Ketika malam pernikahan mantan pacar, aku baru tahu kalau aku telah hamil dan tidak seorang pun laki-laki yang pernah menyentuhku selain kamu. Sungguh! Hanya kamu yang pernah menjajah kepemilikan ku. Demi Tuhan, hanya kamu dan tidak ada yang lain selain kamu.
Betapa ini adalah suatu pukulan bagi aku, ketika harus menelan pil pahit saat kamu menikah tetapi bukan dengan aku. Kamu yang dulu menjadi pacarku dan pernah bersama aku, kini sudah bersanding dengan wanita lain yang disiapkan oleh keluarga mu sebagai istri dan pengantin mu. Wanita yang dijodohkan dengan kamu. Padahal sebelum hari ini, hari dimana kamu melangsungkan pesta pernikahan kamu, kamu masih di sini bersama aku. Bersama dengan aku bercengkrama, bercerita, bercanda tawa dan akhirnya menikmati dan menghabiskan malam panjang bersama.
Tidak ada keraguan aku ketika malam itu. Malam ketika aku menyerahkan semua harga diri dan kehormatan ku. Bagiku ini adalah bukti kalau aku benar-benar tulus memberikan ini kepada mu. Tidak berpikir panjang setelah malam itu, aku mengandung anak kamu, buah hati kasih kita. Aku telah mengandung hasil perbuatan ketika malam yang dingin dan berselimutkan sepi.
Rasanya tercabik-cabik ketika aku harus menyaksikan kamu bersanding di malam pernikahan kamu dengan wanita lain. Sedangkan aku hanya duduk tidak jauh menatap pilu dan meratapi akan nasibku. Apa yang akan aku perbuat setelah ini? Apakah aku menggugurkan janin di dalam perutku yang tak berdosa ini? Ataukah aku diam- diam mengandung, melahirkan dan membesarkan anak kita walaupun itu tanpa kamu? Atau aku nekad datang menjumpai kamu ketika malam pertama untuk pengantin kamu, dan aku akan menyampaikan kebenaran ini kalau aku hamil anak kamu?
Apakah aku tega menghancurkan hati pengantin kamu ketika malam pertama kalian? Sedangkan aku juga sangat resah dan gelisah dengan kehamilan ini tanpa laki-laki yang bertanggung jawab menikahi aku.
Ketika aku hendak berpamitan kepadamu dan juga pengantin kamu. Aku nekat membisikkan sesuatu.
" Rey, aku telah hamil." bisik ku pelan sebisa mungkin tidak ada kecurigaan dari pengantin kamu dan keluarga kamu. Karena aku bukan lah tipe wanita yang suka merusak suasana. Aku melihat Rey sangat terkejut akan kabar yang aku sampaikan kepada nya. Rey sesaat menatap aku sampai tidak terlihat dari tempat acara pesta pernikahan itu.
Setelah aku memberitahu semua pada Rey kalau aku telah hamil, sedikit lega hati aku. Aku tidak berharap banyak, Rey akan menghubungi aku karena malam ini malam pertama untuk pengantin nya. Dan aku hanya gelisah tanpa bisa memejamkan mata di kamarku seorang diri.
Hingga pagi mulai berganti hari aku masih belum pasti untuk memutuskan semua jalan yang akan aku jalani. Aku tidak ingin menanggung dosa lebih dari satu kali jika aku harus membunuh janin di dalam perut ini. Akhirnya aku memutuskan tetap hamil dan akan membesarkan anak aku ini. Tiba-tiba ketukan pintu rumah ku telah membuyarkan lamunanku. Dengan langkah gontai rasanya enggan untuk membuka pintu. Dan ketika aku membukanya, Rey ada di depanku. Rey masuk dan seketika memelukku yang saat ini terlihat sangat kacau karena frustasi.
" Maaf! Aku akan tetap menikahi kamu." ucap mu pelan dengan suara bergetar. Aku ikut merasakan kesedihan dan juga kebahagiaan ini. Namun apakah yang dikatakan Rey nyata adanya? Bagaimana dengan istrinya yang baru saja ia nikahi semalam.
" Aku akan secepatnya menikahi kamu, kamu jangan takut! Percaya dengan aku. Aku akan bertanggung jawab terhadap semua yang sudah aku lakukan terhadap kamu." kata Rey lagi.
" Istri kamu?" tanyaku.
" Jangan pikirkan itu, yang penting aku bisa menikahi kamu. Oke?" sahutmu.
Benar-benar ini sudah terjadi. Kamu akhirnya menikahi aku dan menjadikan aku wanita keduamu setelah istrimu. Bagiku aku sudah berterimakasih kamu sudah peduli walaupun cinta kamu terbagi-bagi dengan istri kamu yang pertama dan dengan diriku. Aku tidak akan menuntut lebih karena mendapatkan ijin istri pertama dan dari keluarga kamu itu seperti aku sudah diakui oleh mereka.
" Terima kasih, kamu sudah menikahi aku." ucap aku pelan. Rey malah berkaca matanya.
" Maaf, aku belum bisa membuat kamu bahagia karena cinta ini harus dibagi." sahutmu sambil kembali memeluk aku. ("+")