Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil. Benar-benar gila rasanya. Jantungku serasa disambar petir saat melihat dua garis yang tertera di tespek.
Semuanya terjadi karena malam itu. Malam ketika aku dan Dirga menghabiskan waktu bersama di apartemen. Kala itu aku dan Dirga masih berpacaran. Tepatnya sekitar beberapa bulan yang lalu. Entah akibat apa, Dirga justru berniat menikahi gadis lain pilihan ibunya.
Aku harus menemui Dirga sekarang! Sebelum matahari terbit esok hari! Sebelum segalanya terlambat!
Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Aku mengendarai mobil menuju kediaman Dirga. Setibanya di tempat tujuan, aku langsung melajukan langkah kaki.
Sambil memegangi perut, aku berjalan dengan tergesak-gesak. Melewati area parkiran yang terletak di basement.
Atensiku mendadak tertuju ke arah sebuah mobil yang tidak asing. Aku tahu betul mobil itu milik Dirga. Parahnya aku juga berhasil melihat Dirga ada di sana.
Aku memicingkan mata. Memperjelas penglihatan. Dalam sekejap mataku membulat sempurna. Bagaimana tidak? Aku melihat Dirga sedang asyik mencumbu seorang perempuan di dalam mobil. Mereka terlihat berciuman bibir. Apa yang dilakukan Dirga, persis seperti yang pernah dilakukannya terhadapku di malam itu.
Tanpa pikir panjang, aku segera menghampiri Dirga. Aku tidak mau menunggu lama. Hal yang paling aku inginkan adalah memarahi sosok Dirga habis-habisan. Setidaknya aku bisa menyelamatkan perempuan yang sekarang menjadi korban lelaki bejat itu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Dirga Lesmana!!!" pekikku setelah mengetuk jendela mobil Dirga sekuat tenaga. Usahaku sukses menghentikan kegiatan intim Dirga di dalam mobil. Dirga dan perempuan yang bersamanya sontak menoleh kepadaku.
Mata Dirga terbelalak. Sembari memperbaiki rambut dan kemejanya yang acak-acakan, dia bergegas keluar untuk berhadapan denganku.
"Kenapa, Ver? Sengaja ganggu aku ya?" timpal Dirga sinis. Raut wajahnya terlihat masam. Dia menyisir rambut dengan jari-jemari. Ketampanan Dirga memang tidak terbantahkan. Tetapi apa gunanya ketampanan jika kelakuannya begitu biadab?
"Aku hamil, Ga! Nih lihat!" aku melempar tespek tepat ke wajah Dirga. Perempuan yang tadi bersama Dirga di mobil, tampak terkejut saat mendengar pernyataanku.
"Sinting! Jangan bohong kamu ya?! Ini akal-akalanmu biar bisa balikan lagi sama aku kan?!" balas Dirga. Ia justru memojokkanku.
Aku terperangah. Lalu langsung menampar keras pipi Dirga. Berani-beraninya dia menyebutku seorang pembohong!
"Sialan!" geram Dirga. Dia kesal dengan tamparan yang kuberikan. Satu tangannya nampak mengelus pipinya yang sakit beberapa kali.
"Kamu beneran hamil?" perempuan yang bersama Dirga mendadak bertanya. Ekspresinya menunjukkan kekhawatiran.
"Iya! Kamu siapa?" tanyaku. Penasaran dengan sosok gadis yang bersama Dirga.
"Aku Keyla. Calon istrinya Dirga," jawab Keyla seraya mengaitkan anak rambut ke daun telinga. Perlahan dia mengambil tespek yang tadi sempat dilempar olehku. Selanjutnya, Keyla membisikkan sesuatu ke kuping Dirga.
Dahiku berkerut dalam. Aku bertanya-tanya dengan apa yang mereka bicarakan.
"Ga, kamu harus lakuin sesuatu. Ini semua gara-gara kamu! Kaulah yang memaksaku melakukannya di malam itu!" pungkasku kesal.
Dirga dan Keyla menatap ke arahku secara bersamaan. Dirga tersenyum tipis, kemudian mendekat.
"Maaf ya, Vera..." lirih Dirga. Lalu melayangkan tamparan kuat ke wajahku.
Aku langsung jatuh tersungkur ke tanah. Saat itulah Keyla menghantamkan sesuatu ke kepalaku. Alhasil aku langsung tidak sadarkan diri.
***
Aku terbangun di tempat asing. Bau obat-obatan yang menyengat dapat tercium jelas. Sepertinya aku berada di klinik atau rumah sakit.
Aku perlahan merubah posisi menjadi duduk. Rasa sakit langsung terasa di bagian rahimku. Firasat buruk menjalar dalam pikiranku. Nampaknya Dirga dan Keyla melakukan sesuatu kepada cabang bayiku.
Seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik pintu. Benar saja, dia memberitahukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Proses aborsinya berjalan lancar ya Mbak. Kira-kira setelah beberapa tahap pengobatan, anda diperbolehkan pulang," ujar wanita dengan rambut digelung itu.
"Mana orang yang sudah membawaku ke sini?! Cepat beritahu aku!" desakku tak sabar.
"Mereka sudah pergi. Tapi mereka membayar biaya operasinya kok. Jadi, Mbak nggak perlu cemas." Si wanita mencoba menenangkan. Namun aku tidak peduli. Aku memaksakan diri untuk berjalan.
Hari telah siang. Pertanda kalau acara pernikahan Dirga dan Keyla pasti sedang berlangsung. Aku segera pergi menaiki taksi. Menuju ke lokasi acara pernikahan Dirga.
Sesampainya di tempat tujuan, aku justru tidak berani keluar dari taksi. Aku terpaku melihat kedua orang tua Dirga tersenyum bahagia.
"Mbak? Kok belum turun juga?" sang sopir taksi heran dengan diamnya diriku.
Terlalu naifkah aku? Hingga tidak tega menghancurkan resepsi Dirga yan sedang terjadi? Padahal jelas-jelas Dirga dan Keyla sudah melakukan hal buruk terhadapku.
Aku terlalu malu muncul di hadapan semua orang. Mendadak rasa percaya diriku hilang. Berubah menjadi isakan tangis yang menyedihkan. Sebenarnya semuanya tidak sepenuhnya salah Dirga. Mungkin akulah yang tidak berhati-hati. Mempercayai lelaki dengan begitu mudahnya.
Cairan bening luruh dari sudut mataku. Rasanya sakit sekali. Melebihi luka yang sekarang aku rasakan di dalam rahim.
Pada akhirnya aku memilih pulang saja. Lebih baik aku tidak pernah menemui Dirga lagi. Biarkan hukum karma yang membalas perbuatan lelaki jahat itu. Memang terkadang kehidupan, tidak selamanya akan bahagia.
~TAMAT~