Di seberang rel kereta , seorang lelaki tersenyum kepadaku, senyuman yang manis, yang ku tahu tidak ada yang bisa menandingi senyuman itu, dia melambaikan tangan, setelah itu kereta datang .
Gerbong yang panjang membuat ku menunggu untuk melihat senyuman lelaki itu lagi , tapi setelah kereta melintas, raga itu hilang seperti di bawa terpaan awan yang bekerja sama dengan angin kencang, aku tidak bisa melihat raga itu , tapi ada satu buku yang menggantikan sosok lelaki itu, buku yang tergeletak tepat pada tempat lelaki itu berdiri , aku segera berlari menuju sebrang , dan mengambil buku bercover coklat tua , buku usang itu berjudul "a tribute to my best buddy" sebenarnya aku tidak tau apa hubungannya, tetapi semua hal ini, membawa ku kembali kepada kenangan 2 tahun yang lalu bersama sahabat terbaik ku.
dulu di samping tempat lelaki itu berdiri, terdapat sebuah gubuk kecil, di sana tak terang, remang. karena tertutup pohon besar, setiap malam cahaya lentera kecil menawarkan hangat walau sekejap, Aku selalu mampir ke rumah itu untuk memberikan sebatang lilin, dan membawakan beberapa makanan untuk sahabat ku yang bernama Pupha, dia laki laki yang hebat, bangun pagi untuk segera menjajakan koran, saat siang membantu ibu nya memungut rongsokan, ia tak punya biaya untuk sekolah, dan di sinilah aku berguna, setiap sore aku selalu ke rumah nya, untuk mampir dan juga belajar bersama dengan nya,
"Tara, kamu tau arti nama mu apa??" tanya nya kepada ku
"Bumantara itu artinya bumi, ayahku ingin aku menjadi sekuat bumi yang aku tahu bumi hanya mau menyimpan beban nya sendiri, dia tidak mau berbagi, karena dia tau bahwa dia kuat, sekali nya ia melepaskan beban malah merugikan hewan , manusia dan tumbuhan lainnya di permukaan" jawabku lengkap, aku juga menggerakkan tanganku seperti memperagakan apa yang aku katakan tadi
"kalau Phupa itu apa ya artinya??"
"setahu ku Phupa itu gunung, kita sama Pa, nama kita berarti kuat yang lelah nya adalah beban segala makhluk hidup" ujarku
"benar juga yaaa, bumi dan gunung adalah 2 ciptaan tuhan yang saling berhubungan, jika bumi lelah, pasti akan sering terjadi gempa, tsunami, dan jika gunung lelah maka ia akan meletus dan meluapkan apapun yang ia pendam" ucap Phupa, kita berdua memang sering berbicara tentang perumpamaan,
saat matahari tenggelam , Phupa segera menyalakan lampu minyak dan lilin yang ku bawakan, ya walaupun tak terang setidaknya bisa memberikan sedikit cahaya dalam gelapnya malam, aku segera beranjak dari tempat dudukku , lalu pamit ke Phupa dan ibunya untuk pulang karena waktu sudah malam, rumah ku tidak jauh dari sini, cukup menyebrang rel kereta lalu melewati persimpangan, dan aku akan bertemu dengan jalan desaku.
jika kalian bertanya di mana aku mengenal Phupa, dia adalah seorang yang baik. di antara ratusan orang yang lewat yang tidak mau membantu ku saat aku terjatuh, padahal sudah jelas jelas aku terjatuh karena terserempet motor saat ingin berangkat sekolah, penyerempet itu kabur, dan aku duduk bersimpuh di atas aspal dengan kaki ku yang berdarah, sayang nya dari padat nya jalan, dari ratusan manusia yang berlalu lalang, hanya sosok Phupa lah yang mau membantu mengangkat tubuhku ke trotoar, dia lalu berlari untuk membeli minum, dan membelikan ku obat merah, aku mulai mengenal nya saat itu dan aku berhutang budi kepadanya.
suatu hari saat sore hari, aku bertemu Pupha di persimpangan jalan , dia seperti tergesa-gesa , dengan mata yang berair , ada bekas air mata di pipinya, aku baru pulang sekolah saat itu, saat kita berpapasan dia menatapku, seperti tatapan penuh arti, lalu dia mendekat dan terjatuh di hadapanku tangisnya semakin kencang, aku ikut duduk , mengusap punggung Phupa untuk menenangkan tangis nya.
"ada apa pa?? kamu bisa bercerita kepada ku" ujarku berusaha menenangkan nya
"ibu ku , dia tertabrak bis saat sedang menjual koran, a-aku tidak tau harus meminta bantuan ini kepada siapa, apakah aku boleh meminta ayah dan tetangga tetangga mu untuk membantu mengurus jenazah ibuku??"
"tanpa kau minta, Phupa. Aku akan slalu ada , jika aku bisa, maka akan segera ku bantu, apapun itu masalah mu" ujarku, aku segera berdiri, lalu berlari menuju rumah , bahkan aku meninggalkan Phupa sendiri di persimpangan jalan.
hari itu adalah hari yang paling menyedihkan untuk Phupa dan aku, seorang yang ku kenal baik, yang sudah ku anggap keluarga, dan ibu ke dua. Menutup usia dengan kejadian tak terduga.
Saat di peristirahatan terakhir ibunya, Phupa masih menangis, dan di sinilah aku sadar bahwa laki laki bisa menangis ketika sosok yang ia sayang hilang berpulang pada pelukan pemilik jagad semesta.
Berkawal senja, aku meratap, melihat sesosok lelaki yang kehilangan seorang yang selalu menawarkan pelukan, dia sekarang hidup sebatang kara, karena ayahnya juga sudah tiada.
"Pa, kamu bisa tidur di rumah ku dulu" tawarku , ayahku sempat berkata untuk menawarkan Phupa tempat tinggal , ada satu kamar kosong di rumah ku, yang mungkin bisa berguna
"tidak usah Ra, aku tidur di rumah ku saja, terlalu banyak cerita di sana, aku hanya ingin merasakan hadirnya sosok ibu walaupun nantinya hanya imajinasi ku"
"baiklah, jika ada apa apa kau bisa segera ke rumah ku"
Dan kita berpisah di persimpangan jalan, Dunia terlalu kejam, tapi sosok kuat itu, seperti air hujan yang tak pernah menyalahkan takdir karena ia slalu jatuh berkali-kali.
Setelah kejadian itu, beberapa minggu kemudian, kita bertemu lagi, dia meminta ku mengajarinya bahasa inggris, aku dengan senang hati mengajari nya, karena bahasa Inggris adalah salah satu pelajaran favorit ku , dia menuliskan sesuatu di jam tangan biru kesayangan ku, setelah kita mempraktekkan beberapa kalimat, secepat itu dia paham.
"apa yang kau tulis Pa?" tanya ku kepo
"sebentar, aku masih menulis nya"
"oke akan ku tunggu"
saat ku rasa dia sudah selesai menulis nya, aku segera mengeja kalimat kalimat yang ia tulis
"b-best buddy PHUTA" ejaku
"PHUTA is Phupa and Tara" ucap nya , lalu ia bertepuk tangan seperti tidak ada beban padahal kemarin ia baru kehilangan ibunya.
aku tersenyum, dunia slalu membuat ku bertanya tanya apa yang akan ku dapat kan esok hari jika aku masih hidup, aku yang jarang bersyukur, di pertemukan oleh laki laki yang penuh kejutan, sungguh , aku kagum dengan segala cerita yang sudah di tetapkan tuhan, sedetail itu ia menuliskan.
dan ini adalah hal terakhir yang akan ku ketik di sini , beberapa bulan kemudian aku jatuh sakit, aku sudah tidak kuat untuk bangun, dokter mendiagnosis ku terkena kanker hati, aku harus segera mendapatkan donor hati, karena aku tidak kuat, aku menutup mata ku yang lama kelamaan semakin berat.
saat aku terbangun, aku hanya melihat diriku berdiri di pinggir rel kereta, seperti yang ku tuliskan di awal, sebenarnya itu adalah kilasan kilasan, sebelum aku benar benar terbangun, samar samar aku melihat kedua orang tua ku yang menangis, dia memegang sebuah buku coklat yang ku lihat di kilasan tadi, setelah aku minum, ayahku membantu aku untuk duduk.
"kamu sudah mendapatkan donor hati yang pas, hampir 1 tahun kamu tidur nak" ujar ibuku, ia masih meneteskan air mata, fikirku ia menangis bahagia.
"ayah ibu keluar dulu ya, kami ingin menemui dokter"
"iya bu" jawab ku lemas
ibuku menaruh buku usang itu tepat di meja sampingku, ketika kedua orang tua ku keluar, aku segera mengambil nya, walaupun sekujur badanku nyeri saat di gerakan.
buku itu berjudul "a tribute to my best buddy" saat ku buka, ada satu kalimat di lembar awal yang membuat ku ingin menghilang dari bumi saat itu juga, " hatiku sudah ku titipkan kepadamu, jadikan separuh nyawaku itu bagian dari nyawa mu, aku bersama mu, dan aku dekat dengan mu, aku lelah menunggumu tidur, jadi biarkan aku yang tidur panjang ya, kan gunung yang tidur panjang akan membuat orang di sekitar nya bahagia" - ini aku your big mountain, yang tak kuat menahan bebannya
Sejak saat itu aku merasa sepi, tak bisa mendengar tawanya lagi. aku sendiri, tak bisa merasakan canda hangat nya lagi.
Atau mungkin ini sudah menjadi takdir ku, harus kehilangan sosok dirinya. aku memang menyayangi Seorang Phupa,
tapi Tuhan lebih sayang dariku, itu sebabnya Tuhan memanggil manusia hebat terlebih dulu.
Phupa, aku belum sempat membalas jasamu, tapi kamu malah menitipkan hal penting yang menunjang hidupmu, Sekarang perjuangan mu telah selesai, sakit mu juga telah usai. selamat jalan, Tuan Phupa, selamat beristirahat dalam keabadian, dan sampai berjumpa di kehidupan selanjutnya.
lelahmu, adalah hancurku
this story is the last tribute to my gone best buddy
- yellow leaves🍁
Jelang tengah malam