Pemuda di balik jubah hitam itu mendengus, menghilangkan mana yang barusan terkumpul dalam genggamannya. Sepasang iris gelap terarah ke semak-semak, "Keluarlah."
Angin bertiup kencang, membuat jubah hitamnya ikut tersibak. Dedaunan kemerahan menari dalam embusan angin. Beberapa saat kemudian, seseorang muncul dari balik semak tinggi.
***
Sebuah tangan yang mendarat di bahunya membuat pemuda berjubah hitam itu refleks berhenti. "Kau mau pergi lagi?"
Pemuda itu menoleh, tersenyum. "Kau tidak perlu tahu," ucapnya sambil menyingkirkan tangan pemuda berambut cokelat itu.
Zrash.
Dalam sekejap, sosok dalam balutan jubah hitam itu menghilang bak ditelan bumi, membuat satu-satunya pemuda di kamar itu menghela sambil merapikan rambut, "Kuharap dia tidak membuat masalah."
Zrash.
Pepohonan, rerumputan, sungai jernih, dan semak-semak, serta yang terpenting... tidak ada orang. Tempat sempurna untuk "berlatih" bagi pemuda itu.
Namun ketika tangan yang menengadah hendak mengumpulkan mana, lagi-lagi pemuda itu berhenti dan menoleh ke semak-semak. "Kalau kau memang mau menontonku, sebaiknya kau lakukan dari dekat karena aku tidak nyaman," ucapnya datar.
Lengang. Angin berembus pelan. Iris gelap itu masih setia terarah ke semak-semak.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis dalam balutan gaun hijau menutupi mata kaki melangkah kikuk. "Maaf...," ucapnya sangat pelan.
Pemuda itu kembali mendengus, kemudian mengulurkan tangan ke arahnya. "Yuuma Nosaka."
Sepasang manik biru itu mengerjap beberapa kali, tersadar, buru-buru menerima uluran tangan yang diarahkan padanya. "Namaku Anna Gouenji."
Sudut kanan Yuuma terangkat begitu jabatan mereka terlepas. "'Gouenji' ya?"
Gadis itu sedikit tersentak, bibirnya terkatup berusaha menahan dingin yang tiba-tiba menyengat kulit.
Yuuma menghela. "Katakan, ada apa seorang putri kerajaan ini menemui penyihir sepertiku, Putri 'Anna Gouenji'," pemuda itu tersenyum sinis tatkala raut wajah gadis di depanya menegang. "Tidak, tidak. Seharusnya Putri 'Anna Mikado' kan?"
Bibir gadis berusia 15 tahun itu terbuka, tapi sedetik kemudian senyum terukir di sana. "Maaf sudah membohongimu dan maaf kemarin aku kabur begitu saja. Tapi kuharap kau mau mengerti karena indentitasku 'sedikit' merepotkan," ucapnya disertai senyum kikuk di akhir.
Penyihir berjubah hitam itu tertawa singkat seiring kelopak matanya bergerak turun. "Baiklah. Tapi kuingatkan aku tidak mau berurusan dengan kerajaan."
Mendengar itu, Anna buru-buru menggeleng. "Jangan salah paham. Lagipula jika urusan bertanya, harusnya akulah yang bertanya kenapa kau ada di sini, Yuuma Nosaka."
Yuuma mengernyit. Pandangannya mengikuti telunjuk gadis itu. Ah. Beberapa kilometer ke arah barat, tampak sebuah kastil menjulang tinggi di balik awan. Seketika pemuda itu mengerti.
Yuuma menunduk, meletakkan lengan kanan ke depan dada. "Maafkan kecerobohan saya, Putri. Saya sama sekali tidak menyadari saya berada di wilayah kekuasaan putri dan datang seenaknya. Saya akan pergi sekarang."
Tanpa membuang waktu dan masih di posisi yang sama, Yuuma segera memfokuskan aliran mana ke seluruh tubuh. Sinar keunguan membungkus tubuh di balik jubah hitam itu. Namun tepat sebelum sihir teleportasi siap, pemuda itu terlonjak tatkala merasakan jubahnya tiba-tiba ditarik.
"Ah...." Anna yang cukup terkejut dengan tingkah penyihir di depannya mengerjap, tangan yang semula menarik ujung jubah hitam itu masih menggantung di udara. "Maaf kalau kau tidak nyaman...."
Sekali lagi pemuda itu menghela, menggeleng. "Harusnya sayalah yang minta maaf, Tuan Putri." Iris gelap itu menatap tangan yang buru-buru diletakkan di belakang karena canggung.
"Ini bukan wilayahku," ucap Anna akhirnya. Yuuma mengernyit. "Maksudku, wilayahku berada di dekat sini, tapi mulai dari sini sudah di luar kekuasaanku. Jadi... kau tidak perlu pergi."
Penyihir itu masih terdiam, menatap gadis yang tampak serba salah apapun yang ia lakukan di situasi ini. "Baiklah. Tapi saya tetap akan pergi karena saya lebih nyaman berlatih di tempat sepi."
"A-aku akan diam!" ucap Anna buru-buru. "Dan... aku janji kau tidak akan sadar aku di sini, bahkan kau juga tidak akan sadar kapan aku pergi."
Manik biru itu menatap dalam sepasang manik gelap di hadapannya. Manik gelap menawan yang seolah menyihir manik biru itu untuk terus mengamatinya.
Pemuda itu berbalik, mengambil beberapa langkah menjauh. Anna menghela pelan. Pada akhirnya, pemuda itu tetap pergi.
"Kuingatkan, jika anda berada di sini, aku tidak akan bicara formal lagi ke depannya," pandangan gadis itu refleks tertuju ke sumber suara, pada pemuda yang kini menengadahkan tangan, "karena itu bukan gayaku."
Putri Kerajaan Mikado itu mematung sejenak. Senyum terulas di wajah cantik itu. "Tidak masalah."
***
"Cokelat?" Yuuma refleks menoleh ke belakang. Seorang pemuda berambut cokelat panjang yang diikat satu beranjak duduk di sebelahnya. "Dari mana kau dapat itu?"
Yuuma kembali menatap ke depan, menikmati satu lagi potongan cokelat persegi dari kotak plastik kecil di meja. "Dari seseorang," jawabnya singkat. "Seseorang yang melanggar janjinya kalau aku tidak akan sadar kapan dia pergi."
Pemuda berambut cokelat itu mengerjap beberapa kali, menegup ludah. Seketika merinding melihat senyum yang terukir di wajah penyihir berjubah hitam itu. "Apapun itu, kau sudah dengar beritanya?"
"Apa?" Manik gelap itu membesar tatkala kotak plastik berisi cokelat yang kini kosong, meski tetap datar. Padahal menurut Yuuma rasanya lumayan.
"Katanya pangeran Kerajaan Gouenji datang menghadap raja kita kemarin. Tapi ini aneh, Kerajaan Gouenji berada jauh di utara sana. Butuh waktu berbulan-bulan hanya untuk tiba ke kerajaan ini," jawab pemuda yang tak lain teman sekamar sekaligus satu-satunya teman Yuuma Nosaka, Seiya Nishikage.
Bibir Yuuma seketika membentuk "O", menatap Seiya terkejut. Rupanya nama keluarga "Gouenji" itu benar-benar ada.
Pemuda berambut merah muda itu menunduk, pandangannya kembali tertuju pada kota plastik yang telah kosong. Sepertinya dirinya harus menghargai usaha putri 'penipu' yang bersusah payah mencari nama keluarga yang ada jauh-jauh di wilayah utara sana.
Sekali lagi, Seiya merinding hingga ke titik ia merasa tubuhnya seolah membeku melihat senyuman terulas di wajah seorang Yuuma Nosaka. "Yuuma, besok kau istirahat di kamar saja, aku khawatir padamu."
"...."
***
Mana keunguan berkumpul dalam genggaman kedua tangan, membentuk bola, membesar, hingga kemudian menggelegar dalam radius 3 meter ke sekitar. Sontak pepohonan kering yang terkena efek bola mana itu kembali subur. Dedaunan hijau tumbuh lebat seolah waktu bagi pepohonan itu diputar mundur.
Penyihir di balik jubah hitam itu menghela, menatap sekitar. "Hari ini tidak datang, ya," gumamnya.
Aneh, padahal selama 3 bulan belakangan putri Kerajaan Mikado itu selalu datang mengamatinya latihan. Meski baru seminggu putri itu terang-terangan menontonnya dari dekat.
"Haruskah aku menemuinya?" Yuuma refleks menutup bibirnya tatkala perkataan tak masuk itu meluncur begitu saja. Apa yang barusan ia pikirkan?
Sepasang iris gelap itu menangkap setangkai mawar yang tiba-tiba mekar sempurna di antara rerumputan.
***
Untuk kesekian kali dalam 25 menit, pemuda dalam jubah hitam itu menatap setangkai mawar di tangan. Kaki beralaskan sepatu kulit itu terus melangkah melewati pepohonan, menuju kastil tinggi yang menjulang di balik awan.
Yah, anggap saja balasan untuk cokelat kemarin.
Yuuma mengangguk, sangat setuju dengan pikirannya barusan.
Pandangan pemuda itu spontan tertarik ke atas, pada asap yang mengepul tinggi di depan, di puncak kastil. Merasa tidak enak, pemuda itu segera berlari.
Berbagai spekulasi merangsek masuk ke benaknya. Apa ada kebakaran? Atau serangan dari kerajaan lain? Pemuda itu tersentak. Jika diingat, Seiya bilang pangeran Kerajaan Gouenji baru tiba kan?
Yuuma mendecih. Andai saja dia pernah mengunjungi kastil putri itu sekali saja, ia bisa menggunakan sihir teleportasi.
Tangan di balik jubah hitam panjang itu bertengger di pohon terdekat. Dada pemuda itu bergelombang naik dan turun. Peluh membungkus wajah tampan itu. Namun dalam sekejap, segala lelah itu sirna bergantikan... entahlah.
Blaarr.
"Dengan persembahan putri cantik sekaligus tunanganku, Dewa Rossiel frost Aesterford pasti akan senang! Untuk kesejahteraan Kerajaan Gouenji dan Kerajaan Mikado!" seruan pemuda berambut pirang runcing ke atas itu disambut dengan sorakan meriah dari ribuan orang yang mengelilingi kastil. Dari jubah merah panjang yang menggantung di bahu, Yuuma dapat menerka dialah Pangeran Goeunji yang dirumorkan.
Namun lupakan itu. Saat ini penyihir itu bahkan tidak dapat memikirkan apa-apa. Selarik api besar menyala membungkus kastil tinggi tempat seorang putri tinggal di dalamnya. Tidak, bahkan iris gelap itu dapat menangkap sang putri berdiri di balik jendela yang terbuka lantai teratas.
"Apa-apaan...." Yuuma dapat merasakan sesuatu yang panas mengalir dalam darahnya. Kekuatan di tangannya bertambah hingga tangkai mawar dalam genggamannya bengkok, kemudian terinjak di rerumputan.
Dalam sekejap aliran mana keunguan berkumpul di sekitar pemuda itu, membuatnya mengambang. Tubuh penyihir berjubah hitam itu terangkat melintasi ribuan orang yang masih sibuk bersorak merayakan 'kesejahteran' kedua kerajaan. Sebelum kemudian sebuah suara menghentikan semua itu. "P-penyihir!"
Semua mata spontan terarah pada pemuda yang perlahan mendekat ke jendela teratas kastil. Pangeran berambut pirang itu mendecih. "Serang penyihir itu!"
Sontak ribuan panah menghujam kastil yang tengah dilahap api, meski sebenarnya sasaran mereka hanyalah pemuda itu. Namun panah biasa semacam itu bukan tandingan bagi perisai mananya.
Yuuma terus maju, netranya terus terpaku pada gadis berambut orange terang itu. Pandangan keduanya masih beradu bahkan ketika pemuda itu berhenti tepat di depan jendela.
"Yuuma...." Anna mematung, sama sekali tak menyangka penyihir itu akan muncul. Setetes cairan bening mengalir di pipi. Manik biru itu menatap tangan yang sekali lagi terulur padanya. "Aku akan menyelamatkanmu."
Bibir gadis itu sedikit terbuka. Irisnya memantulkan bayangan seorang pemuda di balik jubah hitam yang menatapnya dalam. Tanpa sempat berpikir, putri yang hendak dikorbankan menerima tangan itu.
Blaarr.
Api melahap tempat gadis itu berdiri sedetik lalu, membuat bingkai jendela itu menghitam. Anna menegup ludah. Tanpa sadar kedua tangannya berpegang pada bahu Yuuma. Begitu pun pemuda itu tanpa sadar melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu.
Namun tentu saja, situasi tidak mendukung mereka untuk menyadari hal itu.
Ribuan panah terus menghujam ke arah mereka, meski selalu terpental begitu mengenai perisai mana Yuuma. Dari jauh, tampak jelas kekesalan dan bibir yang merutuk mereka.
"Kau mau kuhabisi mereka?" Anna refleks menoleh begitu menatap wajah datar yang kini mengerutkan dahi, kemudian ke lengan yang mengarah ke depan, bersiap menyerang.
"Jangan!" Putri Kerajaan Mikado itu berseru, menggenggam lengan yang bisa ia rasakan sedikit bergetar. Sepasang iris gelap itu mendelik. "K-kau... bisa dalam masalah nanti...."
Lengang sejenak di dalam perisai mana keunguan itu. Keributan dan kekacauan di sekitar kastil seolah hilang begitu saja.
Tiba-tiba pemuda itu tertawa sinis, membuat sang putri sedikit takut. "Kau tahu siapa aku?" Pemuda itu menggeleng. "Kau bahkan tidak akan menerima uluran tanganku kalau tahu."
"Kau adalah Yuuma Nosaka, penyihir," jawab Anna ragu.
Mendengarnya, Yuuma tertawa singkat. Pemuda itu menurunkan tudung jubah yang selalu ia kenakan, menampakkan sepenuhnya rambut merah muda di balik sana. Juga... sebuah tanda berbentuk petir di belakang leher. "Aku Yuuma Nosaka, putra dari Yuuto Kidou, cucu dari Ryuuji Midorikawa. Aku adalah keturunan 'penyihir jahat'."
Anna mengerjap, sedikit memiringkan kepala. "Aku tahu. Lalu?"
Kali ini giliran sang pemuda yang menganga. Semua kepercayaan diri dan keyakinan lenyap dari wajah tampan itu.
"Aku adalah putri, tidak mungkin aku tidak mengenali keturunan 'penyihir jahat' kan?" ucap Anna sambil memincingkan netra.
Belum sempat Yuuma bereaksi, tangan gadis itu lebih dulu menyentuh tanda petir biru di leher belakang pemuda itu. "Menjadi keturunan dokter bukan berarti akan menjadi dokter juga. Menjadi keturunan pembunuh bukan berarti akan menjadi pembunuh," manik biru itu menatap iris gelap itu dalam, "dan menjadi keturunan penyihir jahat, bukan berarti kau akan menjadi penyihir jahat."
"Aku sudah mengamatimu selama 3 bulan ini. Aku tahu kau meramal sihir di sana bukan untuk sekedar berlatih, tapi untuk menjaga jumlah mana dalam tubuhmu tetap stabil agar tidak meledak dan membahayakan orang di sekitarmu," Anna beralih merapikan helaian poin merah muda itu. "Kau adalah penyihir. Itu saja. Aku percaya kau adalah seorang penyihir yang baik."
Yuuma menatap datar manik biru yang menatapnya dalam, raut wajah putri yang menatapnya lembut sekaligus penuh ketegasan. Pemuda itu tersenyum, dapat merasakan jantungnya berdegup cepat. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan, Anna."
Zrash.
Fanfic dari "Inazuma Eleven Ares".