hidup dari keluarga yang sederhana membuatku harus bekerja lebih keras agar aku bisa merubah nasibku,aku yang lulusan SMA memiliki mimpi menjadi orang kaya , bekerja dengan orang lain tidak akan membuatku cepat kaya karena aku hanya akan mendapatkan gaji yang sama di setiap bulannya,aku butuh sesuatu yang bisa mempercepat keinginanku untuk menjadi orang kaya.
Berdagang,aku memilih berjualan baju seperti kedua kakakku yang lain.yah,aku rianti Astuti saat ini usiaku 18tahun ,dan aku baru saja lulus dari SMU,memilih menjadi pedagang baju keliling,daripada harus menjadi buruh pabrik seperti teman-temanku yang lain.
Dengan giat aku menjajakan setiap helai baju baju yang kuambil dari seorang saudagar kaya di kampungku,aku belum memiliki modal untuk menjual baju-bajuku sendiri jadi aku mengambil baju dari saudagar kaya itu lalu menjualnya dan mendapatkan untung yang harus di bagi dua dengan saudagar kaya itu.hampir enam bulan berkat kegigihanku akhirnya aku memiliki cukup modal untuk membeli baju-bajuku sendiri , menjualnya dan keuntungannya bisa aku nikmati sendiri,darah pedagang aku warisi dari nenekku yang dulunya adalah seorang pedagang.
Dalam waktu kurang dari satu tahun aku berhasil mendirikan toko baju, orangtuaku menjodohkan aku dengan seorang laki-laki pendiam yang wajahnya sangat standar.aku terpaksa menerima nya karena dikampung wanita berumur 20tahun dikatakan sebagai perawan tua.dan aku karena sibuk berdagang sehingga kekasih pun aku tidak punya.akhirnya akupun menikah.
Setelah menikah aku masih tetap berjualan baju,sedangkan suamiku dia pemilik usaha orgen tunggal,dia akan menerima orderan jika ada orang yang membuatkan pesta pernikahan anaknya,suamiku dan juga teamnya akan tampil di panggung menghibur para tamu.
setahun menikah akhirnya aku hamil tapi kehamilanku hanya bertahan diusia dua bulan,aku keguguran dan kehilangan janinku.menurut dokter yang memeriksaku kandunganku lemah.aku yang tinggal di desa membuatku kurang begitu dekat dengan rumah sakit,jadi aku hanya akan pergi ke rumah sakit saat keadaan dirasa sudah sangat gawat.
suamiku adalah orang yang sangat pengertian,dia tidak pernah menuntut banyak dariku,misalnya dari segi masakan,dia akan memakan apa saja yang aku masak meskipun itu hanya sambal terasi dan juga daun singkong rebus yang aku petik di kebun belakang rumah.gaya hidupku sangat sederhana atau malah bisa dibilang pelit.aku selalu menabung semua hasil dari jualanku jarang sekali aku membeli barang-barang mewah seperti yang tetangga atau saudaraku punya padahal aku mampu untuk membelinya.begitupun dengan makanan,setiap hari aku makan dari hasil kebun dibelakang rumahku.makan daging ayam saja hanya pas hari raya idul Fitri/lebaran,begitu pelitnya aku bahkan aku tidak pernah memberikan jatah baju lebaran untuk keponakan ku.
tiga kali aku hamil tapi aku belum beruntung untuk memiliki seorang anak,dari ketiga kehamilanku aku selalu mengalami keguguran, sekarang usia pernikahanku sudah memasuki 8tahun pernikahan.
suamiku tidak pernah membahas tentang seorang anak,itu membuatku tidak mempermasalahkan kehamilanku yang selalu mengalami keguguran.
setiap kali aku hamil aku bukannya tidak mengonsumsi obat penguat kandungan,aku sudah melakukan itu namun kandunganku tetap tak dapat bertahan.paling lama hanya di usia 3 bulan.dan aku selalu keguguran
sehingga ibuku mulai berusaha membuatkanku ramuan-ramuan tradisional yang bisa menguatkan kandunganku.dan Alhamdulillah di usia pernikahanku yang ke sebelas akhirnya aku berhasil melahirkan seorang anak laki-laki,berkat ramuan tradisional dari ibuku aku bisa mempertahankan kandunganku sampai aku bisa melahirkan.namun sayang ketika anak ku lahir ibuku justru sudah tidak ada di dunia ini untuk melihat cucunya.tigabulan sebelum aku melahirkan ibuku meninggal.
meskipun aku sudah memiliki banyak tabungan,tapi gaya hidupku masih belum berubah,aku masih tetap makan hanya dari kebun belakang rumah,anakku juga jarang jajan ataupun beli mainan,dan suamiku dia bangkrut dan memilih membantuku berjualan baju.
seharusnya aku beruntung memiliki suami yang tidak banyak menuntut dan juga seorang anak yang tidak banyak permintaan.namun aku justru berlaku kurang sopan terhadap suamiku sendiri.
aku merasa dia menumpang hidup kepadaku karena usaha jualan baju itu adalah milikku,dan dia hanya membantuku.aku juga kurang peka terhadap keinginan anakku ,setiap hari selama aku berjualan aku selalu menitipkannya kepada seorang tukang asuh yang kupekerjakan dirumah.pulang jualan aku kelelahan dan akhirnya aku tidur . waktu untuk anakku sangatlah sedikit.
suamiku mendapatkan warisan dari orangtuanya,dia akhirnya mencoba bisnis baru di bidang pemasaran telor ayam, namun belum berhasil ,alhasil dia kembali lagi ikut aku berjualan baju, beberapa bulan kemudian dia mendirikan sebuah peternakan ayam potong,kali ini usahanya memiliki keuntungan yang cukup lumayan namun,hanya bertahan beberapa tahun saja sampai akhirnya peternakannya terpaksa tutup karena merebaknya virus yang membuat ayam mati mendadak.sehingga suamiku merugi dan terpaksa menjual peternakan ayamnya.
suamiku memang pantang menyerah,mungkin karena aku selalu menyepelekannya.sehingga dia selalu mencoba usaha baru.kali ini dia mencoba keberuntungannya di bidang pertanian,dan Alhamdulillah sukses,sekarang suamiku memiliki kebun melon,kebun buah naga, kebun jagung,dan juga sawah yang ditanami padi.dia juga memiliki toko obat-obatan pertanian pertama di desaku. semua petani akan membeli obat untuk tanamannya di toko suamiku.
suamiku memiliki tabungannya sendiri,sehingga semua tabunganku hampir tak pernah terusik.hingga anakku beranjak dewasa dan kini anakku sudah berada di kelas 3 SMP.dia masih tetap menjadi seorang anak yang tak banyak menuntut.meskipun tau bahwa kedua orangtuanya memiliki uang tapi dia tetap hidup sederhana.
akupun masih belum berhenti menimbun tabungan,aku hampir menghabiskan separuh waktuku untuk berjualan,aku bahkan tidak pernah membuatkan anakku makanan enak, ataupun kue padahal aku memiliki kemampuan untuk membuat beberapa macam kue kering dan juga bolu.aku terlalu sibuk dengan jualan bajuku,dan suamiku juga sibuk dengan toko obat pertaniannya dan juga kebun dan sawahnya,sehingga anak ku mulai mencari kasih sayang dari orang lain,dan orang yang saat itu dekat dengannya adalah Abang ku yang juga memiliki anak seusia dengan anakku.anakku hampir setiap hari datang kerumahnya ,dan dia akan makan dengan lahapnya dirumah abangku,padahal masakan mba ipar ku sangat sederhana,tapi karena dibuat dengan cinta dan kebiasaan mereka yang selalu makan bersama-sama,membuat anakku sangat menyukai setiap apapun yang dia masak.dia akan makan dengan sangat lahap.
anakku mulai mengenal teman-teman dari luar,bukan teman sekolahnya. anakku mempunyai hobi bermain skateboard dan itu membuat dia bergaul dengan teman yang usianya jauh diatasnya,tapi karena anakku berpostur tinggi sehingga orang mengira mereka seumuran.
karena anakku jarang meminta sesuatu jadi setiap kali dia menginginkan sesuatu aku selalu menurutinya,dia jadi sering pulang malam karena bermain skateboard di kota yang jaraknya sekitar 2 jam dari desaku.
anakku menjadi anak gaul yang memiliki banyak pengalaman berbeda dengan remaja umumnya yang hanya dikampung.anakku mulai terbiasa menyebrang ke Jakarta,kebetulan kami tinggal di daerah Lampung Selatan sehingga untuk sampai ke Jakarta kita hanya perlu menyeberangi lautan mengunakan kapal feri selama satu jam.
anakku mulai berani bepergian jauh seorang diri,seperti ke Bandung,ke Jawa,dan juga ke Bali. dia menjadi sosok yang tidak kuper dan tau jalan, yang mana bahkan aku sendiri saja belum pernah ketempat itu anakku justru sudah berkali-kali pergi ke sana dengan sepeda motor Scoopy yang dia minta. saat itu motor Scoopy masih baru keluar,dan aku membelikannya untuk anakku.
anakku memiliki darah seniman yang diturunkan oleh ayahku yaitu kakeknya yang seorang pelukis,dan pembuat patung taman.dia mulai mendapatkan job dari teman-teman suamiku yang memintanya untuk melukis dinding ,kolam renang atau lainnya.dia mendapatkan uang dari hasil kerja sampingan nya disela-sela aktifitas sekolahnya.semua uang hasil kerjanya dia tabung, dia punya keinginan untuk membeli motor tua yang kemudian akan dia modifikasi sesuai keinginannya,aku pernah menawarkan sejumlah uang kepadanya namun dia menolak,dia ingin membelinya dari uang hasil kerja kerasnya.
karena sering ada teman anakku yang datang kerumah ,akupun berniat merenovasi rumah ku agar anakku tidak merasa malu dengan keadaan rumahnya,
sebuah rumah yang lumayan berhasil aku buatkan untuk anakku agar jika teman-temannya datang dia tak perlu malu,aku juga melengkapi kamar anakku dengan AC,mirip seperti kamar orang-orang kaya pada umumnya.
dan aku masih tetap berjualan baju meskipun aku dan suamiku telah memiliki aset yang lumayan banyak dalam bentuk tanah,sawah dan kebun. yah,aku masih tergila-gila untuk mengumpulkan harta begitu juga kesibukan 6ang dimiliki suamiku membuat dia tidak memiliki kedekatan dengan anakku,anak semata wayangku.
anakku mulai masuk sekolah SMA,aku sudah menawarkan sekolah elite di kota untuk anakku tapi anakku menolak,dia justru memilih sekolah biasa yang baru didirikan di dekat rumahku.jaraknya tidak terlalu jauh.
hari itu anakku mengeluh sakit dadanya,setelah beberapa hari lalu terjatuh dari motor,tapi tidak ada luka yang serius hanya body motor saja yang mengalami kerusakan yang cukup lumayan,aku membawanya berobat ke dokter praktik di desaku,anakku mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh sang dokter.selain itu aku juga membawanya ke tukang urut berjaga-jaga siapa tau ada yang terkilir.
anakku bersikap biasa saja hanya sesekali mengeluh sakit,lalu meminum obat dan biasanya akan sembuh.aku pun tidak merasa panik dan memilih tetap berjualan baju,begitu juga suamiku yang semakin sibuk setelah dia membuka cabang toko obat di desa sebelah.
aku sudah melupakan sakit anakku karena anakku tidak pernah mengeluh lagi,hingga saat itu dia terlihat sangat pucat ketika aku hendak berangkat jualan.melihatnya sangat pucat aku memutuskan untuk tidak pergi jualan,aku membawa anakku kembali menemui dokter praktik ,sang dokter memeriksa dan memberikan resep.
tapi sampai obat itu habis,anakku tak kunjung membaik aku membawanya kembali tapi dokter menyarankan agar membawa anakku ke rumah sakit di kota, untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
aku memberi tahu suamiku mengenai saran dari dokter akhirnya suamiku membawa anakku berobat ke sebuah rumah sakit terbaik di kota,kami pergi mengunakan mobil yang baru beberapa bulan yang lalu kami beli dengan maksud jika nanti ada waktu luang kami aka pergi liburan bersama-sama seperti keinginan yang sering diutarakan oleh anakku.
kami mampu memberikan rumah sakit terbaik karena anakku terdaftar di sebuah asuransi ternama.jadi kami mendapatkan rumah sakit terbaik dengan rincian biaya yang akan ditanggung oleh pihak asuransi.
aku rasa baru kali itu aku pergi dengan jarak yang lumayan jauh dari desaku,menaiki lift saja itu adalah pengalaman pertamaku, anakku mendapatkan kamar terbaik dirumah sakit itu, dan pemeriksaan awal pun dimulai.aku sudah mulai cemas dengan keadaan anakku,membuatku tak henti-hentinya menangis.tapi anakku justru selalu berusaha menghiburku.dia mengatakan bahwa kamar rumah sakit itu jauh lebih baik dari kamarnya, begitupun dengan makanannya,dia malah mengatakan bahwa dia sangat betah berada disitu.
hasil dari pemeriksaan awal anakku terdapat virus di dalam paru paru anakku yang mewajibkannya menjalani beberapa kali terapi.
5hari dirumah sakit ,kondisi anakku sudah semakin membaik dia sudah bisa tertawa,bercerita,bahkan menggoda setiap kali ada orang yang datang menjenguknya.
aku merasa rejeki anakku itu banyak,terbukti beberapa hari di rumah sakit begitu banyak orang yang datang menjenguk dari membawa kue,buah,bahkan memberi uang jajan ke anakku.
karena kondisi anakku sudah membaik, akhirnya anakku diijinkan untuk pulang kerumah.disaat seperti itu,aku mulai melupakan jualanku,aku memilih menghabiskan waktu bersama anakku,aku benar-benar takut terjadi apa-apa dengan anakku ,aku mulai sadar ketika aku berada di rumah sakit menemaninya.
tiga hari dirawat di rumah anakku muntah darah,dan kembali drop,kami membawanya kembali kerumah sakit ,tapi melewati beberapa kali pemeriksaan dokter belum mengetahui dengan jelas penyakit anakku,karena alat dirumah sakit belum ada, meskipun itu adalah rumah sakit terbaik di kotaku, akhirnya aku atas saran dari sang dokter membawa anakku berobat ke Jakarta di sana ada alat yang bisa memeriksa dengan jelas penyakit anakku,dan betul saja apa yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi.anakku positif mengidap penyakit kanker paru-paru stadium akhir.bagaikan di sambar petir ,hancur rasanya jiwa ini ,dadaku tiba- sesak,melihat anakku yang dengan kondisi lemah beserta kabel-kabel yang menempel di tubuhnya,air mata ku seakan tertahan tak ingin terlihat lemah didepan anakku yang saat itu tengah berjuang melawan maut.samar-samar anakku berkata
"aku senang berada dirumah sakit,jadi bisa bersama ibu sama bapak " sesak sekali rasanya ya Allah mendengar kata-kata itu dari mulut anakku.aku menyadari bahwa selama ini aku selalu mengejar harta dan menelantarkan anakku, sehingga dia merasa kurang kasih sayang.
anakku bukanlah seorang perokok,tapi mungkin lingkungan tempat dia bermain bersama dengan para pencandu rokok.
anakku mulai menjalani kemoterapi,aku menguatkan anakku dan mengatakan bahwa setelah dia sembuh, jikalau dia ingin menikah dengan pacarnya aku rela,jika dia mau jalan-jalan ke Singapura pun aku ijinkan.apapun yang membuat dia senang aku akan ijinkan sekalipun dia mau berhenti sekolah pun aku tak mengapa.anakku mulai merasa kasihan kepadaku melihatku tak pernah tidur sedetikpun selama dua hari di Jakarta.
"ibu capek ya ngurusin aku dirumah sakit,maaf ya buk"
aku sama sekali tak pernah meneteskan air mataku di depan dia berusaha setegar mungkin
"enggak nak,mana mungkin ibu capek,ibuk seneng kok ngerawat kamu. "
dan saat anakku sudah tak terasa lagi telah pun di celana,aku membersihkannya dengan tanpa jijik sedikitpun.
"ibuk gak jijik ya ?" tanyanya saat aku sedang membersihkan kotorannya.
"enggak lah nak,lihat nih ibuk bahkan tidak pakai sarung tangan,ibuk sama sekali tidak merasa jijik,kamu kan anak ibuk ".
kulihat pandangan matanya seolah merasa bersalah,aku tau sebenarnya dia sudah bosan sekali dengan apa yang dilakukan oleh pihak rumah sakit,yang tiap sebentar mengambil darah, menyuntikkan obat.
beberapa jam kemudian seolah ada sebuah keajaiban,anakku tiba tiba segar bugar seolah tidak sedang sakit apapun.
"ibu harus kuat gak boleh nangis ya...janji " tiba-tiba dia memintaku berjanji.
"iya ibuk janji"
"bapak itu kok gak mau dekat sama aku ya buk,kayak aku ini bukan anaknya" dia sedikit merenggut,
"bapak itu sayang juga samamu ,tapi bapak sibuk "
"oiya buk sini aku kasih tau pola kunci handphone ku biar ibuk bisa buka hp ku,sama kata sandi Facebook ku siapa tau ibuk mau lihat-lihat "
"ibuk ini bodoh,susah buat ngapalin,ini kamu tulis di kertas ini aja nanti biar ibuk apalin".
aku menyodorkan selembar kertas,dan dia pun mulai menulis,tak lama setelah itu dia drop dan akhirnya suara mengerikan dari mesin kotak itu masih teringat olehku hingga saat ini,membuatku merasa sangat nyeri.... garis lurus di layar itu dan hiruk pikuk perawat dan dokter rumah sakit,aku melihatnya semua tanpa setetes pun air mata yang menetes di pipiku.
anakku meninggal,dokter menulis jam kematian anakku, aku melihat wajah anakku dia terlihat sangat tampan dan sedikit tersenyum.
kamu meminta ibuk untuk tidak menangis,ibu tidak akan menangis ,kamu memberitahu kunci pola ponselmu ternyata karena kamu akan pergi.
perawat mulai membersihkan tubuh anakku dan suamiku mulai mengurus berkas-berkas untuk kami bisa bawa pulang jenazah anakku,darai Jakarta ke rumah butuh waktu yang lama dan selama di perjalanan aku memeluk tubuh anakku yang sama sekali tidak kaku, meskipun sudah beberapa jam setelah dia meninggal.anakku sudah besar,dia sangat tampan,aku tak pernah berhenti mengelus pipinya,beberapa saudara yang ikut mengantar anakku ke Jakarta melihatku sambil menangis sesenggukan tetapi aku sama sekali tidak meneteskan air mata,entah karena aku sudah berjanji ataupun karena aku senang tidak lagi melihat anakku kesakitan setiap kali dokter menyuntikkan obat,dan memintanya melakukan kemoterapi. jam lima subuh kami sampai di rumah beberap sodara dan tetangga sudah menyiapkan tikar untuk anakku tidur dan menyelimutinya dengan kain batik,lalu membacakan surah Yasin, aku bicara di depan jasad anakku
"lihat nak ibuk sama sekali tidak menangis,ibuk sudah tepatin janji ibuk"
telingaku mendengar suara orang meraung-raung,tak kuasa menahan tangis.aku tidak tau itu siapa,
seketika aku merasa sangat bersalah,aku mendapatkan anak sangat sulit tapi aku tidak bisa menjaga titipan ilahi itu dengan baik sehingga Allah mengambilnya lagi dari hidupku.
sebuah pemandangan luar biasa terjadi saat prosesi pemakaman anakku,tamu yang entah darimana datangnya,tak henti-hentinya berdatangan.sehingga jalanan sampai penuh sesak dengan para pelayat,aku dan suamiku bukanlah orang penting di desa,tapi jumlah pelayat sangat bejibun.sanagat ramai.mungkin itulah kebaikan anakku ,banyak orang yang mengantarkanmu menuju ke pembaringan terakhir mu . aku ikhlas melepaskan kepergian anakku.
setelah kepergian anak semata wayangku, memberikan pukulan yang sangat kuat dalam kehidupanku,aku tidak lagi memikirkan tentang harta,bahkan semua tabunganku aku habiskan untuk pembangunan masjid,dan pondok pesantren, sekarang aku hanya ingin terus beribadah agar aku bisa berkumpul bersama anakku di surganya Allah, kehidupan yang kekal setelah dunia ini.