Bahkan diriku sendiri masih belum mempercayainya. Namun perlu aku akui, bahwa yang sudah membaca auraku ini bukan hanya Misha. Beberapa teman dan orang yang menjadi Peramal/Paranormal pun pernah mengatakan hal yang sama kepadaku. Dan aku tidak pernah meminta mereka untuk membaca aura yang ada pada diriku. Aku juga tidak pernah merasa bangga, jika memang hal tersebut memang benar adanya. Kalo pun memang benar, aku tetap meyakini bahwa kelebihan yang ada pada diriku ini adalah dari Allah.Swt.
Dalam kehidupan yang berkecimpung didunia pekerjaan sepertiku, memasang susuk maupun penglaris memang sudah hal biasa dilakukan oleh mereka yang mempercayainya. Selain kita bersaing penjualan, kita juga bersaing dari segi ketertarikan. Namun tidak berarti untuk aku pribadi. Meskipun terbilang diriku suka bolong-bolong dalam menjalankan shallat, namun dalam hidupku tidak pernah menggunakan hal-hal yang seperti itu.
Misha, membaca dan menerawang Aura ku disaat diriku setelah mengalami kecelakaan.
*************************************************
Selang beberapa hari usai Azam kecelakaan, dirinya masih bertugas di Outlet yang sama.
"Selamat siang kak, selamat datang di Cosmetikku. Silahkan kak mampir dulu." Ucap Azam seperti biasa ketika dirinya sedang mempromosikan produknya.
"Mas sekarang disini?" Tanya Customer langganannya Azam yang kebetulan sedang jalan-jalan dan bertemu Azam di Outlet yang sedang dijaganya tersebut.
"Iya kak, namanya juga kalong. Gak punya tempat." Jawab Azam.
"Ah Mas nya bisa aja. Dari kemarin aku nyariin mas di Mall yang kemarin loh?" Ucap Customer tersebut.
"Kenapa gak beli di temenku aja kak yang disana? Kan sama saja kak?" Jawab Azam.
"Gak mau mas. Saya gak mau beli kalo bukan Mas yang sedang jaga." Jawab Customer tersebut.
"Ah, kakak bisa aja bikin hati saya menjadi merasa senang." Ucap Azam.
"Bukan begitu Mas. Dari dulu saya memang kayak gitu. Kalo udah cocok, saya gak mau sama yang lain." Jawab Customer tersebut.
"Ya udah Mas, Aku mau beli yang biasa aku beli ya? Satu paket seperti biasanya." Pinta Customer tersebut.
"Baik kak. Bentar ya kak, aku buatkan notanya dulu?" Jawab Azam.
"Ok Mas." Jawab Customer tersebut.
"Mari kak biar sekalian aku antar kekasirnya?" Ucap Azam.
"Bener nih mas? Biar aku sendiri saja lah kekasir, takut ada customer yang beli di Outlet Mas." Jawab Customer.
"Gak papa kak, kan masih terlihat juga dari kasir outletku ini kak." Ucap Azam.
"Baiklah kalo begitu." Jawab Customer.
"Mari kak." Ajak Azam ke Customer tersebut sambil membawa Nota dan Paketan Produk yang dibeli oleh customer tersebut.
"Makasih banyak ya kak. Aku kembali ke Outletku dulu." Ucap Azam setelah mengantarkan Customernya ke kasir.
"Eh Mas, Mas tunggu sebentar. Ini aku ada hadiah buat Mas, buat makan siang Mas." Ucap Customer sambil menyodorkan Amplop ke Azam.
"Maaf kak bukannya aku tidak ingin menerimanya. Tapi disini aku tidak diperbolehkan untuk menerima uang Tips. Nanti dikiranya aku menilap uang penjualan. Maaf banget ya kak." Ucap Azam sambil memberikan salam merapat kepada Customer tersebut.
"Oh gitu? Ribet amat disini." Jawab Customer tersebut.
"Ya udah ya kak. Aku kembali ke Outlet dulu." Ucap Azam.
"Oh iya Mas silahkan." Jawab Customer.
"Alhamdulillah, baru masuk udah Clossing. Mudah-mudahan Omzet pribadi gw bulan ini melejit." Ucap Azam ketika dirinya telah sampai di Outlet.
"Door." Misha mengagetkan Azam.
"Roman-romannya udah ada yang Clossing nih?" Ucap Misha.
"Alhamdulillah kak. Customer langganan gw kebetulan lewat kesini." Jawab Azam.
"Kenalin, Misha." Ucap Misha sambil menyodorkan tangannya kepada Azam untuk bersalaman.
"Azam kak." Ucap Azam memperkenalkan dirinya pada Misha.
"Udah lama Dek disini?" Tanya Misha ke Azam.
"Belum kak. Gw disini hanya sebatas ngisi sementara." Jawab Azam.
"BC ya?" Tanya Misha.
"Ya gitu deh kak." Jawab Azam sambil tersenyum.
"Istirahat bareng gw ya? Gw pengen ngobrol sama lo Dek?" Pinta Misha.
"Baik kak." Jawab Azam.
"Tingnong... Disambung Irama ceremonial khusus yang menandakan panggilan Jam Istirahat bagi para staf dan karyawan yang bekerja dan bertugas di tempat tersebut."
Azam langsung berlari mencari Misha ke Outletnya Misha.
"Jadi mau Istirahat bareng kak?" Tanya Azam ketika dirinya bertemu dengan Misha.
"Jadi donk Dek. Bentar, kakak lagi touch up dulu biar gak luntur nanti diluar." Jawab Misha sambil memoles Wajahnya dengan produk Skincare yang dia punya.
"Bencoooong." Niken tetangga Outlet Azam memanggil Azam sambil sedikit berlarian dan memegang bahu Azam dari belakang.
"Ah lo Ken. Mulut lo gw sumpel nih?" Jawab Azam sambil menggerakkan bahunya ke Niken.
"Ya elah, gitu aja sewot lo cong? Nanti luntur loh kecantikan lo? Secara Lo kaan?" Ucap Niken yang memberhentikan pembicaraanya.
"Gw kenapa?" Tanya Azam ke Niken.
"Ah, Gak papa. Itu Privasi orang." Jawab Niken.
"Dasar perempuan klenik." Jawab Azam ke Niken.
"Hayu Dek, kakak udah selesai nih." Ajak Misha ke Azam dan Niken.
Lantas mereka bertiga langsung ke Eskalator dan bergegas untuk keluar dari Pintu karyawan menuju ke Tukang Soto Bang Dadir. Meskipun didalam ada kantin, namun khusus para BA/BC diperbolehkan untuk makan diluar. Selain itu juga mereka tidak suka beristirahat didalam, karena mereka merokok. Baru saja mereka melangkahkan kakinya keluar dari BaseMent, Ayu (tetangga Outletnya Misha) menyusul.
"Kakaak tungguin." Seru Ayu sambil berlarian memegang Rok Mininya nyamperin mereka bertiga.
"Ken lepasin napa tangan lo dari pundak gw? Lagi kangen sama laki lo ya? Dari tadi seneng banget megangin pundak gw." Pinta Azam ke Niken karena disepanjang mereka berjalan Niken megangin pundaknya Azam terus.
"Iya, iya gw lepas. Tau aja lo gw lagi kangen sama dia?" Jawab Niken.
"Hahaha, Gw asal jeplak keless." Jawab Azam.
"Dasar luh. Huuuh." Jawab Niken sambil meraup Wajah Azam dan lalu dia berlari duluan ke Tukang Soto.
Di Tukang Soto "Bang Dadir"
"Assallamu'Allaikum." Ucap Azam, Misha dan Ayu sambil duduk di Kursi Tukang Soto.
"Wa'allaikum salam Blay." Ucap Nabila kepada mereka semua sambil mengelap mejanya.
"Sehat lo blay?" Tanya Nabila ke Azam.
"Sehat lah Bila. Liat aja tuh wajahnya dia selalu cengengesan. Berarti dia sehat Bil." Celetuk Niken ke Nabila.
Sedangkan Ayu dan Misha masih terus bercermin sambil membereskan bulumatanya kembali karena kena Angin saat berjalan tadi.
"Emangnya lo tau kak?" Celetuk Azam bertanya balik ke Nabila.
"Apasih Blay yang gak gw tau? Tau sendirikan Gosip kalian ini udah kayak apa'an? Ya gw taulah, ada aja anak yang bilang ke gw disini. Terutama si Malika tuh yang suka banget ngomongin lo, kalo dia lagi disini.
"Ah, biarin aja. Suka-suka dia aja kak. Yang penting bukan gosip murahan yang dia Omongin ke lo kak?" Jawab Azam.
"Gimana sih Blay awalnya? Terus kapan kejadiannya? Ya meskipun gw tau, tapikan harinya gak tau. Tau sendirikan si Malika suka gak jelas kalo bikin gosip?" Tanya Nabila ke Azam.
"Azam menceritakan kejadian kecelakaan pada Nabila."
"Ya ampun Blay? Berarti firasat gw semalam itu bener ya blay? Lo sih gak dengerin saran gw buat nginep ditempatnya Rio aja." Jawab Nabila.
"Jadi gosip itu beneran blay? Lo kecelakaan?" Tanya Bang Dadir sambil membuatkan soto mereka berempat.
Misha yang baru mengenal Azam dihari itupun seketika memberhentikan tangannya yang sedang benerin bulu mata miliknya. Misha terlihat menjadi semakin penasaran.
"Ya secara dia kan punya itu Bil." Celetuk Niken ke Nabila sambil melirikkan mata Balinya ke Azam.
“Terus Ken, terus.” Ucap Azam sambil menjejali mulut Niken pake Bakwan dari meja tukang soto.
“Dari tadi ngoceh-ngoceh mulu gak jelas.” Ucap Azam kembali.
“Puiih,puih.” Niken melepehkan bakwan yang di jejali Azam.
“Blay, blay.” Ucap Nabila menegur Azam.
“Biarin aja kak. Biar Niken tau rasa? Marah, marah dah tuh ke gw?” Ucap Azam.
“Yaah kan cong baju gw jadi kotor?” Ucap Niken sambil mengibas-ngibas bajunya karena terkena bakwan yang dia lepehkan dari mulutnya.
“Bodo amat! Makanya diem!” Jawab Azam.
“Sedangkan Misha melanjutkan kembali membenarkan bulu matanya, dan Ayu masih sedang membenarkan bulu matanya.”
Azam lalu melanjutkan kembali perbincangannya menjawab pertanyaan Bang Dadir.
“Iya beneran Diir, bukan gosiip.” Ucap Azam.
“Ya udah makan dulu cong.” Ucap Dadir sambil menaruh soto-sotonya ke meja.
Lantas mereka berempat pun makan Soto.