Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil.
Akhir-akhir ini aku memang sering merasakan mual yang terus-menerus. Aku tidak menyadari itu semua, aku fikir hanya asam lambung.
"Ya tuhan, aku terlambat cek ini semua" fikirku setelah aku memberanikan diri untuk tespack di malam hari yang mana malam itu malam pernikahan mantan pacarku.
Mungkin ini buah hasil setelah aku lakukan kenakalan waktu itu. Yang mana ketika itu aku bersamanya ingin menggagalkan perjodohan itu dengan melakukan itu semua.
"Harus bagaimana ini? sedangkan sekarang Anton sudah sah menjadi suami Feby?" Aku benar-benar kebingungan.
Aku tertegun memikirkan hal ini sampai beberapa jam.
"Yang benar saja??? aku hamil tanpa pasangan?? bagaiamana jika perutku semakin membesar?? apa kata orang dan bagaimana reaksi keluargaku?" Aku betul-betul stres di buatnya dan semua ini membuatku tidak percaya. Aku tidak menyangka perbuatan kami menjadi malapetaka bagi diriku sendiri. Aku lengah, aku lalai..harusnya aku cek lebih awal sebelum hari H pernikahan Anton.
Aku di kota ini hanya seorang diri, karna aku perantauan . Aku adalah seorang mahasiswi yang mandiri dan memilih untuk tinggal di kota seorang diri.
Malam ini aku tidak bisa tidur, sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 23:37.
Aku memutuskan untuk meminum obat tidur yang hanya tersisa satu. Obat tidur itu biasa aku minum dari mulai setelah aku mengetahui hubunganku dengan Anton tidak di restui dan bahkan keluarganya malah menjodohkan pacarku dengan Feby. Dari sana aku mulai tidak bisa tidur dan slalu minum obat itu setiap malam.
"Kring kring kring" jam beker berbunyi membuatku terbangun dari tidur nyenyakku.
Kulihat tespack di dekat jam itu dan kegelisahan mulai menghantuiku lagi.
Rasanya hidup ini hampa jika harus terus-terusan berada di posisi seperti ini.
"Pokonya aku harus mencari cara. Apapun caranya anakku harus terlahir dengan adanya seorang bapak" fikirku.
Hari ini, rasanya berat sekali untukku bangkit dari ranjang. Aku tidak bisa beraktifitas tanpa adanya solusi untuk memecahkan masalah ini.
"duuuddd...duuuudddd...duuudd" rupanya hape ku bergetar. Ku ambil hapeku dan ku lihat siapa yang hendak menelponku.
"Aaaarrgggghhh Anton ku!!!" teriakku spontan. Aku langsung loncat-loncat di atas ranjang karna kegirangan. Kemudian langsung ku angkat telponnya dengan penuh kebahagiaan.
"Hallo?"
"Iya, kamu gimana kabarnya? Anton.
"Aku punya kejutan buat kamu"
"Kejutan apa?" Anton.
"Aku hamil sayang"
"Serius??" Anton.
"Iya, bisa gak kamu kesini sekarang?"
"Di lihat dulu ya, pokonya kamu gak boleh kemana-mana hari ini. Karna aku gak tau jam berapa kesana" Anton.
"Tuuutt ...tuutt..tuut" Anton mematikan telponnya.
"Hemmm...malah di matiin, padahal aku masih kangen" aku ngoceh sendiri.
"Tapi....yeyeyeyeye..." Aku loncat-loncat lagi. Aku merasa bahagia. Ternyata mantanku masih peduli denganku. Seketika itu pula aku buang rasa gundahku. Aku berharap Anton mau bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuatnya.
"Semoga aja Anton konsisten dengan perjanjian dulu" setelah di telpon oleh Anton aku merasa senang. Dia telah memberiku moodbooster.
Aku pun akhirnya mampu beranjak dari tempat tidur, beres-beres dan kemudian mandi dan bersolek.
"Aku harus terlihat sangat cantik hari ini, agar Anton kembali padaku" banyak yang bilang aku orangnya keras kepala dan egois. Dulu aku selalu membantah, tapi kali ini aku benar-benar menyadarinya.
Setelah selesai aku bersolek, aku langsung potret diriku dengan baju sexy yang ku kenakan.
"Selesai, saatnya aku kiriiiiiiim" aku berharap Anton segera datang setelah melihat photoku itu.
Aku menjadi gak sabaran, rasanya aku ingin segera memeluknya dan membawanya jauh dari sini, berdua hidup selamanya tanpa ada yang mengganggu dan memisahkan.
"Rasanya aku laper. Sambil menunggu, lebih baik aku membeli makan aahhh" aku pun pergi ke tempat makan dan membawanya nasi bungkus itu dan di makanlah di rumah.
Baru saja aku selesai makan tiba-tiba..
"Tok..tok..tok" pintu di ketuk. Tapi rasanya ketukan itu menembus ke jantung hatiku. Antara bahagia dan takut, ku bukakan pintunya.
"Hai..." Anton langsung mengelus kepalaku dan ku balas dengan pelukan.
"Akhirnya kamu dateng juga"
"Ya iyalah, ada kado apa? kenapa kemaren gak dateng?" Anton.
Aku memberikan tespack itu padanya, aku sangat percaya diri walaupun dalam hatiku terdapat rasa takut. Ya, takut Anton lebih memilih istrinya ketimbang aku mantannya.
"Hah?? kamu hamil? Anton terkejut setelah melihat tespack yang telah aku kasih.
"Iya, kita harus segera pergi dari sini" ucapku dengan penuh rayuan.
"Tapi kan..."
"Ya, tapi kamu dulu udah komitmen. Kita lakukan itu agar kita tidak berpisah" aku memotong pembicaraannya dengan bibir yang bergetar karna rasa takutku semakin kuat.
"Maunya sekarang apa?" Anton.
"Aku mau hidup sama kamu selamanya. Jauhinlah orang-orang yang gak suka sama hubungan kita. Aku mau itu mohon. Kamu harusnya lebih kasihan padaku dan anakmu ketimbang istrimu yang baru kenal semalam itu" aku memaksa Anton dengan sangat lembut. Karna jika aku kasar, aku takut nantinya ketakutanku menjadi nyata.
Ku lihat Anton terdiam, rupanya ia berfikir. Aku tau betul dari sorot matanya dia sangat mencintaiku dan tidak mau kehilanganku. Karna hubungan kita sudah 7 tahun. Dengan kebersamaannya saja aku yakin dia sudah berat.
"Berarti, aku harus ninggalin keluargaku juga? terus kita mau kemana?" Anton.
"Kamu bawa kemana aja aku dan aku pasti mau. Aku cinta sama kamu" aku mencium tangan Anton untuk meyakinkan kalo aku benar-benar tulus padanya.
"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu untuk bawa baju-bajuku" Anton.
"Gak usah, nanti kamu ketahuan kalo kamu mau minggat dari rumah" aku melarang Anton karna aku takut dia berubah fikiran.
"Terus, kita harus gimana sekarang?" Anton.
"Bantuin beresin barang-barang aku, kita pergi ke rumah orang tuaku dulu. Setelah itu terserah kamu mau bawa aku kemana"
Akhirnya Anton pun lebih memilih aku dan anakku ketimbang istri dan orang tuanya. Naif sih, tapi ini demi kepentingan anakku. Kita pun membereskan segala barang-barang yang ada di sana.
"Udah yang" Anton.
"Makasih ya" Aku peluk lagi ayah dari anakku dan Anton pun membalasnya dengan mencium keningku.
Aku merasa sangat bahagia.
"Yang...motormu mana?" aku kebingungan setelah ku lihat tidak ada alat transportasi apapun yang Anton bawa.
"Aku kesini kabur demi nemuin kamu. Orang rumah gak ada yang tau. Bahkan istri ku sendiri mengira, kalo aku akan pergi ke warung" Anton.
"Oh gitu ya, makasih ya sayang. Ya udah kita menggunakan transportasi umum aja ya"
Dan kami pun pergi dengan menggunakan transportasi umum.
Sesampainya di rumah orang tuaku menyambutku dengan sangat bahagia.
"Ehh sayang udah pulang, sama siapa?" tanya Ibuku, mereka semua tidak mengenal Anton, sehingga mereka tidam tau hubunganku dengannya. Karna Anton tidak pernah aku bawa ke rumah.
"Calon suami Bu, Pak. Namanya Anton" dengan bangganya aku berucap. Kami pun bersalaman.
"Yaudah masuk dulu yuk" ajak Bapakku.
"Sonia, emangnya kamu kuliahnya udah selesai? kok wisudanya gak ngabarin kita" ucap Bapakku.
"Hm...belum selesai, jadi gini Bu, Pak. Kita mau izin nikah jadi nanti aku bakal tinggal di rumah Anton. Dia udah punya rumah soalnya. Ucapanku begitu mengada-ada. Padahal, kuliahku tidak akan ku selesaikan dan bahkan aku sendiri pun tidak tau apa yang akan terjadi setelah kami di nikahkan. Entah mau tinggal dimana.
"Oh begitu. Syukurlah kalo begitu" jawab Ibuku dengan senyum yang penuh kebahagiaan.
"Tapi Pak, Bu. Saya seorang diri di sini, keluargaku di sebrang. Sangat jauh sekali kalo kesini. Jadi, keluargaku tidak akan hadir di acara pernikahan kita nanti" ucap Anton, ia melengkapi kebohonganku. Aku bangga padanya, dia mau memperjuangkanku sampai sejauh ini.
"Oh ya gak apa-apa. Laki-laki itu bisa nikah tanpa wali" jawab Bapakku. Kasihan sih mereka di bohongi. Tapi ini semua di lakukakn agar keluargaku merestui kami.
"Terus Pak, Bu. Aku pengen nikah secepatnya. Gak usah rame-rame kok. Yang penting sah aja. Soalnya kalo rame-rame juga, Kasihan Anton harus nabung dulu. Bakalan lama. Soalnya kemarin uang tabungannya habis di belikan rumah buat aku" Aku mebuat cerita baru untuk meyakinkan orang tuaku. Harapanku, orang tuaku akan mempercepat pernikahan kami.
Seminggu berlalu, persiapan pun telah lengkap. Besok adalah hari bahagiaku. Semoga lancaaaarr. Itu yang selalu aku harapkan.
Dan setelah menginjak hari H, ternyata rencana kami berjalan mulus dan Anton resmi jadi milikku seutuhnya.