Ron memutuskan untuk segera membawa adik-adiknya pergi dari desa tersebut.
Namun sepertinya kemalangan masih setia membersamai mereka.
Ban mobil yang mereka kendarai secara tiba-tiba mengalami masalah. Sehingga Ron harus menepikan mobil itu.
Ron keluar untuk memeriksa keadaan mobilnya.
"Kenapa mobilnya kak?" tanya Edmund yang mengikuti kakaknya keluar dari mobil.
"Ini, ban mobilnya kayaknya bocor" ujar Ron.
"Jadi ini gimana kak? Perjalanan kita juga masih jauh" tanya Emilia seraya keluar dari mobil.
Ron berusaha berpikir keras agar dia dan adik-adiknya dapat kembali kerumah dengan selamat.
Ia mengecek ponselnya. Ternyata jagankan jaringan internet, sinyal saja tidak ada di sana.
"Kita cari penginapan atau rumah warga aja dulu. Izin buat nginep semalam" putusnya.
Emilia kembali mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Daerah ini terlihat jauh dari pemukiman. Karena sejauh matanya menelusuri tak ditemukan rumah.
Namun Emilia langsung tersenyum ketika mendapati sebuah bangunan berdiri kokoh yang tak terlalu jauh dari tempat mereka.
"Kak, itu kayaknya sekolah dengan asrama deh" tunjuknya pada sebuah bangunan sekolah dengan bangunan tinggi dibelakangnya yang pada bagian rooftop terdapat pakaian yang sedang di jemur.
Perhatian ketiga kakak beradik itu tertuju pada arah yang di tunjuk Emilia.
"Semoga kita di bolehkan untuk menginap semalam di sana" ujar Edmund.
"Ya udah, kita coba saja dulu. Jika tidak bisa mendapatkan kamar, kalian tidak apa jika kita hanya di izinkan tidur di ruang kelas?"
"Tentu saja tak masalah" jawab kedua adiknya nyaris berbarengan.
Usai berjalan kaki sejauh 500m mereka tiba di depan gerbang sekolah tersebut.
Sebuah kegiatan yang menurut mereka aneh tengah dilakukan oleh para siswa di sana.
Masing-masing mereka menggali tanah untuk menguburkan sesuatu yang dibungkus dengan plastik hitam di depan mereka.
Beberapa ekspresi mereka terlihat kaku, tanpa ada raut wajah kelelahan padahal mereka sudah menggali cukup dalam pada cuaca yang terik.
Emilia memberanikan diri menghampiri salah seorang yang memiliki raut wajah lebih bersahabat dari yang lainnya.
"Permisi" siswi itu tak bergeming.
"Permisi, Hello" Emilia berbicara dengan lebih keras dan melambaikan tangannya didepan wajah siswi itu. Namun siswi tersebut masih mengabaikanya.
Karena kesal Emilia menepuk pundak siswi itu dengan keras. Saat mata mereka bertemu Emilia memutuskan untuk bertanya.
"Permisi, boleh kami bertemu dengan kepala sekolah kalian?"
Siswi yang ditanya hanya menatapnya.
Hening sejenak sebelum akhirnya siswi tersebut membuka mulut.
"Tunggulah, sebentar lagi kepala sekolah pasti turun" ucapan dengan terus melakukan kegiatan menggali.
Usai mengucap terimakasih Emilia mengambil langkah mundur untuk kembali pada kakak dan adiknya.
"Sekolah ini aneh ya kak?" tanyanya.
"Iya, sangat aneh" jawab Ron.
Tiba-tiba siswi yang sebelumnya di tanyai Emilia memandangi Emilia dan berkata dengan pelan.
"Jangan menurunkan kewaspadaan."
Belum sempat Emilia mencerna perkataan siswi itu, bell sekolah telah berbunyi.
Dapat dilihat semua siswa telah berhasil mengubur kantong plastik hitam yang cukup mencurigakan.
Para siswa itu segera berbaris dengan rapi di lapangan sekolah.
Tak berapa lama kemudian muncul seorang pria yang sudah cukup berumur yang kemudian memerintahkan para siswa untuk kembali ke asrama masing-masing.
Setelah para siswa membubarkan diri, Ron menghampiri pria itu.
"Selamat Siang Pak, saya Ron dan ini adik-adik saya Emilia dan Edmund."
"Ahh iya, saya kepala sekolah disini. Ada apa ya nak?"
"Kami mengalami sedikit masalah pak, jadi kendaraan kami rusak dan kami tidak ada tempat untuk menginap."
"Kalau bapak mengizinkan, bolehkan kami menginap di sini satu malam pak?"
Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai kepala sekolah terlihat menimbang keputusan yang akan dibuatnya.
Matanya mengarah pada Edmund, yang memiliki mata biru yang indah.
"Baiklah. Tapi kalian hanya diizinkan menginap di ruang kelas saja" putusnya
Ron yang mendengar tawaran itu bernafas lega. Setidaknya malam ini dia dan adik-adiknya memiliki tempat bermalam.
"Silahkan pakai kelas yang diujung sana. Kalau kamar mandi kalian bisa menggunakan kamar mandi umum di sebelahnya" menunjuk ruangan yang paling ujung dan dekat dengan pepohonan bambu kuning yang rimbun.
"Terimakasih banyak pak" ucap Ron.
"Ya, saya permisi karena harus memeriksa keadaan di asrama."
"Baik Pak, sekali lagi terimakasih banyak pak."
Setelah melihat kepala sekolah itu cukup jauh dari mereka, Emilia angkat bicara.
"Kak, kakak ngga liat gimana bapak itu ngelihat Ed?"
"Kakak tahu. Emi, kamu harus ekstra hati-hati dalam menjaga Edmund."
Mereka pergi menuju ruang kelas yang ditunjuk kepala sekolah tadi.
_*_*_*_*_
Krik... Krikk.. Krikk...
Suara hewan malam terdengar nyaring di telinga mereka.
Ron, Emilia dan Edmund masih terjaga meski sudah larut.
Tap tap tap
Suara langkah kaki mengagetkan mereka. Emilia mengecek dari jendela.
Ia kembali melihat apa yang ia lihat saat siang tadi. Para siswa membawa cangkul dan plastik hitam. Mulai mengambil jarak dan mencangkul.
Emilia mulai menghitung dan mengingat wajah-wajah yang tadi dia temui saat siang.
Ia tak menemukan wajah siswi yang siang tadi berbicara padanya.
"Kurang satu siswa kak" ujarnya pada Ron.
Saat mereka sedang serius memperhatikan, tiba-tiba seseorang yang keluar dari sebuah ruang tak terduga muncul di samping Edmund dan langsung membawanya masuk kedalam ruangan itu dan mengunci pintu.
Ron yang menyadari berusaha mengejar adiknya namun gagal. Pintu itu tertutup rapat tanpa celah sedikitpun.
Emilia terduduk lemas, menyesal karena menurunkan kewaspadaannya. Saat dia mengangkat wajahnya, di belakang sang kakak berdiri sebuah bayangan wanita.
Ia menarik tangan kakaknya.
Sosok siswi yang berbicara pada Emilia siang tadi semakin jelas dilihat dengan pencahayaan lentera.
Ia terduduk di lantai.
Siswi itu memandang pada Ron.
"Adik kalian. Dia akan menjadi percobaan selanjutnya."
"Percobaan? Apa maksudnya itu?" Emilia angkat bicara.
"Organ tubuh. Mata. Iya mata. Mata adik kalian berwarna biru. Kalian harus pergi dari sini. Jika tidak kalian bisa menjadi percobaan selanjutnya." Ujarnya melihat kedua orang didepannya memang berwarna biru meski tak seindah sang adik.
Emilia membisu. Ron yang terlebih dahulu dapat membaca situasi langsung bertanya.
"Apa kepala sekolah tadi siang yang melakukannya?"
Siswi yang masih terduduk dengan wajah tertunduk mengangkat wajahnya dan menganggukkan kepalanya.
"Iya. Pak kepala sekolah tidak bisa kehilangan putri berharganya."
"Ia membuat eksperimen untuk mempertahankan tubuh anaknya. Ia juga menggunakan organ, kulit dan rambut beberapa siswa untuk membuat putrinya terlihat seperti hidup."
"Semua siswa disini telah dicuci otak olahnya."
"Jadi mereka akan selalu menuruti perintahnya."
"Namun sepertinya efek pencuci otakku menghilangkan saat kau memukulku" Jelasnya panjang lebar.
Ia melirik pada Emilia.
"Jika kalian ingin menyelamatkan adik kalian. Aku akan membantu. Anggap ini ucapan terimakasihku."
Ron yang sedari tadi juga memperhatikan percakapan adiknya dibuat kaget dengan notifikasi dari pesan orang tuanya.
Karena ia tak memiliki banyak waktu, ia tidak membaca pesan itu.
Ron menghubungi polisi dan membagikan lokasinya berada saat ini melalui pesan singkat selagi sinyal masih ada.
"Kita harus segera bergerak. Jika tidak, Ed akan dalam bahaya." Ujarnya usai mengirim pesan singkat meminta pertolongan.
"Iya, anda benar. Ikuti saya." Pinta siswi tersebut.
Mereka berjalan menelusuri hutan bambu yang rimbun.
Setelah berjalan cukup jauh mereka menemu sebuah rumah yang mewah namun terlihat tak terus.
Mereka masuk dengan perlahan melalui pintu belakang, mengecek ke setiap tempat dengan berhati-hati. Karena siswi tersebut juga tidak tau dimana Edmund disekap saat ini. Bau bangkai tercium di segala penjuru rumah.
Saat mereka hendak memasuki kamar dengan pintu dan berwarna merah muda, bau bangkai tercium semakin menyengat.
Ceklek.
Ron membuka pintu itu. Ia mendapati dua meja operasi di sana.
Ia melihat Edmund yang terikat disalah satu meja.
Sedangkan disebelahnya tergeletak seorang anak perempuan seusia Edmund dengan bekas jahitan di sekujur tubuh dengan kulit yang terlihat diambil acak untuk disatukan padanya.
Dengan susah payah Ron dan Emilia berhasil melepaskan ikatan Edmund.
Tap tap tap...
Terdengar suara langkah kaki yang mengarah ke kamar itu.
"Cepat. Kalian harus bergegas." Ujar siswi yang berjaga di depan pintu.
Ron segera menggendong adiknya dan berusaha melarikan diri melalui jendela.
Saat Ron berhasil keluar, tangan Emilia di tarik dengan kepala sekolah sehingga ia terduduk.
Tangan kepala sekolah berlumuran darah dengan sebuah pisau bedah yang tergenggam erat disana.
Siswi itu mendorong kepala sekolah dan membukakan jendela agar Emilia bisa leluasa keluar melalui jendela. Ia juga menyerahkan plastik hitam ditangannya.
Jleb. Pisau bedah menancap di pinggang siswi itu. Pisau itu ditarik kemudian ditusukkan lagi pada siswi itu
"Pergi." Ucapnya lirih pada Emilia
Emilia berlari sekuat tenaga dengan berurai air mata.
Karena dirinya, seseorang telah merenggang nyawa.
Ron melihat keadaan adiknya, ia meraih tangan Emilia dan memeluknya erat agar Emilia bisa sedikit tenang.
Edmund mulai sadar, dan mendapati kedua kakaknya menangis. Meski tidak tahu apa yang terlah terjadi ia ikut merangkul mereka.
Ron dan Emilia yang menyadari tangan kecil sedang memeluk mereka segera tersadar. Dan beralih memelukmu Ron dengan erat.
Srek srek srek...
Sebuah siluet hitam dengan golok di tangannya tengah berjalan menyusuri hutan bambu dalam kegelapan.
Ron membekap mulut kedua adiknya agar mereka tak mengeluarkan suara dan masuk kedalam semak untuk menyembunyikan diri.
Saat siluet itu semakin mendekat dan menghadirkan sosok pria gila yang tidak ingin ditemui kakak beradik itu. Ia berjalan sambil bergumam.
"Mata biru. Mata anakku. Sangat cantik. Kembalikan padanya."
"Hmm, dimana anak mata biru."
"Kem...ba..likan padaku."
Setelah pria itu berlalu mereka berlari menuju bangunan gudang yang dekat dari sana.
Tujuannya untuk menyembunyikan diri. Namun siapa sangka pria gila itu telah berada di sana.
Saat mereka masuk, ia juga ikut masuk mengunci pintu dan membuang kuncinya.
"Mata biru.." Ujarnya.
Ron dan Emilia yang mendengar menjadi takut. Kini mereka berada di lantai dua, lalu bagaimana mereka bisa melarikan diri.
Edmund memandang sekitar dan mendapatkan sejerigen minyak tanah. Ia menuangkan minyak itu ke seluruh sudut lantai dua.
Ron dan Emilia yang melihat adik kecilnya yang tenang merasa heran. Namun mereka tak terlalu memikirkannya dan ikut membantu Edmund.
Emilia juga menemukan korek api di gudang itu.
Saat pria itu naik ke lantai dua gudang, Ron berusaha turun dengan sebuah selendang yang ada di sana. Emilia meminta Edmund lompat, karena Ron sudah ada di bawah untuk menangkap mereka.
Pria gila itu semakin mendekat
"Turunlah dulu Ed." Ujarnya, namun Edmund tak bergeming.
"Ed, lompat sekarang" Perintahnya.
"Tidak!!" Bentaknya keras. Ia mengambil korek api dari tangan Emilia dan mendorong Emilia.
Emilia yang terkejut tak dapat merespon dengan benar, dan dengan mudah Edmund mendorongnya jatuh. Ron dengan sigap menangkapnya.
Edmund sedikit melihat kebawah dan tersenyum pada kedua kakaknya.
"Aku menyayangi kalian." tersenyum lembut. Ia menghidupkan api dan melempar pada minyak tanah yang sudah di sebar.
Boom. Suara ledakan terdengar. Dari bawah Ron dan Emilia dapat mendengar teriakan dari seorang pria dewasa yang tak lain adalah kepala sekolah. Sedangkan Edmund tak terdengar suaranya sama sekali.
Emilia menagis di pelukis Ron. Ron juga tak mampu membendung air matanya.
Suara ledakan mengangetkan para siswa dilapangan. Pengaruh hipnotis mereka tiba-tiba menghilang.
_*_*_*_*_
Mentari mulai terbit.
"Ron."
Sebuah tangan hangat menyentuh bahu Ron dan keriuhan suara sirine juga mengusik tidurnya. Dengan susah payah Ron membuka matanya dan mendapati wajah kedua orang tuanya.
"Mama, papa." Ujarnya. Emilia juga tertidur dengan masih tersedu dalam pelukkannya.
"Kamun hebat sayang." Papanya mendekat dan memeluk Ron.
"Terimakasih telah melindungi Emili." Ujar sang mama.
"Tapi Ed." Matanya kembali berkaca-kaca.
"Ed?"
"Iya, Ed tidak selamat pa."
"Sayang, Ed sudah meninggal setahun yang lalu dan kemana saja kamu sebulan ini? kalian selamat membuat mama khawatir" Ujar mamanya.
"Ed meninggal setahun yang lalu?" sebuah ingatan muncul saat Edmund menghembus nafas terakhirnya dirumah sakit karena kanker yang dideritanya.
Ron kembali menatap kedua orangtuanya.
"Sebulan?" tanyanya. Ia merasa heran, sebab belum genap seminggu dia keluar dari rumah bersama Emilia dan Edmund?.
"Iya, kamu menghilang sebulan dan juga tak mengikuti pesta perayaan kelahiran putra saudara kita. Mama dan papa udah bingung nyari kalian kemana-mana." Ujarnya