"Manusia dilahirkan dengan satu cara. Namun kematian menjemputnya dengan berbagai cara."
_________
Alunan musik klasik menggema memenuhi setiap sudut ruangan. Para penonton sedang asyik menikmati tarian para penari balerina, yang tengah mempertunjukkan sebuah opera melalui bahasa tubuh mereka.
Kakinya yang jenjang ketika melompat, serta tangannya yang mengayun gemulai dengan gaun tari nan indah, membuat para penikmat seni terkagum-kagum takjub. Seolah terhipnotis, mereka bahkan enggan mengedipkan mata sedikitpun, agar tidak melewati satu gerakan.
Salah seorang balerina bergerak lincah di tengah panggung. Ia mulai memutar tubuhnya sejalan dengan alunan musik harmonis yang hampir mencapai klimaks. Tubuhnya yang ringan mampu menahan keseimbangan.
Para penonton kontan berdiri dari tempat duduknya, begitu pertunjukan opera selesai. Mereka menyerukan pujian untuk sang balerina yang berhasil menguasai panggung di detik terakhir. Riuh tepuk tangan menggema memenuhi ruangan.
Para balerina berbaris di atas panggung. Mereka menyentuh kedua sisi gaun lalu membungkuk hormat. Meski napas terdengar memburu, senyum bahagia tak surut dari wajah cantik mereka karena telah berhasil memberikan penampilan terbaik di depan para penonton.
Seusai pertunjukan, para balerina bersiap untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Stella Angeline, salah seorang balerina terlihat menyunggingkan senyuman kala menatap layar ponsel miliknya.
"Stell, kami pulang dulu, ya!" seru teman seprofesinya.
Stella mengangguk pelan seraya tersenyum ramah. "Iya. Hati-hati di jalan," pesan gadis itu kepada semua teman-temannya, sebelum mereka keluar dari ruangan.
"Iya. Kau juga hati-hati," balas teman-temannya sambil melambaikan tangan.
Suasana dalam gedung mulai sunyi setelah semua orang sudah lebih dulu pulang. Temaramnya lampu di dalam gedung, membuat Stella sedikit bergidik ngeri.
Stella mempercepat langkah kakinya, ketika merasakan ada seseorang yang sedang mengikuti dirinya. Udara dingin pada malam itu mulai terasa menusuk tulang, hingga berhasil membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Tanpa sengaja, netra matanya menangkap sekelebat bayangan hitam yang langsung menghilang begitu saja, ketika Stella mempertegas penglihatannya.
Stella menggelengkan kepala guna meyakinkan diri, bahwa bayangan tersebut hanyalah imajinasinya semata karena tengah dilanda ketakutan. Stella kemudian menghentikan taksi yang saat itu hendak berlalu, dan dengan cepat menaikinya. Ia memilih duduk bersandar di belakang sang pengemudi.
Gadis itu sibuk memperhatikan sudut Ibu Kota yang sudah tampak lengang, sebab waktu telah memasuki tengah malam. Suara gemuruh petir mulai terdengar menyambar dari atas langit, diikuti beberapa kilatan cahaya. Tak butuh waktu lama, tetesan air hujan mulai jatuh membasahi Kota ini.
Mata Stella tiba-tiba menangkap sesosok manusia berjubah hitam yang tengah berdiam diri di pinggir jalan, tepat di sebelah taksi yang ia naiki.
Gadis itu mengerutkan dahinya, kala pria berjubah hitam itu terus menatap dingin ke arah Stella. Anehnya, Stella tak mampu mengalihkan pandangan kemanapun. Terlebih, taksinya kini terjebak di lampu merah.
"Apa dia benar-benar melihat ke arahku?" tanyanya dalam hati.
Taksi kembali berjalan melewati pria berjubah itu, setelah lampu lalu lintas berwarna hijau. Tiba di jembatan Kota, taksi yang ditumpangi Stella mengalami kebocoran ban, sehingga sang supir taksi harus menepi sebentar guna menggantikan ban mobilnya.
"Maaf, Nona, saya minta waktu sebentar untuk menggantikan ban mobil." Supir itu meminta izin sebelum Stella bertanya lebih lanjut.
Stella pun mengizinkannya, sambil menunggu ia menghubungi Ibunya guna memberi kabar bahwa akan pulang terlambat malam ini.
'Hati-hati ya, Nak! Ini sudah larut malam, kau harus lebih berjaga-jaga. Setelah masalah mobilnya selesai, segeralah pulang. Ingat kau harus pulang, Ibu menunggumu di rumah.'
Pesan yang disampaikan sang Ibu segera dipatuhi Stella. Gadis itu menjanjikan pada Ibunya akan segera pulang setelah semua beres.
Senyum simpul mengambang di wajah cantiknya, ketika melihat buket bunga serta piagam penghargaan dari acara pertunjukkan yang baru saja ia ikuti.
'Ibu pasti senang melihat ini! Aku jadi tidak sabar untuk menunjukkannya pada Ibu,' ucapnya dalam hati.
Hujan pada malam itu tak menampakkan tanda akan reda, justru rintiknya semakin deras diikuti kilatan petir dan suara gemuruh yang terasa mengerikan.
Sudah beberapa menit berlalu supir taksi itu masih saja sibuk berkutat dengan dongkrak yang sulit digunakan. Meski hujan mengguyur, tak menyurutkan semangatnya untuk memperbaiki mobil.
Tiba-tiba datang sebuah mobil sedan hitam dari arah berlawanan. Mobil itu melaju cukup cepat di atas jembatan Kota. Jalan yang licin serta derasnya hujan, membuat pengendara mobil itu tak takut sedikitpun.
Pikirnya, tak akan ada kendaraan lain selain mobil miliknya. Hingga sampailah tragedi itu terjadi, sang pengendara sulit mengendalikan mobil yang berjalan di jalur yang salah.
Begitu melihat mobil yang terparkir di pinggir jalan, sang pengendara berusaha menekan pedal rem agar menghentikan mobil namun sialnya, rem mobil justru tak berfungsi.
Lampu dim sengaja ia nyalakan untuk memberikan kode kepada mobil taksi di depannya diiringi suara klakson.
Sayang suara nyaring klakson itu justru menyatu dengan derasnya hujan, sehingga tak terdengar oleh Stella yang tengah memejamkan mata sambil menyandarkan kepala di kursi penumpang.
Supir taksi yang baru saja selesai memperbaiki ban mobil dan hendak memasukkan kembali dongkrak ke dalam bagasi, merasa curiga dengan sinar lampu yang terus berkedip-kedip.
Belum sempat ia memasukkan dongkrak itu, mobil yang melaju di depannya sudah lebih dulu menabrakkan bumper hingga terdorong cukup jauh dari tempat sebelumnya.
Supir taksi ikut terseret di bawah ban, sementara tubuh Stella terguncang di dalam mobil dan kepalanya terbentur kaca cukup kuat.
---
Ibu Stella terkejut saat mendengar bingkai foto putrinya terjatuh begitu saja. Didekatinya bingkai foto yang telah pecah berserakan, lalu membereskannya.
Ada perasaan tak mengenakan di dalam relung hatinya. Beliau menghawatirkan sang anak yang tak kunjung tiba sejak tadi.
Perasaan gelisah semakin menyelimuti pikirannya setelah mencoba menghubungi Stella berulang-ulang kali namun, tak juga mendapatkan jawaban.
'Kenapa tidak mengangkat telepon Ibu, Nak? Ibu khawatir, cepat jawab telepon Ibu!'
---
Kedua mobil berhenti tepat di pagar pembatas jembatan. Asap mengepul di atas kedua kap mobil yang ringsek.
Terdengar derap langkah kaki seseorang menghampiri tempat kejadian, dengan memegangi payung hitam sosok itu menatap Stella dalam diam.
'Sudah saatnya kau ikut denganku,' ucapnya datar.
Tampak netra mata Stella melihat ke arahnya sambil berkata lirih, "tolong aku!" pinta Stella memohon dengan berlinang air mata.
Dalam kondisi bersimbah darah dari kepala, Stella meminta pertolongan pada sosok pria berjubah hitam dengan memegangi payung berwarna senada.
Pria berjubah hitam menunggu dalam hitungan detik setiap napas yang keluar dari rongga hidung Stella. Terlihat napasnya mulai tersengal-sengal, hingga lambat laun melemah dan terhenti.
Roh dari dalam jiwa Stella terpisah ketika gadis itu dinyatakan tak lagi bernyawa. Ia menyaksikan dirinya sendiri yang terbujur kaku di dalam mobil dengan kondisi yang cukup parah.
Gadis itu terkejut seraya memukul-mukul jendela mobil yang tak lagi bisa tersentuh, meneriaki jiwanya untuk membuka mata, meski tahu itu hanya sia-sia.
"Berhenti melakukan hal mustahil." Pria berjubah hitam yang berdiri di belakang Stella menegur.
Stella menoleh dan tercengang memandang pria yang sempat ia lihat sebelumnya. Ia ingat betul wajah pria yang sedang berdiri tegak dihadapannya itu.
"Kau pria yang baru saja ku lihat itu kan?" tanya Stella yakin.
"Jangan banyak bicara, ikuti saja aku!" perintahnya tak mengindahkan perkataan Stella.
"Aku tidak mau, memangnya kau siapa berani-beraninya mengajakku untuk mengikuti mu," tolak Stella dengan berani.
"Kau membantahku! Apa kau tahu aku ini siapa," kesalnya berniat mengungkapkan identitas diri.
"Kau bisa lihat aku, itu berarti kau juga roh, sama sepertiku." Stella menebak dengan asal.
Pria itu lantas terkekeh geli setelah mendengar perkataan Stella. Stella mengerinyit bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba tertawa.
"Dasar gila," ledek Stella.
Pria itu berhenti tertawa dan menoleh tajam ke arahnya. "Kau berani menghina grim reaper !" gertak pria yang kini telah mengungkapkan identitas dirinya.
"Grim reaper?" Stella mengulang. "Maksudmu, Malaikat maut?" tanya Stella dengan gelak tawa.
"Kau meremehkan ku." Grim reaper itu tampak marah.
"Sudahlah berhenti bicara omong kosong," tutur Stella seraya membalikkan badan.
Tiba-tiba mobil ringsek itu terangkat melayang di depan Stella. Gadis itu terbelalak hebat saat menyaksikannya.
Grim reaper berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di samping Stella. "Kau masih meragukan identitas ku?" tanyanya menoleh tajam.
Stella membekap mulut tanda tak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Hal mustahil diluar nalar kini terjadi padanya.
Sempat ia membaca sebuah buku yang berjudul kematian. Di sana tertulis, jika seseorang bertemu dengan Malaikat maut itu pertanda kematian telah siap menjemputnya.
"Ikut denganku, sekarang!" perintahnya setelah menurunkan mobil tersebut.
"Tunggu!" Stella menghentikan langkahnya seraya menyentuh tangan grim reaper itu.
"Bisakah kau mengabulkan satu permintaanku," sambung Stella memohon padanya dengan raut wajah penuh harap.
Grim reaper itu tertegun ketika tangan Stella menyentuhnya sebab dari semua roh yang ia jemput, tak pernah sekalipun berhasil menyentuh bagian tubuhnya.
"Aku bukan Ibu peri yang bisa mengabulkan permintaan orang mati sepertimu," balasnya dengan kata-kata yang mampu melukai perasaan Stella.
Gadis itu teriris perih, bulir air mata menetes begitu saja. Ia melepaskan tangannya, "Aku memang sudah mati, tapi hatiku belum."
"Sudah tidak banyak waktu, cepat ikut aku." Ia melangkah kembali tanpa merespon ucapan Stella.
"Aku tidak mau!" tolak Stella lagi-lagi.
Stella melangkah menjauhi tempat itu dan tiba-tiba muncul grim reaper di depannya yang sontak membuat langkah Stella terhenti.
"Aku tak suka memaksa, cepat ikut aku." Lagi dan lagi kalimat itu terucap.
"Aku akan mengikuti mu, asalkan kau mau mengabulkan permohonan ku." Stella tak mau kalah, justru saat ini ia memberikan pilihan padanya.
"Baru kali ini, seorang grim reaper merasa direndahkan." Mendecak kesal sebab waktunya terbuang sia-sia hanya karena berdebat dengan Stella.
"Baiklah. Apa permintaanmu?" tanyanya melanjutkan ucapan.
"Beri aku waktu seminggu untuk kembali hidup," pinta Stella teguh.
"Apa!" terkejut saat mendengar permintaan Stella yang dirasa tidak masuk akal.
Stella yakin grim reaper itu memiliki kekuatan yang bisa membuatnya kembali hidup. Berharap dalam waktu seminggu dapat menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang ia sayangi.
"Tidak. Aku akan memberikan waktu tiga hari untukmu," tolaknya.
"Aku mau seminggu." Stella membalas tak mau kalah.
"Satu hari." Tawarnya tegas.
"Seminggu," protes Stella.
"30 menit," tawarnya lagi.
"Seminggu." Stella tak mau kalah.
"15 menit," balasnya yang semakin mempersingkat waktu permintaan Stella, jika gadis itu terus saja menolak tawarannya.
Menyadari tak kunjung didengar perkataannya, Stella pun menghentikan perdebatan. "Ok ... Ok, satu hari."
"Setuju," ucapnya singkat.
Tanpa aba-aba grim reaper menjentikkan jarinya dan tiba-tiba pandangan Stella menjadi gelap seketika.
---
"Stella, bangun sayang!" terdengar suara sang Ibu memanggil namanya sambil mengetuk pintu kamar.
Stella menggeliat di atas kasur dan terduduk sambil mengumpulkan nyawanya yang masih dalam ambang-ambang mimpi.
"Iya, Bu!" sahutnya dari dalam kamar.
Segera ia bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke gedung pertunjukan namun, ia merasa ada yang mengganjal.
'Sepertinya aku sudah pernah mengalami hal semacam ini.' Stella bergumam menghentikan sarapan paginya.
"Kenapa?" tanya Ibunya yang datang menghampiri ke meja makan.
Stella menggelengkan kepala dan membalas dengan senyuman. Tapi lagi-lagi ia mengingat kejadian di mana sang Ibu secara tidak sengaja menumpahkan orange juice di atas meja.
Dari sikap spontan Ibunya, ucapannya dan bahkan suasana pagi itu semua tampak sama seperti ingatannya.
'Apa ini hanya dejavu?' semakin berpikir semakin membuatnya penasaran.
Saat ingin berpamitan untuk berangkat, Stella melihat grim reaper yang berdiri memperhatikan. Sejak itulah ia baru menyadari bahwa dirinya telah mengulang waktu sebelum tragedi itu terjadi.
Stella kembali masuk ke dalam rumah dan memanggil sang Ibu, meminta agar menemaninya selama seharian ini. Tak bisa menolak permintaan putrinya, beliau pun mengikuti apa yang diinginkan gadis itu.
Dari mulai menyaksikan pertunjukan baletnya hingga usai. Stella tak ingin terlewatkan satu momen pun bersama sang Ibu.
Makan siang bersama di tempat favorit mereka, bernyanyi di tempat karaoke dan melakukan foto box sampai mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat mereka datangi. Ibu dan anak itu tampak puas setelah bersenang-senang.
Kini keduanya duduk bersandar di sebuah bangku menghadap danau. Bintang-bintang malam begitu cantik menghiasi langit pada malam itu.
"Bagaimana penampilan Stella, Bu?" tanya Stella duduk menyandarkan kepala di bahu Ibunya.
"Kamu sungguh luar biasa, sayang. Ibu bangga sekali," jawabnya seraya menggenggam tangan anak semata wayangnya itu.
"Stella juga sayang sekali sama Ibu." Tanpa sadar air mata menetes di pipi gadis itu.
"Kenapa menangis?" tanyanya kaget saat mendengar suara getar dari bibir Stella
Stella langsung menghambur ke pelukan Ibunya, rasa nyaman dan hangat begitu melekat di dekapan sang Ibu. Ia ingin mengingat rasa hangat itu untuk terakhir kalinya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanyanya menerka-nerka perasaan Stella.
"Aku ingin merasakan pelukan Ibu, sebentar saja." Stella mengeratkan pelukannya lagi.
Sang Ibu hanya mengindahkan ucapan serta sikap Stella, tangan sang Ibu turut membelai rambut Stella dengan lembut.
"Ibu harus jaga kesehatan, jangan telat makan dan istirahat yang teratur." Stella berpesan.
"Iya, Nak, Ibu akan mengingat pesan mu," jawab sang Ibu yang ikut menangis.
"Stella akan melakukan perjalanan yang jauh setelah ini, Bu, jadi Ibu harus tetap ingat pesan Stella, ya." Stella menjelaskan maksud dari pesannya.
"Tidak bisakah kau tunda perjalananmu itu, Nak," pinta sang Ibu penuh harap meski tahu itu mustahil.
"Maaf, Bu." Stella semakin menangis.
"Jika memang begitu, kau harus janji pada Ibu, akan sering-sering datang menemui Ibu, ya."
Stella hanya diam sebab tak dapat menjanjikannya meski, sejujurnya ia tak ingin pergi meninggalkan Ibunya namun, takdir telah berkehendak.
"Ibu, Stella tidur ya." Stella mencoba memejamkan matanya sambil menyandarkan kepala di pangkuan sang Ibu.
"Tidurlah, Nak. Ibu tidak akan menggangu tidur nyenyak mu," ujarnya sambil mencium kedua pipi dan kening Stella.
"Terima kasih, aku sayang Ibu." Stella mengucapkan kata terakhirnya setelah waktu yang telah diberikan telah berakhir.
"Ibu juga sayang sekali sama kamu, maafkan Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik," balas sang Ibu dengan suara sendu.
"Datanglah ke mimpi Ibu ya, sayang. Ibu akan selalu berdoa untukmu," imbuhnya tak henti-henti membelai rambut Stella sambil berlinang air mata.
Ternyata sang Ibu sadar akan kepergian putrinya itu. Ia juga turut merasakan keanehan pagi tadi sebab seusai kejadian malam itu, Polisi telah mengabarkan bahwa putrinya telah tiada.
Bahkan buket bunga dan piagam penghargaan yang ingin Stella tunjukkan masih berada di dalam kamar sang Ibu, pagi tadi.
Sang Ibu mengetahui jika keberadaan Stella hanyalah rohnya saja. Meski begitu, beliau merasa senang karena bisa menemani waktu terakhir sang putri tercinta.
"Selamat tinggal Ibu, aku akan selalu mengingat pelukan hangat mu. Kau wanita terhebat yang pernah aku miliki. Terima kasih karena selalu ada untukku serta menemaniku di saat-saat hari terakhirku, aku menyayangimu."
Stella berjalan menghampiri grim reaper setelah menoleh ke arah sang Ibu yang masih menangis. Ia juga berterima kasih kepadanya karena telah bersedia mengabulkan permintaan terakhirnya.
Keduanya berjalan bersama menaiki anak tangga dengan sinar cahaya putih. Grim reaper menggandeng tangan Stella dan Stella merespon dengan menautkan jari-jarinya sambil mengulum senyum.
Sinar cahaya putih itu menghilang bersamaan dengan Stella dan grim reaper yang tak lagi terlihat. Satu kilauan cahaya bintang bersinar di atas langit.
"Bisa jadi, ketika kamu tertidur ada orang tulus yang selalu mendoakan mu diam-diam, tidak mengharapkan apa-apa kecuali agar kamu bahagia dan itu adalah orangtuamu."
E N D
T E R I M A K A S I H