Di malam pernikahan mantan pacar , aku hamil..
Bertahan diam - diam, atau membalas dendam? Ada rahasia apa di belakang nya?
Laki laki yang membuatkan kopi untukku itu, namanya adi. Aku pertama kali mengenalnya di Facebook, dan cukup lama berteman. Sejak dua minggu ke belakang, aku telah berjumpa dengannya secara langsung. Itu pun karena kebetulan. Atau, mungkin memang sudah ditakdirkan. Kupesan padanya, agar tidak terlalu banyak memberi gula pada kopiku, karena dia sendiri sudah manis, dan orangtuaku punya riwayat diabetes. Dia malah tertawa, lalu mengataiku ‘gombal’.
Mengesankan. Pertemuanku yang tak disengaja itu, alih-alih telah memberi satu rutinitas yang baru buatku. Bagaimana tidak, kegiatan kuliah yang biasanya datar dengan cara pulang-pergi yang membosankan, sekarang bisa sedikit kuisi dengan mampir ke ‘cafe orion’ milik adi. Dan memesan kopi, bukanlah alasanku satu-satunya.
Namaku kania. Aku, sejatinya tinggal di kota Cirebon. Memiliki pekerjaan di sana dengan hari kerja Senin sampai Jum’at. Dan dua hari sisanya kugunakan untuk kuliah di Tangerang. Jauh memang, dan tidak akan mungkin kulakukan jika bukan karena ada Bibi yang memberiku tempat tinggal selama kuliahku di sana.
Adi memang teman yang gampang akrab. Aku bercerita banyak hal dengannya. Bahkan sampai yang tidak penting sekalipun. Katakanlah lelucon. Namun justru itu yang lebih membuatnya senang. Tapi, aku tidak bergurau saat kukatakan dia manis. Dan aku suka dengan senyumnya kalau sedang tersipu. Atau, kalau sedang menyambutku -yang sudah berulang kali- datang di cafenya. Dia tampak sumringah.
“Kamu jangan lewatkan mampir ke sini ya, kalau misal mau pulang” pintanya yang seringkali kudengar.
Setelah hampir 2 bulan , aku dan adi memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar barista dan penikmat kopi. aku mengizinkan nya masuk ke dalam duniaku , semua dipegang kendali olehnya termasuk..
"Aku belum bisa tidur, na"
Balasku, "Kenapa? Lupa beli obat nyamuk?"
"Bukan. Tapi ciumanmu terlalu berkesan". Seperti itu katanya
Ya Tuhan, aku menyukai apa yang sudah dia lakukan padaku.
Saat sore kemarin, sebelum aku meninggalkan Tangerang, aku pergi ke tempat kerjanya seperti yang ia minta. Kemudian, setelah beberapa lama, dia menunjukkan rasa keberatan saat melihatku hendak pergi setelah habis secangkir kopi.
"Bisa bantu aku tutup kedai ini dulu kan, na?” rayunya.
“Lho? Masih sore begini?”
“Sudah pegel, hehe. Lagipula sudah sepi”
Aku tidak menolak. Kedai adi pun akhirnya tutup sebelum isya. Dan aku, gagal mengucap pamit ketika adi malah memintaku untuk menemaninya pulang. Aku menurut saja dengannya. Kuantar dia cuma sampai depan pagar rumahnya.
“Sudah malam. Aku pulang ya, di?” Pamitku setibanya di kediaman adi.
Tak ada jawab yang keluar dari bibir manisnya, melainkan senyum hangat yang bisa kubaca makna di dalamnya. Sepasang mata adi menatapku lekat-lekat, kemudian ia membenamkan tatapan itu ketika wajahku mendekat. Selanjutnya… "biarkan aku yang mengantarmu na."
Seminggu setelah pertemuan malam itu , Adi mengajak ku , hanya sekedar duduk di cafe , namun kini dia terlihar berbeda . Dia menyuruhku menunggu . Lalu kembali dengan membawa tas ransel merah . Dia duduk tepat di depan ku . Aku menatap nya
"buatmu na." Sambil menjulurkan undangan yang ada di tangannya mengarah kepadaku.
"Ini apa di?."
"Undangan na."
"Undangan? Kita di undang di pesta di? Siapa di?." Tanyaku tersenyum
Dia tidak bisa berkata kata , bahkan bungkam beberapa menit . Lalu menjawab pertanyaan ku .
"Undangan pernikahan ku na."
Aku panik , benar-benar di luar dugaanku. Aku berdiri dan memundurkan langkah ku menjauh darinya . laki laki yang selama ini aku tunggu kepastian nya , dengan gampang nya dia memberikan dunia nya bahkan menetap selamanya . pada wanita asing , wanita yang tidak mengenal nya jauh , wanita yang nantinya akan menjadi darah daging keturunan nya .
Aku pergi meninggalkan nya , dia sempat berkata bahwa hubungan kami tidak di restui, hal itu menjadi alasannya terpaksa menikahi wanita pilihan orang tuanya.
Setelah satu Minggu tanpa ada barista di cafe kopi . Aku merasa sangat hampa . semua nya seperti hendak penuh dengan warna hitam . seperti biasa aku pergi untuk mentunaikan tugas mata kuliah .
Di perjalanan tidak seperti biasanya , aku merasa pusing dan mual . Sampai harus berhenti sekedar duduk . Tepat di depan apotik . sebenarnya , sudah sejak lama aku merasakan tidak enak badan . Namun gejala - gejala yang timbul , tidak biasa . Batin ku berkata "di coba gak ya? apa ada sesuatu yang tumbuh di dalam tubuh ku? Atau hasil dari-."
Aku berharap ini hanya halusinasi belaka , aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam , lalu..
"Mba ada testpack?."
Esok adalah hari pesta pernikahan adi, hari kebahagiaan nya dan pertunjukan untuk kehancuran ku . Malam itu aku menunggu hasil testpack, dan ternyata benar . Dua garis biru itu sudah terlihat sangat jelas .
Teriaku dengan isak tangis yang tidak terhenti di dalam kamar mandi . Apa yang sudah kami lakukan pada malam itu memang benar - benar terjadi sekarang.
Keesokan harinya , aku pergi ke ke tempat di mana pernikahan Hadi akan diselenggarakan. Banyak polisi yang menjaga ketat keamanan , juga orang orang ramai berkunjung untuk masuk .
namun aku tidak seperti tamu lainnya yang masuk lewat pintu utama , aku menerobos masuk ke dalam ruang penata rias.
Membuka pintu , ada penata rias dan calon istri adi.
"Dimana Adi?."
"Ada apa mba?." Wanita itu menoleh ke arahku .
"DIMANA ADI!!". bentakku membuat nya berdiri panik.
Adi membuka pintu kamar mandi , aku menoleh dan menghampiri nya .
"kamu liat ini di!."
Adi sesekali menoleh ke arah calon istrinya yang terpampang kaku.
"Apa na?."
"Liatt diii." Aku memberikan bukti testpack di depan matanya.
"Na-"
"Liat apa yang sudah kamu perbuat di? Sekarang apa?!."
"Mas-"
Adi panik dan memotong pembicaraan calon istrinya , dia segara menggandeng ku keluar dari ruangan itu.
"Na! Kamu apa- apaan sih."
"Kamu yang apa- apaan di, jelas aku hamil ." Bentakku membuat Adi semakin panik .
"Na - tolong lah , jangan buat pernikahan ku hancur."
"Hancur? kamu yang buat aku hancur lebih dulu di!, Sekarang aku butuh tanggung jawab mu!."
"Na! kalau itu pasti aku lakukan." balasnya sambil beberapa kali was-was ke sekeliling.
"di..."
"Na- kita. . kita aborsi saja ya?."
isak tangis ku tidak tertahan , aku menamparnya.
"Brengsek! Kamu kira itu mudah di? Kamu kira segampang itu?."
"Na, berapapun biaya nya aku akan tanggung."
Aku menutup mulutku , menahan amarah dan tangis ku yang kian membeludak.
"Na- aku minta maaf , tapi ini waktu yang gak tepat na."
"JAHAT KAMU DI!."
Aku pergi meninggalkan kan nya , tatapan banyak orang yang baru masuk gerbang tertuju padaku . aku pergi menaiki mobil ku .
Sepanjang jalan, kepala pun mulai dibuahi bermacam pikiran. Mungkinkah aku aborsi anak ini? Dan di satu cabang pikiran lain, apa jadinya bila suatu saat adi tetap memilih menikahi perempuan itu? Pertanyaan demi pertanyaan bergantian, di kepalaku yang masih sedikit dibuai rasa kantuk. Aku tidak menduga, ketika tiba-tiba di depanku sudah ada seorang penyeberang jalan yang menjerit melihat laju kendaraanku sedang menghampirinya. Spontan bercampur kaget, ditambah panik pula.
Kubanting setir sedapat mungkin untuk menghindari tubuh itu. Dan akhirnya berhasil kulewati dia tanpa mencelakainya. Namun, kendaraku yang sudah memakan jalur lawan, pada akhirnya harus pasrah disambar minibus yang memang tidak sempat lagi untuk memberi rem pada lajunya. Menjadikan mobilku rinsek. Dan melemparkan tubuhku sejauh 7 meter. Juga, merenggut nyawaku dalam hitungan detik saja.
***