
PLAKKK
lagi. sebuah tamparan mendarat dengan sukses dipipi mulusnya. Alice tersentak dan segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Alexa dan ayahnya.
"bagaimana bisa kau membahayakan kakakmu sendiri huh! seharusnya kau menjaga dan melindungi nya Alexa" marah Tuan Smith.
Alexa meringis merasa sakit dipipinya, ia kemudian menatap Tuan Smith yang memandangnya dengan marah.
"Ayah apa yang kau lakukan, Alexa tidak melakukan apa-apa padaku. kenapa ayah menamparnya"
"Karena di memang pantas mendapatkan nya" ucap Tuan Smith tegas.
Alexa melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu dengan air mata yang menetes dipipinya. Hatinya sakit. lagi lagi ia ditampar oleh ayahnya sendiri.
Alexa masuk kedalam kamarnya dan menuju meja riasnya, ia meletakan tasnya dimeja kemudian membuka laci.
Alexa mengambil sebuah map berwarna coklat didalam sana, kemudian merobeknya hingga menjadi bagian-bagian kecil. Alexa menenggelamkan kepalanya diatas meja sambil menanggis.
++++++++++++++++++++++++++++
Part 07:
"kau mau kemana lagi?" tanya Tuan Smith saat melihat Alexa hendak keluar. Alexa menghentikan langkahnya dan menatap Tuan Smith. "pergi. pergi dari neraka ini" ucap Alexa datar.
"Alexa"
Alexa tidak memperdulikan Alice yang memanggil namanya, ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang seperti neraka untuk nya.
Sementara Rafael yang masih berada disana, mengikuti Alice yang keluar dari rumah untuk mengejar Alexa.
"Alice" Rafael memegang tangan Alice.
"Ini semua karena mu" teriak Alice marah pada Rafael. "kenapa kau harus mengatakan seperti itu pada Ayah dan Ibuku tadi,huh!"
"kenapa kau marah padaku, seharusnya kau berterima kasih karena aku mengatakan yang sebenarnya pada orang tuamu".
" yang Sebenarnya? itu hanya pemikiran mu sendiri" ucap Alice. "kau membuat ku semakin jauh darinya Rafael Fernando" Kali ini nada bicara Alice terdengar sedih.
Rafael menarik Alice kedalam pelukannya. sejenak Alice menerima nya tapi beberapa saat kemudian ia melepaskan pelukan Rafael dengan kasar.
"Alice"
"Pergi, aku tidak ingin melihat mu saat ini Rafael"
"Alice jangan sep---
"aku bilang pergi, jangan membuat ku membencimu" Rafael menatap Alice dengan sendu. kemudian pergi meninggalkan Alice.
////////
Alexa melangkahkan kakinya tak tentu arah. saat ini suasana hatinya sedang kacau. Alexa memberhentikan langkah nya saat ada sebuah mobil yang berhenti disampingnya. Alexa menatap mobil yang tak dikenalnya itu dengan datar dan beberapa saat kemudian sang pengemudi mobil turun dan menghampiri Alexa, Alexa menatap pria didepannya dengan datar.
"kau adiknya Alice" tanya pria itu
Alexa tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan pria yang ternyata Rafael itu. Alexa masih diam dan memandang Rafael datar.
"kau bisu atau tuli?" kembali Rafael berucap tapi kali ini dengan nada yang sedikit kesal.
"iya" ucap Alexa kemudian melangkah kan kakinya melewati Rafael. Rafael meraih tangan Alexa dan otomatis langkah Alexa terhenti.
"aku ingin bicara denganmu"
"kita tidak saling mengenal jadi tidak ada yang perlu dibicarakan"
"aku mengenalmu" ucap Rafael bohong.
"mengenalku? jangan berbohong tuan"
"aku serius"
Rafael menatap Alexa. "sebentar saja"
Alexa menganggukkan kepalanya pada Rafael.
///////////
Kini keduanya sudah berada disebuah taman. Keduanya duduk disalah satu bangku yang ada disana, keduanya masih sama-sama diam sejak mereka duduk disana. Dan itu membuat Alexa sedikit kesal.
"jika tidak niat bicara, lebih baik aku pergi, kau membuang wakt----
"aku mencintaimu"
Alexa terkejut bukan main mendengar apa yang dikatakan Rafael barusan, tidak itu tidak mungkin. Bagaimana bisa pria yang baru saja ia temui mengungkapkan cinta padanya.
Alexa memang baru kali ini bertemu dengan Rafael, tapi itu bukan berarti Alexa tidak mengetahui Rafael. Rafael merupakan salah satu mahasiswa populer dikampusnya dan Alexa sedikit tahu itu, Karna Gebby adalah Fans Rafael.
"aku serius dengan ucapanku barusan. Dan aku tidak main-main" ucap Rafael dengan serius.
Hari Alexa ragu dengan apa yang dikatakan Rafael padanya. "jadi apa kau mau menjadi kekasihku?"
Alexa diam. Hatinya bimbang untuk menerimanya, Alexa menatap Rafael dengan intens.
"Aku tidak mencintaimu" ucap alexa dan membuat Rafael menggeram kesal didalam hatinya.
"kau bisa belajar mencintai ku setelah kita menjalin kasih"
Alexa berfikir cukup lama, kemudian ia menganggukkan kepalanya dan itu membuat Rafael tersenyum senang.
"Rencanaku pasti akan berjalan lancar" batin Rafael.
++++++++++++++++++++++++++++++++
part 08:
Rafael dan Alexa sudah menjalin hubungan selama 2 bulan, Gebby sangat terkejut saat Alexa memberitahukan hal ini padanya. sementara Alice, entahlah apa yang ia rasakan, Bahagia dan sedih.
Sikap Alexa juga sudah mulai sedikit berubah, Sikap dinginnya perlahan-lahan menghilang. Dan semua ini berkat Rafael. Selama 2 bulan, Rafael selalu memperhatikan Alexa.
"Rafael"
Rafael berbalik dan mendapati Alexa yang tengah berjalan kearahnya. Rafael sedikit menyunggikan senyuman saat melihat Alexa.
"ada apa sayang"
Alexa tersenyum dan mengambil sesuatu didalam tasnya. "aku membuatkan sesuatu untuk mu"
"apa ini?" tanya Rafael saat menerima sebuah kotak makan dari Alexa. "aku memasakan sesuatu untuk mu"
"benarkah?" tanya Rafael sambil membuka kotak makan itu. "ini----- makan kesukaanku. Terima kasih sayang" ucap Rafael kemudian mengelus kepala Alexa.
Rafael menarik tangan Alexa menuju taman belakang kampus yang terlihat sepi. Disana, Rafael akan memakan makanan yang dibawakan Alexa untuk nya.
"Sebentar Alexa, aku mau ke toilet dulu. Aku titip tasku ya"
"iya"
setelah Rafael pergi, Alexa melihat sekeliling nya yang tidak terdapat siapapun. Alexa memainkan kakinya untuk mengusir rasa bosannya. Tiba-tiba Alexa mendengar suara ponsel yang berbunyi, Alexa mengambil ponselnya dan melihat nya.
"bukan ponselku"
Alexa kemudian melirik kearah tas Rafael, Alexa menatap tas Rafael lama, kemudian tangannya bergerak meraih tas Rafael.
Alexa membuka tas Rafael dan mencari ponsel Rafael, setelah mendapatkannya. Alexa segera mengeceknya, Alexa beruntung karena Rafael tidak memberikan kunci sandi pada ponsel nya.
Alexa membuka ponsel Rafael yang terdapat sebuah pesan, Alexa membuka pesan itu dan membacanya.
"Alice"
"apa hubungan Rafael dan Alice?" gumam Alexa
Ya pesan yang masuk didalam ponsel Rafael adalah pesan dari Alice yang mengajaknya bertemu.
Alexa menghapus pesan Alice dikotak masuk Rafael, kemudian ia mengotak Atik ponsel Rafael. Ia membuka gallery photo Rafael.
"my princess" gumam Alexa saat melihat folder yang tertuliskan my princess. Alexa membuka folder itu dan betapa terkejut ia melihat photo siapa yang ada didalam sana.
Alexa membuka photo itu satu persatu, dan disalah satu photo ad tulisan `ILOVEU Alice'. Alexa menutup mulutnya tidak percaya melihat photo-photo Alice memenuhi ponsel Rafael.
"Kau mencintaiku atau mencintai kakak ku, Rafael?"
setitik butir krystal meluncur dipipi Alexa.
"aku sudah mencintai mu dan kenapa aku baru tahu kenyataan ini. kau hanya mempermainkan ku"
Alexa menghapus air matanya dan memasukan ponsel Rafael kedalam tasnya dan menyimpan tasnya ditempat semula. Dan tak lama kemudian Rafael datang.
"maaf membuatmu menunggu lama"
"tidak apa-apa" ucap Alexa bersikap seperti biasanya. "Rafael, bisakah kau temani aku keperpustakaan kota nanti sore?"
"maaf Alexa aku tak bisa. Nanti sore aku ada kegiatan"
"begitu ya"
"kau tidak marah kan?"
Alexa hanya menganggukan kepalanya.
++++++++++++++++++++++++++++++
part 09:
Alexa melamun didalam kamarnya, ia masih memikir dengan apa yang ia temukan diponsel Rafael. "photo kakak ku begitu menumpuk diponsel mu. Dan photo kita berdua hanya satu. menyedihkan sekalii"
"apa ini memang sudah takdir ku. Didunia ini tidak ada yang tulus menyayangi ku. Tidak, Ada satu orang yang bener-bener menyayangi ku dengan tulus, ya hanya Gebby yang selama ini menyayangiku" kini air mata Alexa sudah mengalir dipipinya.
"tapi aku rasa tidak akan lama lagi aku bisa merasakan kasih sayang Gebby padaku. Gebby, maaf aku tak mengatakannya padamu"
Klekk
Alexa menghapus air matanya, saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka. "ada Rafael dibawa, dia ingin bertemu dengan mu" ucap Alice diambang pintu.
"suruh saja dia ke sini"
Alice munutup kamar Alexa dan segera menemui Rafael. Dan tak lama kemudian, pintu kamar Alexa kembali terbuka dan menampilkan sosok Rafael. Rafael menutup pintu kamar Alexa dan segera berjalan menghampiri Alexa yang duduk disisi tempat tidur.
Alexa tersenyum melihat Rafael. "ada apa?" tanya Alexa setelah Rafael duduk disampingnya.
"aku menghubungi mu sejak tadi, tapi ponselmu tidak bisa dihubungi jadi aku memutuskan datang kemari"
"ponselku mati Rafael" ucap Alexa. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Rafael. Entah mengapa Rafael tersenyum saat Alexa melakukan itu.
"Rafael"
"hm"
"jika ada kehidupan selanjutnya aku ingin terlahir kembali, dan aku ingin kita menjadi pasangan seperti ini" ucap Alexa dan membuat senyum diwajah Rafael luntur seketika.
"kenapa kau mengatakan itu, hm"
"tidak apa-apa. ini hanya keinginan ku saja"
"aish kau ini" Rafael mengacak-acak rambut Alexa. "Rafael kau merusak rambut ku" Rafael berhenti mengacak rambut Alexa dan membenarkannya kembali. Dan tanpa disengaja kini pandangan Rafael dan Alexa saling bertemu. Mereka bertatapan dalam hingga akhirnya kedua bibir mereka menyatu. Rafael melumut bibir Alexa dengan lembut.
"akh"
Alexa sedikit mendesah saat lidah Rafael masuk kedalam mulutnya, kini ciuman mereka tak selembut tadi. Ciuman mereka sekarang penuh dengan nafsu.
Rafael melepaskan ciumannya dan menatap Alexa.
"boleh aku menyentuh mu", Alexa menganggukan kepalanya dengan yakin. Hingga Rafael kembali mencium Alexa.
Skiip....
+++++++++++++++++++++++++++++++++
part 10:
Rafael menarik selimut untuk menutupi tubuh polos dirinya dan juga Alexa. Rafael menatap Alexa yang tertidur disampingnya.
"maafkan aku, Alexa"
Rafael kemudian beranjak Dari atas kasur Alexa dan meraih pakaiannya yang berserakan dilantai. Rafael kemudian memakainya kembali.
Rafael kembali menaiki kasur dan mencium kening Alexa. setelah itu ia keluar dari kamar Alexa, saat Rafael hendak menuruni tangga, ia berpapasan dengan Alice.
"kau sudah mau pulang Rafael?"
"hm"
Sementara dikamar, Alexa juga sudah memakai pakaian nya kembali. setelah Rafael keluar dari kamarnya. Ia membuka matanya dan melihat keadaan tubuhnya yang telanjang bulat.
"Aku tidak akan menyesalinya"
/////////////
"ALEXA SMITH"
Teriakan Gebby membuat seisi kelas memandang nya dengan heran. Termasuk Alexa.
"Gebby"
"Ikut Aku" ucap Gebby kemudian menarik tangan Alexa menuju taman. Sampai ditaman, Gebby menghampaskan Alexa kebangku Taman.
"Gebby ada apa?" tanya Alexa
Gebby membuka tasnya dan melempar sebuah botol kecil ke Alexa. Alexa mengambil botol itu dan melihat nya.
"ini-----ini-----
"Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahu ku tentang penyakit yang kau derita?" tanya Gebby menekankan ucapannya. "jawab aku ALEXA SMITH" teriak Gebby.
Sepertinya Gebby bener-bener marah pada Alexa.
"kenapa kau tak memberitahuku" Gebby kembali mengulang perkataannya dan Alexa tetap saja diam.
"Ale---
"karena aku tidak mau membuat mu khawatir"
"tidak ingin membuatku khawatir" ucap Gebby disertai remehnya pada Alexa. "Apa kau mau membuatku menyesal seumur hidup ku karena ini?"
"Gebby tid----
"kalau aku terlambat mengetahuinya, aku pasti akan menyesal seumur hidup ku, karena aku tidak tahu akan hal ini" ucap Gebby dengan mata berkaca-kaca.
"maaf"
"sejak kapan? sejak kapan kau menderita kanker otak?"
Alexa menunduk, tidak berani melihat mata Gebby. "aku tidak tahu, aku baru mengetahui nya 6 bulan yang lalu"
Gebby menghela nafasnya dan menatap Alexa. "jangan sembunyikan apapun dariku" ucap Gebby kemudian memeluk Alexa.
"hm, ini yang terakhir kalinya aku menyembunyikan sesuatu darimu"
"iya, sekarang kau harus kerumah sakit" ucap Gebby dan membuat senyum diwajah Alexa luntur.
"Tidak"
"Kenapa? Bukankah kanker yang kau derita sudah stadium akhir?"
"Darimana kau tahu? Dan kenapa kau bisa mendapatkan obatku ini?"
"obat ini aku temukan dibawa mejamu, Mungkin terjatuh dan kau tak menyadarinya. Dan aku membawa botol obatmu ke Dion dan dia mengatakan semuanya padaku"
"Dion juga bilang seharusnya kau sekarang dirawat dirumah sakit dengan insentif"
"aku tidak mau"
"Alexa jangan keras kepala"
"dirawat atau tidak, aku tetap akan pergi meninggalkan dunia ini"
"jangan berbicara seperti itu, aku yakin kau pasti sembuh. Dion akan membantu mu"
"tidak Gebby" ucap Alexa. "Aku ingin menikmati sisa hidupku dengan berada didekat orang yang ku sayangi".
+++++++++++++++++++++++++++
Part 11:
Hari demi hari kondisi Alexa semakin parah. Rasa sakit dikepalanya juga semakin menjadi dan obat yang ia konsumsi tidak bisa lagi menghilangkan rasa sakit itu. Alexa menanggis didalam kamarnya. "apa sudah saatnya" ucap Alexa. Alexa meraih ponselnya dan menghubungi Gebby. Disaat saat terakhir ia ingin bersama Gebby.
Alexa meraih tasnya dan berjalan meninggalkan kamar. Alexa melihat Alice dan orang tua nya diruang keluarga tengah duduk bersama sambil bercanda ria.
Alexa menatap mereka sejenak, kemudian tersenyum. setelah itu kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah untuk bertemu Gebby.
Alexa berdiri didepan pagar rumahnya, dan tak lama kemudian sebuah mobil berhenti didepannya dan Alexa langsung masuk.
"kau Nampak pucat Alexa"
"aku tidak apa-apa"
"kau jangan sok kuat, aku akan membawamu kerumah sakit sekarang"
"tidak Gebby"
"aku akan tetap membawa mu kerumah sakit"
Gebby mengendarai mobilnya ke rumah sakit dimana Dion berkerja. Sampai dirumah sakit Gebby segera memanggil perawat untuk membantu Alexa keluar dari mobilnya. Pasalnya Alexa tak sadarkan diri saat dalam perjalanan kerumah sakit.
Gebby menatap Alexa dengan khawatir. Saat ini Alexa akan dibawa keruang ICU. Sesampainya disana, suster melarang Gebby masuk.
"Gebby"
Gebby menoleh dan melihat Dion yang tengah berlari kearahnya. Gebby langsung memeluk Dion saat Dion ada didekatnya.
"Jangan khawatir sayang, Alexa pasti akan baik-baik saja"
"bagiamana aku tidak khawatir. wajah Alexa bener-bener pucat tadi" Isak Gebby. Dion melepaskan pelukan Gebby dan mencium kening Gebby. "Kau tunggu disini, aku akan masuk kedalam" Gebby menganggukan kepalanya.
"Ya Tuhan, tolong jangan ambil Alexa sekarang"
Tak lama Dion masuk, pintu ruang ICU kembali terbuka. kini bukan Dion saja yang keluar dari ICU tapi dokter yang menangani Alexa juga.
"Dion"
Dion menghampiri Gebby dan menggenggam tanganya erat. "dokter bagaimana keadaan Alexa?" tanya Gebby pada dokter yang menangani Alexa.
"keadaannya sudah sangat parah. Dan dia juga saat ini tengah----
"dokter biar aku yang menyampaikannya"
"baiklah, kalau begitu aku permisi dokter Dion"
Dion tersenyum menanggapi ucapan dokter Lina.
"Dion apa yang sebenarnya terjadi? bagaimana kondisi Alexa"
Dion menghela nafasnya dan memandang Gebby dengan sendu. "tidak ada harapan untuk Alexa bertahan Gebby" lutut Gebby melemas mendengar ucapan Dion.
"tidak" gumam Gebby
.
"tidak Dion, tolong selamatkan Alexa. Aku tidak ingin kehilangan dirinya"
Dion sangat sedih melihat kondisi Gebby saat ini, maka dengan itu ia membawa Gebby keruangan nya. Didalam sana Dion menyampaikan sesuatu yang membuat Gebby lebih terkejut lagi.
"aku akan melakukan apa saja untuk kesembuhan Alexa" ucap Gebby pada Dion. Setelah itu Gebby keluar dari ruangan Dion dan berjalan keluar dari rumah sakit.
+++++++++++++++++++++++++++++
Part 12:
Gebby kembali ke rumah sakit setelah ia mengurus sesuatu. ia segera menuju ruangan Dion.
"aku sudah mengurusnya, aku ingin ini berjalan sesuai rencana"
"baiklah"
Dion menatap Gebby sejenak, kemudian ia meraih ganggang telfon diruangannya. ia kemudian memencet beberapa nomor. Dan tak lama kemudian sambungan telfonnya tersambung dan diangkat seseorang diseberang sana.
"apa bener ini dengan Rafael Fernando? bisakah anda datang kerumah sakit kota,,, ini mengenai Alexa, bip" ucap Dion mematikan sambungan telepon nya dan menatap Gebby.
Sementara itu Rafael sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. setelah mendapat telepon dari Dion, Rafael segera melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Sampai rumah sakit, Rafael segera bertanya pada resepsionis. setelah tahu dimana Alexa, Rafael segera berlari ke lift untuk menuju lantai 3 dimana ruang ICU berada. Dion dan Gebby juga sudah berada didepan pintu ICU dan menunggu kedatangan Rafael. Gebby beranjak dari duduknya saat melihat Rafael tengah berlari kearahnya.
"Alexa, ada apa dengan nya Gebby?" tanya Rafael pada Gebby.
"maafkan aku Rafael, selama ini Alexa menderita kanker otak" ucapan Gebby membuat Rafael seakan tersambar petir.
"tidak. itu Tidak Mungkin"
"Ini adalah kenyataan nya Rafael. dan Keadaannya sekarang sudah sangat parah. Masuklah kedalam" ucap Gebby.
Rafael kemudian membuka pintu ruang ICU dan melihat Alexa yang tengah terbaring lemah diatas kasur. Rafael menggemgam tangan Alexa.
"Alexa"
Alexa membuka matanya saat mendengar suara Rafael. "Rafael, kau disini?"
"hm, kenapa?? kenapa tidak memberitahu ku tentang penyakit mu?"
Alexa tersenyum pada Rafael. "aku tidak ingin membuatmu khawatir padaku"
"Rafael boleh aku mengatakan sesuatu?" Rafael menganggukan kepalanya.
"Sebenarnya aku sudah tahu kau tidak bener-bener mencintaiku. kau berpacaran denganku karena kau ingin lebih dekat dengan Alice kan?" Rafael terkejut dengan apa yang dikatakan Alexa.
"aku tahu semuanya Rafael. Tapi aku berusaha bersikap seperti biasa. Apa aku egois? aku tahu kau mencintai Alice kakak ku tapi aku tetap ingin kau berada di sisiku"
"Ale----
"Aku mencintaimu dengan tulus. Awalnya ini begitu menyakitkan tapi sekarang tidak. aku berharap kau bisa bahagia jika aku pergi nantinya"
"tidak Alexa"
"jaga Kakakku untukku Rafael. aku mencintaimu. sangat mencintaimu". ucap Alexa kemudian menutup matanya.
tit..tit..tit........
Rafael mengguncangkan tubuh Alexa.
"ALEXA BANGUN"
"ALEXA KUMOHON BUKA MATAMU"
Rafael sudah tak kuasa menahan air matanya untuk meluncur.
"BANGUN ALEXA. KAU HARUS MENDENGAR APA YANG INGIN AKU KATAKAN PADAMU. JADI BANGUNLAH,, hiks" kembali Rafael mengguncang tubuh tak bernyawa Alexa.
Rafael mencium kening Alexa dan juga bibir pucat Alexa. "AKU MENCINTAIMU JUGA ALEXA, JADI KUMOHON BANGUNLAH"
klekk..
"ALEXA"
Rafael menyingkir saat orang tua Alexa dan Alice datang. Alice menanggis melihat Alexa yang sudah meninggal dan dalam sekejap ia jatuh pingsan. Gebby dan Dion yang baru saja masuk langsung membawa Alice dari sana.
"Alexa bangun sayang, Ibu mohon BANGUN SAYANG" Isak Ny.Smith
"Maafkan Ayah Alexa, Ayah tahu kau pasti sangat membenci Ayahkan?" Tuan Smith mengusap kepala Alexa.
"apa sekarang kalian baru menyadari keberadaannya?, Apa kalian baru menyadari kesalahan kalian setelah dia tiada?, Rasakan penyesalan itu Tuan dan Nyonya Smith. Alexa yang kalian sia-sia kan sudah pergi dalam kehidupan kalian untuk selamanya" ucap Gebby.
"ALEXA BANGUNLAH"
#############
Hari ini Alexa baru saja dimakamkan, Rafael yang belum bisa menerima kepergian Alexa masih setia jongkok dikuburan Alexa. Hatinya sakit menerima kenyataan menyakitkan ini.
kau telah menyia-nyiakan cinta tulusnya Tuan Rafael Fernando dan rasakan juga penyesalan itu dihatimu.
#FLASHBACK ON#
"Aku bisa memanfaatkan adiknya, ya aku bisa memanfaatkan untuk lebih dekat dengan Alice"
"dan caranya mungkin aku harus menjadikannya kekasih ku agar aku lebih muda untuk mendekati Alice" Ucap Rafael disertai seringainya.
#FLASHBACK OFF#
Rafael meneteskan air matanya saat ia mengingat tujuannya menjadikan Alexa kekasihnya.
#FLASHBACK ON#
"Alice, apa yang kau lakukan?"(Rafael)
"Aku sedang memasak"(Alice)
"masakan untuk ku juga ya"(Rafael)
"minta saja sana pada Alexa mu" ucap Alice disertai senyuman menggodanya.
"Tidak, aku ingin memakan masakan mu" ucap Rafael yang hendak memeluk Alice dari belakang.
"Rafael" ucap Alexa
Kalau tidak ada Alexa mungkin Rafael sudah memeluk Alice.
#FLASHBACK OFF#
"Maafkan aku Alexa" ucap Rafael.
"Aku mencintaimu. itulah kenyataannya sekarang"
***TAMAT***