Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil...
.
.
.
Seorang wanita berambut pirang dengan mata biru indah terduduk di lantai. Pandangan seolah tak percaya, tubuh nya bergetar tak karuan. Wanita itu terus bergumam.
Sial, ini...tidak mungkin. 2 garis merah dalam benda yang ku pegang...ha..haha. Tidak mungkin, ini bohong kan? Hiks, apanya yang bohong?! Sudah lebih dari 10 kali aku mencoba dan hasilnya tetap sama. Hiks, sulit di percaya...aku...hamil.
Bagaimana ini, bagaimana bisa?! J..jangan-jangan, karena kejadian malam itu?
Aku berdiri dari kasur, berjalan dengan sempoyongan mencari handphone ku. Menyalakan dan mencari apk pesan yang ada, mencari nama yang ada dalam pikiran ku. Tak lama tangan ku berhenti bergerak. Aku baru sadar bahwa kita bukan siapa-siapa lagi. Bahkan, dia baru saja menyelesaikan pesta pernikahannya bersama wanita lain. Sial, sial, sial, si..al. Hiks, huaaa...
Malam itu, aku hanya bisa menangis dalam kamar yang terkunci rapat. Di dalam tubuh ku, terdapat kehidupan kecil di sana. Apa yang harus ku lakukan kedepannya? Apakah aku harus mengaku kepadanya bahwa aku mengandung anak darinya? Namun...bagaimana dengan kehidupan kita? Hancur...yah jika aku memilih jalan itu kehidupan kita akan hancur.
Pikiran ku kacau pada malam itu. Kepala berdenyut dengan hati berdebar-debar kencang. Tubuh bergetar hebat, tangisan pecah saat itu. Penyesalan yang saat itu ada di pikiran ku adalah kenapa malam itu aku mau tidur dengannya? Dan kenapa juga kami melakukan hal tidak pantas pada saat itu? Di saat kita sudah tidak saling mencintai lagi kenapa malah ada buah hati di kehidupan kami? Ini...karma...
.
.
.
Waktu berlalu, detik suara jam menemaniku, tak terasa sinar matahari sudah terlihat melalui jendela kamar. Menyisahkan kamar berantakan dan tesp*k berceceran. Gaun merah muda berumbai yang masih aku kenakan, gaun yang kupakai di pesta pernikahan mantan pacar ku.
Make up tak beraturan terkena air mata yang masih saja mengalir. Teringat akan kejadian malam tadi, penyesalan dan jalan kehidupan tak tau mana yang harus aku pilih.
Baru juga ingin berdiri, ada sesuatu yang bergejolak di perut ku. Perasaan tak enak, bau tak sedap, membuat ku ingin muntah. Berlari kecil menuju kamar mandi dan membuang semua perasaan tidak enak di sana. Muntahan di mana-mana, badan ku seketika terasa lemas. Secara tak sadar, air mata jatuh kembali.
Spontan mengarahkan kepala ke dinding langit, berusaha untuk menghentikan air mata menyedihkan ini. Menutup mata dan menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri. Aku...harus memberitahu dia.
Maafkan aku jika merusak rumah tangga mu Andrian, namun kau berhak mengetahui ini. Karena kita juga lah yang melakukan hal tak senonoh malam itu, kau...berhak tau.
Aku menghubunginya, berkali-kali hanya ada bunyi panggilan tak terjawab. Namun aku tetap mencoba, dan setelah sekian banyak ku telefon akhirnya dia mengangkat nya. Dengan wajah dingin, ku letakan handphone ke telinga. Suara tak asing terdengar di balik benda ini.
"Ada apa Linda? Kenapa kau menghubungi ku?"
Suara acuh terdengar, dengan suara berat aku berkata...
"Bisakah kita bertemu?"
"Apa maksudmu?! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Lebih baik kita tidak usah bertemu Linda"
Aku terdiam dan mendengar semua ocehan dari mulutnya.
"Ada sesuatu hal yang mengharuskan kita untuk bertemu. Bisakah?"
"Tidak! Tidak bisa, akan kututup telepon..."
Belum juga dia mengatakan kalimatnya, aku berteriak dengan kencang.
"AKU MENGANDUNG ANAK MU BODOH! Ada kehidupan kecil di perut ku...dan dia adalah darah daging mu Andrian..."
Tak ada renspon selama beberapa waktu, dia terdiam tanpa sepatah kata pun. Tak lama dia membuka suaranya.
"Apa kau yakin dia anakku?"
Suara dingin dan tegas terdengar, entah mengapa dada ku terasa sakit. Dia...tidak percaya padaku? Mentang-mentang kita sudah tidak saling mencintai, dia memperlakukan ku seperti sampah?!
"Bukannya malam itu kita melakukannya?! Jangan pura-pura bodoh br**gsek!"
"Bagaimana aku bisa percaya, bisa saja kau melakukan ini agar aku kembali kepada mu. Dan bagaimana aku bisa yakin 100% jika anak yang ada di perut mu adalah anak ku?!"
"Sialan! Kau benar-benar sampah!"
Kami bertengkar lama saat itu, kata-kata kasar terus keluar dari mulut kami. Dia yang berusaha mengelak membuat ku frustasi. Setelah kami tenang, kami menghela nafas dan Andrian memulai pembicaraannya.
"Haah, begini saja dia masih dalam bentuk pembuahan dan belum benar-benar menjadi anak di sana. Gugurkan saja dia, dan anggap semua ini tidak terjadi. Toh kau bisa mempunyai anak lagi nanti. Dan lagi, apa kau tidak memikirkan masa depan mu?"
Aku terdiam tak percaya, dia...mencoba membun*h anakku? Mata ku terbelalak, mengepalkan tangan dengan tubuh yang bergetar. Kesabaran ku sudah habis.
"AKU LEBIH MEMILIH KAU YANG MATI BR**GSEK!"
"Dengar, terserah kau mau mengatakan apa namun aku tetap tidak mengakui dia anakku! Tolong Linda, jangan mencampuri kehidupan ku lagi"
Panggilan tertutup, sialan kau Andrian. Dia...benar-benar sampah. Kaki ku seketika lemas, terduduk di lantai dengan pandangan kosong.
Jadi Linda...jalan apa yang kau pilih? Apa yang di katakan Andrian benar, anak ini akan mengganggu masa depan wanita yang masih muda ini. Wanita yang tidak bersuami namun tiba-tiba memiliki anak. Masih menjadi mahasiswa kuliahan dan mengejar cita-citanya. Aku...benar-benar bingung. Putus asa, merasa berdosa, dan menyesal.
Tangisan tidak menyelesaikan apapun. Menggugurkan? Cara ini...bisa di coba. Benar, sekalipun berdosa aku tetap saja berdosa. Menghilangkan mu dari dunia ini akan menambah dosa ku, tapi...hanya ini yang bisa ku lakukan...
Namun...hiks, aku tak bisa melakukannya...huwaaa.. Bagaimana aku bisa tega menghabisi anakku sendiri, bodoh Linda kau dengan mudah nya terhasut oleh si sampah itu. Hiks, aku benar-benar tak bisa melakukannya. Aku akan memilih...menemani mu sampai kau bernafas di dunia ini anakku...ibu akan melindungi mu sebisa ibu. Tidak, ibu akan berusaha dengan sungguh-sungguh!
.
.
.
Sesuai dengan apa yang di pikirkan Linda, kehidupannya tak mulus dari orang kebanyakan. Wanita itu tetap menjalani kehidupan pendidikannya dengan berbagai hinaan. Walau begitu ia masih teguh dan berusaha melewatinya. Tawa yang ada saat merasakan buah hatinya sudah cukup menutupi rasa kesedihan yang Linda terima.
2 bulan kehamilan Linda, di kampus nya ia duduk sendiri di perpustakaan. Bisikan terdengar, namun Linda berusaha menghiraukannya.
___________________________
' Hei lihat gadis pirang itu? Dia sedang mengandung'
' Ah aku tau dia, bukannya dia terkenal ya akhir-akhir ini?'
' Sungguh memalukan, dia masih punya muka untuk kuliah di sini?!'
' Aku tidak habis pikir dengan kepsek, dia membiarkan wanita itu tetap melanjutkan kuliah dan hanya ada hukuman skors yang dia terima'
' Mungkin saja para guru dan kepsek sudah di sogok dengan uang. Ku dengar orang tua nya cukup mapan, namun sayang tidak bisa menjaga anak nya dengan baik'
___________________________
Bisikan itulah yang selalu Linda dengar.
Aku masih ada di sini karena nilai dan kemampuan ku sendiri, tak ada sangkut pautnya dengan orang tua ku. Mereka hanya mesin ATM yang tak pernah menjenguk putri nya sama sekali.
Pikir Linda dengan kesal. Tak lama Linda merasakan hawa dingin di lehernya. Dengan spontan, gadis itu bergeser dari tempatnya terduduk dengan wajah terkejut.
"A..ah, maaf kau kaget ya?"
Pria tinggi, alis tebal dengan mata tajam, hidung mancung dan wajah yang tampan. Linda mengernyitkan alisnya, dan bergeser dari tempatnya duduk.
"Hahaha apa kamu marah?"
"...."
Linda hanya diam dan masih fokus dengan buku yang ia baca. Pria itu tersenyum, duduk di sebelah Linda dan menyodorkan kaleng minuman untuk Linda. Wanita itu terdiam sambil memiringkan kepalanya, tak tau apa yang pria ini lakukan.
"Ambilah" *senyum
"Tidak terima kasih"
"Ahaha maaf jika terkesan sok dekat, namun kamu selalu saja menyendiri. Ambilah, ini susu coklat kaleng kok tenang saja"
Pria itu bersikeras memberikan minumannya ke Linda. Akhirnya wanita itu menerimanya dengan senang hati.
"Makasih...hm..."
"Nama ku Reza" *senyum
"Ah iya...thanks Reza"
Linda menaruh minumannya di samping, melanjutkan membaca dengan serius. Cukup lama Reza menatap Linda yang membuat wanita itu tidak nyaman. Linda menutup kembali buku nya dan menatap Reza
"Maaf, apa kau butuh sesuatu?"
Tanya Linda sambil mengernyitkan alis.
"Kenapa tidak di minum? Apakah itu tidak cocok untuk wanita hamil?"
"..."
Dia ini...dia sedang menghina atau betulan menanyakan ku sih. Dan kenapa dia sok peduli dengan ku.
"Apa kau sengaja menanyakan hal itu?"
Tanya ku agak tersinggung.
"Bukan, aku betulan nanya kok. Maaf jika itu membuatmu tersinggung, tapi aku betulan tidak ada niat yang jahat atau semacamnya. Kumohon percayalah"
Wajah yang berusaha menjelaskan bahwa itu tidak benar, berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan mata memelas. Entah kenapa aku merasa bersalah, tapi tanpa di tanya pun seharusnya dia tau...
"Ini kan di perpustakaan bego, kau lupa ada peraturan yang melarang makan atau minum di sini?-_-"
Ucap ku dengan wajah datar. Dia terdiam dan tertunduk, tak lama ada suara tawa keluar dari mulutnya.
"Pfttt, maaf hahaha...astaga ku kira kamu akan membenci ku jika aku menanyakan hal yang membuatmu tersinggung"
Reza langsung mengambil kaleng minuman, dengan cepat membuka tutupnya dan memberikannya kepada Linda.
"Sttt, minumlah mumpung tidak ada pengawas di sini"
"Kau..."
Suara langkah kaki terdengar mendekat, Reza menyodorkan minumannya kepada ku dan berbisik...
"Cepat minumlah!"
"A..apa?"
Aku secara spontan langsung meminum minuman di kaleng tersebut. Seteguk baru ku minum, rasa susu coklat yang khas dan dingin. Setelahnya langsung saja aku menyembunyikan kaleng tersebut di bawah meja. Tak lama pengawas datang dan melihat kami berdua dengan curiga. Reza hanya menahan tawa nya, namun akhirnya pengawas pergi meninggalkan kami berdua.
Dada berdebar dengan kencang, ini semua...
PLAKK
"Aww, kenapa kau memukul?(╥﹏╥)"
Gara-gara dia, aku memukul punggung Reza dengan keras.
"Masih bertanya kenapa? Bagaimana jika tadi aku ketahuan minum di perpus bodoh. Apa aku melakukan kesalahan sampai kau terus mengganggu ku?!💢"
"Aku tidak mengganggu, sebaliknya aku ingin menjadi teman mu. Kamu selalu saja mencari tempat sepi, membaca buku sendiri, bahkan saat istirahat kamu hanya makan sedikit dan meninggalkan kantin. Itu tidak baik untuk kondisi bayi asal kamu tau saja"
"Itu...bukan urusan mu"
"Tentu saja ini urusan ku. Sebagai penanggung jawab di kelas, aku tidak bisa membiarkan teman sekelas ku di rundung dan di bully"
"Aku tidak di bully ataupun di rundung. Aku hanya berusaha menjauh saja"
Jelas ku dengan kernyitan alis. Ternyata kita satu kelas, walaupun dia ketua kelas namun siapa dia sampai memperlakukan ku seperti ini? Apa dia hanya berpura-pura baik saja?
Aku berdiri dari tempat ku terduduk, membawa buku serta minuman yang ia beri tadi.
"Terima kasih atas kepedulian mu itu ketua, namun apapun yang kau lakukan tak bisa mengubah fakta bahwa aku adalah wanita kotor yang hamil sebelum menikah. Bye, thanks juga minumannya"
"Tung..."
Aku segera pergi dari perpustakaan dan meninggalkan Reza sendirian. Benar, tugas ku saat ini fokus saja untuk menyelesaikan kuliah, bekerja sampingan, dan bersiap untuk kedatangan calon anakku nanti. Hanya 1 bulan saja aku akan keluar dari sini. Lulus dan bekerja dengan penghasilan yang cukup. Hinaan selama 1 bulan, aku harus kuat. Orang seperti Reza...aku tidak percaya dengan dia.
Batin Linda dengan tatapan kosong.
.
.
.
Waktu berlalu, Linda dan yang lain mempersiapkan sidang akhir. Segala tugas sudah Linda laksanakan sebaik mungkin. Keyakinan akan prestasi dan kelulusan yang ia tunggu-tunggu. Berharap usahanya akan berhasil.
Dan benar saja, Linda adalah salah satu dari murid yang lulus. Kebahagiaan dan senyum lega ada di wajah Linda.
Aku...berhasil. Aku lulus dengan buah hati yang selalu menemani ku. Hiks, pikiran akan kegagalan karena masalah kedatangan mu, kini dapat berubah dan memutar balikkan fakta. Aku...bahagia. Hahaha, aku berhasil apakah kau merasakan kebahagiaan ibu mu ini nak?
Batin Linda yang menahan air matanya. Tak lama ada seseorang yang menepuk pelan pundak Linda. Gadis cantik berambut pendek hitam seumuran Linda dan sekelas dengannya.
"Hahaha, selamat ya Linda"
"Iya, selamat juga untuk mu...hahaha"
Hahaha aku tidak terlalu kenal dengan anak di kelas namun mereka mengenal dan mengetahui nama ku💧
"Btw Linda, mau makan bareng? Aku traktir deh, sekalian mendekatkan diri hahaha"
"Mendekatkan diri?"
Tak lama Reza datang, bergabung dalam percakapan 2 gadis tersebut dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Eh Reza, tidak ada yang mengajak mu tau"
"Eeeh, Linda di ajak masa aku tidak. Curang, aku akan ikut!"
"Ngak ngak! Aku dan Linda saja, ini khusus cewek"
"Apakah aku perlu memakai wig dan memakai rok agak kalian menerima ku?"
"Ogah! Hus hus, Linda jadi tidak nyaman dengan mu dasar orgil💢"
Tak lama suara tawa keluar dari mulut Linda, ia tertawa lepas saat itu.
"Hahaha ada ada saja kalian ini, bukannya kita tidak terlalu dekat ya? Hahaha...hah, astaga"
Reza tersenyum melihat Linda tertawa.
"Kamu bisa saja kok dekat dan menjadi teman kami. Linda, tidak semua orang jahat. Percayalah masih ada orang yang mau menerima mu"
Ucap Reza dengan senyuman, Linda terdiam dan hanya tersenyum kecil ke arah mereka berdua.
Sedikit demi sedikit ada seseorang yang iba dengan keadaan Linda. Orang asing berdatangan dan menyulurkan tangan ke wanita itu. Berawal dari orang asing menjadi teman baik.
Linda merasa kepercayaannya kepada orang lain tumbuh kembali. Walau masih belum percaya sepenuhnya, ia berusaha membuka dirinya kepada orang lain. Dan sekarang ia mempunyai 2 teman yang dekat dengannya.
Seperti yang sudah di rencanakan Linda, ia akan bekerja dalam pekerjaan yang memiliki gaji lumayan besar daripada sebelumnya. Walau orang tua Linda selalu mengirim uang 1 bulan sekali, namun Linda berusaha untuk lebih mandiri dan tidak terlalu mengandalkan orang tuanya.
.
.
.
Pada suatu hari, Linda serta kedua temannya bertemu di restoran. Reza serta Mila, gadis berambut pendek yang dulu mengajak ngobrol duluan ke Linda. Mereka menjadi teman seiringnya dengan waktu. Canda tawa selalu terdengar pada ketiga sahabat ini.
"Linda aku iri dengan mu, padahal kau sering keluar rumah untuk bekerja namun kulit mu tetap putih dan bersih" ~Mila
"Hahaha Mila bisa saja, kau juga tetap cantik kok" ~Linda
"Aww benarkah itu? Aah jadi malu" ~Mila
"Dari jauh saja sudah kelihatan jerawat besar di jidat mu. Cantik apanya? Pftt" ~Reza
"..."
Plaakk!!
"Kurang ajar!💢" ~Mila
"Sakit dodol! Bukannya benar? Apa salah ku?!💢" ~Reza
Mila dan Reza selalu saja bertengkar, haha entah kenapa aku tidak mau melerai kejadian lucu ini. Aku hanya diam dan menikmati pertengkaran ini dengan segelas jus yang ku beli.
"Ah sudahlah aku lelah bertengkar dengan mu. Btw Lin, aku benar-benar penasaran kenapa kau bisa sampai hamil. Apakah kau di perk..Hmpp!!"
Belum juga Mila melanjutkan kalimatnya, Reza menutup mulut Mila dan berbisik...
"Bodoh, apa yang kau tanyakan!" *bisik
"Hmp hmp hmp hmpp!! (aku kan hanya bertanya!)"
Aku tersenyum, dan menatap mereka berdua.
"Berhenti, tidak apa kok santai saja. Dan soal kehamilan ku..."
Aku menceritakan semuanya kepada mereka. Dari malam saat itu, sampai masalah mantan pacar yang sudah menikah dengan wanita lain. Ketidak pedulian orang tua terhadap putrinya, tak pernah menjenguk atau pun menelepon. Hanya memberikan uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bahkan pesan ku tidak pernah di baca oleh mereka. Yah, itu semua yang aku ceritakan kepada mereka.
Wajah amarah, iba, kekesalan dan kesedihan terlihat.
"Hiks, sumpah cowok mu itu bikin kesel tau ngak sih. Udah ngak mau tanggung jawab dia malah mau menghilangkan anak mu" ~Mila
"Yah mau gimana lagi, setelah beberapa waktu aku berpikir jika aku jadi dirinya tidak mungkin aku langsung percaya. Namun dia memang sudah termasuk sampah sih hahaha" ~Linda
"Dan soal orang tua mu?" ~Mila
"Sudah ku bilang kami tidak pernah bertukar pesan sejak aku kelas 3 SD. Hanya di temani nenek sampai beliau berpulang saat aku berumur 15 tahun. Mereka juga tidak datang dan malah memberikan uang lebih untuk pemakaman nenek. Rasanya seperti tidak punya orang tua, aku bahkan berpikir apakah aku benar putri mereka"
Ucapku dengan senyuman kecil. Mila kembali terdiam, memberi ku waktu sejenak. Haah, baru mereka berdua yang tau masalah ku. Namun sejak tadi Reza memalingkan wajahnya, dia...
"Reza, kau tak apa?"
Tanya ku memastikan. Tak lama air mata terjatuh, Reza memandangiku dengan wajah menyedihkan.
"Hiks..a..aku tidak apa, SI BR**GSEK ITU, AKU KESAL DENGANNYA!💢"
Semua pelanggan menatap heran Reza yang berteriak.
"Tenanglah bodoh, kau mau menarik perhatian hah?!"
Tanya Mila dengan kesal, Reza menghapus air mata nya dan hanya memalingkan wajah.
"Tapi apa yang di katakan Reza benar.Lin, kau tidak ada rencana untuk balas dendam kah?"
"Untuk apa?"
Tanya ku bingung. Mila dan Reza memandang tak percaya diri ku.
"Linda, pria itu sudah membuat mu jadi seperti ini. Bahkan dia tidak mau bertanggung jawab, hanya kau lah yang mau mempertahankan anak dalam kandungan mu itu" ~Mila
"Akan ku panggilkan beberapa orang bayaran, akan kubuat dia berlutut di bawah kaki mu, atau bersimbah d*rah menunggu ajalnya" *gumam
Mila dan aku yang mendengar gumam'an Reza langsung mencipratkan air di wajahnya.
"Sadar woi, kau menjadi menakutkan bodoh💧" ~Mila
"Hahaha...hm soal balas dendam aku tidak begitu tertarik. Pertama dia sudah memiliki istri, kedua aku sudah tidak jatuh cinta lagi kepadanya, ketiga walaupun aku sangat benci kepadanya namun aku masih mempunyai anak. Aku ingin fokus kepada calon anakku. Jika masalah uang sepertinya uang yang kuhasilkan sudah cukup. Aku tak perlu mengemis di depannya. Dan yah...sepertinya hanya itu"
Jelas ku panjang lebar. Mereka saling tukar pandang.
"Yakin Lin? Jika mau aku akan menyuruh seseorang untuk membun..."
"Tidak Reza, terima kasih"
Dengan cepat aku langsung menjawab pertanyaan Reza. Mereka menghela nafas, dan tersenyum ke arah ku. Mengelus kepala ku sampai berantakan, hahaha.
"Baiklah jika ini yang kau mau" ~Reza
"Jadi tidak sabar bertemu calon bayi, uuh apakah aku akan menjadi bibi?" ~Mila
"Lebih cocok di panggil nenek" ~Reza
"Rez, gelud yok!" ~Mila
"Hahaha sudahlah kalian, sampai kapan kalian akan terus bertengkar?"
.
.
.
.
6 bulan kemudian...
Waktu berlalu tanpa ku sadari. Inilah saatnya, hari datangnya dirimu di dunia ini. Suara tangisan mu pecah, membuat ku membuka mata dan seakan sakit ku telah hilang. Berusaha bangun dari rasa sakit untuk menemui mu.
Hari-hari yang melelahkan, rasa tak enak di tubuh, dan lainnya saat aku sedang mengandung. Namun itu semua terbayarkan saat aku melihat wajah kecil dan lucu bayi yang ada di gendongan ku.
Rambut pirang seperti ku dan mata yang persis dengan pria itu, bukannya membenci mu aku malah...menyukai mu. Benar, kau adalah anakku. Tak terasa kau sudah ada dalam genggaman ku.
Awalnya dulu kupikir ini hanyalah candaan, aku berharap kau tiada dan tak pernah muncul dalam kehidupanku. Bahkan dulu dengan teganya aku pernah berpikir untuk melenyapkan mu. Namun kini, wajah mu membuat ku tersadar betapa sayang nya aku kepada mu. Karena aku... adalah ibumu...
Wanita mandiri yang sedari kecil tak pernah merasakan kasih sayang orang tua, kini menjadi ibu dari 1 anak perempuan.
BRAAKK!!
"Linda!"
Suara khas ini...
"Mila?Kau datang?" *senang
Mila yang melihat ku hampir saja mengeluarkan air mata nya, dia berjalan mendekat dan memeluk erat diri ku.
"Tentu saja...kau kan sahabat ku, seharusnya aku datang lebih cepat"
"Hahaha kau datang saja sudah membuat ku bahagia"
"Hiks aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk...hiks, aku menangis tapi...huwaaa"
"Astaga, mengapa tangisan mu lebih keras ketimbang anakku?💧"
Mila menghapus air matanya dan melihat ke arah putri ku. Matanya yang terhanyut membuat ku tau bahwa dia ingin menyentuh putri kecil ku.
"Kau mau mengelus pipinya? Dia sangat lembut, baru kali ini aku merasakan bayi sedekat ini"
"Bolehkah?"
"Tentu saja"
Terlihat wajah senang di dirinya, Mila secara perlahan menyentuh pipi putri ku. Gadis kecil ini menguap, membuat ku dan Mila menjadi tambah gemas.
"Awawaw, baby ngantuk ya, hmm padahal kakak baru saja datang lho"
"Oh ya Mil, Reza dimana? Dia sudah pulang kah?"
"Tadi aku lihat dia masih ada di depan ruangan sih. Karena buru-buru aku langsung masuk menemui mu"
Reza...saat terjadi kontraksi orang pertama yang aku hubungi adalah Reza. Dia juga yang membantu mengantarkan ku ke rumah sakit. Hm, jadwal kelahiran anakku lebih cepat 3 hari sebelum waktunya jadi aku terlalu bersantai.
"Mau aku panggilkan dia?"
Tanya Mila kepadaku, aku hanya menganggukkan kepala.
"Ya panggil saja, aku juga mau mengucapkan terimakasih kepadanya"
Mila segera memanggilkan Reza, tak lama pria itu muncul dan berjalan mendekat ke arah ku. Entah perasaan ku saja atau dia sedang menghindari tatapan ku?
"Rez, kau tidak apa kan?"
Tanya ku memastikan. Mila hanya tersenyum menggoda dan memukul pelan pundak Reza.
"Pftt, tenang saja dia akan menangis dalam waktu 3...2...1..."
"Aku...tidak mena...hiks..."
"Bwahaha benar kan? Dasar cengeng"
"Diam kau! Berisik!! Lin..sekarang bagaimana kondisi mu?"
Tanya Reza sambil menghapus air matanya.
"Yah masih sakit sih, tapi semua terbayarkan saat melihat wajah kecilnya. Lihat, dia imut kan?"
Reza hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
Ku kira aku akan sendirian saat persalinan ku tiba. Namun saat ini, ada 2 sahabat yang datang menjenguk dan membantu ku. Perasaan hangat oleh orang yang ku sayangi. Dan sekarang bertambah pula kehidupan dan kebahagiaan saat anakku lahir. Benar, aku tidak butuh pria itu. Aku bisa mengurus anakku sendiri, dan mempertemukannya kepada orang-orang baik yang ada.
Selamat datang di dunia ini...putri kecil ku...
.
.
.