Namaku Gwen Goldcorna, kalian bisa memanggilku Gwen, aku tinggal bersama nenekku yang biasa dipanggil Nek Barta.
Kami tinggal di sebuah hutan yang rindang dan lebat jauh dari manapun.
Sejak kecil aku buta, oleh karena itu nenek tidak pernah meninggalkanku, beliau selalu menggendongku, baik ketika sedang mencangkul, bercocok tanam serta memancing. Kami tidak pernah kekurangan makanan, nenekku adalah nenek yang rajin.
Ada satu hal yang tidak pernah aku mengerti hingga saat ini, nenekku tidak pernah memperbolehkan aku bersuara apalagi berbicara ketika berpapasan dengan orang lain, beliau selalu menutupi tubuhku rapat, tidak ada seorangpun yang boleh melihat wajahku. Oleh karena itu setiap kami akan ke desa terdekat, nenek selalu membalurkan suatu ramuan yang berbau tidak sedap di sekujur tubuhku. Maka sudah dijamin tidak ada seorangpun yang berani mendekati kami.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tanpa terasa aku sudah berumur lima tahun, mataku mulai dapat melihat, tiada hari tanpa kulewati dengan memperhatikan apa yang ada di sekitarku, keingintahuanku bertambah besar, aku selalu belajar dan nenekku dengan sabar mengajariku, beliau tidak pernah bosan menjawab semua apa yang aku tanyakan tapi tetap saja nenek melarang aku memperlihatkan diriku kepada siapapun itu.
Beliau perlahan-lahan mengajariku berbagai macam tanaman obat, bercocok tanam, memancing dan berburu. Untungnya aku adalah anak yang cerdas, dengan cepat aku dapat menyerap semua yang di ajarkan. Ketika aku berumur 12 tahun, aku sudah menguasai semua yang telah diajarkan nenekku. Aku mulai pandai memasak, mencuci baju. Nenek bangga sekali padaku.
Suatu hari telingaku menangkap langkah kaki yang menuju ke arah pondok kami, aku memberitahu nenekku, nenek menyuruhku bersembunyi, tak berapa lama, datanglah dua orang laki-laki yang hendak pergi berburu, mereka menumpang istirahat kepada nenekku, dan nenek memberi izin.
Mereka bertanya apakah nenek tinggal sendirian, nenek menjawab iya. Mereka tidak percaya, dengan lancangnya mereka memeriksa ke dalam rumah nenek dan mereka kesal karena tidak menemukan satupun benda yang berharga didalam rumah itu.
Tanpa mengucapkan terima kasih mereka pergi. Nenek memanggil namaku, aku keluar dari tempat persembunyian. Nenek lalu berkata, bahwa kemanapun aku pergi, aku harus berpakaian laki-laki serta harus berpura-pura buta dan bisu. Aku menyanggupinya. Aku merasa semuanya ini adalah untuk kebaikanku.
Pada suatu hari ketika aku berburu di hutan aku melihat seekor serigala sedang terluka, aku lalu mendekatinya, untungnya kemanapun aku pergi aku selalu membawa perbekalan obat-obatan, dengan telaten aku merawat luka binatang itu. Ketika aku menatap mata serigala itu tiba-tiba ia melolong, aku kaget sehingga jatuh terduduk, lolongan itu kuat sekali, memekakkan telingaku. tak berapa lama lolongan itu saling bersautan. Aku baru sadar bahwa hari mulai gelap. Aku dengan cepat meninggalkan serigala itu setelah memastikan kondisinya sudah baik-baik saja.
Tak berapa lama aku sampai di pondok, kulihat nenek menungguku dengan cemas. Aku menceritakan apa yang terjadi. Nenek hanya terdiam mendengarkan ceritaku. Keesokan harinya nenek melarang aku pergi berburu, nenek berkata sebaiknya aku memancing ikan saja, lebih aman dan dekat dengan pondok. Aku menurut, aku tidak pernah melawan perkataan nenek, di hatiku, aku merasakan bahwa perkataan nenek ada benarnya.
Tak terasa usiaku sudah 15 tahun.
Usia yang membuat nenek bertambah khawatir.
Suatu hari nenek membawaku ke suatu tempat tersembunyi didekat sungai, ia membersihkan kotoran yang selama ini menutupi tubuh dan mukaku. Ia memandikan aku dengan wewangian yang terbuat dari berbagai macam bunga yang terdapat di hutan.
Setelah selesai ia memberikanku sebuah cermin. Ketika aku melihat wajahku di cermin, aku berteriak, aku melihat sebuah wajah yang jelek sekali di cermin itu. Nenek kaget dan bertanya mengapa aku berteriak, aku menjelaskan kepada nenek alangkah jeleknya wajahku, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, wajah itu bersih dan putih dengan hidung yang tinggi, mata bulat dengan iris berwarna kuning keemasan, rambut panjang berwarna keemasan juga. Sungguh wajah yang sangat jelek.
Aku selalu menganggap kulitku hitam dengan rambut yang hitam, sedang warna mataku aku tidak pernah mengetahuinya.
Aku menangis. Nenek terdiam menatapku. Gwen, nenek menyebut namaku, lalu secara perlahan ia membawaku masuk kedalam pondok.
Aku disuruh duduk di hadapannya. Nenek lalu mulai bercerita bahwa inilah saatnya aku mengetahui asal usul dari mana aku sebenarnya.
Aku ditemukan nenek didalam hutan dalam keadaan menangis, aku masih bayi berselimutkan selimut usang. Nenek tidak tega meninggalkan aku, lalu membawaku pulang. Di rawatnya aku hingga aku sebesar ini, alasan mengapa nenek membalur aku dengan ramuan untuk menghitamkan tubuh dan rambut serta menyuruhku untuk selalu menutup mataku adalah karena pada waktu aku bayi kulitku bersih dan putih serta warna rambutku kuning keemasan dan mataku berwarna biru. Warna mata yang sangat cantik. Nenek khawatir nantinya akan ada orang yang berniat jahat kepadaku. Karena itu ia menjagaku dengan cara seperti itu. Air mata menetes dipipiku melihat betapa besar pengorbanan nenek Barta kepadaku. Aku berjanji kepada nenek untuk tidak meninggalkannya apapun yang terjadi.
Lalu aku meminta nenek untuk mengembalikan keadaanku seperti semula yaitu dengan tubuh hitam dan rambut hitam serta memakai pakaian laki-laki dan menutup mataku dengan kain, untuk menutup warna mataku. Setelah itu aku pergi keluar menyiapkan peralatan memancingku, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki mendekat kali ini sepertinya orang yang datang lebih dari sepuluh orang. Perasaan Gwen tidak karuan, ia cepat masuk ke pondok dan memberitahu mengenai hal ini kepada nenek Barta. Nenek menyuruhku untuk tenang. Kemudian terdengar suara orang mengucapkan salam, nenek menyuruhku diam, dia lalu keluar untuk menemui orang tersebut, dari pembicaraan yang ku dengar mereka sedang mencari seseorang, ketika nenek menanyakan bagaimana ciri-cirinya, mereka tidak menjawab.
Dari arah belakang gerombolan itu datanglah seorang laki-laki yang menaiki kuda, seluruh tubuhnya ditutupi jubah berwarna hitam begitu pula wajahnya. Yang terlihat hanyalah matanya, mata itu berwarna cokelat dan mempunyai sorot mata yang tajam. Lalu dengan sopan ia memberi hormat kepada nenek, dan meminta maaf atas tidak sopan nya tingkah laku anak buahnya. Dia meminta izin kepada nenek untuk beristirahat sebentar, nenek menyiapkan minuman dan makanan untuk mereka, aku pun membantu.
Ketika aku memasak air, lelaki berjubah itu permisi masuk, ia bertanya dimana kamar kecil, aku mematikan api, seperti yang disuruh nenek ,aku pura- pura buta, dengan memakai tongkat aku mengantarnya ke sungai.
Setibanya di sungai , dia menutup mulutku dan mengangkat tubuhku, lalu berkata apabila aku tidak mengikuti keinginannya, dia akan melukai nenek, dia juga memerintahkan anak buahnya untuk juga membawa nenek. Aku hanya terdiam. Nenek dibawa dengan memakai tandu, sedangkan aku duduk di atas kuda didepan lelaki yang berjubah hitam itu. Tangannya memegang erat tubuhku, aku merasa risih.
Berulang kali aku berusaha melepaskan tangannya, berulang kali juga dia mengeratkan pelukannya. Kemudian dia berkata apabila aku tidak bisa diam dia akan melakukan hal yang kasar kepadaku. Aku terdiam. Aku bukan berada dalam posisi yang bisa melawan.
Perjalanan panjang harus kami lalui, sesekali kami berhenti untuk beristirahat , mengisi perut, memberi makan kuda dan juga mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya. Aku mendekati nenek dan bertanya bagaimana keadaannya. Nenek hanya berkata untuk tidak mengkhawatirkan keadaannya, mereka semua memperlakukannya dengan baik. Aku bernafas lega, setidaknya nenek baik-baik saja. Lelaki berjubah hitam itu tidak berhenti mengawasi.
Sebelum kembali berangkat dia berkata padaku tak lama lagi kami akan sampai ke tempatnya, dia memintaku untuk mempersiapkan diri menghadapi apa yang akan terjadi.
Aku tidak perduli, yang ada didalam pikiranku saat ini hanyalah bagaimana caranya membawa nenek pergi dari tempat itu.
Tak berapa lama sampailah kami ke sebuah pintu gerbang, didalamnya terdapat sebuah bangunan yang megah. Orang-orang memperhatikan aku, mereka berbisik-bisik dengan pandangan yang meremehkan.
Lelaki berjubah hitam menutupi aku dengan jubahnya, sepertinya dia merasa risih mendengar perkataan mereka mengenai diriku. Seketika aroma mint memenuhi indera penciumanku, untuk sesaat aku terbuai, baunya membuatku merasa nyaman.
Tanpa kusadari aku tertidur. Ketika aku terbangun, aku melihat ruangan di sekitarku, Aku tidur ditempat tidur yang indah, kasurnya begitu empuk. Aku melupakan dimana aku berada sekarang dengan riangnya aku melompat-lompat dengan gembira, bagaimanapun aku hanyalah seorang anak gadis yang berusia 15 tahun.
Tanpa kusadari beberapa pasang mata menatapku sambil bengong, kain penutup mataku terlepas, aku tidak memperdulikannya, aku memandang sekeliling ruangan itu sambil tertawa, aku mendengar suara orang terperangah, aku menghentikan lompatan ku dan menatap mereka , seketika mereka berteriak, Turunan darah murni, mereka lalu sujud , aku hanya bengong.
Sebuah suara membuatku sadar, aku melihat kearah sumber suara itu. Seorang lelaki tinggi, gagah berkulit sawo matang, berambut pendek berwarna hitam serta bermata cokelat menatapku, matanya yang tajam seperti mata elang menembus jantungku. Di mataku lelaki ini sungguh menawan, tapi aku acuh tak acuh menatapnya. Dia lalu menyuruh para pelayan untuk memandikanku, aku memberontak, aku tidak mau mereka melihat tubuhku yang asli.
Dengan lincah aku berlari ke sana ke mari, para pelayan kewalahan, mereka tidak tahu, aku yang dibesarkan di hutan adalah pelari terkuat diantara para binatang, oleh sebab itu aku selalu membawa hasil buruan yang banyak untuk nenek. Mengingat dimana keberadaan nenek, aku langsung lari keluar ruangan, tidak ada satupun yang sanggup menangkap aku, aku tidak menyadari lelaki yang memperhatikanku tadi sekarang sedang mengiringi aku berlari.
Aku berhenti tidak mempercayai pengelihatanku, dia tersenyum dan berkata mau lari kemana pun ,dia akan menemaniku, aku mundur berapa langkah dan lari mengambil arah yang berbeda, dengan cepat dia menyusul aku, mengangkat tubuhku seperti mengangkat tubuh anak kecil. Aku meronta, dengan santainya dia menyerahkan aku kepada para pelayan yang bertugas memandikanku , lalu berkata padaku , apabila aku melarikan diri, dialah yang akan memandikanku, mendengar itu wajahku langsung pucat seketika.
Satu jam lamanya aku dimandikan, dipijat, direndam dengan air yang berbau bunga yang sangat wangi, aku yang terbiasa mencium bau ramuan yang dibuat nenek serasa ingin muntah mencium bau yang terlalu wangi ini.
Setelah selesai melewati protokol kebersihan, aku diberi pakaian yang merepotkan, semua pelayan memandangi aku penuh tatapan kagum, aku tidak pernah mengerti dimana letaknya keindahan yang ada pada diriku ini, terus terang aku benci dengan warna rambutku, menurutku warna jeruk itu lebih menyegarkan daripada warna rambutku.
Dan kulitku ini terlalu putih, warna gelap itu lebih keren.
Aku menghela nafas, pakaian ini tidak bisa membuatku bebas berlari, ingin rasanya aku menukar gaunku ini dengan pakaian penjaga diluar sana, di mataku pakaian mereka terlihat lebih keren.
Dan alas kaki ini, begitu merepotkan dengan ujungnya yang runcing seperti ini, sepertinya berguna untuk membuka kulit kacang kenari. Aku berencana untuk membawa sepatu ini kembali ke hutan.
Akhirnya penderitaan yang aku alami selesai juga, untuk sesaat para pelayan dan juru rias menahan nafas melihatku , mata mereka berkaca-kaca seketika.
Tuh kan, ternyata aku benar-benar jelek sehingga mereka menangis melihat wajahku.
Dengan mengangkat rok dan membawa sepatu di tangan kananku, aku keluar ruangan, ketika mendekati pintu keluar kamar, aku melihat lelaki yang mengikuti aku tadi sedang menghadap ke taman, siluet tubuhnya begitu gagah, aku berpikir dia pasti mempunyai ilmu yang tidak biasa sehingga membuat aku berpikiran seperti itu padanya.
Dia menyadari kehadiranku, lalu menatapku, mukanya tiba-tiba memerah, setengah berteriak dia memanggil sebuah nama, tak lama datanglah seorang wanita yang sudah berumur berjalan dengan anggun dan memberi hormat kepada lelaki itu, dia mengatakan beberapa kata tentang tata krama di istana, wanita itu lalu menatapku dan pingsan seketika, aku tambah merasa tidak enak, kemudian lelaki itu memberitahu siapapun tidak boleh berada di ruangan tempat aku berada saat ini.
Aku semakin merasa bersalah , ternyata aku lebih jelek dari yang aku duga, aku menarik nafas panjang, lalu bertanya kepada lelaki itu, dimana nenek, dan aku juga minta izin untuk pulang kehutan.
Dia hanya terdiam memandangku, memegang tanganku dengan erat, tanganku terlihat kecil digenggaman tangannya, aku membandingkannya dengan tangan gorila.
Dia lalu memintaku menurunkan rokku , aku berkata aku susah berjalan, dia melepaskan pegangan tangannya dan menggendongku, kepalaku menempel di dadanya, sekali lagi aku merasa nyaman dan tertidur.
Ketika aku bangun, aku melihat wajah nenek tersenyum padaku, aku memeluk nenek, aku tidak menyadari bahwa ada lelaki tadi juga duduk di ruangan itu menatapku.
Aku dengan santainya bercerita kepada nenek tentang para pelayan dan juru rias yang menangis melihatku serta wanita bangsawan yang pingsan ketika melihatku ,dan juga wajah lelaki bertangan besar memerah ketika melihat ke arahku.
Aku mengatakan kepada nenek, kalau wajahku ini benar-benar jelek, jadi sebaiknya kita pulang ke hutan setidaknya di hutan tidak ada binatang yang pingsan menatapku.
Nenek menahan tawanya, lelaki yang tidak aku sadari kehadirannya terbatuk-batuk mendengar ceritaku.
Sambil menyeka air matanya akibat menahan tawa, nenek mengatakan padaku bahwa mengapa para pelayan dan juru rias itu menangis itu dikarenakan mereka merasa bahagia telah dipercaya oleh paduka raja untuk merias dan merawat calon ratunya, dan wanita bangsawan itu pingsan karena dia baru kali ini melihat wajah yang luar biasa cantik milik sang ratu, terakhir lelaki bertangan besar yang wajahnya memerah itu adalah paduka raja yang malu melihat kaki calon ratunya terlihat dengan indahnya di depan matanya, karena calon ratunya mengangkat roknya sangat tinggi.
Aku terdiam, walaupun aku adalah orang yang cerdas tapi tetap saja aku bertanya, siapa calon ratunya, nenek dengan sabar mengatakan padaku bahwa calon ratu adalah Gwen Goldcorna dan paduka raja bernama Sebastian Earl Sanders.
Raja Sebastian kemudian menceritakan siapakah sebenarnya orang tua Gwen. Ibu Gwen adalah Winnie Davide seorang wanita serigala keturunan murni, sedangkan ayahnya bernama Eryk yang merupakan serigala keturunan biasa.
Banyak yang tidak menyetujui hubungan mereka, termasuk pihak kerajaan, untuk melindungi Ibumu yang sedang mengandung dia membawa Ibumu ke hutan, Mereka dengan damai hidup di hutan, sampai terjadinya perebutan kekuasaan di kerajaan.
Untuk menghindari terjadinya banyaknya korban, kakekku, memberikan syarat yang bisa menikahi keturunan murni dia akan menjadi raja. semua orang mencari Ibu Gwen, saat itu Gwen sudah lahir, Ibu Gwen meninggal karena melindungi suaminya yaitu ayahnya Gwen.
Kakek lalu mengutus nenek Barta untuk menemukan bayi itu , merawat dan melindunginya. Waktu itu usia Sebastian adalah 6 tahun, kakek langsung menetapkan calon isterinya adalah Gwen.
Satu bulan kemudian diadakan pesta pernikahan, Gwen diangkat menjadi ratu, walaupun sudah menjadi ratu, tingkah lakunya tidak sepenuhnya berubah, butuh waktu enam bulan lamanya Raja Sebastian menaklukannya.
Sembilan bulan kemudian Ratu Gwen melahirkan tiga orang pangeran kecil yang wajah dan sifatnya sama dengan Raja Sebastian, tiga tahun kemudian barulah Ratu Gwen melahirkan seorang putri yang wajah dan sifatnya tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Raja Sebastian menghapuskan peraturan seorang calon raja harus menikahi turunan murni, beliau mengajarkan siapapun berhak mencintai dan dicintai tanpa memandang kedudukan dan keturunan.
Raja Sebastian menjadi raja yang sangat bijaksana, Kerajaan bangsa serigala menjadi kerajaan yang besar dan kuat serta membawa kedamaian bagi kerajaan kecil lainnya, tentu saja ini semua juga berkat bantuan Ratu Gwen yang sampai saat ini masih membuat Raja Sebastian pusing dengan kepolosannya yang terkadang tidak dapat diterima akal sehat.
TAMAT.
Penulis baru belajar, kritik dan saran yang membantu sangatlah penulis nantikan.
Akhir kata penulis mengucapkan "Selamat Membaca".