Sienna tertawa kemudian menangis berkali-kali membuat seorang bartender menatap gadis bermata monolid itu dengan ragu saat gadis itu meminta menambah minumannya.
"Nona, sebaiknya anda pulang. Anda sudah terlalu mabuk!" Bartender itu sedikit berteriak agar gadis itu dapat mendengarnya.
Pria dengan kulit tan itu menatap ragu Sienna sejak datang ke Club malam. Pria itu bisa melihat bagaimana wanita itu datang dengan wajah yang penuh air mata, benar-benar kacau.
"Aku tidak mabuk. Hikk.. aku mampu menghabiskan beberapa botol." Gadis itu memberikan gelasnya yang kosong.
"Omong kosong. Bahkan anda sudah mabuk hanya menghabiskan dua gelas!"
Pria tan itu menatap bingung saat gadis cantik itu yang tiba-tiba kembali menangis.
"Jangan menangis, baik lah saya akan men—"
"Huaa!! Brengsek! Dasar pria brengsek! Hikk.. " Sienna menangis mengingat kembali alasan dia berani pergi ke tempat haram itu.
"Berani-beraninya dia selingkuh dariku!! Aku itu cantik! Hey kamu! Aku cantik, iya aku cantik! Dia tidak bersyukur mendapat pacar seperti aku Hikk.. "
Pria itu diam mendengarkan semua perkataan Sienna. Sepertinya minuman itu berhasil menguasainya sehingga dia mulai meracau tidak jelas.
"Ken, gue balik! Sialan lo! Gue gak akan bisa dapet istri di tempat terkutuk ini!" kata seorang pria dengan masih menggunakan setelan kerjanya.
"Eh tunggu! Lo bawa perempuan ini pulang deh. Gue gak tega liat dia. Kayaknya dia lagi ada masalah." Pria dengan kulit putih itu menatap penampilan Sienna.
Pria itu memperhatikan pakaian gadis itu dengan menggelengkan kepalanya. "Lo gila! Gue gak kenal dia! Lo aja yang bawa dia!"
"Albino! Gue disuruh temen laknat lo itu untuk jaga tempat terkutuk ini, kalo gue pergi jerapah itu pasti bakal marah sama gue!"
"Sialan!" Pria itu mengumpat kemudian duduk di samping Sienna dengan perlahan.
"Nama lo siapa?" tanya pria itu dengan sedikit keras karena suara musik yang semakin kencang.
Sienna mendongak menggelengkan kepalanya kemudian kembali menelungkupkan wajahnya ke atas meja.
"Gue anter lo pulang!" Pria itu menarik tangan Sienna tapi segera ditepisnya.
"Jangan pegang-pegang!"
Pria itu diam, memperhatikan Sienna yang masih meracau tidak jelas sesekali menangis dan tertawa membuat pria itu terkekeh melihat kebodohan gadis itu.
"Aku tidak sexy ya?!"
Pria itu hampir berteriak saat Sienna tiba-tiba menghadap kearahnya dengan make up yang sudah berantakan di wajahnya.
"Lo sexy!"
Gadis itu tertawa. Kemudian dia menatap pria itu dengan tajam, "bohong! Aku tidak sexy buktinya dia meninggalkan aku! Dia menghianati aku! Dia bercinta dengan wanita lain!" Sienna kembali menangis membuat pria itu bingung apa yang harus dia lakukan.
Pria itu tidak berbohong saat mengatakan kalau gadis di sampingnya itu sexy bahkan saat memakai pakaian kerjanya seperti saat ini. Gadis itu memiliki tubuh yang proposional yang membuat banyak wanita iri dengannya.
"Kamu!" Sienna menunjuk pria di sampingnya dengan menggebu-gebu.
"Ajarkan aku bercinta, agar aku bisa membalas pria brengsek itu!"
***
"Jangan dibuka kemejanya!"
Samuel, pria berkulit putih itu melirik dengan gusar gadis disampingnya yang ingin membuka kemeja putihnya.
Samuel menginjak rem mobilnya dengan mendadak saat dengan tiba-tiba gadis yang sedang mabuk itu berusaha duduk di pangkuannya. Bersyukur jalanan sudah sepi sehingga tidak ada pengendara yang mengumpat kepada Samuel karena berhenti dengan mendadak.
Samuel menarik nafasnya berusaha mempertahankan akal sehatnya. Gadis itu sejak tadi berusaha menggodanya. Samuel pria normal, dia bisa kapan saja kehilangan akalnya jika gadis itu terus menggoda.
"Hikkss aku emang tidak pantas dicintai. Aku benci tubuhku!! Huaaa!!"
"Dimana rumahmu, aku akan mengantarmu, sudah cukup meracau tidak jelas. Sekarang kembali ke tempat dudukmu."
Gadis itu menatap Samuel dengan marah. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Samuel. Gadis bermata monolid itu mencium bibir Samuel dengan menggebu-gebu membuat Samuel meringis. Gadis di pangkuannya itu tidak bisa berciuman dengan benar.
"Sstopp Sienna..."
Sienna, gadis itu menggelengkan kepalanya. Ingatan tentang kekasihnya yang berkhianat terus berputar membuat air matanya kembali terjatuh. Sienna frustasi dengan semuanya dia ingin menghilangkan rasa sakit dihatinya dengan melakukan apa yang kekasihnya lakukan bersama wanita lain.
"Tolong aku, aku ingin melupakan pria brengsek itu," kata Sienna setelah melepas ciuman mereka.
Samuel menatap ragu Sienna. Dia tidak bisa melakukan hubungan satu malam tapi melihat wajah Sienna yang kacau Samuel tidak bisa menolak gadis itu.
"Turun, aku akan membantu kamu."
Sienna menurut. Gadis itu duduk di tempatnya kembali. Samuel menjalankan mobilnya menuju apartemennya. Sesampainya di apartemen Samuel, Sienna segera membuka kembali kemeja dan roknya meninggalkan dalamannya saja.
"Shit!"
***
Samuel mengusap tempat kosong di sampingnya. Matanya membuka saat tidak merasakan seseorang yang semalam bersamanya menghabiskan malam yang panjang.
Senyum Samuel terbit saat mengingat betapa panasnya dia dan wanita tadi malam. Di umur ke dua puluh delapan tahun dia belum pernah merasakan apa yang tadi malam dia rasakan. Masa mudanya dia habiskan untuk terus belajar sehingga tidak berfikir untuk memiliki pacar.
Dara, mama Samuel menyuruh anak laki-lakinya itu mencari calon istri. Dalam sebulan jika Samuel tidak bisa memperlihatkan pacarnya ke hadapan mamanya, wanita itu akan mendaftarkan putranya di tempat pencarian jodoh.
Suara dering ponsel Samuel membuat pria itu beranjak dari tidurnya. Samuel berjalan menuju sofa mengambil ponselnya. Nama 'Mama' tertera disana membuat Sehun segera menerima panggilan itu.
"Hal—"
"KAMU DIMANA?? Mama gak nyuruh kamu cari calon istri di club malam ya Samuel Lynee! Mama mau cari ibu untuk cucu-cucu mama bukan untuk mochi!"
Samuel mengusap telinganya yang terasa berdengung karena teriakan Dara, "Ma, telinga Sam sakit."
"Hallaaah, kamu bobol anak gadis orang, kamu pikir gak sakit? Mikir kamu! Cepetan pulang! Mama tunggu!" Dara mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Samuel.
Samuel berjalan gontai ke kamar mandi memikirkan omelan mamanya yang berbicara tentang perawan. Dia juga masih perjaka kenapa mamanya lebih khawatir dengan wanita semalam daripada putranya yang juga kehilangan keperjakaan nya.
***
Samuel mengusap nametag wanita yang satu bulan yang lalu bertemu dengannya di club malam. Wanita yang berhasil membuat Samuel dimarahi oleh mamanya karena melakukan hubungan badan tanpa ikatan yang jelas.
"Dia yang goda Sam Ma, Sam berusaha nolak tapi dia terus goda Sam. Sam juga laki-laki normal Ma." Samuel menatap Dara dengan takut.
"Makanya kalau udah gak kuat itu nikah! Kamu dokter loh, kamu tahu bahayanya sex kalau berganti-ganti pasangan. Kalau burung kamu kenapa-kenapa gimana?"
"Mah, ngomongnya kok gitu sih." Samuel bisa mendengar papanya yang menasehati mamanya karena terlalu frontal.
"Biarin aja Pah. Biar ni anak sadar."
Samuel terdiam memikirkan kembali perkataan Yejin. Mamanya menyuruhnya untuk mencari wanita bernama Sienna. Samuel tahu nama itu saat Samuel mendapati nametag Sienna di atas sofanya. Wanita itu sepertinya lupa membawa nametag nya saat pergi dari apartemen Samuel.
Samuel tidak menolak saat mamanya menyuruhnya untuk mencari wanita itu karena Samuel juga ingin memiliki wanita itu. Setelah malam itu, Samuel selalu membayangkan akan ada malam-malam berikutnya. Tapi ternyata tidak. Samuel bahkan beberapa kali datang lagi ke club malam milik sahabatnya demi bertemu dengan Sienna, tapi hasilnya selalu sama, tidak ada wanita monolid itu di club itu.
"Dokter, ada jadwal operasi untuk pasien bernama Pak Tama." Samuel tersadar dari lamunanya saat mendapati suster Jesika berada di ambang pintu.
"Ah iya, saya segera ke ruang operasi."
Samuel keluar dari ruangan menuju ruang operasi. Tubuhnya menegang saat melihat wanita yang dia cari selama ini sedang menangis di depan ruang operasi. Samuel menghentikan langkahnya saat wanita itu menatapnya dengan ari mata yang membanjiri kedua pipinya.
"Dokter tolong papa saya. Saya mohon." Samuel terdiam memperhatikan wajah Sienna yang terlihat putus asa.
"Saya akan bantu papa kamu. Kamu tenang ya." Samuel mengusap kepala Sienna kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Sienna membisikkan sesuatu kepada wanita itu.
***
"Sstopp it.."
Samuel melepaskan ciumannya. Menatap wanita yang terengah-engah di bawahnya. Tangan Samuel terulur menyentuh kening, hidung, dan bibir wanita itu dengan perlahan membuat wanita itu memejamkan matanya.
"Tadi saya bilang 'kan, kalau kamu gak akan pernah bisa pergi lagi dari saya. Kamu milik saya."
Setelah itu, Samuel kembali membungkam bibir Sienna dengan lembut. Merasakan rasa manis dari bibir wanita itu. Rasanya berbeda dari malam itu, tidak ada rasa alkohol. Sienna membalas dengan perlahan ciuman Samuel. Sienna tidak munafik kalau dia juga menginginkan pria di atasnya itu.
Samuel membuka penutup bagian atas milik Sienna. Sienna mendongak saat Samuel menggoda leher jenjangnya. Menghisap dan mengigit di sana membuat erangan Sienna keluar.
"Apakah ada pria lain selain saya yang mencicipi ini?" Tangan Sehun mengusap bukit kembar Sienna dengan lembut.
"Engghh.. Gak ada. Cuma kamu." Samuel tersenyum, wajahnya menunduk melakukan apa yang sejak tadi diperintahkan oleh otaknya.
Sienna tidak perlu memikirkan ayahnya karena pria yang sedang melakukan aktifitas favoritnya itu sudah berhasil menyelamatkan ayahnya. Samuel berhasil dalam operasinya sehingga tanpa persetujuan Sienna, Samuel menarik dirinya ke apartemennya.
Samuel tersenyum puas melihat tidak ada tanda-tanda dari Sienna untuk memintanya menyudahi permainannya. Samuel membuka kain terakhir di tubuh mereka. Sienna membatu melihat tubuh Samuel yang begitu sexy.
Samuel terkekeh melihat wajah Sienna yang merona. Samuel kembali mendekatkan mulutnya ke mulut Sienna. Mengeksplor mulut wanita itu dengan menggebu-gebu. Gairahnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
Hati Sienna terasa menghangat saat Samuel meminta izin kepadanya. Samuel harusnya tahu kalau Sienna tidak bisa menolak, gairahnya juga sudah terlalu tinggi. Sienna menjambak rambut Samuel saat pria itu berusaha masuk ke dalam tubuhnya setelah mendapat izin dari Sienna.
Kriingg!!
Samuel mengerang saat suara ponselnya berdering. Samuel berusaha mengabaikan suara ponsel itu tapi tidak dengan Sienna. Sienna tidak bisa mendengar suara ponsel yang memekkikan telinganya.
"Ponsel kamu?" Sienna menoleh ke ponsel Samuel yang berada di meja kaca.
"Nanti aja, please biarin ini selesai dulu." Samuel mencium Sienna lagi agar wanita itu berhenti berbicara tentang ponselnya. Mereka hampir selesai setidaknya biarkan ponsel itu menjadi backsound untuk kegiatan mereka selain suara Sienna.
"Ngeselin banget." Samuel terkekeh di saat ciuman mereka dia mendengar Sienna menggerutu.
Samuel mempercepat gerakannya saat pelepasannya hampir sampai. Keduanya memanggil nama satu sama lain saat pelepasan datang. Samuel mengecup dagu dan bibir Sienna sebelum merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.
Samuel beranjak dari kasur mengambil ponselnya yang masih berdering. Sienna memejamkan matanya melihat Samuel dengan ketelanjangannya berjalan menuju meja. Sienna belum terbiasa melihat pria dewasa polos tanpa sehelai benang pun.
'Mama'
Samuel mengerutkan keningnya saat mengetahui Dara lah yang menelponnya sejak tadi. Samuel kembali menuju kasur, pria itu terkekeh saat melihat Sienna berusaha memejamkan matanya.
"Kamu keterlaluan ya, Mama telpon dari tadi gak kamu angkat?!" Samuel menjauhkan ponselnya dari telinganya saat mendengar teriakan Dara.
"Maaf Ma."
Sienna membuka matanya saat mendengar Samuel memanggil mamanya. Jantung Sienna berdetak dengan cepat. Dia takut jika mamanya Samuel akan berkunjung ke apartemen putranya. Tamat sudah riwayat dia.
"Kamu bisa gak sih nahan burung kamu? Kamu ajak ena-ena Sienna lagi 'kan?"
"Mama tahu darimana?"
Samuel menatap sekeliling kamarnya takut jika Dara meletakkan cctv di kamarnya. Mau di taruh dimana wajah tampannya jika mamanya melihat percintaan panas dia dan Sienna.
"Jangan mikir aneh-aneh ya. Mama punya banyak mata-mata. Coba sini Mama mau ngomong sama calon mantu Mama."
Samuel memberikan ponselnya kepada Sienna membuat wanita itu menatap ragu ponsel Samuel. Pemikiran-pemikiran negatif mulai berputar di kepalanya. Bagaimana jika mamanya Samuel memakinya dengan kata-kata kasar?
"Mama gak akan marah sama kamu. Percaya sama saya."
Samuel menghidupkan loudspeaker di ponselnya agar dia juga mendengar apa yang Dara katakan kepada Sienna. Sienna duduk menerima panggilan dari Dara.
"Hallo Tante?"
"Hallo Sayang. Ini Sienna 'kan?"
"I..iyaa Tante." Sienna meringis saat mendengar tawa Dara.
"Aduuh akhirnya Tante denger suara kamu. Maaf ya Sayang, Sam pasti nyusahin kamu 'kan? Jangan pergi-pergi lagi ya. Sam bisa gila kalau kamu pergi lagi."
"Haa??" Sienna bingung dengan perkataan Dara. Dia tidak mengerti apa yang di katakan wanita paruh baya itu.
"Bingung ya? Nanti malam datang ke rumah ya sama Sam. Ooh iya kalau Sam ngajak main kuda-kudaan lagi jangan mau ya. Nanti aja kalau udah nikah."
Sienna mendengus, "Maah, Sam 'kan—"
"Apa kamu? Kamu dokter tapi ngelakuin sex before marriage."
"Cuma sama Sienna Mah, jadi gak papa. Bermasalah kalau beda-beda pasangan. Udah ya Ma, Sam mau bersih-bersih dulu." Samuel mematikan ponselnya secara sepihak membuat Sienna memukul pria itu.
"Gak sopan!"
"Nanti minta maaf. Sekarang kita bersih-bersih dulu yuk. Udah lima belas menit, kayaknya bibit saya bakal jadi." Samuel menggendong Sienna menuju kamar mandi.
"Sok tahu, ini bukan masa subur aku."
"Bibit saya bibit terbaik Baby."
T A M A T