Malam semakin larut, hawa dingi semakin menusuk ke tulang, tapi dalam tidurku.. aku merasakan ada ketaran di atas kasur.
Saat aku membuka mata, mendapati Rio yang sedang mengigau, entah apa yang ia mimpikan saat itu.
Aku melihat jam yang menunjukkan pukul 23:59:59 tengah malam. Aku mendekati nya dan mengelus punggung nya.
"Sudah tidak ada apa-apa, ada aku di sini." ucap ku yang lalu mendekap penggungnya.
Aku sangat lah mengenal Rio, meski ia terjaga ia tidak akan menunjukkan sisi rapuhnya, di tinggalkan orang tua saat masih kecil, menjadi saksi atas kematian orang tuanya, membawanya ke dalam trauma yang mendalam.
Rio hanya mampu melupakan tangisnya di balik wajah yang ia tutupi dengan kedua tangannya.
"Menangis lah jika itu bisa mengurangi rasa sedih mu!" seru ku.