Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil.
Masih kutatap tes pack dalam genggaman tanganku. Hatiku berkecamuk, gamang dan hilang arah. Sesaat otakku tak bekerja. Mantan pacarku bahkan akan menikah dengan wanita yang dijodohkan keluarganya.
Bodoh! Menyesalkah aku?
Tidak!
Namaku Dania, aku memang terlahir dari keluarga broken home. Ibu menikah lagi dengan seorang duda muda yang nyatanya sangat brengsek. Laki-laki yang nyatanya tega mengambil kegadisanku di belakang ibu.
Aku diancam jika bicara. Aku yang saat itu takut hanya menurut. Aku memang lemah.
Waktu berlalu, aku Dania yang baik mulai berubah nakal. Aku berpacaran dan bahkan berani berbuat hal lebih. Ya, aku memang bukan gadis perawan. Hal benar dan salah sudah samar. Aku ikuti hal yang membuatku bahagia saja. Tapi tentunya aku selalu memakai pengaman dalam setiap hubungan intimku.
Randi, lelaki baik itu terus mengejarku. Menyatakan suka padahal sudah aku katakan tentang aku bukan gadis baik, tidak pantas untuknya yang bersih, namun melihat usahanya aku luluh juga. Ya, aku memang cantik. Siapa yang tidak suka aku dalam sekali pandang?
"Yang, kamu benar nggak mau?" Aku yang sudah mabuk kepayang pada Randi yang baik malam itu iseng menggodanya.
"Jangan ya, Yang! Aku nggak mau sama seperti laki-laki lain yang pernah sama kamu! Cuma mau tubuh kamu aja!" Hati siapa yang tak luluh mendengar ucapan seperti itu. Aku Dania perindu cinta akhirnya merasa menemukan cinta sebenarnya. Randiku.
Beberapa waktu berlalu, 5 bulan hubungan kami Randi masih teguh dengan prinsipnya tidak mau menyentuhku sebelum kami halal. Hingga sebuah malam Randi datang menceritakan dirinya yang akan dijodohkan.
Aku melihat rahut kesedihan Randiku, ia benar-benar sangat mencintaiku. Ia bimbang, Randi memang anak yang tidak pernah menolak ingin orang tua. Baginya tempat orang tua adalah yang tertinggi dan tempatku setelahnya. Hatiku hancur, sudah dapat dipastikan Randi akan meninggalkanku.
Otakku terus berputar bagaimana cara agar Randi memilihku dan bisa menentang orang tuanya. Hamil! Tiba-tiba terlintas itu seketika.
Aku menggodanya di malam terakhir kami bertemu. Berbagai jurus kugunakan agar ia mau menyentuhku. Akal sehatku seakan hilang. Aku hanya ingin Randi. Randi tidak boleh meninggalkanmu.
Malam itu tanpa sepengetahuannya kumasukkan sebuah obat perangsang ke minumannya. Nakal! Ya ... aku memang nakal. Jahat tepatnya.
Malam itu gairah Randi tak terkontrol, aku pun melakukan aksiku. Memperkosanya! Randi kaget di pagi hari dan menyesal akan perilakunya, tapi aku menenangkannya.
"Semua akan baik-baik saja, tetaplah menikah dengan calon pilihan orang tuamu!" ucapku dengan tegar.
Sebulan berlalu, pernikahan Randi semakin dekat. Apa yang terjadi denganku? Aku sakit! Sakit tak biasa! Mual dan lemah! Datang bulanku tak menghampiri. Apa aku sedih? Justru sebaliknya!
Aku menemui Randi. Randi kaget bukan kepalang. Ya, ia tak menyangka aku akan hamil dan perbuatan malam itu membuahkan janin.
Randi yang biasanya akan mendahulukan orang tua, akhirnya luluh. Ia merasa harus bertanggung jawab. Dalam hati aku tersenyum. Aku memang tidak salah memilih Randi.
______________
Beberapa hari sudah kutatap wanita itu di kejauhan. Wanita kaya raya yang akan menjadi istri Randi.
Aku benci dengan semua! Mengapa kasta selalu dinomer wahidkan oleh sebagian orang? Aku benci wanita itu!
Dengan dibantu seorang teman dan menyamar menjadi pelayan aku akhirnya bisa masuk ke rumah besar Randi. Aku masuk ke kamar calon istri Randi. Kubekap dan kusembunyikan calon istrinya di dalam lemari.
Aku berdandan cantik menyerupai calon istri Randi setelahnya. Beruntung saat ini pandemi, sepotong masker menutupi wajahku. Malam itu akad dilangsungkan dan aku lah yang duduk di samping Randi. Sebelum akad dilontarkan, kukedipkan mata pada Randi dan ia bergeming.
Akad itu terlontar dengan cepat!
Akad atas namaku!
Aku dan mantan pacarku akhirnya bersatu!
Semua keluarga kaget, tapi kami bahagia.
Ya, semua rencana kami berhasil!
Rencanaku dan Randi!