Tok! Tok!
Erick mengetuk pintu rumah Melody, Kekasihnya. Rumah petakan kecil tempat tinggal Melody merupakan rumah sewa yang dibayar setiap tahun. Anak SMA itu memang sudah mandiri sejak lama, jauh dari orang tua demi mengejar pendidikan yang lebih baik dan memutuskan melanjutkan sekolah ke Kota.
Erick mengunjunginya malam ini setelah beberapa malam kemarin tidak bisa datang akibat tugas kuliahnya yang menumpuk. Banyak hal yang mereka lakukan di sepanjang malam. Belajar bersama, bermain game, bermain gitar, bahkan Melody sering kali mengajak Erick menari. Gadis mungil dengan wajah lucu dan menggemaskan itu sangat pandai dalam hal menari, ia juga acap mengikuti kejuaraan tari sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kebanyakan orang di luar sana menyebut Melody sebagai Gadis jelmaan Bidadari karena parasnya yang cantik, hidungnya yang kecil, manik perak yang indah,bibir plum kemerahan serta kulit yang seputih susu. Dia begitu sempurna. Seperti itulah kekaguman seorang Erick pada Kekasih yang sudah ia pacari sejak satu tahun terakhir.
"Baby? Ody?" Seru Erick memanggil nama singkat kekasihnya dengan sebutan Ody. Namun tidak ada respon dari dalam kendati Erick sudah beberapa kali mengetuk pintu.
Melody seringkali melayangkan protes saat Erick memanggilnya Baby, karena katanya dia bukan bayi. Namun Erick tak menggubris tentang keberatan yang di layangkan Melody. Karena jarak umur mereka yang beda tiga tahun, sehingga bagi Erick, Melody tetaplah bayi-besarnya.
Hening.
Tidak ada sahutan ataupun suara yang terdengar dari dalam rumah sederhana itu. Erick kemudian mendorong pelan daun pintu yang ada dihadapannya.
Kreeekkk!!
Rintihan engsel pintu terdengar nyaring diantara malam yang sepi.
Malam ini sedikit berbeda dari sebelumnya, jauh lebih dingin dan sedikit gelap, tidak ada satu bintang pun yang tersenyum seperti biasa.
"Kenapa tidak di kunci? " guman Erick lirih.
Suasana komplek perumahan disana pun terasa begitu senyap. Ketika malam tiba, orang-orang akan langsung beristirahat dan berdiam diri dirumah setelah sibuk beraktifitas seharian
"Sayang.. " Erick memanggil Melody untuk kesekian kalinya.
Karena masih tidak mendapatkan sahutan dari Melody, Erick pun memutuskan untuk menyelinap ke dalam kamar milik kekasihnya.
"Kenapa lampu kamar tidak dinyalakan?". Katanya lagi seraya menekan saklar lampu yang tak jauh dari ambang pintu tempat ia berdiri sekarang.
Erick mendapati Melody yang tengah duduk meringkuk memeluk kedua kakinya diatas tempat tidur. Wajahnya menunduk memperhatikan ujung-ujung jari kakinya yang bergerak acak.
"Kau sakit? " tanya Erick, ia langsung menghampiri gadis mungil itu yang belum mengeluarkan suara sejak kedatangannya.
Sedetik kemudian Senyum hambar Melody mulai terlihat saat Erick mengangkat pelan dagu bulat telur miliknya.
Kepalanya menggeleng pelan.
"Sukurlah kalau tidak sakit". Erick mengelus dada lega.
Fokus Erick kemudian teralihkan pada kondisi kamar Melody yang mirip kapal pecah. Buku-buku berserakan, beberapa Pena dan Pensil terhambur diatas meja belajar, dan keadaan tempat tidur yang juga acak-acakan.
Erick mengabsen satu persatu keanehan di kamar kekasihnya. Melody tidak pernah seperti ini sebelumnya, dia sangat anti dengan kata kotor dan berantakan. Namun keadaan saat ini justru sebaliknya.
"Ada apa de ... " Erick tak sempat melanjutkan pertanyaan karena dengan cepat Melody bangkit dan memagut lembut belah bibir Erick.
Erick merasakan sensasi dingin dari cumbuan kekasignya. Ia nyaris turut membeku saat mengimbangi ciuman tersebut.
"Ssssstttt.. " Melody melepaskan diri dari cumbuannya lalu menyeka bibir Erick yang sudah basah oleh saliva.
"Bagaimana kalau malam ini kita menari?" Lirihnya merdu.
Hal yang selalu membuat Erick luluh adalah saat Melody melebarkan senyum dan membuat kedua matanya berkilau.
"Dengan senang hati." Erick mengusap surai hitam yang menutupi sebagian wajah Melody.
Saat itu juga Erick langsung menepis segala gusar yang sempat singgah dalam benaknya.
Pria berotot dengan tinggi mencapai 180 sentimeter itu berdiri dan menangkup kedua pipi Melody lalu mendaratkan kecupan lembut.
Melody menenagadah memejamkan mata, merasakan cintanya yang semakin bersemi.
"Menarilah bersamaku sepanjang malam". Pinta Melody seraya mangalungkan kedua tangannya pada leher jenjang milik Erick.
"Mari lakukan apapun yang kau mau". Erick memeluk pinggang ramping perempuan-nya.
Instrumen Biola dari lagu Spring Day milik salah satu Boyband terkenal asal negeri gingseng tersebutmengalun syahdu membaur bersama orkestra jangkrik yang terdengar sangat harmoni.
Melody enggan melepaskan tautan tangannya, sedangkan Erick semakin memperdalam cumbuan saat keduanya bergerak kesana kemari mengayunkan kaki dan badan mengikuti irama lagu dan hentakan musik.
"Malam ini sangat indah". Deru nafas Melody tak teratur setelah melepaskan pagutan bibirnya.
"Seindah wajah mu yang bercahaya". Erick menambahkan pujian tulus saat membelai wajah cantik Melody.
Walau di luar sana tampak gelap tanpa cahaya bintang atau pun bulan. Tetapi Erick tetap mendapatkan sinar paling terang di setiap gulitanya dari gadis teristimewa. Melody Sakya.
***
Malam berikutnya Erick kembali menemui Melody. Kali ini berbeda dengan kemarin, Melody sudah menunggu kedatangan Erick di ruang depan. Senyum nya tetap manis walau terukir di wajah pasi.
Suasana di rumah Melody masih sama, porak poranda. Tanpa Erick tahu alasan apa yang sebenarnya. Karena Melody tampak acuh dan membiarkan semuanya tetap berantakan walau sudah berhari-hari.
Melody juga lebih banyak diam dan tak menggubris apapun pertanyaan yang di lontarkan Erick padanya. Terutama tentang keadaan rumah dan rona wajah Melody yang tak secerah biasanya.
"Katakan jika kau sakit, aku akan mengantar mu berobat". Erick mencoba mendesak kekasihnya. Semua itu karena ia begitu khawatir.
"Aku takut gelap, aku takut sepi, aku takut sendirian." Melody kemudian terisak dalam dekapan Erick.
"Kau tidak sendirian, aku ada disini." Erick membalas pelukannya, berusaha menenangkan gadis manis yang sudah seperti gunung es.
Tubuh Melody benar-benar dingin. Apa dia benar-benar ketakutan hingga membuat suhu tubuhnya menurun?? Batin Erick terus berperang.
"Teruslah bersamaku", Pinta Melody penuh harap.
"Tentu saja, aku tidak akan pernah meninggalkan mu". Erick mengecup pucuk kepala yang beraroma melati itu.
"Kau mencuci rambut mu? " Erick mengendus rambut Melody berulang-ulang.
"Hemm". Hanya anggukan kecil yang diberikan kekasihnya.
Malam ini, Erick memilih tinggal di rumah Rexa. Ia tidak mungkin tega membiarkan kekasihnya terbelenggu sepi dan rasa takut. Seperti yang terus Melody ucapkan.
Mereka kembali menari bersama, bercengkrama menghabiskan malam, Saling bermanja dan melepaskan segala rindu yang membuncah.
Malam semakin larut, keduanya menyudahi permaiannya setelah terasa sangat lelah. Hari-hari Melody selalu di hiasi semua tentang tari, sampai Erick selalu menjadi korban kegilaannya pada tari tersebut.
Setelah kantuk saling bergelayut, mereka tidur pulas sampai pagi. Hingga tak terasa fajar datang menyongsong. Alarm yang sudah di stel oleh Erick berbunyi dan mengagetkannya. Erick bangun dengan tergesa.
Hari ini ada jadwal masuk pagi, Erick kembali memagut bibir Melody yang masih terlelap disana sebelum benar-benar pulang ke rumah lalu bersiap ke kampus.
"Sebentar lagi pagi datang, kau tidak akan ketakutan lagi."
***
Kelas berakhir sejak lima menit yang lalu, Erick memilih duduk di kantin untuk mengisi jam istirahatnya. Ia memesan satu cup kopi instan sekadar mengusir kantuk yang sejak tadi menggelayuti kelopak matanya.Jam tidur yang kurang, membuat Erick kehilangan konsentrasi saat penyampaian materi berlangsung pagi tadi.
Televisi yang menyala di kantin tersebut sedang menayangkan Breaking News pagi.
Walau penglihatannya tidak begitu tertuju pada layar televisi, namun Erick masih dapat mendengar sang reporter menyampaikan berita.
"Terjadi perampokan di sebuah rumah kost milik seorang siswa. Kondisi rumah sudah tidak beraturan dan beberapa barang berharga dinyatakan hilang. Hal yang paling mengejutkan adalah saat sang pemilik di temukan tewas tergantung pada seutas tali di dalam kamar mandi."
Spontan, berita itu berhasil mengundang atensi Erick. Ia meminta pemilik Kantin untuk menambahkan volume suara televisi agar lebih jelas.
"Setelah menjalani pemeriksaan, di duga korban bukan bunuh diri melainkan dibunuh. Pernyataan tersebut diperkuat dengan ditemukannya beberapa luka lebam pada beberapa bagian tubuh serta terdapat luka robek dan pembengkakakan pada kemaluan korban." Tutur sang reporter kemudian.
"Kejadian ini diperkirakan terjadi tiga hariyang lalu. Di lihat dari mayat yang hampir membusuk dan mengeluarkan bau menyengat. Selain perampokan, pemerkosaan serta kekerasan seksual pun melengkapi daftar kasus tersebut".
Erick merasakan sesak di dadanya, ia tercekat saat tenggorokannya terasa mengering. Jantungnya berdenyut begitu kencang ketika layar televisi menayangkan tempat kejadian perkara tersebut sedang di beri garis polisi setelah beberapa petugas mengeluarkan mayat dari dalam rumah.
Rumah itu tidak asing, rumah yang selalu ia singgahi.
"O-Ody ... " Erick terbata saat menyebut namanya. "TIDAAAAAAKKKK!!!! "
Erick tidak lagi mempedulikan orang-orang yang menatap aneh saat ia berteriak tiba-tiba.
Tak menunda lagi waktu, Erick segera meninggalkan kampus untuk memastikan hal yang belum bisa dipercayai sepenuhnya.
Bagaimana bisa Melody di nyatakan tewas tiga hari yang lalu, sedangkan malam-malam kemarin ia bersenandung merdu dengannya, menari dan memadu kasih.
Dalam ingatannya pun masih terukir jelas bagaimana ia bercengkrama dan tidur bersama Melody.
"Tidak mungkin! tidak mungkin! Ody masih hidup".
Sepanjang perjalanan Erick terus merapalkan kalimat untuk menepis gundah dalam hatinya.
Sesampainya di Tempat kejadian perkara, Rumah milik Melody masih di kerubungi beberapa petugas kepolisian dan para wartawan yang memburu berita.
Erick meminta izin kepada petugas untuk melihat mayat di dalam kantung jenazah. Ia mengatakan bahwa mengenal dekat dengan korban.
Benar. Wajah cantik yang sudah pucat pasi itu memang kekasihnya. Melody yang malang.
Petugas menutup kembali kantong jenazah setelah di perlihatkan kepada Erick, untuk keterangan lebih lanjut Erick akan dihubungi kembali setelah Jenazah berhasil di Autopsi.
Sekujur tubuh Erick melemas, tungkainya ambruk saat itu juga. Ia menekan kuat bagian dadanya yang benar-benar sesak hingga ia kesulitan bernafas. Air mata duka itu tak lagi bisa di bendung, ia kehilangan cintanya.
"Ody sayang, Maafkan aku yang ada di saat kau membutuhkan pertolongan."
Rasanya Erick ingin segera menyusul Melody. Ia tidak akan membiarkan kekasihnya sendiri dalam sepi, seperti ikrarnya kala itu.
^^^
Di kamar milik Melody ini, Fuzzle kenangan selama satu tahun bersama kembali terangkai dalam ingatan Erick. Saat mereka pertama kali bertemu, saat menyatakan cinta pertama kalinya dan semua kisah suka dan duka ketika menjalani hubungan bersamanya.
Air matanya tak akan mudah mengering saat mengiringi kepergian Melody yang begitu tragis.
Gadis manisnya pasti bersedih dalam gelap, ia kesepian, ia ketakutan saat para pendosa memperlakukan dirinya seperti binatang.
Tengan Erick menyasar tempat tidur dengan selimut tebal yang menggulung, ia tidak menemukan Rexa terlelap disana.
Langkahnya mulai berjelajah ke setiap ruangan yang porak poranda sejak saat pertama kalinya tanda tanya besar itu timbul dalam benak Erick.
Semua jawaban sudah ia dapatkan hari ini. Gadis mungil bermata bulat yang ia temui di malam-malam kemarin hanyalah jiwa Melody, raganya telah lama membisu.
"Kau tidak akan kesepian disana, sayang. Aku akan datang menemani mu. I Love You, Ody".
Erick kemudian membiarkan tubuhnya menggantung pada seutas tali yang ada di kamar mandi, tempat yang sama dimana ketika Rexa menjemput ajalnya.
Tamat