***
Purnama bersinar tepat di atas Mansion tua yang mangkrak sejak beberapa tahun lalu. Renovasi yang gagal berlanjut itu membuat bangunan tersebut terlihat usang. Sebagian pilar-pilarnya telah ditutupi oleh tanaman hijau, juga beberapa bagian lain seperti dinding dan kosen jendela yang mengalami kerusakan.
Di Halamannya yang luas, bertumpuk daun-daun kering yang sebagian telah lapuk dan berubah menjadi pupuk. Pohon Holly dan beringin tumbuh berdekatan, ranting dan dahannya saling melambai di terpa angin.
Ben menapaki halaman Mansion tua tersebut tanpa ragu, walau sesekali ia akan di sapa oleh burung hantu yang manggut-manggut di atas dahan.
Semilir angin mengikuti langkah kakinya menuju ke dalam rumah besar itu. Ben sudah mengunjungi tempat ini selama satu minggu terakhir. Bukan tanpa alasan, tentu saja untuk menemui kekasihnya, Elea.
Bangunan besar yang kosong di gunakan sebagai tempat pertemuan sepasang kekasih itu. Suasananya yang sepi, jauh dari keramaian dan tak pernah terjamah manusia dalam kurun waktu yang lama.
Jika bukan karena hubungan Backstreet yang di jalani Ben dan Elea, mereka tidak mungkin bersembunyi hanya untuk bertemu di tempat kumuh seperti ini.
"Ayah melarang ku untuk bertemu dengan mu lagi." Keluhan yang sama selalu ia utarakan saat bertemu dengan Ben.
"Kalau begitu, mari sudahi hubungan kita." Hanya itu yang bisa Ben katakan. Tidak banyak yang bisa ia perbuat, ketidaksukaan orangtua Elea tentu membuat hubungan terasa sangat hambar.
"Tidak, Ben. Aku begitu mencintai mu. Kita tidak akan berpisah sampai kapan pun." Air mata Elea lolos begitu saja pada pipi mulusnya. "Selamat kan aku dari kekangan Ayah! Aku lelah menjalani hubungan seperti ini."
Permohonan Elea membekas dalam ingatan Ben. Memaksa pria berambut blonde itu berpikir keras untuk menemukan bagaimana cara menyelamatkan hubungannya. Ben dan Elea hanya sepasang kekasih yang ingin hidup normal seperti pasangan di luar sana. Bebas memamerkan kemesraan, tertawa lepas tanpa beban.
Cinta Elea begitu besar pada Ben, begitu juga sebaliknya. Mereka ingin bahagia.
Pada akhirnya, Ben menepati janji untuk membawa Elea terlepas dari kerangkeng yang di buat sang Ayah. Ben memenuhi permintaan Elea agar kekasihnya tidak lagi menderita. Ia Membawa Elea pergi dari rumah. Di tempat tersembunyian ini, tentu mereka tak mudah di temukan oleh siapapun.
"Elea, kau tampak begitu manis," Puji Ben saat perempuan yang terbaring di bawah kungkungannya hanya patuh dan mengikuti irama hentakan yang Ben ciptakan. "Hemmm.. terlalu sempit." Desis Ben lagi.
Ben terus berkonsentrasi pada gerakan maju mundur yang membuat libidonya semakin meningkat.
Ya. Tentu saja mereka akan melakukan kegiatan panas ini setiap kali bertemu. Bukan kah S3ks adalah cara paling ampuh untuk mengobati rindu?
Berulang kali Ben membaluri bagian tubuh bawah Elea yang mengering dengan pelumas, agar mempermudah untuk melakukan rutinitas panas yang memicu gairah itu.
"Sayang.. Aku sebentar lagi sampai.. "
Suara dan erangan Ben mendominasi ruangan temaram itu. Hanya ada cahaya rembulan yang menyelinap dari jendela sebagai penerangan.
Sedangkan Elea tetap tak bergeming.
Ben mempercepat gerakan bokongnya, saat sesuatu yang begitu nikmat itu melesat melalui urat-urat organ v1talnya lalu muntah begitu saja di dalam tubuh Elea.
Hangat.
Perlahan Ben melepaskan diri. Sesaat melumat peluhnya yang tumpah di atas dada polos kekasihnya. kemudian Ia memberikan kecupan lembut pada bibir Elea yang dingin.
"Aku pulang. Besok aku kembali lagi untuk menemui mu," Pamit Ben pada kekasihnya setelah menyelesaikan pelepasan yang sempurna.
Tak ada kalimat apapun yang terucap dari perempuan dengan rambut hitam bergelombang itu. Ben hanya mendapatkan tatapan kosong dari mata yang tak berkedip, mulutnya terbuka dengan bagian dadanya yang robek. Bekas darah itu sudah mulai mengering walau masih ada aroma amis yang kadang menyapa indra penciuman.
***
BUGH!!!
BUGH!!!
Bogem mentah mendarat di wajah Ben. Liam menghajar pria kurus itu dengan brutal. Sementara Ben tak berkutik saat di hajar habis-habisan oleh tamu yang datang berkunjung kerumahnya tengah malam begini. Pukul dua dini hari.
Ben baru saja kembali ke rumah setelah menemui Elea di Mansion tua yang letaknya jauh di pinggiran kota. Butuh waktu dua jam untuk menuju ke tempat tersebut.
"Dimana kau sembunyikan Elea!!" Bentak Liam penuh amarah.
Seorang Ayah yang kehilangan putri kesayangannya tentu tidak akan tinggal diam. Sudah hampir seminggu Elea tidak kembali ke rumah. Orang yang paling dicurigai tidak lain adalah Ben, pria yang Liam ketahui sedang menjalin hubungan khusus dengan putrinya.
"Aku tidak tau."
Ben menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"Bohong!"
Liam menyergap leher Ben dan mencekiknya dengan kuat. Ben kesulitan bernapas, ia menelan liurnya dengan susah.
"Anda tidak akan menemukan jawaban apapun walau berhasil membunuhku." Sela Ben dengan terbata, napas tersengal. "Anda yang membuat Elea pergi dari rumah, maka cari saja jika anda merasa Ayah yang hebat."
Liam merasa tertantang dengan ucapan Ben. Ia melepaskan cengkraman pada leher anak muda itu. Lalu menerobos rumah Ben untuk menggeledah isinya. Barangkali, Elea bersembunyi di dalam.
Nihil.
Liam kembali menemui Ben di pelataran rumah tanpa membawa hasil. Rumah Ben kosong. Tidak ada siapapun di dalam sana.
"Sudah ku katakan bahwa anda tidak bisa menemukan jawaban di sini." Ben menyeringai, bola matanya berotasi seolah menyimpan sejuta misteri.
"Sialan!! awas kalau sampai kau terlibat dalam kasus hilangnya Elea. Kau akan mati." Ancam Liam, ia menggorok lehernya dengan jari menunjukkan kode peringatan pada Ben.
"Cih!" Ben hanya berdecih menanggapi ancaman yang sama sekali tidak membuatnya terusik.
Bosan menanggapi Ayah dari Elea. Ben memutuskan untuk menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Ia kembali ke kamar. Sebentar lagi fajar akan datang, Ben masih memiliki sedikit waktu untuk tidur. Besok ada pekerjaan yang harus ia lakukan. Hasil buruannya tidak sabar untuk di masak menjadi rica-rica.
Ben merebahkan tubuhnya di ranjang. Menarik selimut tebal itu hingga menutupi tubuhnya, ia tidur meringkuk sambil memeluk guling di dekatnya.
"Boleh aku tidur bersama mu?"
Suara parau itu menyapa gendang telinga Ben. Spontan ia membuka matanya. Bantal guling yang di peluknya tertawa lebar, benda itu kini menjadi perempuan yang begitu ia cintai. Cantik.
Ada yang berbeda dengannya, kali ini bibir Elea tampak pucat. Ujung-ujung jarinya yang berubah menjadi kebiruan menyentuh setiap inci wajah Ben.
"Kau di sini?" tanya Ben. "Rupanya kau memang tak ingin jauh dari ku ya?"
Ben menyesap bibir Elea yang dingin bersama aroma menyengat yang menguar dari tubuh kekasihnya yang nyaris seperti lemari es.
"Jangan menyentuhku terlalu kuat." Pinta Elea saat Ben meremas pangkal paha kekasihnya yang terbuka.
"Maaf, aku lupa."
Ben menarik kembali tangannya, ada bagian kulit dan daging dari bagian paha Elea yang turut jatuh akibat cengkraman Ben.
****
Malam berikutnya, Ben datang lagi untuk menemui Elea di tempat yang sama.
Suasana Mansion terlihat sedikit ramai kali ini. Ada beberapa makhluk yang sedang bercengkrama di setiap sudut.
Perempuan berambut panjang mengenakan gaun berwarna merah tengah duduk ongkang kaki di atas kosen jendela. Di sebelah sana ada anak-anak tanpa tangan yang bermain kejar-kejaran. Juga ada petugas kebun yang memangkas rumput dengan wajah yang hanya tinggal tulang tengkorak.
Ben tertawa girang.
"Elea sudah memiliki banyak teman di sini, dia pasti bahagia." Monolog Ben seraya meneruskan langkahnya yang semakin jauh memasuki ruang demi ruang.
Ben bertemu dengan seorang wanita yang tengah mengendap-endap mencari sesuatu dalam gelap. Bulan tinggal separuh, sehingga cahaya yang masuk kedalam mansion tidak terlalu terang.
"Apa kau mencari ini??" Ben menemukan sesuatu yang berlendir di dekat kakinya. Lalu menyodorkan pada wanita tersebut.
"Terimakasih." Perempuan itu tertawa lebar, darah merembes dari kedua sudut bibirnya yang robek. kemudian memasang kembali bola mata miliknya yang Ben temukan di lantai tadi.
Ben melanjutkan langkahnya, ia tidak sabar untuk menemui Elea di kamar yang terletak di lantai dua. Namun belum sampai kesana, ia terhenti karena Elea datang menghampirinya lebih dulu.
Gadis pasi dengan rambut panjang yang di biarkan terurai serta menutupi sebagian wajah itu melesat di udara bersama kekehan panjang.
"Selamat malam sayang... " Sapanya.
Kuduk Ben meremang saat udara yang keluar di mulut Elea menyapa tengkuknya.
"Aku rindu." Ben langsung memagut bibir Elea, mendekap tubuh ramping itu lalu membopongnya menuju kamar, tempat biasa yang mereka gunakan untuk memadu cinta.
Ben merebahkan tubuh Elea dia atas ranjang tanpa kasur. Tempat tidur kayu tanpa alas itu penuh dengan ukiran berwarna merah. Ungkapan rasa cinta Ben yang ia tulis menggunakan darah. Walau sudah mengering, tulisan tangan itu masih dapat terbaca dengan jelas.
"Bahagiamu, bahagiaku. Hatimu kan ku jaga selamanya."
Ben melirik kotak kaca di atas meja, benda di dalam kotak itu masih tetap segar walau sudah di rendam dengan air alkohol selama beberapa hari. Pengawetan yang berhasil.
Ben kembali melancarkan cumbuan brutal pada bibir dan beberapa bagian tubuh Elea. Mulai dari ceruk leher, lalu menyasar hingga kebagian dada yang padat berisi dan berakhir pada bagian perut yang memiliki luka bekas sayatan.
"Jangan bergerak!! "
Ben terhenyak, aktifitas nya seketika terhenti oleh suara keras dari seseorang yang kemudian di susul oleh beberapa derap kaki. Bukan hanya satu orang yang datang.
Pelan-pelan Ben mengangkat kedua tangannya di udara, lalu perlahan memutar tubuhnya.
Satu orang polisi menodongkan pistol kearaha Ben, dua orang sisanya langsung menyerbu Ben dan menjagal kedua tanganya. Sebuah borgol langsung terpasang tanpa menunggu lama.
"Kau rupanya pelaku penculikan perempuan itu?"
"Tidak. Kami sepasang kekasih. Mana mungkin aku menculiknya. Kami sedang berkencan," sahut Ben dengan ekspresi yang datar.
Polisi menurunkan pistolnya setelah merasa aman karena Ben sudah tertangkap dan tak mungkin bisa melawan. Lalu ia memeriksa mayat perempuan di atas dipan kayu yang hampir membusuk.
"Kau menidurinya??" Kening polisi itu berkernyit saat mendapati pelumas V4g1n4 di dekat mayat, ia juga menemukan satu botol cairan formalin dan jarum suntik.
"Tentu saja, sudah ku katakan dia kekasih ku. Kami bersenang-senang setiap malam." Ben selalu memberi penjelasan dengan santai saat petugas polisi memberikan beberapa pertanyaan.
"...dan kau membunuhnya??"
"Kau salah. Aku hanya menolong Elea untuk mengakhiri penderitaannya selama ini. Sekarang dia bahagia, terbebas dari kekangan Ayahnya, kami bisa bertemu setiap malam." Ben tersenyum menatap wajah pucat kekasihnya di sana. "Aku juga sudah mengambil hatinya, itu akan ku jaga selamanya." Ben menunjuk dengan dagu pada benda yang ia awetkan di dalam kotak kaca.
"Dasar psikopat gila!!!"
Polisi langsung menyeret tubuh Ben dan segera membawanya pergi menuju ke kantor. Akan ada pemeriksaan lebih lanjut, baik di TKP atau pun interogasi pada tersangka.
Beberapa tim dari kepolisian datang menyusul. Memotret tubuh Elea dan menandai bekas mayat tersebut sebelum di masukkan ke dalam kantung jenazah untuk di lakukan outopsi.
Berbagai barang bukti di tempat kejadian pun langsung di amankan untuk menjerat pelaku pembunuhan tersebut.
****
Ben meringkuk memeluk tubuhnya di sudut ruang tahanan yang berdinding jeruji besi. Vonis hukuman seumur hidup akan membuatnya membusuk di penjara.
"Kau sedang apa? kenapa tidak menemui ku?"
Ben mendongak mencari keberadaan suara yang tak asing itu.
"Elea, maafkan aku. Mereka mengurungku seperti ini. Mereka bilang aku jahat." Adu Ben seraya menatap wajah Elea.
"Mereka bohong. Kau itu tidak jahat."
"Benar kan?? aku sudah jelaskan pada mereka. Tapi tidak ada yang percaya padaku." Ben menyeka sudut matanya yang berair.
"Kau pasti menderita di sini?"
"Ya itu karena aku sangat merindukan mu. Kita bahkan tidak bisa bertemu dalam waktu yang lama." Ben terus berbicara.
Dua orang petugas yang berjaga di luar hanya bergidik ngeri melihat Ben yang meracau sendirian.
"Ikutlah dengan ku. Aku akan menjemputmu malam ini." Bayangan Elea kemudian lenyap tanpa jejak.
"Elea! Elea tunggu! sayang, jangan pergi!" Teriak Ben sambil mencari-cari keberadaan Kekasihnya.
"Diam!!! " Bentak salah satu penjaga "Dasar Gila!!"
"Aku bahkan melihatnya menggosok gagang sikat gigi kedinding kamar mandi setiap malam." Bisik penjaga yang lain.
Ben mengatupkan bibirnya rapat-rapat setelah mendapat teguran. Ia kembali ke sudut ruangan itu, meringkuk sambil memeluk kembali kedua kakinya.
Keesokan hari, Penjaga menemukan Ben tergeletak di lantai kamar mandi dalam keadaan tak bernyawa. Tubuhnya bersimbah darah.
Ia mengakhiri hidup dengan menusuk urat nadi di lehernya menggunakan gagang sikat gigi yang sengaja ia runcingkan. Juga terdapat dua tusukan lain di bagian ulu hati.
Akhirnya, Ben benar-benar pergi untuk menemui Elea.
"Elea!! " Panggil Ben.
"Kau datang??"
"Aku akan selalu menepati janji."
Jari-jari mereka terpaut. Elea menyambut kedatangan Ben dengan penuh rasa bahagia. Mansion tua itu kini menjadi tempat tinggal mereka selamanya.
Ben dan Elea menari dan bercerita sepanjang malam. Keduanya menghabiskan detik-detik waktu yang selama ini di nantikan. Kebebasan.
"Akhirnya aku menemukan kalian!" Liam berdiri menatap tajam kearah sepasang kekasih yang sedang berbahagia.
"A-Ayah? Kau melihat kami??" Elea tersentak kaget.
Liam menyeringai, ia membuka syal yang membalut lehernya. Ada luka lebar yang membuat lehernya nyaris terputus.
"Itu semua karena Ben," Jelas Liam.
Elea langsung memalingkan wajah pada pria yang berdiri di sampingnya. Tatapan Elea seolah sedang menuntut kejelasan.
"Ya, aku melakukannya saat pagi hari, setelah malamnya Tuan Liam menghajarku." Ben mengusap tengkuknya. "Aku menangkap buruan dengan hebat kan??"
*********END*********
Penulis : Emma
25 Februari 2022