Namaku Rizky, orang-orang mengira aku seorang laki-laki, padahal itu cuman cover depannya saja. Tahun ini usiaku enam belas tahun. Aku putus sekolah tepat di bangku SMP karena faktor ekonomi. Dan akhirnya aku harus bekerja demi menghidupi diriku dan meringankan beban keluargaku.
Tepat malam hari raya Imlek, teman-temanku mengadakan acara reuni, namun aku tidak bisa hadir karena harus bekerja. Setelah semua pekerjaan beres, aku langsung pulang dan membersihkan diriku lalu tidur.
Dalam mimpi tiba-tiba aku bertemu dengan hal-hal aneh, dari pria mesum sampai menjadi ratu iblis.
"kau… siapa kau…!?" teriakku yang ketakutan.
Seorang pria berjubah hitam mendekatiku dan berkata, "aku adalah calon suamimu, Ratu." bisiknya tepat di telingaku.
"jangan macam-macam!" ucapku yang kesal dan pergi meninggalkannya. Pria itu terus mengejar tepat di belakangku. Aku terus berlari tanpa arah hingga terjepit di tempat buntu, "kau mau apa!? aku… aku tidak kenal kamu!" ucapku mundur selangkah demi selangkah.
"aku ingin kau! ratu masa depanku." ucap pria itu melangkah mendekatiku. Dia merentangkan tangannya sembari hendak memelukku.
Aku bergidik ngeri dan berteriak, "aaaghhh"
"huff, untung cuman mimpi." ucapku beranjak turun dari tempat tidur.
"sebenarnya apa masalah bibi?! adik sekolah atau tidak apa hubungannya dengan dia!?" terdengar suara kakakku yang berteriak keras dari luar kamarku.
Aku penasaran dan menguping diam-diam dari dalam kamar. "apa yang terjadi? kenapa kakak marah-marah?" gumamku melihat dari lubang kunci pintu.
Disana terlihat ibuku yang menemani kakakku yang sedang kesal sambil menenangkannya. "sudahlah, biarkan saja bibimu berkata apa, toh dia juga memang seperti itu orangnya." ucap ibuku sambil membelai rambut kakak.
"tapi Bu, apa maksudnya dia bilang begitu? siapa juga yang tega lihat adiknya putus sekolah." ucap kakakku yang terus kesal. "lagipun apa hak dia berbicara begitu? bantu kita juga tidak, bisanya cuman maki orang doang!" sambungnya beranjak pergi keluar dari rumah.
Aku melangkah mundur sembari membalikkan badanku, "selalu saja soal ini." ucapku berjalan menuju tempat tidur.
"ada apa ratuku?" bisik seorang pria di telingaku.
Aku terkejut sontak menoleh ke samping, "aghhh"
"huff… cuman mimpi, tapi… kenapa di mimpiku, kakak marah-marah pada bibi?" ucapku beranjak turun dari tempat tidur. "sudahlah, itu tidak penting, yang penting sekarang aku harus bekerja." sembari melihat jam dinding.
Kemudian aku bersiap-siap untuk berangkat kerja. Saat ditempat kerja aku terus bertanya-tanya kenapa kakakku marah-marah kepada bibi. Sore hari setelah shif ku berakhir, aku cepat-cepat kembali sebelum ketinggalan bus.
Pukul delapan malam.
Setelah semuanya selesai dengan pekerjaan masing-masing, kita sekeluarga makan malam bersama. Hari ini suasananya agak berbeda, terlihat lebih hening dari biasanya. Saat semua selesai makan, kakak mulai membuka mulutnya untuk berbicara, "apa maksud bibi bilang begitu? adik sekolah atau tidak, apa urusannya?" ucapnya dengan nada kesal.
Mendengar itu aku terdiam sejenak, "tunggu, bukankah naskah ini cuman di mimpi, tapi kenapa sekarang…"
"oh tidak, ini mimpi atau bukan!" batinku yang terus berpikir sambil memegang punuk leherku.