saya tak bisa menjabarkan kisah ini lewat kata kata artistik yang menyegarkan mata, ini tidak mudah em sebenarnya ini sangat sangat tidak mudah, ini sulit menjabarkannya dalam sedikit kata yang indah, tangan ini terlalu biasa untuk menjabarkan betapa cantik dan bagaimana langit saat itu saat pertama saya melihatnya, saya lupa bagaimana sekitarnya seolah saat itu hanya dia yang berwarna, menutupi seluruh orang di dunia ini bahkan gonggongan ciko tak bisa terdengar , itu se note kecil dari Adiputra mengenai si biru, biru yah? ehm namanya cantik .. warna kesukaan ibu nya adi, orangnya lembut seperti nenek, sifat nya kuat seperti bapak, dan kekanak-kanakan seperti Melani adik adi yang sudah meninggal karena kanker otak 3 tahun lalu, biru seperti sebuah bunga yang cantik diantara kaktus, saya bertemu dia dikios buku taman dikota altas, tepatnya Semarang...tempat yang rasanya aneh untuk bercerita soal kisah cinta yang klasik dan sekali pandang, cinta diantara kota jasa dan perdagangan.
pagi itu sama sibuknya seperti hari hari kemarin dikota Semarang yang padat akan lalu lintasnya dan aktivitas pagi harinya, itu hal biasa sebenarnya, untuk seorang laki laki biasa seperti Adi, ga banyak yang akan dia lakukan pagi itu, pagi yang sibuk padahal itu hari Minggu, bekerja bekerja dan bekerja...hanya itu, jaman sekarang susah untuk bersantai sejenak, tujuan naik pangkat padahal pundak sudah susah diangkat.
pagi yang indah ini hanya sehari, libur sehari setelah 7 tahun bekerja tanpa absen lembur sekalipun, Adi merasa segar meski napas masih tercekat, tangis yang semakin lama semakin menggumpal tebal diantara nurani, dan rasa khawatir yang terus mengejarnya hingga senja.
"Ciko, hari ini kita harus seru seruan pokoknya" ujar laki laki itu sambil mengelus kepala anak anjing kesayangannya itu
"guk guk!!" sama seperti sang pemilik, ciko pun turut bahagia karena akhirnya dia dapat berjalan jalan bersama dengan Adi.
Adi akhirnya melanjutkan jalan jalannya itu, menikmati keindahan taman, memang rasanya masih sulit untuk mengeluarkan napas, namun semua beban 7 tahun itu rasanya terlepas sebentar.
saat berjalan jalan akhirnya Adi merasa tertarik dengan sebuah kios buku tua diujung taman, dia melihat lihat buku lalu menemukan buku kesukaan ayahnya yang berisikan filosofi semesta, itu aneh dulu bagi Adi...dulu Adi berpikir mengapa ayahnya begitu menyukai filosofi, sampai akhirnya Adi dewasa dia mengerti, rasanya sebait tulisan ringan yang ditulis tangan orang lain begitu menyejukkan nya, matanya, hidupnya...hatinya.
saat hendak menggapai buku itu, tiba tiba ada sebuah tangan mendahului nya, Adi terkesiap lalu memandang si pemilik tangan, itu seorang wanita dengan wajah lembut yang menyejukkan, mata sayu dan rambut satin hitam panjang, wanita itu menatap Adi lalu permisi mengambil buku itu, Adi kemudian mengingat ngingat sesuatu sebelum akhirnya wanita itu duluan yang berbicara,
"ya ampun, Adi kan?!!!" ujarnya menerka mereka dengan suara semangat.
"eh? iyaa kamu...." jeda Adi
"Sabiru, itu loh biru yang dulu sering kamu kasih contekan pas ulangan"
ah, sabiru...wanita yang dulu sering kali meminta jawaban kala ulangan karena dia lupa belajar.
"yang alasannya lupa belajar?" ujar Adi lalu terkekeh.
"hehe iyaaa" jawab biru dengan semangat
"bisa ya, lupa belajar 1 semester" ujar Adi lagi
"aihh namanya juga anak muda"
"iya iyaaa"
"eh sekarang gimana kabar kamu?"
"baik kok"
dihari hari selanjutnya mereka, Adi dan biru semakin dekat sejak pertemuan itu, biru juga sering kali datang kerumah Adi untuk mengajaknya jalan jalan, dan hari ini mereka ke pantai.
setelah puas bermain mereka duduk sambil memandang ombak yang pasang dan surut lalu larut perlahan dalam keadaaan sayu itu berdua.
"kamu suka filosofi juga biru?" tanya Adi sedikit memandang wajah cantik disampingnya.
"ga begitu, tapi rasanya ga bisa lepas dari filosofi sederhana yang menakjubkan"
adi diam, tetap melihat wanita itu, waktu seakan berhenti sejenak untuk sekedar mengucap betapa Adi sangat mencintai sosok biru, dari sekolah dasar dia begitu menyukai wanita disampingnya ini, dalam diam tanpa kata namun tetap menjadi bayang hitam dalam sunyi yang panjang.
bahkan setelah berpisah begitu lama Adi masih tetap Adi yang dulu, murid pintar yang hanya memberi biru contekan, hanya biru bukan orang lain
kata Aristoteles “Cinta itu dibentuk oleh satu jiwa yang dihuni oleh dua raga.” Adi percaya itu, namun dia juga tahu bahwa dia dan biru berada di jiwa yang berbeda, merka hanya separuh jiwa yang belum bisa bersatu dikehidupan ini
"biru"
"hem? apa?" biru memandang wajah laki laki diaampingnya dengan senyuman, tanpa dia tau matahari mendukung wajah itu, sinar matahari turut bergabung disenyumnya membuat laki laki yang saat ini memanggil nya semakin jatuh dalam perasaan.
"ga papa, ga jadi"
saat senja tiba Adi masih dipantau sendirian, biru sudah pulang karena ibunya membutuhkan kehadirannya saat itu.
"biru, sabiru...saya masih cinta sama kamu, kamu gatau ya? haha padahal udah 10 tahun seperti itu"
hari hari selalu berlalu sama bagi Adi, hanya pertemuan nya dengan sabiru yang selalu disematkan dengan bunga tulip kesukaan biru dibukanya yang akan selalu istimewa, 2 tahun kemudian tiba tiba sabiru mengajak Adi bertemu di taman.
saat itu Adi hanya bisa berpikir bahwa itu pertemuan seperti biasa namun itu perpisahan...bukan sembarang perpisahan...
"adi aku mau pamit"
"hah? kemana?"
"aku bakal lanjutin pendidikan dan hidup aku di Amerika"
"selamanya?"
"iya, dan..
"dan? dan apa?"
gadis itu menyodorkan semua kartu undangan yang terhias indah bercorak namanya dengan seorang pria yang dikenal Adi.
"Sabiru dan.... Bram?"
Bram, laki laki yang dulu sering memukuli nya semasa sekolah, dia memang seorang yang kaya, tampan namun dia penindas, kenapa? kenapa hidupnya begitu sempurna? punya uang, koneksi, teman, wajah tampan ...bahkan wanita yang dicintainya, Adi diam menunduk...otaknya terasa mati, dadanya berdegup kencang hampir gila.
"maafin aku yah Adi baru bilang mendadak begini soalnya Bram yang minta pindah ke luar negeri"
Adi diam lalu pergi tanpa pamit pada biru, membawa sejuta kekecewaan pulang bersamanya.
5 tahun kemudian biru kembali ke Indonesia, mencari teman kecilnya Adi yang lost contact selama ini dengannya, saat itu dia pergi ke rumah keluarga Adi, dia mencari Adi namun tak ada...ibu Adi terlihat pucat dan hampa...tatapannya kosong namun bibirnya dia paksa tersenyum ramah, dia mempersilahkan biru masuk.
"nak biru, ada apa yah kesini?"
"saya, nyari Adi buk..."
wanita paru baya itu terdiam tanpa menjawab lagi, menatap lekat biru lalu tersenyum lagi.
"nak biru nyari Adi?"
"iya buk, adi nya ga ada ya buk? dia lagi keluar sama temennya?"
"engga kok, dia lagi istirahat"
"dikamar? saya permisi boleh memuin Adi buk?"
"bukan" wanita paru baya itu menggeleng lalu mengajak biru keluar, ke sebuah tempat dekat rumah Adi...
ibu Adi berjongkok, membelai sayang pada batu nisan anaknya itu, tersenyum lalu memeluk erat dengan tangan keriputnya.
"Adi, nak biru nyariin kamu..."
biru termenung, menatap tak percaya tentang apa yang dilihatnya...Adi, meninggal?! Adi?!
"Bu..."
"Adi meninggal 3 tahun lalu, Adi meninggal karena kanker otak yang dia derita, dia minta ke ibuk buat ga bilang ke kamu, bahkan saat jadwal kemonya, dia lari keluar buat nemuin kamu"
pukulan hebat menghantam otak biru, Adi..sakit. Hanya itu yang terlintas di benak nya sekarang.
setelah kunjungan itu ibu Adi memberikan sebuah buku usang milik Adi, buku harian Adi.
lembaran pertama menguning karena waktu namun tak berarti itu memudarkan aroma khas Adi yang lembut
12 September
saya dipukuli lagi oleh Bram dan teman teman, menyakitkan, otak saya rasanya akan pecah saat batu itu menghantam kepala saya dengan keras.
20 September
hari ini saya basah kuyup, karena tas saya ditenggelamkan oleh Bram didanau, dingin ...badan saya gemetaran.
1 November
kemo yang menyakitkan, sakit ...saya menangis.
saya tidak suka sakit.
14 November
saya ketemu wanita baik yang menolong saya, saat dia tersenyum...saya jatuh cinta.
12 desember 2012
Biru seperti magnet, menarik...dan saya, tak kuasa untuk tidak tertarik.
13 Januari 2022
biru akan menikahi Bram, itu membuat saya hancur
14 Januari 2022
kata dokter besok saya meninggal, selamat tinggal.
buku harian itu berhenti sampai disitu, biru diam menutup matanya, air matanya menetes menyisakan luka mendalam rasa sakit, tak kuasa dia menahan nyeri di hatinya, menutup mulut berharap suara isakannya teredam,
dan hari itu akan selalu menjadi hari paling suram untuk keluarga Adi, dan sabiru.
secarik kertas jatuh saat biru ingin mengembalikan buku itu, kertas yang tak pernah lagi terlepas dari tangan biru semenjak ditemukan dari buku Adi.
14 Desember 2012
"saya sangat mencintai sabiru, saya akhirnya menepati janji saya, membuat dia akan menjadi cinta pertama dan terakhir saya.