"Dewa ...!"
Lelaki berjaket merah yang sudah duduk di atas motor itu memalingkan wajah. Aku berlari mendekatinya yang bersiap untuk pulang.
"Aku nebeng ya."
Dia hanya mengangguk, menyerahkan helm. Lalu, membuka jaketnya dan memberikan padaku.
Itu yang selalu dia lakukan saat aku menebeng motornya pulang dari sekolah. Bukan, dia memberikan jaket bukan untuk kupakai, melainkan untuk menutupi bagian pahaku yang roknya akan terbang terbawa angin saat duduk di atas boncengan.
Dia bilang, 'jangan suka memerkan aurat. Malu sama malaikat.'
Lelaki irit bicara ini akan menjadi bawel saat bersamaku. Karakternya yang dingin dan jarang tersenyum itu menghilang saat kami berdua.
Menjadi teman semasa kecil, sering bersama hingga remaja bahkan kami selalu berada di dalam sekolah yang sama walaupun kelas yang berbeda.
Dewa, dia memang tidak banyak bicara. Tidak banyak tingkah dan tidak banyak membuat ulah. Jika sebagian besar anak remaja sering keluar dan bermain. Ia malah sering menghabiskan waktunya belajar bersamaku.
Memiliki paras manis, sebenarnya Dewa banyak disukai kaum dara di sekolah. Akan tetapi, Dewa terlalu cuek untuk itu.
"Wa, ntar malam anterin aku, ya," pintaku di sela-sela berisik suara kendaraan di lampu merah.
"Ke?"
"Main bareng, Dave."
"Kencan kok ngajakin aku?"
"Ayolah, aku hanya bisa nyaman kalau keluar ada kamu."
Dia tidak menjawab, lama ... sekali, akhirnya dia mengangguk.
Yes! Aku tahu, Dewa tidak akan membiarkan aku keluar sendirian. Selama ini dia selalu ikut ke mana pun aku pergi. Mau itu main, belajar bareng atau hanya belanja bulanan menggantikan mama.
Entahlah, semakin hari. Aku semakin terbiasa dengan adanya Dewa di segala aktifitas yang kujalani.
***
Aku menghela napas dengan sesekali melirik ke arah jam. Sudah tiga puluh menit, Dave, lelaki yang aku kagumi di sekolah selama setahun belakangan ini tidak menampakan batang hidungnya.
Terus terang, sebagai anak remaja aku memang mengaggumi sosok seniorku itu. Beberapa kali bertemu dalam ekskul yang sama, perlahan aku dan Dave menjadi akrab. Sering membalas pesan dan juga teleponan di saat waktu senggang.
"Na, masih lama?" tanya Dewa yang mulai tidak nyaman.
"Aku gak tau, Wa. Katanya janjian jam delapan."
"Sekarang sudah hampir jam sembilan malam, Na. Kita anak sekolah gak bagus pulang terlalu malam."
Ini, Dewa akan selalu begini saat aku melewati jam malam. Ia terkadang seperti seorang ayah yang sedang mengasuh anaknya saja.
"Sebentar, aku coba chat Dave dulu, ya."
Aku mengeluarkan ponsel, cepat tangan Dewa menyambarnya.
"Sudahlah, jangan dihubungi. Kedepannya jangan jalan sama lelaki yang tidak bisa mengharagi waktu. Waktu saja tidak bisa dihargai, apalagi kamu."
Dewa memberikan jaketnya padaku, menarik tangan menuju parkiran motor.
Selain mengikutinya, aku tidak bisa melakukan yang lain. Dewa, terkadang dia menjagaku lebih baik dari mama.
***
Mataku melebar saat melihat salah satu story wa teman sekelas. Dewa dan salah satu gadis cantik yang namanya sering menjadi topik beberapa minggu ini, dikabarkan pacaran.
Tidak percaya, aku langsung mengetik pesan ke sahabat kecilku itu. Tanpa menunggu lama, terlihat Dewa sedang mengentik balasan di sana.
[Gosip dari mana?] balasnya saat aku bertanya tentang hubungannya dengan Naya, teman sekelas Dewa sekaligus gadis remaja yang menjadi idola sekolah karena kecerdasannya.
[Anak-anak lagi pada ribut, katanya Naya pacaran sama kamu, Wa].
[Cemburu?] disertai emot ketawa terbahak di belakangnya.
Ish, apalah Dewa ini. Mana mungkin aku cemburu padanya. Aku tersenyum dan menggeleng, tidak membalas lagi pesannya itu.
Dewa, aku tidak cemburu. Rasanya, aku hanya tidak rela jika perhatianmu terbagi dengan wanita yang menjadi pacarmu itu.
Ketukan kaca sebelah kursi mengalihkan perhatian. Melihat Dave berada di balik sana.
Senyum mengembang di wajah, aku segera membuka jendela dan berbicara dengan Dave.
Ia meminta maaf karena telat, akan tetapi saat dia datang, aku sudah pulang. Hem, Dewa, jika bukan karena dia. Mana mungkin aku dan Dave batal kencan.
Sudahlah, Dewa juga tidak bersalah dan Dave juga mengerti. Kami pun berbicara dengan sesekali tertawa. Tanganku memukul lembut lengan Dave saat ia mulai menggoda.
Dengan rona wajah yang terus memerah saat melihat Dave tertawa. Tak bisa dipungkiri, aku memang sudah jatuh cinta.
***
"Aku pacaran sama Naya."
Aku memalingkan wajah, menatap Dewa yang memerah. Memandangiku sinis dengan ujung mata. Perlahan aku tersenyum simpul dan menepuk lengannya lembut.
Dasar Dewa, hanya mengakui pacaran saja sampai membuat wajahnya memerah. Begini memang kalau ia sedang malu, dingin dan mengerihkan.
"Langgeng ya," balasku tersenyum lebar.
Ia hanya menghela napas, menggelengkan kepala. Memberikan helm yang ia keluarkan dari dalam jok motor.
"Aku mau pulang sama Dave," tolakku saat helm itu tersodor ke hadapan.
Tidak bertanya, tidak membalas. Ia hanya memacu motornya keluar dari parkiran sekolah.
Dewa, dia akan menghilang dari pandangan saat malu. Dari dulu sampai sekarang, aku tidak perlu lagi bertanya. Dari gerakannya saja, aku tahu apa yang dia rasa.
Dewa, tanpa kusadari kami mengenal lebih dalam dari siapapun. Sebenarnya aku tidak rela jika ia pacaran dengan Naya. Bukan, lebih tepatnya tidak rela jika dia punya pacar.
Takut jika perhatian Dewa menghilang, takut jika Dewa tidak lagi punya waktu dan bisa menemaniku ke manapun aku mau.
Akan tetapi, aku salah. Dewa sama sekali tidak berubah. Dia masih menjadi Dewa-ku seperti biasanya.
Sampai tiga bulan berlalu, kabar Dewa dan Naya putus tersebar ke mana-mana dan lebih parahnya. Aku menjadi penyebab mereka berdua putus.
Tidak pernah ikut campur, tidak pernah juga aku membahas Naya saat aku dan Dewa bersama. Entah bagaimana kabar itu bisa beredar.
Aku pun tidak tahu. Hanya saja, perlahan hubunganku dan Dave merenggang. Dave seperti menjauhiku karena kabar angin itu.
Sampai akhirnya, aku dan Dave sama sekali tidak terlibat komunikasi lagi. Hubungan yang aku impikan bisa terjalin dengan Dave, menghilang begitu saja.
Bahkan di dalam ekskul, Dave seperti seseorang yang sama sekali tidak mengenaliku.
Aroma yang sangat kuhafal menyeruak ke dalam rongga hidung, Dewa meletakan dua porsi mie ayam yang kami pesan tadi.
"Cemberut aja. Kenapa?" tanyanya yang sibuk memilih sawi yang ada di dalam mangkuk mie ayam milikku.
"Dave, dia tiba-tiba asing. Seperti gak kenal sama aku."
Kulihat bibir tipis Dewa tersenyum, sesekali jarinya menaikan helaian rambut yang jatuh ke sudut dahi.
Padahal dia juga baru putus, bisa-bisanya dia tersenyum saat mendengar aku sakit hati begini. Dasar Dewa!
"Sudahlah, kita masih SMA, Na. Jangan dibuat pusing dengan masalah asmara. Belajar dulu dan belajar lebih lagi. Kelak, kamu juga akan menemukan lelaki yang tepat jika sudah saatnya." Dewa mengacak pucuk kepalaku.
Aku hanya memanyun dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menunggu Dewa selesai memilah daun sawi dan seledri di dalam mangkuk milikku.
Padahal, dia bisa memesan tanpa sayur. Entah kenapa, dia lebih suka memesannya lalu memilahnya seperti ini.
"Sudah jangan dipikiri lagi, makan saja." Dia menyodorkan mie ayam tanpa sayur ke depanku.
Seperti biasa, aku akan menarik mangkuknya dan memindahkan sebagian ayam di dalam mienya ke dalam mie milikku. Pertukaran yang seimbang, Dewa mengambil sayuran milikku dan kuambil sebagian ayam miliknya.
Entah sejak kapan kami memulai ini. Seiring berjalannya waktu, aku dan Dewa seperti seseorang yang saling memahami satu sama lain.
***
Waktu tiga tahun di SMA berjalan sangat cepat. Tanpa disadari, kami sudah lulus dan akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah kejadian bersama dengan Dave, aku tidak pernah terlibat oleh asmara lagi. Perlahan, aku nyaman dan hanya ingin memandang Dewa saja. Entah mengapa, rasanya, akan lebih baik jika lelaki yang bisa mendampingiku kelak dialah, Dewa.
Kupandangi punggung berbalut kemeja berwarna abu-abu itu berjalan menyeret koper besar miliknya. Memasuki keramaian di dalam bandara, sampai sepatu itu berhenti dan berbalik menatapku.
Sebuah senyuman mengembang dari bibir tipis lelaki yang telah menemaniku selama delapan belas tahun ini.
Dewa, memutuskan untuk mengambil jurusan akuntan di kota sebelah. Katanya 'di sana akan lebih bagus saat aku lulus. Bisa langsung bekerja karena banyak perusahaan swasta.'
Dewa telah memikirkan ini semenjak dia menaiki bangku terkahir kelas SMA, tanpa banyak melalui tes lagi. Dewa bisa masuk ke universitas impiannya itu dari jalur beasiswa.
Rela? Enggak, rasanya gak rela jika harus berpisah dari Dewa. Bahkan sebelum dia pergi saja, aku sudah merindukannya.
Kugenggam tali tas yang menyelempang di salah satu bahu. Menundukan pandangan dengan menangis sesenggukan.
Tangan besar lelaki itu mengacak puncak kepala, perlahan badannya menunduk, mensejajarkan wajah dengan wajahku.
"Na, mau sampai kapan nangis?" tanyanya tersenyum lembut.
"Sampai kamu pulang lagi."
Dewa tersenyum, ia kembali mengacak puncak kepala. Perlahan tangannya menarik badanku dan mendekapnya erat. Sebuah ciuman mendarat di atas kepala.
"Jangan banyak main sama lelaki ya, Na. Jangan suka keluar malam. Ingat, sudah dewasa, harus bisa jaga diri sendiri."
Aku mengangguk, sesekali punggung tangan menghapus air yang mengalir. Sesenggukan karena lelaki ini akan menghilang dari pandangan.
"Aku gak lama, Na. Selesai wisuda akan kembali ke sini. Jangan terlalu rindu."
Dia melepaskan pelukan, mengahapus sudut dagu yang banjir dengan airmata.
"Jangan nakal, dengarkan omongan mama dan ayah. Jangan jadi gadis malas lagi, nanti jomlo sampai tua." Dia mentoel ujung hidungku.
Perkataan itu mampu membuat bibirku tertarik sedikit ke atas. Membentuk sebuah senyuman yang disertai tangisan.
"Dewa, jangan lupa hubungi aku, ya. Jangan lupain aku kalau kamu udah nemu pacar baru."
Dewa hanya terkekeh, ia menggelengkan kepala.
"Mana mungkin aku lupa sama kamu, Na. Seumur hidup, yang ingin aku ingat hanya kamu, Na."
Dewa melirik jam di tangan kirinya, lalu pandangannya teralih padaku. Memberikan kode bahwa ia harus segera memasuki ruang pemeriksaan.
Mengerti dengan kode yang diberikan, aku hanya mengangguk. Menautkan kedua jari sembari menahan sesenggukan yang sesekali membuat napas tersengal.
Dewa menarik kepalaku, mencium dahiku lembut.
"Jaga diri," ucapnya lembut.
"Iya."
"Jaga hati."
"Iya."
"Tunggu aku kembali."
"Iya."
Dewa tersenyum, tangannya kembali mengacak puncak kepala. Sepertinya dia juga enggan meninggalkanku sendiri.
"Hanabi."
"Hem."
"Aku mencintaimu."
Kodongakkan kepala, melihat wajah Dewa yang hanya diam tanpa ekspresi.
"Tunggulah aku akan kembali, menjemputmu untuk menjadi jodohku. Sebelum itu, mari kita sama-sama menjaga hati. Berdoa kepada Ilahi agar kita berjodoh di kemudian hari."
"Dewa--"
"Aku akan memantaskan diri, Na. Agar aku punya sesuatu yang bisa kutunjukan di depan ayahmu nanti."
Aku terdiam, tidak tahu menjawab apa. Tidak pernah menyangka, Dewa menyimpan rasa.
Lelaki itu kembali tersenyum, melangkah mendekatiku. Jarinya merapikan anak rambut yang sedikit berantakan. Menyapu wajahku agar terlihat menawan.
"Selama ini aku menyanyangimu, Na. Melindungimu adalah caraku menunjukannya."
Perlahan aku mendukan pandangan, merona merah merasakan deru napas Dewa yang terasa hangat menembus kulit kepala.
Menikmati degupan jantung yang tak lagi seirama.
"Aku akan berdoa untuk kita, Na. Semoga, aku dan kamu akan berjodoh di masa depan. Kelak, aku ingin kamu yang mendampingiku sampai ke jannah, Na."
Aku menangkupkan tangan di depan mulut, entah sejak kapan air mata yang deras mengalir itu berhenti. Berganti dengan rasa nyaman dan bahagia yang menyelimuti hati.
"Iya, Wa. Aku juga akan menjaga hati dan memantaskan diri. Berdoa agar kelak bisa bertemu denganmu kembali."
Dewa mengangguk, ia menarik kopernya dan berjalan menjauh. Menghilang di balik keramaian lalu lalang orang.
Dewa, akhirnya rasa ini berlabuh pada orang yang semestinya.
***
Hari berlalu, musim berganti, aku menepati janji dengan memantaskan diri. Menutupi seluruh aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tak ubah dengan lelaki yang akan kutemui hari ini. Setelah bertahun berpisah, Dewa akan kembali ke kota ini.
Kuremas kedua jemari tangan, sesekali melihat ke dalam kerumunan orang. Rasanya jantung ini sudah tidak bisa tenang lagi. Menantikan tuannya yang akan datang.
Kuhela napas, punggung tangan terus menghapus sudut dahi yang berkeringat. Sampai akhirnya, lelaki dengan balutan kemeja navy itu keluar dari dalam bandara. Wajahnya, tingginya, badannya, dan segala yang ada di dirinya dulu, berubah.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah berubah. Senyuman dan tatapannya itu, masih sama. Dewa yang hanya tersenyum dan menatapku seperti selama ini.
"Udah lama, Na?"
"Lumayan."
"Mana ayah?"
"Di parkiran."
Tanpa membalas lagi, aku langsung keluar dari bandara. Langkah terhenti saat sebuah tangan menarik ujung hijabku.
Aku menoleh, sebuah kotak beludru terpampang di depanku.
"Untukmu, Na."
"Enggak ketemu ayah dulu?"
Dia menggeleng. Memberikan kotak itu ke tangan, lalu berjalan melaluiku.
"Na, menikah denganku, ya," pintanya di sela langkah berjalan menuju parkiran.
Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Cincin sudah diberikan, haruskah dia menerima jawaban?
"Gak jawab, Na?" tanyanya menoleh ke arahku.
"Udah tahu jawabannya, kan?"
"Belum secara lisan, Na."
Aku menghadang langkahnya, membuka kotak beludru itu, memakai cincin dan menjukan ke hadapannya.
Bibir tipis itu tertarik, membentuk sebuah lengkungan yang sangat lebar.
Tak perlu ditanya, karena selama ini, yang aku tunggu hanya kamu, Dewa.