Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Dari sekian hal mengerikan yang kualami, ini adalah yang terburuk. Aku telah dibuang olehnya ketika aku berada pada masa yang sulit. Ini sangat menyakitkan.
Aku mencintainya dan tergila-gila padanya hingga aku melupakan prinsip yang pernah kupegang dengan keras kepala, yakni untuk lebih mencintai diriku sendiri daripada siapapun.
Malam ini, menatap undangan mereka dengan penuh kebencian, aku memutuskan sesuatu. Mereka sengaja mengundangku untuk menabur garam di atas luka yang tersayat-sayat. Apakah mungkin untuk memaafkan mereka? Mustahil!
Pria itu merenggut segalanya dariku, kemudian pergi meninggalkanku tanpa rasa simpati sedikit pun. Rupanya, sejak awal tujuannya adalah untuk menyiksaku. Mengapa? Aku terus bertanya-tanya alasannya berbuat hal ini padaku, tetapi dia tidak kunjung memberikan tanggapan.
Mengapa? Sekali lagi, aku ingin bertanya alasannya begitu membenciku. Apakah aku pernah melakukan kesalahan yang tak termaafkan padanya sehingga dia mempermainkanku sampai seperti ini?
Aku mencintainya dengan sepenuh hati dan tulus, aku rela melakukan segalanya untuknya. Namun, mengapa begini? Dia membuangku dan segera mengumumkan pernikahan dengan kekasihnya yang sebenarnya.
Jika aku tidak mengetahui kebenarannya, aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku. Anak ini, aku tidak berhak membenci anak yang tidak bersalah. Aku tidak akan menggugurkannya.
Ini adalah kesalahanku, maka aku harus mengatasinya. Jika memungkinkan, aku akan membayar mereka dengan mahal.
Aku tidak punya keluarga lagi, alasan mengapa aku tergila-gila pada pria itu adalah karena dia muncul saat aku kehilangan keluargaku yang tercinta. Dia seperti sinar harapan bagiku untuk hidup. Sayangnya, dia membawaku jatuh ke jurang kebencian.
Apa yang akan kulakukan? Melabrak mereka? Bah, itu adalah sesuatu yang konyol.
Aku memiliki cara tersendiri untuk membunuh mereka secara sosial. Aku tidak ingin menjadi kriminal dengan membunuh mereka sungguhan atau anak ini akan celaka. Oleh sebab itu, aku perlu memainkan kembali permainan lamaku.
Aku belajar selama bertahun-tahun tentang segala hal yang menarik. Ada satu hal yang tidak kuceritakan pada pria itu karena aku takut dia akan menganggapku buruk, tetapi sepertinya ini adalah kartu sempurna untuk membalas dendam.
Aku adalah seorang peretas. Ini bukanlah bakat, aku belajar mati-matian selama hampir sepuluh tahun secara diam-diam karena aku sangat menikmati untuk mempelajarinya. Awalnya, aku sangat bodoh, seseorang yang mudah tertipu, sekarang pun masih sama, tertipu oleh cinta. Sial! Cinta itu membusuk!
Seberapa besar aku mencintainya adalah seberapa besar aku membencinya.
Aku akan menyiapkan hadiah pernikahan mereka dengan sangat baik. Ini adalah salam perpisahan dariku untuk mereka. Bagaimanapun, aku harus hidup demi anak ini. Ini adalah tanggung jawabku.
***
Beberapa hari berikutnya, aku akhirnya mendengar berita yang kunantikan. Itu adalah tentang pelecehan publik terhadap mereka, lalu disusul oleh beberapa bukti yang tersebar tentang perselingkuhan kekasih pria itu. Ini sangat menyenangkan untuk mengamati berita yang kutemukan. Sungguh mengejutkan. Siapa yang memakai topi hijau sekarang?
Ah, aku tidak bisa berhenti tertawa setelah menemukan fakta ini. Aku tidak menyangka wanita itu adalah ular sesungguhnya. Lalu, tinggal satu yang masih mengganjal. Aku harus mengetahui alasan pria itu membenciku. Dengan begini, aku akan berhenti membunuhnya secara sosial.
Sayangnya, tidak seperti yang kuharapkan untuk alasan yang bagus dan tak terbantahkan. Alasan pria itu membenciku sangat konyol. Dia ingin membalas dendam atas penolakanku terhadap sahabatnya.
Bagaimana aku mengetahui ini? Aku mendatanginya langsung. Sebenarnya, ini kebetulan. Aku melihatnya berada di rumah sakit jiwa, mengunjungi sahabatnya.
Ketika aku membuntutinya, aku terkejut menemukan seseorang yang kukenal adalah salah satu pasien di sana. Ternyata, orang itu adalah sahabatnya.
Pria itu menyadari keberadaanku, tetapi bukannya kebencian seperti yang kuharapkan di matanya, melainkan rasa bersalah. Tunggu, skripnya salah! Seharusnya tidak begini!
Jika dia merasa bersalah, maka apa yang kulakukan selama ini? Aku menatapnya tercengang ketika dia menyingkir untuk menampakkan sahabatnya yang kukenal itu untuk melihatku.
Tiba-tiba, aku punya firasat buruk. Ini tidak mungkin, kan.
"Apakah kau ingat malam itu?" tanya mantan pacarku.
Aku tersentak oleh pertanyaan tersebut. Bagaimana aku bisa lupa, itulah yang membuatku hamil. Tidak, tunggu, malam itu aku dibius olehnya, aku yakin dia melakukan sesuatu padaku. Namun, mengapa? Ada apa dengan situasi ini?
"Bukan aku yang melakukannya, tapi dia," lanjutnya sembari menunjuk sahabatnya yang masih mengamatiku dengan tatapan mendalam.
Ini membuat pikiranku kosong. Aku mendadak mengeluarkan tawa konyol, ini sangat konyol.
Sahabatnya adalah seorang stalker sialan. Dia adalah orang gila yang tampak waras, itu terlalu menakutkan sebelum dia akhirnya memutuskan untuk menjalani perawatan di sini untuk alasan yang aneh, itu karena dia bersedia menurutiku untuk mengobati kegilaannya.
Sakit hatiku tampak seperti lelucon. Namun, dibandingkan perasaan pribadi, aku lebih ingin tahu mengapa mantan pacarku membantu stalker sialan itu?
Aku membencinya. Aku sangat membencinya, aku membenci mereka. Aku tidak ingin mengerti lagi mengapa mereka melakukan ini padaku. Lebih baik, mereka enyah dariku.
Ini adalah pikiranku saat itu.
***
Tiga bulan berlalu, semenjak kejadian skrip yang tak kuharapkan. Yang membuatku tak berdaya adalah upaya stalker sialan itu. Dia tidak pernah mengancamku, tetapi perilakunya membuatku takut.
Dia mengirim bunga setiap hari tanpa jeda. Dengan kata-kata di setiap kirimannya untuk menjaga kesehatan. Kenapa dia begitu peduli? Kenapa dia tidak segera menyembuhkan penyakit mentalnya sendiri?
Akan tetapi, perlahan aku yang kesepian karena harus mengurus diri sendiri yang hamil mulai merindukan perhatian. Manusia memang munafik, bukan? Tidak, tepatnya, aku adalah orang yang munafik.
Apakah mungkin untuk memaafkan? Sekarang, kupikir mantan pacarku bernasib lebih tragis dariku. Kekasihnya yang dia cintai rupanya berselingkuh, sementara dia membantu sahabatnya. Ini cukup menyakitkan juga.
Mengapa dia membantu sahabatnya? Aku tidak ingin tahu. Mungkin seperti yang kudengar, mereka seperti saudara kandung. Mantan pacarku itu selalu menyebut bahwa sahabatnya sangat baik dan pernah menyelamatkan nyawanya. Mungkin perbuatan busuknya padaku adalah cara yang salah untuk membalas budi. Apa lelucon ini?
Hidup adalah serangkaian lelucon tragis dan aneh. Termasuk bagaimana sikapku berubah seiring waktu. Stalker sialan itu menurutku tidak begitu buruk, dia tidak pernah menyakitiku, meski dia yang membuatku hamil. Selain itu, dia juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggangguku secara langsung. Dia tahu aku membencinya.
Dia juga melindungiku, entah bagaimana perasaan benciku mulai berubah karena ini. Wanita adalah makhluk yang sederhana, tetapi sangat rumit proses pemikirannya.
Aku tidak bisa terus menjadi egois. Jika dia benar-benar mencintaiku sampai seperti itu, aku harus mulai menerimanya.
Hari ketika dia diam-diam mengunjungi rumahku untuk berpura-pura sebagai pengantar barang, aku memeluknya.
***
Halo~ Ehehe, cerita yang cukup aneh, bukan? Terimakasih sudah membaca~🥺