Dulu aku sering sekali ke gedung teater ini, biasanya ada pertunjukkan drama dan seni tari, tapi sayangnya sekarang sedang nggak ada pertunjukkan apa-apa. Aku kira bangunan ini sudah digusur dan dibangun apartemen, ternyata masih utuh dan nggak berubah sama sekali.
“Jadi, ini masih tempat favoritmu sampai sekarang?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disebelah kiriku. Setelah delapan tahun, aku menyaksikan lagi wajahnya yang sulit untuk nggak dikenali. Aku menoleh ke arahnya, memperhatikan rupanya dari ujung kaki hingga pangkal rambut. Belum banyak berubah, hanya saja ia lebih terlihat rapi jika dibandingkan dengan terakhir kali aku melihatnya.
“Kamu berubah ya, semakin dewasa.” katanya lagi.
“Kamu apa kabar?” tanyaku.
“Baik, sangat baik. Buktinya, kamu nggak bisa berkomentar yang buruk dengan penampilan saya bukan?” jawabnya sambil tersenyum angkuh. Aku membalasnya dengan tersenyum kecil. Daridulu, aku memang selalu mengaturnya bagaimana cara berpenampilan. Karena dulu, ia sangat berantakan.
“Masih sering terhanyut dalam lagu-lagu kesukaanmu?” tanyanya. Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. “Yaampun ra, hampir tiga belas tahun dan kamu belum juga menghilangkan kebiasaan terburukmu itu?” tanyanya lagi dengan sedikit kesal. Aku mengajaknya duduk kemudian memintanya untuk mendengarkan sebuah lagu, “Dengar deh, lalu pejamkan matamu seperti yang biasa aku lakukan.” ”Untuk pertama dan terakhir aku mau menururti permintaanmu yang ini ya,ra!” jawabnya kesal.
“Daydreamer. Sitting on sea, soaking up the sun. She is a real lover of making up the past and feeling up her man, like she”s never his figure before.” Tiba-tiba saja dia menyanyikan lagu yang aku suruh dengar, ternyata dia tahu lagunya. “Lanjutkan.” perintahnya.
“A jaw dropper, looks good when he walks is the subject of their talk. he would be hard to chase, but good to catch. And he could change the world with his hands behind his back, oh..” lanjutku.
Kami berdua saling menatap, kemudian tersenyum.
“You can find her sitting on your doorstep, waiting for a surprise. And she will feel like she”s been there for hours, and you can tell that she”ll be there for life.” dia melanjutkannya lagi. Aku pun nggak mau kalah, ”Daydreamer, with eyes that make you melt. He lends his coat for shelter, plus he”s there for you when he shouldn”t be. But, he stays all the same waits for you. Then sees, you through.”
“There”s no way i could describe her, what i”ll say is just what i”m hoping for.” lanjutnya seakan mengakhiri konser kecilnya denganku itu.
Kami saling bertatapan kembali, kali ini cukup lama. Aku menatap kedua matanya yang penuh rahasia, begitu pula dengannya. Tiba-tiba saja kami tertawa berbarengan, suara yang paling aku rindukan selama delapan tahun ini.
“Sekarang pacarmu siapa, ra? tanyanya.
“Nggak kepikiran untuk pacaran, aku kan bukan kamu.” jawabku mengejek.
“Minum kopi yuk? Masih ingat kedai kopi dekat sini nggak? tanyanya.
“Tentu saja ingat!”
Kami berjalan menuju kedai kopi yang jaraknya nggak begitu jauh dari gedung teater tadi. Kedai kopi, tempat dimana kami sering sekali menghabiskan waktu, dulu.
“Saya mau pesan…”
“Americano tanpa gula?” tanyaku dengan yakin.
Dia hanya tersenyum, berarti jawabanku benar sempurna.
“Sekarang kerja dimana?” tanyanya sambil meminum kopi miliknya.
“Kemarin sempat kerja di sebuah editor majalah fashion, membosankan.” jawabku.
“Sekarang?”
“Aku sedang mau lanjut S2, aku diterima di IFA Paris.” jawabku lagi.
“ra?” tanyanya sedikit teriak hingga orang-orang disekeliling menoleh ke arah kami.
“Apa?”
“Kok kamu nggak pernah cerita?!” tanyanya kesal.
Keasikan mengobrol ternyata sudah larut malam.
“Aku harus pulang, ibu sendirian di rumah.” kataku.
“Saya antar ya?” tawarnya.
“Nggak usah, aku biasa pulang sendiri kok.” kataku menolak ajakannya.
“Ya, itu kan biasanya. Sekarang kan ada saya, berarti saya yang harus mengantarmu pulang dengan utuh dan nggak boleh sampai ada lecet sedikitpun. Seperti pesan ibumu setiap kali saya pinjam anak gadisnya untuk bermalam minggu.” katanya dengan sedikit tersenyum. Dia memang keras kepala, setiap permintaannya sulit sekali untuk ditolak.
Akhirnya sampai depan rumah, entah kenapa rasanya aku nggak mau turun.
“ra?”
“Ya?” jawabku.
“Setelah lulus dan nggak tahu bagaimana cara menghubungimu lagi dan sejak hari pertama saya di Amerika hingga sekarang, saya merasa ada yang hilang dari bagian hidup saya. Bagian yang hilang itu membuat saya hancur. Dan kamulah bagian itu, ra.” jawabnya sambil menatapku, matanya terlihat berkaca-kaca ingin menangis.
“Aku?”
“Berkali-kali saya mencari alternatif lain yang saya kira cocok, tapi nggak ketemu. Karena saya selalu mencari alternatif yang seperti kamu. Ya, yang saya mau hanya kamu. amara yang periang, yang selalu bisa membuat saya tersenyum walau keadaan seburuk apapun, yang nggak pernah menyerah sama saya. Ternyata kamu orangnya, kamu orang yang bisa membuat saya berhenti mencari, ternyata kemanapun saya pergi kamu selalu menjadi tempat saya kembali. Kamu, ra.” jelasnya sambil memegan tanganku erat dan menangis deras.
Aku langsung memeluknya erat, menahan air mataku kuat-kuat supaya nggak turun.
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu dari dulu, dari sebelum kamu takeoff ke Amerika.” kataku perlahan.
“amara ingin bilang apa?”
“aku memang hanya salah satu dari sekian banyak orang di dalam kehidupan kamu. Biru mungkin hanya orang baru, yang nggak ada apa-apanya dengan orang yang lebih dahulu kenal kamu. Aku juga mungkin hanya orang yang mengenal kamu nggak jauh lebih baik dari orang-orang yang lebih tahu kamu. Tapi, aku mungkin satu-satunya orang yang merasa sangat beruntung karena bisa masuk ke dalam kehidupan kamu.”
“Lalu?” tanyanya lagi.
“Lalu, aku ingin kamu tahu kalau kamu yang paling berarti. Sampai akhirnya, aku jatuh cinta sama kamu. Aku jatuh sampai benar-benar jatuh, sampai aku sadar kamu bukan yang terbaik, kamu yang paling mengecewakan.” kataku lagi.
“ra, saya minta maaf.”
“Jika kamu ingin kamu tahu, perasaan ini masih sama seperti gedung teater dan kedai kopi langganan kita, nggak ada yang berubah. Tapi, sekarang aku sadar. Kamu hanya masa lalu yang nggak boleh disentuh lagi, kamu sudah seperti daun yang gugur yang nggak lagi punya kesempatan untuk dihijaukan.”
“ra, aku mohon.”
“Aku yang mohon supaya kamu bisa mengerti. Dari kamu aku belajar, kalau hidup harus terus berjalan dengan atau nggak adanya kamu. Pulanglah, pulang supaya kamu bisa berpikir dengan jernih hingga kamu mengerti dan benar-benar mengerti. Paham?”
Dia hanya diam dan menangis. Aku kembali memeluknya kemudian berbisik, “Sampai jumpa.”