Haru adalah aku, Haruko adalah kakakku dan Haruki ialah adikku.
Haruko, Haru, Haruki. Kami bertiga tinggal di sebuah villa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Sudah 3 tahun tanpa alasan yang jelas ayah mengirim kami tinggal disini... Atau tepatnya bersama seorang asisten rumah tangga, bibi Yui. Kami tinggal menjauh dari keramaian.
Demikianpun kami hidup bahagia. Kami selalu bermain bersama dan menghabiskan banyak waktu menyenangkan di taman rumah. Terutama aku yang sudah tidak lagi mempedulikan lagi kenapa ayah megasingkan kami seperti ini. Yang penting bagiku adalah bersama Haruko oneesan dan Haruki, aku bahagia.
"Nee~ ne~ kalian lihatlah diam-diam kearah jendela,"
"Eh?" Aku dan Haruki yang sedang bermain kelereng di taman vila, di bisiki Haruko Oneesan tiba-tiba. Kami pun mengikuti permintaannya dan melirik ke jendela Villa yang hanya terdapat di lantai dua.
Tubuh kami membeku sesaat.
Haruki menyudahi lirikannya. "Bibi Yui lagi... Abaikan saja dia, neesan!" pinta Haruki merampas kelereng di tanganku.
Haruko onee-san pun mengangguk. "Tapi tetap saja yah, sedih sekali rasanya mendapat perlakuan tak adil seperti ini, padahal kita bertiga bersaudara, tapi bibi Yui--"
"Ck! Dia hanya pembantu rumah tangga Nee-san! Bagiku terserah padanya mau memperhatikan siapa... Yang penting dia membersihkan villa dengan benar! Kenapa sih nee-san selalu mempermasalahkannya?!"
Salivaku terteguk berat mendengar Haruki menyela kalimat Nee-san. Haruki memang agak tempramen, tapi sebenarnya dia sosok yang perhatian dan penyayang. Lalu tentang bibi Yui, sejak lama aku sudah merasakan aura aneh padanya. Aku tidak terlalu menyukainya karena perilakunya kepada dua saudaraku.
"Go-gomen..." pada akhirnya Haruko Nee-san meminta maaf sambil menundukkan kepala. Haruki lantas menghampirinya dan memeluk. Dia mungkin sedang mengatakan maaf kepada Nee-san karena telah membentaknya. Sementara aku, aku hanya terdiam di tempatku. Aku masih memperhatikan kearah jendela dimana bibi Yui juga menatapku dengan wajah datarnya.
Karena Bibi Yui, ada jarak yang memisahkanku dengan Haruko Neesan dan Haruki.
"Aku benci"
***
"Nee oneesan! Haruki! Apa kalian tahu, bulan purnama akan datang nanti malam! Aku melihat beritanya di televisi, ayo saksikan bersama-sama di jendela kamar!" Mengatakan hal menarik untuk kembali menjalin ke akraban, inilah caraku agar ikatan kami tidak meregang. Dan seperti biasa, Haruko Neesan mengangguk menyetujuinya, begitupun Haruki yang langsung mengalungi leherku dengan lengannya.
"Ide bagus! Kita akan melihatnya setelah makan!"
"Kamu bersemangat seperti biasa, yah? Neesan senang, pasti akan ada banyak bintang yang terlihat!"
Mataku berbinar mendengar jawaban mereka... Beberapa jam lagi hari memang menuju malam, kami pun sengaja mengakhiri aktivitas ditaman rumah, kami bergegas menghampiri ruang makan untuk menyantap makanan.
Brak.
"Haish... Haruki! Jangan menendang kursinya sebelum duduk. Kamu kan bisa menariknya pelan-pelan seperti ini," nasehat neesan disampaikan sambil memperagakan cara duduk yang benar di meja makan. Neesan memang paling anggun soal bersikap. Tidak seperti Haruki yang urak-urakan.
"Baikk Haruko sama~ lain kali takkan ku ulangi..."
"Pfft!"
Meski memiliki sifat yang berbeda. Bukti bahwa Haruki adalah anak yang penurut terlihat jelas. Aku yang masih berdiri, sampai tak tahan untuk tertawa.
"Hei! Kau menertawakan ku?" Bentak Haruki menolehkan kepalanya.
Akupun mencoba berhenti tapi tetap saja. Tawaku terus terbahak disana. Haruki lantas menghampiriku hingga kursinya terguncang dan jatuh ke lantai.
"Ck! Haruki, bangkunya!" Omel Neesan.
"Kau!" Namun mengabaikan omelan kan itu, dengan sendok di tangannya, Haruki berlagak akan menusukku. Haha. Aku mana mungkin takut. Haruki adalah adikku, aku tahu dia hanya bercanda.
PRANG!
Tapi mendadak menghentikan kebisingan kami, bibi Yui yang baru datang menampilkan wajah terkejutnya. Bibi menjatuhkan nampan makanan yang dia bawa dan meski wajahnya pucat seperti mayat, dia dengan gemetar menghampiri ku. Bibi Yui berlutut.
"Oo-onegai! Kumohon jangan sakiti tuan Haru! KU MOHON PADA KALIAN!!"
Huh?
Teriakan bibi Yui mengubah suasana.
Apa maksud wanita itu?! Haruki akan menyakiti ku?! Omong kosong!
"Bibi, jangan bicara sembarangan sama saudaraku!" Aku tentu membela Haruki. Bibi yang masih berlutut tanpa melihat ke arah kami namun menangis tersedu-sedu.
"Tolong! Tolong jangan sakiti tuan Haru! Tolong!!! Aku mohon kepada kalian untuk tidak menyakitinya!!"
"BIBI YUI!"
Terengah-engah meneriaki bibi yang tak hentinya menuduh saudara-saudaraku, kurasakan pundakku naik turun. Aku sungguh tidak terima! Bibi selalu saja memperlakukan kami dengan berbeda. Padahal dia hanya asisten rumah tangga, seharusnya dia melakukan tugasnya saja!
Bibi Yui perlahan menaikkan pandangannya. Dia menatapku dengan mata basah dan ingus yang hampir keluar. Aku membuang muka.
"Ayo, Haruki!" Ku tarik tangan haruki untuk kembali ke meja makan. Haruko Oneesan yang sejak tadi memperhatikan tak lagi bicara. Dia tertunduk dan aku tahu betul perasaannya. Aku sontak menggenggam tangannya setelah duduk disebelahnya.
Haruko oneesan namun melengkung senyum terpaksa.
"Bibi akan membawakan makanan yang baru, tolong tunggu sebentar tuan Haru,"
Aku tak menanggapi kalinat bibi Yui. Bagiku membiarkannya berlalu ke dapur adalah pilihan terbaik. Aku hanya tak ingin melepaskan genggaman tanganku pada Haruki oneesan dan Haruki. Aku ingin membuktikan pada Bibi, kalau bibi takkan bisa memisahkan kami.
Tak peduli sebesar apapun perbedaan sikap yang bibi tunjukan diantara kami. Itu takkan berpengaruh.
"Permisi," tak beberapa lama. Bibi kembali datang menyajikan makanan. "Silahkan di nikmati, tuan Haru," pintanya tapi, dia sungguh tak beradap hanya menyajikan makanan untukku, padahal kami duduk bertiga disini. Akupun menatap nyalang pada bibi yang membeku.
"BERAPA KALI KU BILANG UNTUK MENYAJIKAN 3 PORSI! BUKAN SATU! SEBENARNYA BIBI MENGANGGAP KAMI INI APA?!" Marahku seraya menggebrak meja.
Aku berdiri menghadap bibi, tapi tiba-tiba, tanganku dipegang Oneesan yang tersenyum sendu memintaku kembali duduk.
"Sudahlah... Dia mungkin sudah tua, makanya lupa menyajikan tiga," ucap Haruki bersama tawa kecil menanggapi keteledoran bibi.
Tapi ini sudah kesekian kali wanita ini berlaku begini!
Kenapa kalian selalu memafkannya?!
Menggertakkan gigi menatap bersalah pada mereka berdua, pandanganku lagi-lagi tersapu saat bibi dengan acuhnya meninggalkan kami diruang makan.
Sial!
"Wanita tua itu kelewatan!!"
****
Hahhh...
Merebahkan diri di kasur yang empuk setelah seharian beraktivitas adalah kenikmatan tiada tara. Aku dan Haruki meregangkan tubuh untuk melepas rasa lelah disana, tapi tampaknya.
"Hei! Kalian menjatuhkan bantal ke lantai! Bantalnya nanti kotor!" Haruko Onee san jengkel dengan tingkah kami. Oneesan baru kembali dari kamar mandi, wajahnya yang cantik dan segar nampak ditekuk karena melihat kearah tempat tidur.
Wajar sih. Aku dan Haruki memang nggak ada kerjaan sampai memberantaki susunan tempat tidur yang semula rapi. Kami dengan wajah bersalah akhirnya beranjak memunguti bantal dan merapihkan ulang seprainya. Kami rela, semata agar Oneesan tidak marah. Hihi!
"Kapan bulan purnama nya terlihat?" tanya
oneesan ditengah mengeringkan rambutnya. Aku melihat jam dinding.
"Kurasa takkan lama lagi,"
"Takkan lama itu, artinya sama dengan menunggu. Menunggu itu membosankan!" Haruki membanting kembali tubuhnya keatas kasur. Akupun menghampiri jendela. Awan hujan masih menutupi langit hingga cahaya rembulan tak terlihat disana. Bintang pun hilang termakan gelapnya.
"Eum... Gomen, sebenarnya Haru hanya menduga. Waktu pastinya bulan terlihat, Haru tidak tahu... Haru hanya melihat tayangan di televisi siang tadi," jujurku.
Haruko Oneesan dan Haruki hanya terdiam setelah itu. Mereka mungkin saling menatap sebelum beranjak menghampiriku yang berada didepan jendela seorang diri.
Tuk tuk tuk.
Haruko Oneesan mengetuk tiga kali kaca jendela dengan kukunya. Aku menatapnya, suara lembutnya lalu terdengar menyanyikan sebuah lagu dengan tempo.
"Lala Lala Lala la~ Lala Lala Lala la~" Haruko oneesan melengkung senyum seraya menatpku.
"Twinke Twinkle little star?" sahutku.
Haruka oneesan pun mengangguk. "Mungkin jika kita nyanyikan itu, bintang segera terlihat dan purnama akan muncul," ujarnya... Lalu giliran Haruki yang mengetuk kaca 2 kali dengan punggung tangan. Dia ikut menyanyikan sebuah lagu dengan tempo berbeda.
"La la lalala~ lala lala lalala~ Lala lalala~ la~ la~ lalala~"
Tak kuduga, suara Haruki sangat merdu saat bernyanyi. Akupun menatap kagum padanya "Aku lupa nama lagunya. Tapi aku tahu itu lagu mengusir hujan... Rain-rain go away~" ucapkj menyanyikan satu Baris lagu tersebut. Haruki mengangguk.
"Kurasa jika kita menyanyikannya, hujan akan berhenti dan langit akan memberi tempat bagi bulan untuk bersinar," kata Haruki. Keduanya lantas menatap sendu langit malam yang masih menurunkan hujan. Melihat mereka akupun tak habis pikir.
... Kenapa yah?
"Pfft!" Tak kusadari, lagi-lagi aku tertawa di situasi yang kurang tepat. Tawaku membuat Haruko Oneesan mengerucut bibir, sedangkan Haruki memukul pelan kepalaku.
"Kamu ini! Kita mencoba menghiburmu dan kamu malah tertawa?" Ucap Neesan.
"Sini kau! Kuberi kau pelajaran!"
"Ehh?! Tunggu!" Memundurkan langkah untuk menghindar dari bogeman Haruki, aku menahan tawa. "Haru hanya berpikir kita seperti anak kecil. Maksud Haru, berharap melihat bulan dan bintang dan mengharapkan hujan berhenti, persis seperti anak TK bukan?!" Tawaku kembali pecah.
Tapi disana hanya memperhatikanku dengan lengkungan senyum indah mereka. Haruka Neesan dan Haruki tak lagi bicara. Mata kami hanya bertemu dan tiba-tiba, jantungku berdebar cepat kala cahaya rembulan menyorot keduanya dari belakang.
Bagaikan sihir, harapan dalam lagu yang baru saja mereka nyanyikan menjadi kenyataan. Akupun membisu memperhatikan... Entah mengapa, rasanya sakit melihat mereka berdua masih bisa tersenyum begitu indah setelah semuanya.
Padahal bibi Yui selalu memperlakukan mereka dengan berbeda. Padahal setiap kami berada di meja makan, bibi hanya akan menyajikan makanan untukku. Padahal kami bersaudara. Tapi bibi seolah membenci Haruko Neesan dan Haruki.
Perlakuannya terhadap kedua saudaraku membuatku merasa bersalah pada mereka.
"Sudah waktunya, Haru..."
"Ayo kita lihat bulan purnama bersama-sama."
Sungguh....
Aku tak bisa menahan diriku saat pemandangan yang indanya melebihi penampakan bulan purnama, menyapa netraku dengan begitu menyilaukan. Aku ingin menangis dan memeluk keduanya... Tapi... Sesuatu seolah mencegahku.
Langkah kakiku terasa sangat berat hingga ketimbang maju. Aku justru bergerak mundur...
"Haru?"
Uluran tangan Haruko Oneesan dan Haruki kujauhi sampai tubuhku berada diambang pintu kamar tanpa kusadari. Tenggorokanku tercekat disana.
"Haru, ada apa?"
"Ha-haru, haus..." Itulah kebohongan yang kukatakan sebelum beranjak keluar kamar seperti orang gila.
Aku tidak tahu kenapa, tapi jantungku mungkin akan keluar dari rongga dada jika tetap berada disana. Akupun berlari dengan kucuran keringat meski ini adalah malam hari. Udara dingin yang menusuk kulitku lewat jendela lorong seolah tidak berguna.
Tanpa kuduga, langkahku lalu membawaku bukan ke dapur. Melainkan kedepan sebuah ruangan berpintu mahoni saat kudengar suara didalam. Lewat celah pintu itu aku mengintip. Cahaya remang lampu disana memperlihatkan ku sesosok wanita bercelemek putih, tengah terduduk disebuah sofa dengan telepon genggam ditangannya.
"Bibi Yui," batinku menatap malas.
"Untuk apa aku kesini?" Ku mundurkan saja langkah dan menghela nafas. Seharusnya aku tak usah peduli dengan siapa yang bibi hubungi malam-malam begini. Aku kan benci dengannya.
Aku membencinya!
Namun...
"Hiks!"
Saat ku dengar suara tangisnya didalam. Langkahku yang hampir pergi tertahan.
"Tuan besar... Tolong kunjungi tuan muda Haru agar dia mengingat apa yang sebenarnya terjadi..."
"?!" Apa yang baru saja wanita itu katakan? Apa dia bicara dengan ayah di telepon?
Karena rasa penasaran yang membuncah, aku mendekati celah pintu itu untuk kedua kali. Bibi Yui yang sesenggukan lalu berkata.
"Benar tuan... Gangguan yang didapatnya setelah kecelakaan lima belas tahun lalu semakin parah. Mengisolasinya disini takkan pernah menyembuhkan tuan Haru!"
Gangguan??
"Pada awalnya tidak separah ini, tapi kini imajinasinya telah membangkitkan sesuatu yang tidak bisa saya mengerti... Beberapa benda mulai bergerak, jatuh, melayang, dan bahkan hampir menyerang tuan muda haru tepat didepan mata saya... Hiks!"
Lututku melemas. Tak kusangka tubuhku merosot di lantai.
"O-omong kosong apa ini? Kenapa bibi Yui mengatakan omong kosong sebesar ini?!" Aku tak kuasa kembali melihat kedalam celah. Sungguh, aku ingin meninggalkan tempat itu tapi kakiku lemas entah karena apa.
"Tuan muda Haruse tidak hanya berimajinasi tentang mendiang nona Haruko dan adiknya saja, ini bukan hanya skizofrenia biasa jika banyak hal gaib terjadi disekelilingnya, tuan besar... Tolong... Tolong kunjungi tuan Haruse disini. Tolong beri dia kesempatan memulai kehidupan barunya..."
Jantungku berdebar cepat.
Haruse?
"Tuan Haruse sudah lama terjebak dalam masa lalunya. Dia harus segera mengingat tragedi itu."
DEG!
Sebuah ingatan yang terputar bagaikan kaset rusak, tiba-tiba menyakiti kepalaku dan membuat telingaku berdenging hingga terbaring di lantai.
"AAAARGHHHHH!" Aku berteriak saking sakitnya. Air mataku mengucur deras dibarengi sebuah uluran tangan menggapai tubuhku.
"Tuan! Tuan Haruse!"
Semua ini bohong'kan?
"Tuan Haruse?!"
SEMUA INI BOHONG BUKAN?!
TIDAK MUNGKIN HARUKO ONEE SAN DAN HARUKI, SUDAH MENINGGAK LIMA BELAS TAHUN SILAM!
Tidak... Tidak.... Tidak!!
"ARGHHHHHH!"
Pada akhirnya yang bisa aku lakukan setelah banyak memori bermunculan hanyalah berteriak. Meski kaki ku ingin berlari dan memastikan kehadiran Haruko Neesan dan Haruki didalam kamar, aku tak memiliki tenaga. Kepalaku terasa sangat sakit seolah akan pecah saat itu juga.
"Tuan... Tuan Haruse, bibi disini nak... Bibi bersama mu!"
Satu-satunya yang menjadi penyelamatku hanya elusan tangan keriput wanita tua itu.
Bibi Yui...
Pandanganku mengabur setelah melihat wajah rentanya.
Apa ini...
kenyataannya?
***
Epilog.
Seperti hari cerah lainnya. Taman bunga didepan villa menjadi lahan bermain yang sangat nyaman bagiku. Aroma bunga-bunga yang menyerukan aroma madu, hembusan sejuk angin, dan banyaknya kupu-kupu berterbangan disekitar adalah penampakan yang sempurna dibawah bentangan langit biru.
Cahaya Matahari yang menyilaukan pun, entah mengapa baru membuatku sadar bahwa tubuhku tidak lagi sekecil dahulu. Aku sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa dalam sekejap mata. Sulit dipercaya, bukan? Tapi yeah, inilah kenyataannya.
Haruse Hasegawa, kini sudah berusia 23 tahun. Haruse tidak lagi bermain kelerang atau layangan bersama mendiang adik kecilnya yang bernama Haruki. Haruse tidak lagi bermain mencari Semanggi berdaun empat bersama mendiang kakaknya, Haruko.
Semua aktivitas yang selama ini ku ulangi kukakukan, rupanya adalah rutinitasku sebelum kecelakaan tol menimpa kami 15 tahun silam... Saat itu Haruko neesan, aku dan Haruki berusia 8 tahun ketika ayah menghadiahkan sebuah villa dalam rangka memperingati ulang tahun kami. Ayah, dia adalah seorang CEO yang mengurus tiga anak kembarnya seorang diri. Ibu meninggal saat melahirkan kami, jadi untuk menghilangkan kesedihan setiap kali ulang tahun dirayakan, ayah mengajak kami kesebuah villa yang dinamakan atas nama kami bertiga.
Haruko, Haruse dan Haruki. Menjadi Koseki atau (keajaiban).
Pada hari itu kami semua bermain kelereng, mencari Semanggi berdaun empat di pekarangan, membicarakan bibi Yui (seorang babysitter) yang sibuk mengintip kami di jendela villa, lalu makan malam dan ketika hari sudah larut, kami melihat penampakan bulan purnama di jendela kamar... Karena mengalami skizofrenia dan amnesia, aku terus mengulangi rutinitas itu setiap harinya.
Dokter berkata, itu mungkin cara otakku mempertahankan satu memori agar memiliki alasan hidup. 15 tahun pun berlalu, ayah yang sudah tua namun tidak bisa mewariskan kepada siapa-siapa perusahaannya, pada akhirnya menanggung semua tanggungjawabnya sendirian... Untuk keamananku yang saat itu menjadi anak semata wayangnya, beliau mengatakan pada media bahwa ketiga anaknya telah meninggal dunia.
Ayah memikirkanku dan tak ingin media menyentuhku. Dia memilih mengasingkan ku demi keselamatanku, tapi karena tugasnya yang begitu banyak, membuatnya perlahan-lahan jadi jarang mengunjungiku.
Saat itulah Skizofrenia ku semakin parah. Bibi Yui yang kubenci rupanya ialah sosok yang selalu mengurusku dengan sepenuh hati. Dia sabar dan tekun, sampai akhirnya beberapa gangguan astral dia jumpai di sekitar kami.
Begitulah... Diriku yang masih terjebak dalam memori 15 tahun lalu, menciptakan dunianya sendiri hingga makhluk-makhluk yang seharusnya hanyalah imajinasi, terbentuk atas keinginanku sendiri.
"Tuan Haru?"
Aku tersenyum. Kini sudah waktuku untuk kembali.
"Haruse saja tidak apa-apa Bi," sahutku.
Akupun bangkit dari kursi bersama alat-alat lukis yang kini menjadi temanku menghabiskan waktu. Ini sudah setahun sejak malam purnama itu.
"Sangat indah, tuan..."
Aku mengangguk.
Nampaknya, bibi menyadari siapa yang ku lukis di kanvas. Bibi sampai mengucur air matanya dan tak kuasa menatap lukisanku lebih lama. Aku hanya tertawa.
"Bi, terimakasih untuk semuanya," ucapku seraya meletakkan alat-alat lukis. Akupun beranjak memeluk bibi Yui.
"Yokatta~" lirihnga. Selama ini, bibi begitu menyayangiku hingga rela mengikuti rutinitasku yang akan menatap ke jendela lantai dua setiap jam 4 sore. Setiap hari, bibi menunggu disana dan ketika dia tahu sudah waktunya, dia akan muncul sebelum aku menoleh kebelakang.
Aku yang terus mengulang memori. Rupanya sudah merepotkan bibi melebihi yang ku kira. Bibi pun menangis tersedu-sedu disana.
"Tuan sudah sembuh, tuan sudah sehat sekarang... Bibi senang kalau tuan Haruse bahagia," ujarnya. Aku mengangguk mengiyakannya.
Benar... Hari ini adalah malam terakhir kami di villa ini. Villa yang telah menjadi tempatku bermain dengan Haruko Oneesan dan Haruki, ku putuskan untuk meninggalkannya dan membantu ayah dalam mengurus perusahaannya.
"Ayo kita istirahat, bi..." Ajakku. Malam pun tiba dan hujan turun begitu deras.
Sama seperti malam itu.
Semakin deras...
Semakin tertutup langit dengan gumpalan awan...
Semakin tiada bintang yang terlihat disana...
Semakin pula juga senyuman yang ku tampilkan kala menunggu ketukan mereka.
Yeah... Kurasa waktunya perpisahan dengan mereka yang tidak bisa lagi kulihat wujud indahnya. Tapi selalu memunculkan ketuk dan senandung lagu yang sama setiap malamnya.
Selama setahun terakhir, meski dokter telah menyatakan diriku sembuh, aku selalu merasakan kehadiran mereka. Akupun, entah sejak kapan selalu menunggu mereka di tepian kasur di kamar itu.
Tuk tuk tuk.
Tentu pada mulanya aku merasa takut.
"Lala Lala Lala la~ Lala Lala lala la~"
Tentu pada mulanya aku menganggap diriku tak waras.
Tuk tuk.
Tapi setelah banyak berpikir.
"La la lalala~ lala lala lalala~ Lala lalala~ la~ la~ lalala~"
Jika bukan mereka. Siapa lagi yang menemaniku selama 15 tahun terakhir?
Akupun beranjak dari tepian kasur menuju jendela. Gorden yang tertutup rapat kusibak dengan satu tangan, dan terpancarlah... Cahaya bulan purnama yang menerangi kamar kami setelah hujan.
Mungkin... memang bukan Haruko oneesan dan Haruki yang menemani ku selama ini. Tapi keduanya selalu bersamaku.
Bahkan untuk sekarang...
"AyO IkUt KAmi, HaRu~"
Kuku panjang yang tiba-tiba hadir disebelahku, dan tubuh tinggi hitam yang menjulang tinggi hingga ke atap, kurasakan mendorong bahuku keluar dari jendela itu. Aku hanya terkekeh disana.
"Tidak. Dunia kita berbeda. Neesan, Haruki."
Aku sudah cukup bermain dengan kalian.
"Terimakasih"
(END)
***
Terimakasih sudah membaca. salam hangat Pendakra 🤍