"Tunggu aku di puncak lawu, akan ke kusematkan edelwise putih diantara daun telingamu." Itu yang dikatakan Arjuna sore ini, sebelum memutuskan percakapan kami via telephone.
Suara seraknya selalu bisa membuat jantungku berdebar, debaran hebat yang mengusik jiwaku untuk menyunggingkan senyum manis nan tulus.
Arjuna, nama lelaki itu mampu merasuki relung hatiku, sampai dititik kalbuku yang terdalam, tiada kuasa aku menolaknya. Bahkan semakin lama aku kecap, rasanya kian indah dan memabukkan jiwa.
Dan aku, Anyelir Putri Darmawan sosok yang sangat dikagumi oleh kekasihku Arjuna Bagaskara. Pria yang berusia lima tahun lebih tua dariku. Cinta pertamaku, Arjunaku.
Beberapa bulan yang lalu, Arjuna berjanji untuk membawaku mendaki bersama teman temannya yang hobi menaklukan tiang alam. Janji yang akan terealisasi saat aku menyelesaikan kelulusan sekolah menengah. Bahkan jauh jauh hari, sang Arjuna hatiku itu telah lebih dulu minta ijin kepada kedua orang tuaku.
"Om, tante saya ingin mengajak anyelir mendaki gunung setelah kelulusan sekolah nanti, kalau di ijinkan."
"Apa kamu yakin Anye mau, diakan paling tidak suka kalau tubuhnya berkeringat, apalagi sampai mendaki gunung?" Suara papa terkekeh, tidak yakin dengan kesediaanku.
"Anye mau kok pa, itung itung cari pengalaman baru he he he. " Aku memamerkan gigi kelinciku dihadapan papa.
"Halah paling kamu mau manja manjaan aja sama nak Juna." Cemooh mama telak, membuat pipiku merona.
"Mama apaan sih, yang pentingkan Arjuna mau." Celetukku tanpa merasa risih dengan semua ejekan menggoda, yang keluar dari mulut orang tuaku.
Arjuna hanya tersenyum menanggapi jawabanku yang cuek, seraya mengulurkan tangannya mengelus rambut serta puncak kepalaku dengan lembut. Sebagai tanda bahwa lelaki berparas ganteng dengan postur tubuh sempurna itu, mau menerima segala sifat kemanjaan dan kekanakanku yang memang secara usia jauh lebih muda darinya.
Ya hubungan kami "aku dan Arjuna" memang cenderung terbuka. Tidak ada yang ditutup tutupi lagi dihadapan orang tuaku, begitu juga orang tua Arjuna yang lebih dulu mendukung hubungan kedekatan kita ke arah yang lebih serius.
"Sayang aku pulang dulu ya, belajar yang serius." Aku hanya mengangguk menanggapi nasehatnya. Sudah terlalu sering telingaku mendengar semua wejangan wejangan rajin belajar dari orang orang terdekatku, tak terkecuali Arjuna. Yang semakin mendekati ujian semakin rajin pula mengingatkanku, sudah seperti alarm saja.
"Hati hati dijalan." Aku mengerucutkan bibirku, seolah enggan berpisah dengannya.
Aku masih rindu, setelah seminggu tak bertemu, waktu dua jam terasa lima menit saja. Berlalu begitu cepat, benar aku selalu merasa kurang saat bersamanya.
"Hei jangan manyun gitu dong, sudah malam sayang." Dasar sok tua, bilang aja kamu juga masih enggan pulangkan, batinku berdecak.
"Aku masih rindu," Jawabku manja, dengan bergelayut memeluk pinggangnya.
"Sabar sayang, saat kamu lulus nanti aku akan segera melamarmu, supaya kita selalu bersama sama ya." Arjuna memang selalu bisa mengambil hatiku lagi dan lagi.
"Janji?" Kuangkat tangan kananku, memajukan jari kelingking sebagai materai perjanjian tak tertulis.
"Hmmm,,, l love you!" Jari kelingking kami pun saling bertaut, setuju satu sama lain.
Sebuah kecupan mendarat dikeningku,, sebelum dia benar benar pergi memacu gas motor sportnya dan meninggalkan halaman rumahku yang sangat sederhana ini.
Aku lambaikan tanganku dengan bahagia, aku terus melihat punggungnya yang gagah sampai bayangan itu menghilang.
Dua minggu berlalu, ujian kelulusan pun segera dimulai dua hari lagi. Aku pun belajar lebih giat dari sebelumnya, demi sebuah angka kelulusan. Angka yang seolah wajib aku capai, demi kebahagian mama, papa dan juga Arjuna hatiku, yang selalu mensupport serta mendukungku tanpa rasa lelah.
"Sudah tidur?" Sebuah notifiskasi pesan dari Arjuna, mengusik konsentrasi belajarku.
"Belum, aku laper." Seperti biasa, aku membalas pesannya manja.
"Sayang mau makan apa? Aku pesankan dari aplikasi online." Selalu perhatiannya melelehkan hatiku lagi dan lagi.
"Bebek bakar pedas sama minumnya boba tea. Minumnya dua ya sayang, he he he." Buat nyegerin mata yang mulai panas karena ku forsir beberapa hari ini.
"Oke, ditunggu ya sayang." Dia pun menuruti keinginanku.
"He'em, makasih sayang!" Jawabku ku ketik dengan penuh semangat.
"Jangan bobok terlalu malam, and good night sayang." Dia mengakhiri chat kami, karena tidak ingin mengganggu waktu belajarku.
Dan aku pun sama, tidak lagi membalas pesannya. Kini mataku beralih ke tumpukan buku, yang berisi segudang pertanyaan tentang ujian nasional. Tak lama pesanan makananku pun datang, menemani belajar malamku. Sampai rasa lelah dan kantuk melanda.
Berhari hari berkutat dengan buku, terang saja membuat istirahatku terganggu. Tapi apalah daya, hari ini ujian kelulusan yang sebenarnya telah dimulai.
Lonceng sekolah berdering nyaring, membuat semua siswa kelas tiga SMA seantero negeri sibuk, mencocokkan nomor urut mereka dibangku ujian masing masing. Begitu juga diriku, yang saat ini tengah berlomba menduduki bangku ujian akhir sekolah.
Bangku usang tiba tiba saja membuat jantungku berpacu. Bagaimana tidak, tiga tahun masa belajarku di sekolah ini, kupertaruhkan dengan tiga hari ujian saja. Entah soal dari pelajaran kelas berapa yang akan muncul, dari bab mana yang harus dikerjakan, semua masih menjadi teka teki. Sampai sang pengawas datang, membawa amplop coklat ditangan. Yah, amplop coklat yang berisi lembaran lembaran kertas putih. Kertas putih yang kini dalam sekejap terkesan abu abu, seperti warna seragamku.
Kenapa aku menyebutnya abu abu, karena sama seperti hasil ujianku nanti. Aku belum mengetahui hasil apa yang akan ku peroleh.
"Semangat ujiannya sayang! Good Luck honey!" Suara dari seberang menyapa telingaku, dari telepon genggam milikku.
Arjuna memberiku support, sama seperti dua hari sebelumnya. Suaranya seperti magic yang berhasil menenangkan kepanikanku. Aku pun menyunggingkan senyum,
"Aku pasti bisa, demi bersama Arjuna sebentar lagi." Tekadku semakin membulat, meski umurku masih belasan tahun, tak lantas menyurutkan niatku untuk menikah muda dengan lelaki yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai.
Hari ini ujian terakhir disekolah, ku kerjakan semua dengan mudah. Karena aku telah mempersiapkan semua jauh jauh hari. Berkat dukungan mama dan papa serta Arjuna yang tanpa lelah menjejaliku buku buku panduan ujian dan semua hal yang berkaitan dengan soal ujian akhir sekolah.
"Sayang, aku kangen hiks." Sore ini, sambil duduk dibalkon kamar, aku mengirim pesan untuknya.
"Sama sayang, gimana ujiannya?" Lelaki itu tidak membalas pesanku melainkan langsung menelponku.
"Lancar dong, pacar siapa dulu dong he he he."
"Pacarnya Arjuna lah" Jawabnya pede.
"Sayang masih diluar kota?"
"Masih, sore ini pulang. Anyelir mau dibawain oleh oleh apa?"
"Bakpia rasa ubi ungu, kacang hijau, sama bakpia salak." Karena kebetulan Arjuna sedang berada dikota jogja, untuk mengembangkan usaha cafenya.
"Oke nanti aku beliin, sekarang aku mau keluar dulu ya belikan pesananmu. l miss you."
"I miss you too,, Arjunaku." Kata kata manis mengakiri obrolan kami di sore yang cerah.
Aaah, aku sungguh rindu dengan aroma tubuhnya Arjuna yang sudah seminggu ini tidak bertemu karena kesibukan masing masing.
Jam delapan malam, Arjuna memenuhi janjinya untuk membawakanku oleh oleh khas kota jogja. Satu plastik besar berisi kue bakpia aneka rasa, berhasil mendarat di meja tamu keluarga. Ditemani teh buatan mama, kami pun bercanda ria.
Sampai akhirnya obrolan serius Arjuna mengalihkan pembicaraan kami.
"Om, tante, gimana kalau ajakan pendakian Arjuna percepat jadi malam minggu ini?"
"Anyelirkan sudah selesai ujian juga, buat refresing setelah belajar keras kemarin!"
"Mama sih gak masalah jun, gimana Anyelir aja. Asalkan kamu jaga dia baik baik."
"Papa juga ngikut kalian aja, papa sudah gak ngerti anak muda pacaran sekarang." Papa menyetujui omongan mama.
"Beneran ma, pa boleh?" Memastikan keputusan kedua orang tuaku. Yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh keduanya.
"Kamu gimana sayang?" Arjuna menatapku lembut.
"Aku sih mau banget, ini kan udah kita rencanain lama." Aku bersorak kegirangan.
Mulai bertanya ini itu, semua berkaitan dengan pendakian perdanaku. Bagaimana medan yang harus dilalui, perlengkapan apa saja yang aku bawa, bagaimana situasi dipuncak gunung. Semua memang terasa asing, bagiku yang belum pernah mendaki gunung sama sekali. Namun tidak dengan Arjuna, kekasihku ini memang punya hobi mendaki sejak menduduki sekolah menengah atas.
"Kamu tidak usah bawa macam macam sayang, cukup persiapkan stamina tubuhmu saja." Itu kata Arjuna.
"Kenapa?"
"Ini pendakian perdanamu, aku gak mau sampai kamu kelelahan dengan barang bawaanmu."
"Semua sudah aku persiapkan, ada orang yang sudah aku bayar untuk mengurus segala keperluan mendakimu nanti. Jangan lupa pakai celana panjang tebal, dan bawa jaket hangat ya" Dia mencubit kecil pipiku, sontak membuat ronaku bersemu merah.
"Aaah kamu memang yang terbaik." Aku menganggkat kedua jempol tanganku. Tak lupa kecupan kecil mendarat dipipinya.
"Sekarang aku pulang dulu ya, kamu istirahat besok siang kita berangkat." Ia mengecup keningku lama, sangat ia nikmati seperti sebelumnya.
Lelaki itu selalu memperlakukanku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang bak puteri raja.
Dan Arjuna memacu motor sportnya, pelan namun pasti bayangannya pun menjauh kemudian menghilang dari pandanganku setelah motornya melewati belokan menuju jalan raya.
Sabtu jam sepuluh pagi, sesuai rencana kami akan mendaki gunung lawu. Dengan mengenakan celana panjang, kaos lengan pendek dilapisi sweater panjang, serta jaket untuk berjaga jaga, agar tidak terkena hipotermia dipendakian pertamaku. Duduk dikursi teras, menanti Arjuna menjemputku untuk bertolak.
Lima belas menit menunggu, namun Arjuna belum juga datang. Sampai akhirnya terdengar nada dering dari telepon genggam milikku, Arjuna menelpon,
"Sayang, sebentar lagi ada mobil yang akan menjemputmu."
"Maksudnya?"
"Kamu berangkat duluan, Leo dan beberapa teman lain sudah membawa semua keperluan serta alat pendakianmu."
"Kamu dimana?"
"Aku masih ada urusan sedikit, nanti aku menyusul setelah urusanku selesai. Aku akan sampai disana sebelum kamu sampai puncak gunung."
"Tapi aku takut."
"Tenang sayang, mereka semua sahabatku, dan aku pastikan mereka akan menjagamu tetap aman."
"Baiklah, tapi kamu beneran nyusulkan?"
"Iya sayang, kamu hati hati ya."
"Kamu juga ya sayangku, Arjunaku." Aku menjawab dengan intonasi penuh kemanjaan.
"Anyelir,,,," Arjuna menghentikan suaranya sejenak.
"Hmm?" Aku mengguman pelan, menanti ucapan Arjuna.
"Kamu tau kan kalau aku sayang banget sama kamu?" Suara Arjuna berhasil menyentak pikiranku karena suaranya terdengar sangat melow.
"Ada apa sih sayang?" Rasa penasaran tidak bisa aku bendung.
"Enggak cuma mau bilang, I love you, mmuaach." Arjuna terkekeh dengan jawabanku.
"Dasar gombal."
Suara klakson mobil membuyarkan obrolan kami.
"Anyelir, ayo berangkat." Suara Leo, Risma dan beberapa teman lain memanggil namaku. Mengajak untuk segera bergegas.
"Sayang, Leo dan temen teman sudah datang. Aku berangkat dulu ya, kamu jangan lupa cepat nyusul." Aku melangkahkan kaki menuju mobil, tak lupa berpamitan pada kekasihku diseberang.
"Hati hati, Anyelir l love you sayang." Entah kenapa hari ini Arjuna begitu suka mengulang kata kata itu.
Diseberang sana, Arjuna menyunggingkan senyum dengan teramat manis. Dia membayangkan wajah bahagia Anyelir saat menerima kejutan darinya hari ini.
Ya, Arjuna memang berencana melamar gadis itu dipuncak lawu. Dengan disaksikan tingginya alam ciptaan tuhan, setinggi harapannya untuk merajut bahagia. Bersama Anyelir wanita yang sudah memenuhi hati dan pikirannya selama setahun ini.
Arjuna menyalakan motor sport warna merah, motor limited edition keluaran salah satu perusahaan otomotif dunia menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota solo.
Dengan langkah panjang dan mantap ia memasuki sebuah toko perhiasan. Ia memilih salah satu cincin emas putih bertahtakan berlian blue shapire. Ia pun tersenyum memandangi cincin bermata biru itu, membayangkan tangan mungil Anyelir pasti akan terlihat sangat manis memakai cincin pemberiannya.
Dia pun memesan sebuah kalung dengan liontin berbentuk daun waru yang melambangkan hati, sebagai tanda cinta. Liontin yang bisa dibuka, didalamnya berisi photo mereka berdua. Photo yang telah dibungkus oleh cetakan viber glass berwarna bening, agar tidak rusak saat terkena air maupun panas. Disekitar liontin bertebaran permata butih dan satu berlian blue shapiere terletak dibagian tengah semakin mempercantik kalung tersebut.
Setelah meletakkan cincin dan kalung ke sebuah kotak kecil, Arjuna kemudian menyelipkan kotak itu kedalam saku jaketnya. Senyum bahagia terlukis diwajah tampannya. Dengan perasaan bahagia yang membucah disetiap aliran nadinya, Arjuna akhirnya keluar dari pusat perbelanjaan untuk menyusul kekasihnya, Anyelir.
Sementara Anyelir saat ini sudah sampai di puncak gunung lawu. Dia memijat kakinya yang terasa pegal setelah selesai membantu Leo dan teman lain mendirikan tenda tenda kecil untuk tempat istirahat mereka malam ini. Mendaki gunung terjal selama delapan jam berjalan kaki, ternyata sungguh menguras energi gadis berperawakan kecil itu.
Ia melirik jarum jam yang terpasang pada pergelangan tangan kirinya, sudah jam tujuh lewat sepuluh. Namun Arjuna belum menampakkan kehadirannya. Rasa takut, gelisah, was was mulai menyelimuti hati Anyelir. Gadis itu takut jika Arjuna mengingkari janjinya. Anyelir takut akan gelap, dia juga tidak terbiasa tinggal di alam bebas seperti puncak gunung lawu ini. Mungkin saja binatang buas mengintainya, bisa juga ular atau binatang beracun lain menjalar ke arah tendanya. Bagaimana dia bisa tenang ditempat terbuka dengan peralatan seadanya seperti ini.
Arjuna,,
Bibir mungil Anyelir berkali kali menyebut nama pangeran hatinya. Berharap laki laki itu segera muncul dihadapannya.
Setelah setengah jam, akhirnya bibir tipis Anyelir mampu tersenyum dengan lebar, saat netranya menangkap bayangan hitam tengah berdiri dihadapannya. Ya itu adalah bayangan Arjuna, yang ternyata menepati janjinya, dengan hadir dihadapan Anyelir.
"Menungguku nona manis?" Seringai nakal sedikit gemas muncul dari wajah Arjuna.
Tanpa ragu ragu Anyelir segera menghambur dipelukan kekasihnya. Ketakutan, kegundahan serta kegelisahan yang ia rasakan beberapa saat lalu, seketika lenyap tergantikan perasaan haru.
"Hiks, aku takut kamu gak datang." Anyelir pura pura ngambek.
"Mana mungkin aku mengingkari janjiku sayang!" Gemas Arjuna mencubit hidung kekasihnya.
Namun lelaki itu segera melepaskan diri dari pelukan gadisnya.
"Mau kemana?" Anyelir heran pasalnya tidak biasanya Arjuna melepaskan pelukan lebih dulu.
Dengan langkah tergesa gesa Arjuna menunjuk semak semak, pertanda lelaki itu ingin menuntaskan hajat buang air kecil. Dan Anyelir pun mengangguk paham.
"Anye, yakin nih kamu mau tidur sendirian,, gak mau aku temani atau Leo temani?" Suara Risma mengulang kembali pertanyaannya beberapa saat lalu.
Aku mengangguk, "Yakin, Arjuna kan ada."
"Emang Arjuna sudah sampai?" Risma binging karena belum melihat laki laki itu.
"Sudah, dia lagi buang air kecil disana." Aku menunjuk semak disebelah tendaku.
"Oke deh, kalau perlu apa apa kita ada diluar tenda ya." Risma memberitahukan.
Tak lama Arjuna pun kembali ke tenda, aku pun kembali menghampur kepelukannya. Hawa dingin menusuk tulang, membuatku nyaman berada dipelukan kekasihku. Sampai aku merasakan telapak tangan Arjuna semakin malam juga semakin bertambah dingin.
"Hmm, kenapa tubuhmu semakin dingin sedang aku merasa hangat dalam pelukanmu?"
"Benarkah? Aku tidak merasa kedinginan sedikitpun saat mendekap tubuhmu sayang."
"Eh tunggu kenapa keningmu sedikit membiru, tadi sebelum kamu kesemak itu tidak kenapa kenapa?" Anyelir memang terbiasa mengamati wajah kekasihnya, sedikitpun perubahan dari wajah tampan itu tidak pernah luput dari penglihatannya.
"Tadi kepentok ranting." Arjuna menjelaskan.
"Sayang, benar kamu tidak apa apa, tanganmu sangat dingin, sedingin es. Apa kamu yakin tidak terkena hipotermia?" Anyelir mulai khawatir.
"Tubuhku memang selalu seperti ini ketika berada dipuncak gunung sayang, jangan khawatir aku sudah terbiasa." Arjuna mengecup pipi kekasihnya.
Masih dengan mendekap tubuh kekasihnya yang memakai jaket tebal, sesekali mereka berdua menyesap air jahe hangat dari termos kecil yang diantar Leo beberapa menit lalu. Romantis, hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan suasana ke dua orang yang tengah dimabuk asmara tersebut.
"Anyelir, aku ingin kamu mengingat momen ini sepanjang hidupmu"
"Aku ingin kamu tahu bahwa nama Anyelir adalah satu satunya wanita yang terukir dalam hati seorang Arjuna."
"Anyelir, dipuncak gunung ini aku sangat bahagia mendekap tubuhmu, menghirup aromamu dengan disaksikan kemerlap bintang bertaburan."
"Hatiku tengah bersorak diantara kesunyian malam. Ini semua berkat kamu sayang, Anyelirku."
Dan Arjuna pun mulai menjatuhkan kedua bibirnya tepat diatas bibir Anyelir. Menyesap lembut dengan penuh sayang menyalurkan rasa rindu yang membuncah diantara mereka berdua. Gelenyar aneh namun sangat menyenangkan terasa menyengat jantung Anyelir, memacunya lebih cepat.
Ini adalah ciuman pertama dibibir gadis bermata lebar itu. Arjuna telah mengambil keperawanan bibir mungil berwarna merah muda ini. Mereka hanya saling mengecup manis bertukar saliva berkali kali tidak lebih, karena mereka sadar belum ada ikatan sah diantara keduanya. Arjuna ingin menjaga kesucian gadisnya sampai waktunya tiba, meski tidak dipungkiri gejolak jiwanya meronta untuk segera menyesap manisnya madu cinta dari darah perawan Anyelir. Namun besarnya rasa cinta untuk Anyelir mampir mengontrol jiwa lelaki itu untuk tidak bertindak diluar batas norma.
Setelah nafas mereka sama sama tersengal, akhirnya Arjuna pun melepaskan pagutan bibirnya. Bersamaan mengambil nafas dalam dalam, mengisi paru parunya dengan oksigen sebanyak mungkin. Lalu kedunya saling menatap, rona merah padam dipipi Anyelir terlihat samar diantara cahaya rembulan. Arjuna pun mengelap sisa saliva dibibir Anyelir menggunakan jari telunjuknya.
Lalu kembali mendekap tubuh Anyir dari belakang, berkata,
"Terima kasih, sudah hadir dalam kehidupanku sayang."
"Terima kasih sudah mencintaiku, dan memberikanku cinta yang sangat indah."
Mendengar kata lembut nan menyejukkan hatinya, Anyelir membalikkan badan menghadap pria itu. Matanya berkaca kaca, ia sungguh terharu dengan kalimat kalimat yang baru saja ia dengar. Sekali lagi, Anyelir menghambur kepelukan kekasihnya. Berharap waktu berhenti berputar, ia tidak ingin suasana ini berakhir. Manis, indah, dan bahagia.
"Aku sayang Arjuna." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Anyelir.
"Tidurlah sayang, sudah tengah malam. Besok pagi aku akan memberimu kejutan."
"I love you, Anyelirku."
Anyelir pun terlelap dalam dekapan kekasihnya. Ia tertidur pulas seolah rasa takut akan binatang buas, kegelapan, dan binatang melata pun sirna seketika. Semua berkat kehadiran Arjuna disisinya yang selalu bisa membuatnya aman.
Pagi menjelang, sunrise mulai menyapa diufuk timur. Jarak tipis antara payung alam karena berada dipuncak pegunungan, membuat mentari cepat menyapa. Anyelir mulai mengerjap ngerjapkan matanya tanda ia sudah terjaga.
Mengedarkan pandangan mata ke seluruh tenda, mencari sosok yang mendekapnya semalam. Namun netranya tidak juga menemukan bayangan pria itu.
Kemana Arjuna?
Dengan langkah malas, Anyelir beranjak keluar lalu duduk diatas batu besar sambil mengucek matanya yang masih terasa lengket.
Pluk,
Bunga edelwise jatuh dari telinga kanan, saat tangannya tanpa sadar mengusap daun telinga yang terasa dingin oleh hembusan angin gunung. Rupanya Arjuna telah menepati janjinya menyematkan bunga edelwise didaun telinganya. Bunga yang melambangkan keabadian. Berharap kisah cinta Arjuna untuk Anyelir bisa abadi sama seperti bunga edelwise.
Beberapa saat duduk, Arjuna belum juga kembali sampai gadis itu membuka hapenya berniat untuk memainkan game favoritenya.
"Aku menunggumu dibawah sayang."
Sebuah tulisan muncul dilayar wallpapernya, entah kapan Arjuna menulisnya. Namun ia cukup paham dengan pesan singkat itu. Hatinya berdebar, penasaran, sekaligus gamang, kejutan apa lagi yang akan Arjuna berikan hari ini.
Membutuhkan perjalanan sekitar lima jam, untuk menuruni puncak gunung terjal dengan medan sedikit berpasir. Waktu yang lebih cepat sekitar tiga jam dibanding saat mendaki. Akhirnya rombongan Anyelir pun tiba di pos cemoro kandang. Menuju sebuah warung makan, untuk mengisi perut mereka. Sungguh terasa nikmat setelah perjalanan panjang melelahkan.
Satu suapan besar dengan menu soto ayam panas, terasa sangat nikmat dilidah Anyelir. Hendak menyuapkan nasi kedua pada mulutnya, terdengar suara nyaring dari saku celananya. Suara panggilan menjeda aktifitas makannya.
"Anyelir, Anyelir kamu dimana sayang?" Mamanya menyapa, terdengar suara parau seperti menahan tangis dari wanita yang melahirkannya.
"Kamu sehatkan sayang? Anye jawab papa?" Kini suara papanya terdengar nyaring, seperti menyimpan sejuta kekhawatiran.
Ehm, kenapa dengan mereka berdua. Sebegitu khawatirnya mereka dengan pendakian pertamaku. Anyelir tersenyum mendapat perhatian yang begitu besar dari orang tuanya.
"Anye baik baik aja ma, pa. Ini Anye baru makan setelah itu baru pulang."
"Anyelir, benar ini kamu sayang?" Kamu enggak bareng dengan Arjuna kemarin?" Ah mungkin mamanya sedang mengaktifkan mode loadspeaker dihandphonenya, karena suaranya terdengar kompak dengan sang papa.
"Anye berangkat duluan bareng Leo dan yang lain ma, Arjuna menyusul. Tapi sekarang udah pergi duluan."
"Katanya mau kasih kejutan buat Anyelir, he he he" Anyelir terkekeh membayangkan kejutan dari kekasihnya.
"Anyelir, kamu gak salah?" Suara tante Windi menyerobot obrolan mereka.
"Tante?" Anyelir mengernyitkan dahinya bingung, kenapa kedua orang tua mereka berkumpul. Anyelir semakin berbunga2 mungkinkah Arjuna akan benar benar melamarnya hari ini?
"A aanyee lir, Aa nyee lir..... " Deg, suara itu?
"Arjuna?" Sangat lirih Anyelir menyambut panggilan kekasihnya. Hatinya tiba tiba sesak dengan panggilan Arjuna.
"Sayang, Anye,, Arjuna,, Arjuna kecelakaan." Suara om Prabu tercekat.
"Apa? Bagaimana bisa?" Anyelir berteriak.
"Kapan?" Dengan tubuh gemetar hebat Anyelir memastikan kebenarannya.
"Kemarin siang, dia kritis. Sekarang dia di ICCU rumah sakit. Cepat kembali nak." Suara mama kini sudah terdengar pilu.
Memang dari kemarin sejak dalam perjalanan mendaki, hape Anyelir tidak mungkin bisa dihubungi. Karena tidak ada sinyal sebab medan yang jauh dari pemukiman. Sehingga lokasi puncak gunung itu tidak terjangkau oleh provider.
"Tidak, tidak mungkin Arjuna menemaniku semalam, dia mendekap tubuhku dipuncak lawu ma!" Anyelir tidak percaya.
Seketika hapenya pun jatuh dari genggaman tangannya, tubuhnya lunglai. Bagaimana bisa semua orang bilang Arjuna kecelakaan kemarin, seenaknya berbicara kondisi Arjuna tengah kritis pagi ini.
Tidak mungkin, Arjuna pasti baik baik saja. Ini pasti salah. Lelaki itu menemaninya dari semalam, mendekap tubuhnya penuh kehangatan. Mengecup bibir merah mudanya dengan penuh kelembutan. Membisikkan kata kata cinta yang sangat indah di telinganya. Menyematkan bunga edelwise ditelinganya.
Lalu hari ini semua orang membicarakan lelucon konyol, Arjuna tengah kritis dari kemarin, lalu siapa yang menemaninya semalam? Ah ini pasti prank, seperti reality show yang banyak tayang diberbagai televisi saat ini. Anyelir tidak mau mempercayai lelucon konyol ini mesti hatinya gamang, takut dan penuh keraguan.
Ia tidak lagi berminat melihat soto ayam panas dihadapannya. Nafsu makannya lenyap seketika. Kini ia tengah melamun, sampai,
Tring,
tring,
tring,
Notifikasi tiga pesan diaplikasi chatnya masuk bersamaan. Gadis itu segera membungkukan badan mengambil hapenya dikolong meja.
Deg, tangannya kembali bergetar.
"A anyee lir, mm ma af kan a ku, s sa yaang. l lo ve you A anye lirku!" Pesan suara Arjuna dia buka pertama kali. Berhasil mengaduk kembali pikiran Anyelir.
Kemudian dengan ragu Anyelir membuka pesan dari nomer yang tidak dia kenal, beberapa panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Dengan gentar ia memilih membuka pesan itu.
"Selamat siang, saya dari pihat kepolisian ingin mengabarkan bawah pria yang terlihat di foto mengalami kecelakaan. Saat ini kami tengah menghubungi nomer yang paling sering melakukan komunikasi dengan pihak korban untuk mengabarkan pada pihak keluarga. Terima kasih."
Pesan disertai foto Arjuna lunglai tergeletak ditengah jalan, helm fullface yang biasanya selalu menemaninya berkendara terlihat remuk disekitar kejadian. Motor sport kokoh limited edition dengan harga selangit itu, kini terlihat ringsek. Dan yang paling menyedihkan adalah kondisi Arjuna, wajah tampannya, kini sudah dipenuhi oleh darah. Dalam photo tersebut, kekasihnya terlihat tak berdaya, lemah melawan maut. Tangan kanannya memegang erat sebuah kotak yang tidak Anyelir ketahui isinya.
Anyelir, gadis itu segera berlari. Ia segera menuju kumpulan para ojek pengkolan yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat dia makan. Menaiki salah satu motor pengojek yang siap untuk jalan, tanpa memperdulikan keberadaan orang lain yang memesan lebih dulu. Seperti orang kesetanan, Anyelir terus berteriak pada tukang ojek untuk memacu motornya lebih kencang. Satu jam perjalanan, terasa sangat lama untuknya kali ini. Pikirannya dipenuhi kabut kekhawatian, perasaan takut kehilangan laki laki yang sangaat ia cintai.
Sampai didepan rumah sakit, Anyelir menyaut beberapa lembar terakir yang mengisi dompetnya. Tanpa pikir panjang segera memberikan pada tukang ojek, yang berteriak memanggilnya karena ongkos yang dia berikan, berkali kali lipat lebih banyak dari upah seharusnya.
Anyelir, gadis itu terus berlari sekencang mungkin tubuhnya yang ambruk terpeleset beberapa kali tidak ia perdulikan. Segera bangun berlari memasuki lorong rumah sakit, menuju kamar pesakitan kekasihnya. Beberapa perawat oleng hampir terjatuh, karena sebagian tubuhnya tertabrak bahu Anyelir tanpa sadar.
Didepan ruang rawat Arjuna, gadis itu segera membuka pintu, namun sekali lagi langkahnya terhenti. Ia menutup mulutnya melihat sang kekasih terbaring memejamkan mata, dengan tubuh dipenuhi oleh alat alat medis penunjang hidupnya. Hanya suara dari EKG yang terdengar di ruangan itu. Melihat kedatangan Anyelir yang tegesa gesa, mamanya segera menyusul Anyelir masuk ke dalam, begitu juga dengan kedua orang tua Arjuna yang tengah dilanda kesedihan yang sama dengan Anyelir atau mungkin kesedihan yang mereka rasakan lebih besar.
Menyaksikan orang yang mereka sayangi dalam keadaan mengenaskan sudah pasti membuat hatinya berkedut nyeri, nafasnya sesak dan detak jantungnya berpacu lebih lambat. Berharap semua akan baik baik saja, berharap ada keajaiban datang dari Tuhan memastikan orang itu sehat seperti sedia kala.
Anyelir menutup mulutnya guna menahan isak tangis agar tidak terdengar oleh sang kekasih. Menggelengkan kepalanya berkali kali, ia tidak percaya semua begitu cepat. Gadis itu berusaha tegar demi sang pujaan hatinya. Meski kabut matanya berjatuhan ia tetap melangkah maju, ke sisi ranjang sang kekasih. Kemudian menggenggam tangan kekasihnya, mencium pipi dan pelipisnya yang lebam berkali kali. Lebam yang sama seperti yang Anyelir lihat dipuncak gunung semalam.
"Arjuna, aku datang sayang!"
"Buka matamu, bukankah kamu akan bilang memberiku kejutan hari ini?" Anyelir akhirnya tidak kuasa menahan air matanya tumpah.
"Bukankah kamu berjanji tidak ingin membuatku merasa takut?"
"Tapi kenapa hari ini kamu membuatku ketakutan seperti ini?"
"Ku mohon bangun Arjuna, buka matamu sayang."
Ia memeluk tubuh kekasihnya, meski tak mendapat balasan. Suara sesenggukan dari tangisnya yang memilukan membuat semua orang yang berada disitu mengalihkan pandangannya. Dan mengulurkan tangan untuk memeluk Anyelir. Bukan untuk menenangkan, melainkan sebuah pelukan untuk saling menguatkan. Karena mereka sama sama merasakan kesedihan yang luar biasa sekarang.
Seperti sebuah keajaiban, suara Anyelir seolah mampu menjadi obat untuk menyadarkan Arjuna. Detak jantung lelaki itu terdengar lebih cepat dari mesin EKG, mendekati normal. Lalu,
"A anye liiir, ma ma afkan a aku, ssa yaang!"
Dengan mata tertutup Arjuna, menggumankan nama gadis itu.
Namun sesaat kemudian, layar EKG kembali menunjukkan detak jantung Arjuna melambat. Dan semakin lama semakin melambat hampir tak terdengar.
"Tidak, tidak, tidak."
"Jangan, jangan sayang, jangan pergi, kamu harus kuat sayang." Anyelir menahan airmatanya, membisikkan kata magic itu berulang kali ditelinga kekasihnya.
Teeeeeet,,
Tapi takdir berkata lain, Arjuna menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan sang kekasih. Tangis Anyelir pun pecah, ia menjerit sekuat tenaga memanggil nama kekasihnya. Berharap sang kekasih kembali saat mendengar panggilannya.
Namun Tuhan berkata lain, Arjuna benar benar pergi meninggalkan mereka semua. Bersamaan dengan dokter melepas semua peralatannya, Anyelir ambruk. Pingsan tak sadarkan diri.
Arjuna benar benar memberi kejutan yang luar biasa untuk Anyelir. Arjuna pergi untuk selama lamanya, sebelum lelaki itu sempat melamar kekasihnya.
Nasib tragis menghujamnya pada hari bahagia, ketika ia pulang membeli perhiasan untuk melamar wanita pujaan hatinya. Sebuah truk trontron bermuatan berat kehilangan kendali dijalan menanjak. Remnya blong, sehingga truk itu berjalan mundur tanpa bisa sang supir tahan. Dan kejadian pun tak terelakkan. Arjuna yang berada seratus meter dibelakang truk pun, tertubruk bagian belakang truk. Kepalanya terbentur salah satu muatan yang terlepas dari bak truk.
Kini, didepan pusara gundukan tanah merah bertabur bunga tempat peristirahatan terakhir Arjuna, Anyelir menggenggam erat kotak perhiasan yang Arjuna belikan untuknya. Kotak perhiasan yang menghiasi hari terakhir sebelum Arjuna menghadap sang kuasa.
Dengan derai air mata, Anyelir menyirami tanah makam kekasihnya. Melafalkan doa doa dengan ketulusan. Anyelir mencoba iklas melepaskan sang kekasih menuju kehidupan kekalnya. Berharap bisa bertemu dikehidupan mendatang.
Selamat jalan Arjunaku,
Aku akan selalu mengenangmu.
Selamat beristirahat kekasihku,
Hari ini aku mengantarkan dirimu menuju peristirahatan terakhirmu.
Tidurlah dengan damai disisi sang penciptamu, Aku akan selalu mengenangmu.
Pergilah dengan tenang sayang,
Aku akan selalu mengingatmu dalam relung jiwaku.
Arjuna,
Namamu akan selalu melegenda dalam ruang hatiku. Seperti tokoh wayang, ceritamu dalam hidupku tak akan pernah berkurang sedikitpun.
Arjunaku akan terus hidup dalam pikiranku.
Terima kasih sudah memberikan kisah cinta yang begitu indah dalam hidupku.
Terima kasih,
Sudah sudah mengajarkan aku akan arti kekuatan, kasih sayang yang sesungguhnya.
Selamat jalan pangeran hatiku.
Wajahmu akan selalu terpatri dalam kalbuku.
Selamat jalan sayang,
Aku mencintaimu, Arjunaku!
The end.