Tengah malam dibalut rintik hujan kecil membuat Boy lelaki muda itu tidur dengan pulas.Setelah satu harian ini menemani pacar tercintanya mengurus keperluan untuk magang kerja diluar kota.
Hanphonenya berdering membangunkannya dari mimpi indah.Dia bangun dan memperhatikan layar di handphone yang membuatnya berpikir keras serta betapa kagetnya ketika tau nama yang terlihat oleh mata.Nama yang dulu telah membuatnya mengerti tentang cinta, kini datang kembali setelah ia lupakan.
"Boy... Apa ini kamu,ini aku ivi.Tolong aku Boy, aku perlu kamu. Aku sendirian di simpang kota." Ucapnya dengan suara bersedih.
"Haa?" Kenapa, apa yang terjadi padamu. Akh sialan! Tunggu, aku kesana sekarang. "Jawab Boy dengan perasaan bingung dan khawatir.
Wajar saja ia bingung dengan seorang wanita menelpon tengah malam hujan begini.Yang ada dipikirannya saat ini, ia takut kalau Ivi telah dipermainkan lelaki lalu ditinggal ditengah jalan.
Dalam keadaan setengah basah Ivi berdiri disudut gang kota itu dengan mengenakan rok mini yang membuatnya seperti wanita panggilan pinggir jalan. Boy langsung mendatanginya dan membawanya pergi dari tempat itu. Dijalan, Ivi memeluk erat Boy sambil meneteskan air mata.
Mereka berhenti disalah satu cafe tongkrongan yang biasa Boy datangi.Disitu Boy hanya diam, lalu Ivi menceritakan bagaimana sampai ia menelponnya kembali setelah sekian lama menghilang.Ivi saat itu mendatangi kekasihnya yang ternyata berbisnis benda terlarang.Ketika ia mulai menasehati pacarnya,ia ribut dan ditinggalkan ditempat itu.Sambil meneteskan air mata Ivi memegang erat tangan Boy lalu menyenderkan kepalanya dipundak kiri lelaki itu.
"Boy... Boleh aku menginap dirumahmu malam ini?" Tanya Ivi yang membuat Boy kaget.
"Aku tau kalau kamu tak ingin pulang kerumah malam ini. Tapi aku juga takut disangka tetangga bawa perempuan untuk macam-macam. Aku sewakan hotel agar kamu bisa tenang tidur malam ini." Jawab Boy setelah ia terdiam lama.
Malam ini saat mengantarkan Ivi kehotel terdekat, matanya melihat Ivi berpakaian sexi membuat pikirannya sedikit terguncang.Sempat terbesit dikepalanya ingin menidurinya, tapi ia tahan mengingat ia telah memiliki kekasih.
"Jaga dirimu, Hubungi aku kalau terjadi hal buruk lagi."
"Iya Boy, makasi." Jawabnya lalu mendekat untuk memeluk Boy sebelum masuk ke hotel itu.
Beberapa hari berlalu setelah Boy menjumpai Ivi. Perempuan itu semakin mengganggu pikirannya saat ia mengantarkan Nia kekasihnya saat ini ke terminal bus.
"Aku pergi ya Boy.Selama aku tak disini jangan berbuat macam-macam apalagi selingkuh.Kalau ketahuan, tamat riwayat mu." Ucap Nia tengah bersiap naik ke bus.
"Iya tenang aja, enggak bakalan nakal kok aku. Janji." Jawabnya tersenyum lalu mencium kening kekasihnya itu.
Semakin menjadi malam ini pikirannya tentang Ivi.Bukannya malah menanyakan kabar pacarnya yang jauh malah ia menunggu kabar dari Ivi. Benar saja, yang ditunggu kini menelpon Boy.
"Malam Boy, kamu lagi apa?"
"Hai Vi, malam juga. Aku lagi dirumah aja nyantai kebetulan orangtuaku pergi keluar kota."
"Aku main kesana ya malam ini, boleh kan?"
Boy diam sesaat dan langsung bangun dari tempat tidurnya.Ia sangat senang namun bingung bagaimana caranya mambawa Ivi tanpa kelihatan tetangga. Akhirnya ia memberanikan diri membawa mobil yang terparkir di garasi milik ayahnya.
Keluarlah Ivi dari mobil setelah ia menutup pintu garasi agar tak kelihatan oleh tetangga.Boy membawa Ivi ke ruangan yang ia sulap jadi tempat karaoke pribadi. Ditempat itu Ivi bercerita panjang lebar dan juga rindu padanya hingga maksud kedatangannya kemari ingin meminjam uang pada Boy untuk membayar hutang pada mantan kekasihnya.
"Bagaimanakah kamu akan membayarnya nanti dengan nominal yang tak sdikit ini." Tanya Boy.
"Terserah kamu Boy, aku rela mau kamu apakan asal tak membunuhku."
"Kau yakin dengan apa yang kamu katakan?"
"Kalau dengan kamu aku yakin."
Awalnya Boy tak berniat menjamah tubuh Ivi, tapi malam itu karena tingkah Ivi yang juga memancing setan dalam tubuh Boy, akhirnya mereka melakukan hal indah didalam ruangan itu.
Pagi hari Boy bangun lalu memandangi dengan bertanya kepada dirinya sendiri mengapa perempuan itu tidur disebelahnya dengan tubuh hanya dibalut selimut.Seketika itu juga handphonenya berdering dengan nama Nia dilayar yang terlihat.
"Halo sayang.Kamu dimana? Enggak sama perempuan lain kan?"
"DUUAARRR!"
Pertanyaan itu seakan boom bagi Boy.Tapi ia menjaga dan berbicara santai agar tak ketahuan.
"Enggak kok sayang.Aku terbangun karena kau menelpon.Ini aku lagi dirumah kok."
" Oh baguslah.Mandi gih sana terus aku mau bilang minggu depan jemput aku yah di terminal. "
"Ok sayang. Jangan lupa oleh-oleh untukku."
"Iya deh. I love you Boy."
"Love you too."
Setelah percakapan dengan Nia,Boy sadar atas kesalahan yang ia perbuat. Namun ia tak bisa membohongi perasaan senangnya saat bertemu Ivi.Ia membangunkan Ivi lalu mengajaknya sarapan.Usai sarapan Boy mengajak Ivi duduk diruang tamu untuk membicarakan hal yang ada dikepalanya.
"Vi..."
"Iya Boy. Kenapa?" Jawab Ivi tersenyum sambil memegang wajah Boy dengan tangan kanannya.
Boy menjauhkan tangan perempuan itu secara perlahan dari wajahnya.
"Kenapa sekarang Vi?"
"Kenapa, apa boy? Aku enggak mengerti apa maksud mu."
"Kenapa kau datang saat aku bersamanya!" Ucap Boy serius.
"Boy... Apa kamu tau kesulitan yang kuhadapi juga dengan keluargaku yang sebenarnya?"
"Apa yang kamu maksud Vi?"
Boy mulai merendah dan menahan emosinya karena ketidaktahuannya yang membuatnya bingung juga penasaran.
"Aku ini sebenernya anak diluar nikah Boy, yang tak pernah dianggap ada dan hanya dimanfaatkan untuk menghidupi kebutuhan keluarga kami juga mengharuskan menyekolahkan adik tiriku."
Jantung Boy mulai berdegup kencang dan hatinya terasa sesak saat mendengar ucapan Ivi barusan.Kemana sebenarnya arah pembicaraan ini pikirnya.
"Saat aku tau daru mulut ibuku aku ini siapa, rasanya hatiku hancur. Sakit Boy, rasanya aku mau mati. Sampai aku mencoba bunuh diri dengan meminum cairan keras pembersih toilet. Sialnya aku masih hidup. Kenapa aku masih hidup?"
"Tapi aku sadar atas apa yg kulakukan,aku masi diberi kesempatan.Mau tak mau aku harus mencari uang apapun caranya walau dengan menjual tubuhku pada setiap laki-laki yang kupacari.Itulah kenapa aku meninggalkanmu Boy."
"Yang lebih membuatku sakit adalah adik tiriku mulai bertanya tentang ayahnya yang hanya ia jumpai saat iya masi kecil.Bagaimana aku harus menjelaskannya Boy? Bagaimana!"
Tumpahlah seluruh air mata yang ia tahan selama ini dengan sejadi-jadinya. Tak ada satupun orang yang pernah ia ceritakan tentang hal ini, hanya Boy lah yang ia percaya mampu menerima kepedihan hatinya.
Boy mulai mendekat dan memeluk Ivi sambil menahan air matanya yang ia tahan dari tadi.
Boy melepaskan pelukan tubuhnya dari Ivi dan mulai duduk tetunduk sambil berpikir kenapa harus begini yang ia dengar.
"Tapi kenapa orang itu harus aku Vi.?" Boy bertanya dengan lembut.
"Kamu Boy. Hanya kamu orang baik yang aku tau."
"Berarti saat itu kau berpura-pura mencintai ku dan memanfaatkanku karena aku terlalu baik!"
Saat itu ia sangat mencintai Boy karena kebaikannya.Ia terpaksa meninggalkan Boy karena kesalahannya terjun kedunia malam akibat tuntutan ekonomi.Sampai ia pernah mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih toilet. Ia tak mau membuat Boy malu mempunyai kekasih yang bekerja didunia malam.
Setelah menjelaskan semua tentang hal masa lalu yang membuat Boy bertanya sampai sekarang. Ivi tak mampu berkata apa-apa lagi. Boy memeluk Ivi lagi dengan erat. Lalu mencium bibir Ivi dengan lembut.Ini telah terjadi dan masa lalu tak bisa diperbaiki sekarang dengan keadaan Boy yang telah memiliki kekasih baru.
Hati kecilnya masi mencintai Ivi, tapi ia tak mungkin meninggalkan kekasihnya sekarang. Apapun yang terjadi dengan Ivi yang ia lakukan belakangan ini, ia harus lupakan. Begitu pula Ivi yang juga paham kondisi sekarang.Boy memberinya sejumlah uang yang melebihi permintaan Ivi dengan maksud bisa membantunya untuk keperluan lain.
"Pulanglah. Maafkan aku. Aku akan antar kamu kerumah orang tuamu. Lupakan yang telah kau lakukan denganku dan jangan hubungi aku lagi.
"Iya Boy. Makasih ya udah menolongku.Kamu tetaplah jadi orang baik dan jangan kecewakan kekasihmu yang sekarang seperti yang aku lakukan padamu dulu."
Boy mengantarkan Ivi ke rumah orang tuanya dengan mobil hitam itu.Sebelum turun dari mobil Ivi sempat mengecup bibi Boy lalu turun dengan tersenyum memandanginya.
"Boy. Andai saja aku datang lebih cepat dari ini. Mungkin saja aku bisa kembali padamu."
"Aku masih mencintaimu Boy."Gumam Ivi dalam hati.
Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu dan Boy yang tak ingin mendengar nama perempuan yang ada dimasa lalunya,kini terdengar namun dalam berita baik.
Ia mendegar kabar dari teman-teman lamanya bahwa Ivi telah menikah dengan lelaki yang memiliki penghasilan jauh lebih baik dari Boy. Syukurlah pikirnya, perempuan itu telah bahagia dengan yang lain.
"Sayang... Ayo foto sini!" Teriak Nia pada Boy yang berdiri melihatnya bergandengan dengan orang tuanya dihari wisuda itu.
"Kemari Boy kita foto sekeluarga." Sambung ayahnya nia yang membuat Boy tersenyum.
Dihari bahagianya Nia, Boy juga merasa bahagia mendegar kabar tentang Ivi.Kini ia hanya harus fokus menjalani kehidupan dengan kekasihnya saat ini. Apapun bisa terjadi tentang masa lalu yang datang mengejutkan secara tiba-tiba menghampiri untuk menggoyangkan iman.
TAMAT
Bahagia datang disaat kita hampir menyerah
Ujian juga menghampiri dikala senyum
Begitu juga cinta mendekat ketika perih menyelimuti jiwa
Tak lupa masa lalu ikut andil sebagai penentu teguhnya pendirian rasa