Teng
Denting jam berbunyi nyaring di tengah keheningan malam, membuat seorang gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya menjadi terbangun. Gadis itu bernama Azeline.
Azeline's POV
Sial, lagi-lagi aku terbangun karena jam dinding itu, memang aku sering terbangun karena suara-suara kecil, contohnya denting jam di rumahku yang akan berdenting nyaring di jam 12 malam.
Aku ingin tertidur kembali, namun rasa kantuk tak kunjung menghampiriku hingga membuat diriku termenung memikirkan kejadian yang aku alami akhir-akhir ini.
Setiap aku bangun dari tidurku, aku selalu mendapati sebuah surat yang tergeletak di meja belajarku, setelah aku buka tidak ada kalimat lain selain 'Tunggu aku sayang, aku akan menjemputmu.' Hampir setiap pagi aku mendapatkan surat itu.
Kemudian saat aku sedang berjalan menuju sekolahku, aku merasakan bahwa ada yang tengah mengikutiku, namun saat aku melihat ke belakang disana tidak ada siapa-siapa selain pejalan kaki yang sedang berjalan seperti biasanya. Selalu saja seperti itu setiap aku keluar rumah.
Berlanjut hingga malam tiba, mungkin saat malam hari bisa aku katakan sebagi puncak dari peneroran itu, bagaimana tidak, setiap malam hari aku sering mendengar langkah kaki yang suaranya berasal dari luar jendela kamarku.
Setiap kali aku membuka tirai yang menutupi jendela, selalu saja aku tidak pernah melihat siapapun.
Tak cukup sampai disitu, pernah sekali aku bermimpi bahwa setiap harinya aku selalu diawasi oleh sesosok makhluk, entah apa makhluk itu, tapi yang pasti sejak mimpi itu menimpaku, kehidupan ku yang semula tenang bergantikan menjadi perasaan gelisah seolah-olah aku sedang diikuti setiap waktu.
Mengenai langkah kaki itu, aku merasa bahwa langkah kaki itu bukanlah berasal dari sesosok makhluk halus, entah mengapa aku bisa berpikir begitu.
Tap... Tap... Tap
Suara langkah kaki itu lagi!
Aku mulai penasaran dengan siapa orang yang selalu melangkahkan kakinya di luar jendela kamarku.
Aku mulai bangkit dari ranjang dan berniat membuka tirai jendela, namun sebelum itu terjadi aku merasakan deru nafas hangat seseorang menerpa leher jenjangku
Detik berikutnya aku merasakan ada sepasang tangan kekar memeluk pinggangku posesif
Tubuhku kaku, aku baru pertama kali mendapat perlakuan ini seumur hidupku
Namun entah mengapa kantuk yang sedari tadi ku tunggu kini telah menyerangku, sebelum kegelapan menyergapku, aku mendengar sekilas orang itu mengucapkan kalimat yang terkesan penuh kepemilikan
"You are mine and I am yours, I will take you, make you the luckiest woman for having succeeded in capturing the heart of a demon lord."
******
Saat Azeline terbangun, hal pertama yang ia lihat adalah sebuah bangunan kamar yang sangat mewah serta luas.
Azeline kagum, biar bagaimanapun kamar miliknya dengan kamar yang ia tempati sekarang rasanya sangat amat berbeda, kamar ini terlihat seperti kamar-kamar putri bangsawan
Lama mengagumi kamar ini membuat Azeline tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang menatap ke arahnya
Pria itu mulai melangkah mendekati Azeline yang saat ini tengah terduduk di atas ranjang
"Kamu sudah bangun?" Tanya pria itu
"Kamu siapa?" Azeline tak menjawab, ia justru membalikkan pertanyaan sang lawan bicara
Pria itu mendudukkan dirinya tepat di sebelah Azeline sebelum menjawab pertanyaan gadis itu
"Aku calon suamimu."
"C-calon suami? Apakah kita saling mengenal?" Tanya Azeline
"Aku sudah lama mengenalmu, namun tampaknya kamu sama sekali tidak mengenaliku."
"Aku Louis, si raja iblis." Lanjutnya
"I-iblis?"
"Tenanglah, aku bukan iblis yang suka mengganggu manusia, aku iblis dunia immortal."
"Immortal?"
"Jadi sekarang aku berada di duniamu?"
"Ya, dan tak lama lagi kamu akan menjadi ratunya."
"Oh my gosh, demi kerang ajaib aku sungguh tak menduga bahwa aku akan berakhir disini," ucap Azeline membatin
"Mimpi apa aku semalam?"
"Oh iya aku lupa, semalam kan aku tidak bisa tertidur, sekalinya tidur tidak ada mimpi alias hitam."
"Hei kenapa kamu melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Louis
Dalam pendengaran Azeline suara pria itu terdengar rendah sekaligus seksi secara bersamaan, katakan Azeline terpesona pada pria itu.
"Bisakah kamu mengantarku pulang?"
Hell, sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan di dalam benak gadis itu yang ingin ia utarakan kepada pria yang ada di hadapannya, namun rasa rindu terhadap keluarganyalah yang terpenting. Ia ingin pulang!
"Mengapa kamu ingin pulang gadis kecil?"
"Aku ingin bertemu orangtuaku, aku rindu, aku tidak bisa berjauhan dengan mereka." Ucap Azeline lirih
"Kamu boleh bertemu dengan mereka, kamu boleh berkunjung jika kamu rindu. Tetapi satu hal yang perlu kamu ketahui, istana ini akan menjadi rumahmu. Tempat kamu pulang, bukan lagi rumahmu yang dulu. Karena apa? Karena nanti kamu akan menjadi istriku, permaisuri ku, ratu ku yang akan selalu berada di sampingku."
"Sejauh apapun kaki kecilmu berusaha kabur dari sini, pada akhirnya kamu akan kembali lagi ke rumahmu."
"Aku sudah mengklaim mu menjadi milikku, menyingkirkan seluruh gadis yang berusaha dekat denganku."
Mendengar untaian kata-kata yang terucap dari bibir tipis di hadapannya ini, membuat Azeline seketika luluh.
Memang pesona Raja Iblis tidak usah diragukan lagi.
Azeline's POV
Aku baru menyadari jika pria dihadapanku ini memiliki paras yang sangat tampan dengan hidung mancung, garis rahang tegas, bibir tipis menggoda, tatapan matanya yang tajam bagaikan burung elang, sungguh ini sebuah definisi pria tampan yang sesungguhnya.
"Terpesona heh?"
Pertanyaan itu sontak membuatku salah tingkah. Demi pluto! Siapa yang tidak malu jika kamu ketahuan sedang memperhatikan lawan bicaramu?
"Hah t-tidak" ucapku mencoba mengelak
"Hahaha tidak usah mengelak begitu sayang~"
Apa yang tadi dia katakan? Sayang? Demi neptunus, kurasa saat ini pipiku sudah dipenuhi rona merah, pipi sialan, blushing tidak tahu tempat!
"Pipi mu merah, apa kamu sakit sayang?"
Terlihat sekali raut khawatir melingkupi wajahnya, namun entah apa yang terjadi padaku sehingga aku sangat membenci wajahnya yang pura-pura bodoh itu, ya begitulah pemikiran Azeline, selalu berpikiran negatif.
"Aku tahu kamu ingin tertawa, jadi silahkan saja!" Ucapku garang
"Siapa yang ingin tertawa sayang, aku sungguh mengkhawatirkan mu."
"Ck... Tidak usah mengelak Louis!"
"Baiklah-baiklah maafkan aku Azeline."
"Lebih baik aku meminta maaf daripada masalah ini akan menjadi semakin rumit." Lanjutnya dalam hati
"Akan sangat sulit menghadapi wanita daripada menghadapi musuh."
"Apakah seluruh wanita tidak bisa disinggung perasaannya? Sangat mengerikan jika seluruh wanita yang ada di dunia memiliki sifat seperti gadisku."
Kira-kira begitulah isi pikiran Louis
"Lupakan masalah itu, sekarang aku ingin bertanya, apakah kamu penulis dari surat yang selalu kutemui pagi hari-" ucapan Azeline terpotong karena Louis yang sudah lebih dulu menjawabnya
"Teror yang selama ini kamu alami itu semua berasal dariku."
"Kenapa kamu melakukan semua itu?"
"Maksud dari itu semua tidak lain dan tidak bukan untuk menjagamu, melindungimu dan mengingatkanmu terhadap sosokku. Pada waktu yang tepat aku akan menampakkan wujudku dan setelahnya aku akan membawamu menuju duniaku. Dan waktu yang tepat adalah adalah kemarin."
"Why did you bring me to your world?" Tanya Azeline
"Because I have chosen you, chosen you to make you the most respected queen in this immortal world." Jawab Louis
"I really intend to marry you soon, after that we will live happily, carve a beautiful story that will make everyone remember it as the happiest love story." Lanjutnya
"I love you very much my queen." Ucap si pria
"I love you too my king." Jawab si wanita
Sedetik kemudian sebuah ciuman lembut tiba-tiba mendarat di bibir Azeline, Louis mencium bibirnya lembut, sangat lembut hingga membuat Azeline merasa terbuai.
--------------
Berawal dari peneroran yang dilakukan Louis terhadap Azeline hingga berakhir pria itu berhasil membawa sang pujaan hati ke istana nya. Itu semua atas dasar cinta, tidak ada perasaan memaksa ataupun terpaksa dari kisah cinta ini
-Tamat-