Setiap hari bertambah kerinduan ku padamu 🌟
"Hey Clarisa, udah sore ini. Kok belum pulang?" Sahut Ikhwan yang sedari tadi mengawasi ku...
Namanya Muhammad Fadil Akbar, aku biasa memanggilnya Fadil . Dia sahabatku yang paling bobrok didunia ini.
"Belum nih, kenapa?" tanyaku cuek..
"kok nanya kenapa sih, udah sore ini. Udah sana pulang! Baca novelnya nanti lagi" cerocos Fadil. "Iya iya, bawel lu!" Jawab ku ketus.
Dengan segera aku menuruti perintah nya karena kalau tidak, ia bisa marah nanti.
Aku dan Fadil telah bersahabat lama. Dia sangat baik dan humoris. Dia juga pintar dalam pelajaran bahasa Arab. Yang pasti, aku sangat kagum padanya. Setiap kali ada perlombaan bahasa Arab, pasti dia yang menjadi juara satu nya. Berbeda jauh dengan ku.
Aku sering menghabiskan waktu ku dengan nya. Curhat pun dengan nya. Tiada hari tanpa kehadirannya. Dia selalu mensupport diriku, kapanpun dan dimana pun. Mata sipit ketika dia tertawa membuat ku ingin mencubit kedua pipinya.
Seperti biasa, hari Minggu adalah hari aku dan Fadil nongkrong di sebuah kafe. Tujuannya untuk meng Istirahat kan fikiran agar lebih fresh karena banyaknya tugas tugas sekolah.
"Ekhem... Kamu masih suka sama Alwi ya?" Tanya nya membuat suasana menjadi hening sejenak.
"I... Iya hehe, e...emang ke...kenapa ya?" Suasana berubah drastis, ini bukan lah pertama kalinya kita nongkrong, tetapi aku merasa canggung di hari ini.
"Pasti enak nya jadi Alwi, di sukai oleh bidadari cantik nan lugu seperti mu".
"Apa sih maksudnya. Aku g ngerti" ucapku Datar.
"Alah, sok soan polos ya kau! Udah mulai pinter akting ya sekarang" goda Fadil.
'sabar clar, sabar.. Fadil emang suka gitu kok. Bercanda nya romantis banget. Ga bisa bedain antara bercanda dan gombalan' batinku.
'Hening selama beberapa menit..:)
"Kok diem? Marah ya? Jangan marah adikku yang manis" Ucap Fadil berusaha memecahkan keheningan suasana.
'hueeeek, jijik' batinku
"Adik? Bu... Bukannya kita seumuran ya?" Tanya ku.
"Sekarang kita emang seumuran. Tapi adik itu panggilan mu kalau kita udah nikah nanti. Ya gak ya gak? Ya iyalah masa kagak, hahaha. Impianku saat ini. " jawab Fadil dengan pedenya...
Krik.... Krik.... Hening kembali...
Aku masih belum mengerti apa yang barusan Fadil katakan. Entahlah, aku nya yang terlalu polos atau terlalu acuh terhadap perasaan Fadil kepada ku saat ini. Tidak bisa dijelaskan.
"Oh iya, nanti habis pelulusan kelas SMA, kamu mau lanjut sekolah ke mana?" Lanjut Fadil.
"Ya kuliah lah, kamu sendiri mau kemana?"
"Maaf ya clar, mungkin kuliah nanti kita gak akan bisa bersama lagi. Karena aku harus mengurus pondok pesantren milik Abi ku. Aku minta maaf sebesar-besarnya. Jadi ngerasa bersalah sama kamu. Keputusan ku emang salah, aku gak seharusnya ninggalin kamu". Selepas Fadil berkata demikian, Terlihat dari matanya yang mulai berkaca kaca. Aku langsung menenangkan nya dan mengatakan bahwa aku akan menerima keputusan nya itu dengan lapang dada.
Dia tersenyum puas dan langsung memberikan gelang persahabatan.
"kamu pakai gelang ini dan jangan pernah melupakan ku. Aku akan menemui mu suatu hari nanti. Dan aku juga akan memakai gelang ini sampai aku menemui mu." Ucap Fadil dengan nada bicara Tegas.
"Oke... Aku janji akan selalu memakai gelang ini. Aku akan selalu merindukan mu" apa tadi yang aku katakan? Ada apa dengan lidah ku ya Allah?!
"Ciyus nih? Tumben kamu ngomong gitu. Biasanya kan jutek banget" ejek Fadil sembari menaikan satu halis nya.
"Apaan sih? Emang aku ngomong apa tadi?" Aku pura pura tak tahu apa yang tadi aku katakan.
"Masa sih? Yo wis Aku juga akan selalu merindukan mu Clarisa."
"Eh eh, Pulang yuk dah mendung nih" aku mengajak Fadil untuk segera pulang sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya udah yuk" jawab Fadil
~~~~
Beberapa bulan kemudian, acara pelulusan kelas 12 atau kelas 3 SMA Al-Islamiyah pun tiba. Fadil mendapat rangking 3 besar. Campur aduk antara senang atau sedih. Aku tidak dapat mengekspresikan nya. Aku hanya bisa menatap gelang pemberian Fadil yang ia berikan bulan lalu. Sampai secara tidak sadar, aku menitikkan banyak sekali air mata.
Ya Allah, jadi begini ya hidupku jika Fadil tidak ada di sisiku. Sendiri, sepi, dan suram. Tidak ada keceriaan lagi yang mewarnai hidupku. Aku benar benar telah kehilangan seseorang yang sangat istimewa dalam hidupku. Kehilangan sosok sahabat humoris plus receh sepertinya. Pikiran ku kacau balau seakan takut jika tidak bertemu dengan Fadil selamanya.
Di suatu malam aku terbangun dan memutuskan untuk sholat Tahajjud guna menghilangkan rasa sedih ku.
"Ya Allah, aku begitu merindukan nya. Aku sangat menyayangi nya. Ya Allah, aku mohon kepadamu, tolong sampaikan salam rinduku ku ini kepadanya. Aamiin ya rabbal'Alamiiin" Doaku malam ini.
Sementara itu di malam yang sama tanpa sepengetahuan ku.......
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, aku sangat merindukan nya. Ya Allah, tolong sampaikan salam rinduku kepadanya. Kelak jika ada waktu luang, aku akan datang menemuinya dan memenuhi janji ku. Mudah kan lah segala urusannya, bahagia kan lah hidupnya, Aku begitu menyayangi nya, tak ingin dia sedih dan terluka. Hanya itu yang aku minta di malam ini. Kabulkan lah doa ku ya Allah, aamiin aamiin ya rabbal'Alamiiin" Doa Fadil untuk ku di sepertiga malam nya.
Fadil....
Aku menunggu mu disini...
Kelak kita akan bersama sama lagi, kita akan bercengkrama dan tertawa seperti dulu lagi.
Hanya Allah yang tau kapan itu terjadi.
Serahkan semuanya kepada Allah..
skenario Allah pasti jauh lebih indah.
The end~