Fara gadis itu sedang duduk manis di kursi taman menunggu sahabatnya datang untuk bermain ke pameran malam.
Fara memotret taman yang indah dengan ponselnya, dia memang hobi memotret, bahkan galerinya pun dipenuhi dengan hasil potret dia. Fara juga menyapa beberapa orang yang sedang berjalan jalan di taman.
Hari sudah mulai sore. Fara merasa bosan saat sahabatnya tidak datang datang, bahkan taman yang tadinya ramai jadi sepi karena hari mulai gelap, sedangkan Fara dia masih terduduk sendirian di bangku taman.
“Via kenapa lama banget, apa dia lupa dengan janjinya” Via sahabatnya Fara yang paling ia sayangi dia bersahabat dengan Via sejak berumur 4 tahun, dan sekarang Via dan Fara sudah berumur 15 tahun. mereka bersahabat selama 11 tahun lamanya.
Ting
Fara meronggoh ponselnya yang berada di saku. dia melihat satu pesan masuk dari sahabatnya, Via.
Via,
Fara maaf aku nggak bisa datang, teman sekelasku ngajak nonton bioskop, malam ini.
deg
hati Fara rasanya kecewa saat melihat pesan dari Via, yang membatalkan janjinya lagi seperti biasa.
Fara mengetikan pesan balasan untuk sahabatnya
Fara
aku udah nunggu di tempat biasa T_T
Via
maaf banget Fara
aku janji, dua hari lagi.
Fara
Oke kalau gitu 🙂
Via
maaf banget
Fara mematikan ponselnya lalu ia memasukan kembali ke dalam saku celananya.
Dia bangkit dari duduknya dan pergi berjalan untuk kembali ke rumahnya. dia merasa kecewa dengan sahabatnya yang selalu membatalkan janjinya begitu saja.
Fara memasuki rumahnya dengan menenteng kedua sepatu bersihnya untuk ia simpan kembali ke rak.
“gimana seru dek pameran malamnya?” tanya Kakak Fara, Kiki. Fara melirik Kakaknya yang tengah duduk santai di sofa ruang tamu.
“yah begitulah kak” jawab Fara lesu mengingat kejadian di taman dan pesan pesan yang dikirim Via.
“begitu gimana? atau nggak jadi lagi?” Fara mengagguk. Kiki tau kalau Via sahabat Fara selalu mengingkari janji yang ia buat, karena Fara sering menceritakan tentang sahabatnya yaitu Via, bahkan hampir setiap hari.
“Kenapa masih aja berharap Via bakal nepatin janjinya” Fara terdiam dengan perkataan kak Kiki. Kakaknya benar Via tidak akan menepati janjinya lagi.
“Via pasti nepatin janjinya kok kak. Dia tadi ada urusan dulu sama temen temen sekelasnya”
Fara menghilangkan pikiran buruk tentang sahabatnya Via. sahabatnya itu pasti punya kesibukan sendiri sebab itu janji janji yang ia buat kepada Fara selalu lupa dan tidak jadi. Kiki hanya mengangguk mengiyakan ucapan adiknya yang masih membela Via, sahabat kesayangannya itu.
Fara masuk ke dalam kamarnya. dia membuka jaket jeansnya, lalu digantung jaketnya itu di gantungan baju dekat pintu. tempat dimana para jaket akan terlupakan dan akan jarang digunakan lagi.
Fara merebahkan tubuhnya di ranjang single, kedua kakinya ia luruskan karena terasa pegal berjalan jauh dari taman menuju rumahnya. apalagi dia sedikit berlari saat berjalan pulang menuju rumahnya.
Fara meronggoh ponselnya, dia menekan icon foto untuk melihat foto foto yang ia ambil dari taman.
Dia melihat foto foto yang ia ambil, sangat bagus, pikirnya. dia menggeser foto foto yang lain sampai dimana Fara sedikit sedih saat dia berhenti di foto dirinya bersama Via yang ia ambil 4 bulan yang lalu. dia rindu momen momen ini.
Dia mematikan ponselnya karna merasa ngantuk.
Dia menarik selimut sampai menutupi tubuhnya, agar hembusan angin malam tidak membuat tubuhnya dingin.
Fara mematikan lampu tidur dan mulai terlelap ke alam mimpi.
Senin pagi
Fara gadis itu memakai sepatunya dengan rapi, setelah itu dia berjalan ke dapur untuk mengambil kotak makannya yang telah ibunya siapkan.
“Fara” panggil ayah Fara. gadis itu mendongak menatap ayahnya yang tengah duduk di hadapannya.
“ada apa ayah?” jawab gadis itu
“tiga hari lagi kita akan pindah rumah”
“secepat itu”
Fara tidak percaya saat ayahnya mempercepat proses pindahan rumahnya. bukannya pindahannya bulan depan, kenapa jadi tiga hari.
“ayah bilang waktu itu bulan depan”
“tadinya. tapi ayah pikir lebih cepat lebih baik”
Fara hanya menghela nafas dia belum siap untuk meninggalkan kota ini apalagi sahabat dan teman temannya.
“Fara berangkat sekolah dulu”
di kelas
Fara hanya duduk di kursinya dia malas untuk mengobrol bersama teman teman sekelasnya.
“Fara”
gadis itu mendongak bibirnya tertarik membentuk senyum saat ia lihat Via, orang itu yang memanggil namanya.
Via berjalan ke meja Fara lalu dia duduk disebelah gadis itu.
“Ada apa via?” tanya Fara. Via tersenyum lalu menunjukkan sebuah tiket pameran malam yang ia beli “besok aku mau nepatin janji aku buat ngajak kamu ke pameran” ucapan Via membuat Fara senang.
“beneran nih?” tanya Fara memastikan
“beneran” jawab Via
Fara mengambil satu tiket dari tangan Via, dia melihat tiket itu dengan perasaan bahagia.
“besok sore aku ke rumah kamu”
“Ok”
Keesokan harinya.
Fara mengikat rambutnya dengan rapi dia akan pergi ke pameran malam bersama Via malam ini. Fara memoleskan sedikit lipbalm ke bibirnya agar tidak terlalu kering.
“Fara”
Fara langsung keluar dari kamarnya saat suara Via terdengar sampai ke kamarnya.
“Fara ini ada Via” sahut ibunya.
“sebentar”
Fara menuruni tangga dengan tergesa-gesa. sesampainya di depan pintu dia melihat Via yang tengah bermain ponselnya.
“Via. jadi kan?” tanya Fara memastikan takut Via membatalkan janjinya lagi.
“jadilah. nih liat aku dah siap” Fara melihat penampilan Via yang begitu cantik dan rapi.
“yaudah ayo”
Debelum pergi bersama Fara, Via berpamitan terlebih dahulu dengan keluarga Fara. Fara juga sama berpamitan terlebih dahulu dengan kedua orangtuanya.
“Fara pulangnya jangan terlalu malam!” teriak ibunya dari dalam rumah saat Via dan Fara sudah keluar
“Iya!” jawab Fara
Fara dan Via berjalan bersama menuju halte bus mereka berdua akan menaiki tranportasi umum untuk pergi menuju pameran.
“Fara. maaf yah aku selalu ngingkar janji terus”
Yasha menatap sahabatnya itu lalu tersenyum
“aku maafin, tapi jangan diulang lagi”
Via tersenyum senang dia memeluk temannya sembari berjalan. membuat Fara sedikit oleng karena tubuh Via yang berat.
Sesampainya di pameran
“bagus banget” Fara terpesona saat melihat pameran yang begitu indah di matanya. banyak lampu lampu berwarna warni yang menyala di setiap permainan yang ada di pameran bahkan, pepohonan yang berada di sisi bangku pameran dihias dengan lelampuan, membuat pohon itu jadi terang dan indah dipandang.
“mau main dulu atau makan?” tanya Via
“main dulu ajah, setelah main kita makan”
Via mengacungkan jempol. Via menyuruh Fara untuk mengikutinya bermain salah satu wahana.
Kedua perempuan itu bersenang-senang selama di pameran, segala permainan mereka mereka coba. kebahagiaan yang di rasakan Fara dan Via begitu indah.
Fara menatap Via yang sedang melahap nasi gorengnya. tanpa sadar bibir Fara tertarik membentuk senyum melihat sahabatnya. dia tidak menyangka bisa bermain ke pameran bersama Via, dia menepati janjinya.
“Fara”
“Apa”
“kenapa Di rumahmu banyak kardus besar?”
Deg
Fara teringat bahwa dia besok akan pindah keluar kota. Fara menatap Via sendu, mulutnya terasa Kelu saat ingin memberitahu bahwa dia akan pindah keluar kota.
"Via. sebenarnya…”
Via menatap bingung pada sahabatnya saa dia tidak melanjutkan bicaranya.
“sebenarnya apa Fara?” tanya Via melihat sahabatnya yang hanya diam tidak melanjutkan ucapannya.
“sebenarnya besok aku, dan keluarga akan pindah keluar kota”
“bwahahaha” Via tertawa lepas membuat beberapa orang yang lewat terganggu karena suara tawa keras Via. dia seakan tidak percaya bahwa Fara akan pindah keluar kota.
“Via” sahut Fara membuat Via langsung mengecilkan volume tawanya. Via meminta maaf pada orang sekitar karena telah menganggu.
“kamu jangan bercanda Fara” Via masih terkekeh kecil, dia memang tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.
“aku tidak bercanda sama sekali”
Via langsung terdiam menatap sahabatnya yang benar benar serius dengan ucapannya itu.
“aku benar-benar akan pindah” lanjut Fara, agar Via percaya.
“jadi benar?” tanya Via. Fara mengagguk membuat Via langsung percaya dengan ucapan Fara.
“kenapa kau tidak bilang” Tanya Via lagi
“aku ingin bilang, tapi kau selalu sibuk”
Via terdiam. perkataan Fara memang benar, dia terlalu sibuk dengan teman sekelasnya yang baru sedangkan Fara, yang telah lama menjadi sahabatnya ia abaikan.
“ayo kita pulang, hampir larut malam” tiba tiba saja Via berucap seperti itu lalu pergi terlebih dahulu. Fara langsung menyusul sahabatnya itu dengan sedikit berlari, karna langkah besar Via membuatnya sedikit tertinggal jauh.
“Via, tunggu” teriak Fara saat Via berjalan cepat menuju halte bus, membuat dirinya tertinggal jauh.
*Bersambung ke Part 2*