Pernikahan, sesuatu yang paling dinantikan. Memiliki pasangan yang saling mencintai dan keluarga yang saling mendukung. Sama halnya dengan gadis yang satu ini, namanya Yejin seorang wanita karismatik yang memiliki wajah putih serta garis wajah yang tegas. Yejin di ketahui akan bertunangan dengan salah satu pria pilihan keluarganya.
Yejin yang belum memiliki rasa pada calon suaminya itu sering kali menghindar ajakan-ajakan dari kedua orang tuanya untuk mengenal dekat dengan pria tersebut. Walau dengan berat hati, Yejin tetap harus menerima ajakan tersebut. Setelah berjumpa dan berkenalan, Yejin menatap pria calon suaminya itu dengan sedikit memuji. Bagaimana tidak? Penampilannya sangat memesona serta wajah tampan yang dimiliki oleh pria tersebut membuat Yejin mengaguminya.
Dia ramah, baik dan berpenampilan baik. Namun walaupun begitu, Yejin masih belum bisa mengonfirmasikan dirinya bahwa dirinya sudah mencintai pria tersebut. Ia masih ragu dengan perasaannya, akankah hatinya benar-benar akan menerima pria tersebut ataukah malah sebaliknya.
Tak terasa ternyata hari ini adalah hari pertunangan mereka, semua tamu undangan berbahagia bersama tak lupa keluarga tuan rumahnya. Cincin telah terpasang di jari manis kedua pasangan tersebut. Yejin masih ragu akan perasaannya pada Hyunjin, calon suaminya. Ia memaki dirinya sendiri akan ketidakpastian nya dalam memutuskan sesuatu, setelah acara selesai ia dengan berani kabur dari rumah mertuanya itu. Masih terpasang cincin pertunangan di jari manisnya, ia tidak melepas atau bahkan membuangnya. Entah apakah dia masih ingin melanjutkan hubungannya itu ataukah tidak, belum ia pastikan sendiri.
Acara selesai dengan cepat, bahkan langit pun masih cerah dan bodohnya dia kabur di siang bolong hari itu. Di jalanan ia bertemu dengan kakak iparnya Mona, kakak perempuan hyunjin. Mona turun dari mobilnya lalu menyapa adik iparnya dengan sangat ramah, ia belum tahu jika ternyata hari itu Yejin sedang kabur setelah acara pertunangan selesai dan belum mengetahui permasalahan antara adiknya dengan adik iparnya tersebut.
Ia lalu dengan polosnya meminta bantuan pada yejin untuk pergi mengambil barang yang ketinggalan di rumah ibunya. Ia yang sudah berbeda rumah dengan sang ibu itu, berniat akan kembali pulang ke rumahnya yang lumayan jauh. Namun karena ia ketinggalan akan barangnya, ia kembali lagi dan malah bertemu dengan Yejin di jalan.
"O my baby, what are you doing here?" Tanya Mona sembari cipika-cipiki dengan Yejin. Dengan terbata-taba Yejin berusaha menjawab pertanyaan itu agar kakak iparnya tidak mengetahui permasalahan nya.
"O kakak, hanya sedang berjalan-jalan." Jawabnya yang di anggukan oleh Mona dengan cepat, kakaknya itu sedikit bodoh namun terkadang juga sedikit pintar.
"Benarkah, kenapa tidak bersama Hyunjin?"
"Dia kelelahan kakak."
"Mm begitu kah, kalau begitu boleh tidak kamu antar kakak kembali ke rumah karena tadi barang kakak ada yang ketinggalan di sana. Kamu sudah kan jalan-jalannya?"
Mau tak mau Yejin menganggukkan ucapan kakak iparnya tersebut, ia kembali bersama ke rumah mertuanya. Dan ia tahu ia akan bertemu lagi dengan Hyunjin, calon suaminya. Walau ibu dan bapak mertuanya tidak tahu permasalahannya tapi bagaimana bisa ia akan menghadapi Hyunjin yang tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Yap, permasalahan hubungan ini hanya di ketahui oleh kedua pasangan tersebut.
Sesampainya di rumah, ia lalu mulai masuk ke dalam dan di sambut hangat oleh semua orang yang ada di sana. Yejin yang mengira akan di acuhkan oleh Hyunjin ternyata tidak, ia malah di beri senyuman manis darinya dan bahkan mempersilahkan dirinya untuk duduk di kursi bak seorang putri yang sangat di sayang oleh pasangannya. Sedangkan semua orang yang ada di sana selain mereka berdua sedang asik mengobrol bersama dan bercanda bersama.
Hingga akhirnya lampu di rumah itu tiba-tiba saja menyala mati tak karuan. Meja dan barang-barang di rumah tiba-tiba bergetar seperti gempa bumi. Semua orang seketika panik dan ketakutan mereka mulai berteriak dan mencari cari anggota keluarga yang ada. Atap rumah mulai ambruk akibat kencangnya angin bagaikan topan besar menghantam mereka. Yejin ketakutan, pandangannya mulai tak karuan ke sana kemari sampai akhirnya sebuah tangan menggenggamnya dengan erat.
Hyunjin menatapnya dengan penuh sayang, tangannya menggenggam erat Yejin. Melihat itu tanpa pikir yang panjang Yejin memeluknya dengan erat, hyunjin membalasnya dengan hangat melindungi tubuh yejin dari hantaman puing-puing bangunan yang sudah runtuh akibat angin kencang tersebut. Air mata Yejin keluar, tak kuasa menerima kehangatan dari hyunjin yang selama ini ia anggap dirinya tidak akan pernah mencintai Hyunjin
Hyun, kenapa kamu selalu baik padaku? Kehangatan ini? Apa kamu benar-benar mencintai ku? Hyun, betapa baik dirimu padaku selama ini. Hyun, aku akan mencintaimu selamanya. Walau jika hari ini kita mati bersama aku tetap mencintaimu di kehidupan selanjutnya. Dimana pun dirimu berada, aku akan menemui mu di sana.
Hyunjin Saranghae.
Bummmmmm
Tiba-tiba Yejin berdiri di salah satu jalan pemakaman umum umat Kristiani, di sana ia kebingungan atas apa yang terjadi barusan.
Apakah itu mimpi? Tapi itu terasa nyata!!
Langkahnya menghampiri jejeran makam di sana, setiap nama di batu nisan ia baca dalam hatinya. Ia masih bingung dengan keadaannya sekarang ini, apa yang terjadi sebenarnya. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di salah satu batu nisan tanpa nama di pemakaman tersebut. Lama ia menatap batu nisan itu, sampai akhirnya ia mendapati penglihatan di dalam kuburan tersebut.
Bola matanya membuat seketika, setelah melihat dua insan di kuburkan bersama dalam keadaan memeluk satu sama lain. Yejin menegang setelah melihat wajahnya sama persis dengan mayat wanita yang sedang berpelukan tersebut. Hatinya merasa tertusuk dengan jutaan jarum padanya, dadanya sesak saking tak bisanya ia mengeluarkan air mata.
Kami, kami sudah mati....
Hyun....
Hyun, maaf.....
Aku belum mengatakan perasaanku padamu....
Hyun, maaf....
Tamat