Akan ku ceritakan sebuah kisah yang tak ingin terulang kembali dalam kehidupan ku ini.
Saat itu, umurku baru berusia 18 tahun, karena berasal dari keluarga tak mampu, aku pun memutuskan untuk mencari pekerjaan selepas lulus dari bangku sekolah menengah pertama.
Sudah ada beberapa jenis profesi yang sudah aku jalani, dari berdagang hingga mengasuh anak seorang guru. Tapi tak ada satupun dari profesi itu yang cocok dengan aku yang pemalu, hingga seorang saudara jauh menawariku untuk bekerja di sebuah pabrik makanan kering di kota.
Selain di beri tempat tinggal gratis, pihak perusahaan juga menyediakan makan gratis sebanyak dua kali, yaitu pukul 12:00 jam istirahat dan jam 16:00 saat akan pulang. Meski memiliki fasilitas yang mumpuni, tapi sistem kerja di sana adalah borongan, di mana kita hanya bisa menerima gajih dari apa yang kita dapat.
Meski tak seberapa, namun dari pada menganggur, aku pun memutuskan untuk mengambil pekerjaan itu.
Pihak perusahaan menyediakan kurang lebih ada 30 kamar mes yang empat di antaranya di isi oleh karyawan pria, masing-masing kamar berukuran kurang lebih 14m2, dengan di isi oleh 12 orang perkamarnya, memang sempit, tapi dari pada mengeluarkan biaya yang tidak perlu.
Ke 30 kamar itu di tempatkan di berbagai sudut pabrik, salah satunya kamar mes ku, yang terdiri dari dua lantai yang masing-masing lantai terdapat enam kamar dengan tiga kamar yang saling berhadapan dengan sebuah lorong kecil sebagai pemisah.
Meski kamar yang di sediakan pihak perusahaan cukup banyak, namun sayang nya mereka hanya membangun beberapa kamar mandi untuk ke 30 kamar dengan 12 anggota di setiap kamarnya, bahkan letaknya pun cukup jauh dari kamar.
Singkat cerita. Selepas liburan idul fitri, aku memutuskan untuk kembali ke mes terlebih dahulu, sedangkan teman-teman sekamar ku memutuskan untuk kembali esok harinya.
Mengetahui hal tersebut, aku pun sedikit merasa kegirangan, sebab aku bisa melakukan apa saja di mes.
Meski awalnya aku merasa takut karena berada di dalam mes seorang diri, namun aku harus mengenyahkan perasaan takut itu. Sebab, meski berbeda kamar namun aku merasa lega, karena tak hanya aku saja yang berada di area mes itu.
Beberapa orang itu berasal dari penghuni kamar yang terletak di kamar bawah yang terletak di tengah-tengah bagian kiri. Bahkan salah satu mereka dari mereka mengajak ku untuk tinggal bersama, agar tidak merasa kesepian. Namun aku menolak ajakan orang itu dan berpikir bahwa aku ingin menjadi penguasa kamar ku sendiri.
Posisi kamarku saat itu terletak di ujung samping kanan.
Malam pun tiba.
Pukul 18:00, keadaan di luar mes begitu sunyi dengan aura mencekam, aku pun memutuskan untuk menonton box office yang saat itu sedang tayang di tv Nasional untuk sekedar memecah keheningan, tapi tiba-tiba terdengar sebuah suara derap langkah yang berasal dari depan kamarku.
Tapi aku tak menghiraukannya, dengan memfokuskan diri menonton acara tv.
Namun tiba-tiba bulu kuduk ku berdiri, merasakan bahwa ada sebuah sepasang mata yang tengah menatapku dari balik jendela.
Aku pun menoleh, dan pergi memeriksanya, akan tetapi tak ada siapa pun di sana, aku pun berpikir positif.
Mungkin itu hanya perasaan ku saja, pikirku yang kemudian ku lanjutkan dengan menonton tv seraya memakan makanan ringan yang aku beli di toko swalayan tadi.
Pukul 21:00 kedua kelopak mataku sudah terasa amat berat, hingga akhirnya memutuskan untuk tidur, lalu mematikan lampu kamar, hingga keadaan di dalam menjadi gelap gulita.
Pukul 00:00 Aku terbangun, entah kenapa tenggorokan ku terasa sangat kering.
Meski enggan untuk bangun, namun rasa haus itu mengalahkan rasa malas ku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengambil segelas air untuk menghilangkan dahaga itu.
Akan tetapi, saat aku beranjak dari tempat tidur, tak sengaja melihat sepasang mata yang tengah menatap ku dari balik jendela yang kebetulan saat itu aku lupa untuk menutupnya dengan tirai.
Dengan tergesa-gesa, aku pun menyalakan lampu. Namun, saat lampu menyala, kedua mata itu menghilang begitu saja.
Tangan ku menggaruk pipi ku yang tidak gatal. " Mungkin itu hanya perasaan ku saja. " pikirku yang berusaha menenangkan diri, setelah melepas dahaga, aku pun memutuskan untuk kembali melanjutkan tidur ku, dengan membiarkan lampu terus menyala.
Pukul 02:00 Tiba-tiba terdengar sebuah suara derap langkah kaki yang tengah berjalan mondar mandir di lorong, karena suara berisik itu, aku pun kembali terbangun.
Aku menghela nafas dan mengutuk siapa yang berjalan mondar mandir pada waktu dini hari seperti ini, tapi tak lama kemudian suara langkah kaki itu tak terdengar lagi. Yang kemudian di gantikan oleh suara seorang anak kecil yang tengah bermain di dekat tangga.
Kedua alis ku mengernyit heran, anak siapa itu? Namun aku tak terlalu ambil pusing, dengan kembali memejamkan kedua mataku.
Akan tetapi, seakan melarang ku untuk kembali tertidur, langkah kaki yang tadinya sudah menghilang kini kembali terdengar, namun kali ini berasal dari tangga yang terbuat dari besi.
Tapi anehnya, langkah kaki itu hanya terdengar tiga kali saja. Dan setelah itu tak ada, dan kini malah berganti dengan suara senandung seorang wanita yang berasal dari sebelah kamar ku yang keadaannya saat itu masih kosong.
Aku terdiam, menatap langit-langit kamar, teringat akan cerita horor yang sering teman-teman sekamar ku ceritakan. Tentang pria bertubuh besar serta sosok anak kecil yang sering bermain di dekat tangga, tak hanya itu saja, mereka bahkan mengatakan kalau bangunan pabrik itu dulunya adalah tempat pembuangan mayat. Bahkan dulu katanya, tepat di samping dua kamar mandi yang terletak di dekat sumur, dulunya ada setangkai pohon pisang yang berukuran raksasa dengan tinggi yang menjulang.
Seketika tubuhku menggigil ketakutan, dan berpikir yang tidak-tidak, tak sengaja dari sudut mata, aku menangkap siluet tinggi besar yang tengah mengintip di balik jendela.
Tubuhku membeku sejenak, detik berikutnya aku menarik tinggi-tinggi selimut itu, tak lama kemudian terdengar pintu kamar yang di paksa di buka, membuat diriku semakin ketakutan.
Dengan tubuh gemetar ketakutan aku terus melantunkan ayat kursi secara berulang, hingga tak lama kemudian, kenop pintu itu berhenti bergerak. Di ikuti dengan suara langkah kaki yang berjalan menjauh.
Aku pun menghela nafas lega, berharap mentari untuk segera datang, tanpa tersadar aku kembali tertidur.
Pukul 04:00 Aku kembali terbangun, kali ini di akibatkan oleh panggilan alam, tapi karena masih takut dengan sosok itu aku berusaha menahannya, berharap bahwa ada seseorang yang terbangun, dan benar saja, terdengar seseorang tengah menuruni tangga dengan membawa ember, hal itu di pastikan karena terdengar benda itu berbenturan dengan tangga yang terbuat dari besi.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku pun beranjak bangun dari tempat tidur, lalu mengambil seperangkat alat mandi dengan sebuah ember berukuran ember cat yang besar.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, aku berusaha menyusul langkah kaki itu, namun, seberapa keras aku mengejar tapi tak pernah aku temukan sosok itu, hingga aku pun menyadari bahwa suara itu bukan datang dari manusia, melainkan dari makhluk halus.
Karena sudah terlanjur, aku pun bergegas ke kamar mandi menuntaskan panggilan alam ku dengan perasaan gelisah, setelah berhasil menuntaskan panggilan alam tersebut, aku pun kembali ke mes, dengan perasaan takut setengah mati.
Di tengah perjalanan, aku merasa ada seseorang yang tengah mengikuti, saat menoleh, ku lihat, ada sosok wanita berbaju putih dengan rambut panjangnya yang menjuntai ke bawah tengah melayang mengikuti ku dari belakang.
Di dalam hati, aku menangis histeris, seraya membawa kedua kakiku berlari. Meninggalkan seperangkat alat mandi ku tergeletak di tengah jalan.
Kedua kaki ku terus berlari menuju kamar, ku lirik sosok itu masih mengikuti ku dari belakang, entah kenapa rasanya jarak antara kamar mandi dengan kamar mes terasa sangat jauh.
Setibanya di dalam kamar aku pun langsung mengunci kamar itu, tak lama kemudian, terdengar pintu kamar yang tengah di dobrak.
Hingga kemudian terdengar lantunan suara Adzan subuh, membuat suara serta sosok itu akhirnya menghilang.
Setelah kejadian itu, aku tak ingin tinggal di dalam mes seorang diri lagi