Namanya Ahmad dia adalah seorang mahasiswa dari universitas ternama di Depok, dia sedang memasuki semester akhir kuliahnya dan seperti yang kita tahu dia harus menyelesaikan skripsinya. Berhubung dia adalah anak bagian untuk ilmu agama fiqih, ia mendapat tugas untuk meneliti di salah satu desa yang masih berada di Jawa barat.
Dia berangkat bersama temannya yang bernama Amir, dan Hamzah. "BangAhmad ayo kita segera berangkat sebelum senja" ucap Hamzah teman satu tim Ahmad, "Yah betul katamu kita harus segera ke sana dan tidak boleh merepotkan pengasuh tempat tersebut" jawab Ahmad dengan nada lembut nya.
~~~ Skip sampai di tempat tujuan ~~~
"Alhamdulillah kita sudah sampai, Astaghfirullah bang Ahmad, Amir bangun kita sudah sampai" ucap Hamzah, "Sebentar lagi bang Hamzah 5 menit lagi" ucap Amir sedangkan Ahmad sudah keluar terlebih dahulu, ya memang Amir adalah yang termuda diantara Hamzah dan Ahmad jadi mungkin dia yang paling manja terlebih lagi dengan Ahmad yang tertua di tim ini. Tapi sayang tempat penyelenggaraan skripsi mereka beda tempat, tapi masih satu wilayah.
*
*
*
"Assalamualaikum" ucap Ahmad kepada sekumpulan orang yang tengah berkumpul, "Waalaikumsalam Nak Ahmad yah, salah seorang mahasiswa kampus Islam." Ucap pak Sholeh menerka, "Iya pak saya Ahmad dan ini teman saya Hamzah juga.." ucapan Ahmad terpotong karena tidak melihat Amir. "Dimana Amir?" Tanya Ahmad kepada Hamzah, "Anak itu sangat sulit di bangunkan, entah apa yang dimakan ibunya saat hamil dia?" Ucap Hamzah dengan nada ketus karena kesal Amir tidak bisa bangun terlebih lagi ia ditinggal oleh Ahmad. "Maaf Hamzah aku meninggalkan mu, permisi pak Sholeh bisa tolong antar kan teman saya terlebih dahulu saya dan rekan saya yang satu lagi akan segera menyusul" ucap Ahmad kepada pak Sholeh, akhirnya pak Sholeh mengantar Hamzah sedangkan Ahmad pergi menemui Amir yang masih di dalam mobil, saat ingin menemui Amir Ahmad berpapasan dengan seorang wanita misterius yang berada di dekat mobil jenazah. Yah mobil jenazah dan tempat Ahmad melakukan skripsi adalah bagian pemandian jenazah, Amir bagian pendidikan agama untuk warga setempat, dan Hamzah bagian tanah wakaf.
"Huwa.... Bang Ahmad tolong ada mbak Kunti" teriak Amir dari dalam mobil Ahmad dengan segera menghampiri nya dan menenangkan nya, "Ada apa Amir ? mana mungkin ada hantu di sini sudah mungkin hanya halusinasi mu saja lebih baik kau ambil air wudhu" Saat selesai memenangkan Amir Ahmad kembali menengok ke arah mobil jenazah itu dan ingin menemui seseorang yang ada di mobil jenazah. "Dimana orang yang tadi?, Atau mungkin aku hanya berhalusinasi saja seperti Amir, Iya pasti." Ahmad pun bergegas pergi untuk melaksanakan shalat berjamaah dan menepis semua pikiran negatif nya, mereka melaksanakan shalat bersama dan berkumpul di tempat seperti lesehan Sunda dan mengobrol ringan. "Pak saya ingin bertanya" ucap Ahmad dengan nada serius, "Apa yang nak Ahmad ingin ketahui" jawab Andri teman pak Sholeh, "Apa saat sebelum Maghrib masih ada yang bekerja? Lebih tepatnya di jam saat saya menemui teman saya Amir. Perkiraan jam 17.47 WIB" tanya Ahmad. "Tidak mungkin ada pekerjaan yang masih bekerja di jam itu" jawab pak Sholeh, "kenapa tidak ada pak?" Tanya Amir penasaran, "Karena menurut kepercayaan lingkungan sekitar kami di larang bekerja di waktu tertentu apalagi kisaran jam 5 sore, tidak mungkin ada dan bila kami melanggar maka akan terjadi musibah terkecuali saat waktu mepet." Ucap pak Andri menjawab pertanyaan Amir. "Misalnya saat mengantar jenazah?" Sambung Hamzah dengan nada bertanya, "Betul oh iya sekarang sudah larut lebih baik kalian tidur dan istirahat". Setelah mengatakan hal itu pak Sholeh dan pak Andri pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Hamzah" panggil Ahmad "Ada apa bang Ahmad?, kenapa Abang belum tidur.?" Tanya Hamzah sedangkan si bungsu Amir telah tidur sedari tadi, "apa kau tidak merasa aneh dengan gelagat atau mimik wajah pak Sholeh dan pak Andri?" Tanya Ahmad, "Iya aku merasa aneh juga" ucap Hamzah kepada Ahmad.
Sreek... Sreek....
"Siapa di sana" ucap Ahmad, dengan cepat Hamzah melihat dari balik jendela dan berkata "tidak ada siapapun bang ahmad, mungkin itu hanya angin" jawab Hamzah sambil berbalik menghadap Ahmad dan segera menutup tirai, dan akhirnya mereka berdua tidur walau dengan perasaan was-was dan khawatir.
Skip keesokan harinya
mereka pergi ke tempat yang sudah di tentukan, Ahmad segera mulai bekerja untuk memotong kain kafan "Potongan nya bagus nak Ahmad" ucap Bu Diyah bagian pengurusan jenazah memuji Ahmad, "terimakasih Bu" setelah memotong kain kafan, menyiapkan air mawar untuk jenazah dan lain sebagainya terdengar lah adzan Dzuhur. "Maaf Bu dimana saya bisa melaksanakan shalat Dzuhur yah?" Tanya Ahmad kepada Bu Diyah karena tempat tersebut lumayan jauh dari musholla yang berada di bagian depan, "Di tempat di mana nak Ahmad menaruh perlengkapan pemandian jenazah tadi" ucap Bu Diyah sambil tersenyum dengan nada lembut. "Ah baik terimakasih" jawab Ahmad, ia lekas bergegas mengambil air wudhu dan pergi keruang tempat menyimpan peralatan tersebut, rasa takut tentu dirasakannya, tapi takutnya kepada Allah SWT lebih dalam dan besar dibandingkan takut dengan makhluk tak kasat mata. Saat ia sudah masuk aroma khas seorang jenazah sudah terasa dari aroma air mawar sampai jenazah serta sabun dan shampo sudah lengkap, "Alhamdulillah ada tempat untuk shalat, saya sangat senang karena sebaik-baik nya tempat untuk shalat agar khusyuk adalah tempat yang mengingatkan kepada kematian" ucap Ahmad kepada dirinya sendiri.
Setelah selesai ia segera menghampiri Bu Diyah untuk bertanya suatu hal, yang mungkin membuat pembaca bertanya siapa sebenarnya orang yang berpapasan dengan Ahmad di mobil jenazah. "Bu saya ingin bertanya" ucap Ahmad "Tanyakan saja" jawab Bu Diyah, "Apa selain ibu ada wanita lain yang bekerja disini?" Tanya Ahmad "Ada tapi beliau sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu" Ucap Bu Diyah sambil berjalan meninggalkan Ahmad. Karena jadwalnya sudah selesai ia segera kembali ke tempat istirahat nya bersama kedua rekannya Hamzah dan Amir, "Kalian tau gak?" Ucap Amir bertanya "Gak, karena kamu belum kasih tau Amir" ucap Hamzah. "Ya kan saya belum selesai bicara kamu main potong aja Hamzah" sahut Amir tidak mau kalah, sedangkan Ahmad hanya bisa geleng-geleng kepala "pakai abang saya lebih tua dari kamu!!" Ucap Hamzah kepada si bontot Amir. "Yah ngaku kau bang dah tua" ucap Amir sambil tertawa diikuti Ahmad Yang ikut terkekeh geli saat melihat wajah Hamzah yang sedikit mem pout kan bibir, "Muka mu Jan di imutin bang Hamzah Amir jijik" ucap Amir yang meledek Hamzah. "Oh iya Amir mau cerita apa?" Tanya Ahmad kepada Amir, "cuma mau cerita bahwa anak-anak di desa ini pintar, dengan di ajari satu kali mereka langsung paham. Siapa dulu dong gurunya? Amir." ucap Amir yang membuat Ahmad kembali geleng-geleng kepala.
"Iyain aja bang Ahmad takut nangis dia" ucap Hamzah, "Oh iya bang gimana udah dapat jawaban dengan pertanyaan kemarin?" Tanya Hamzah, "Alhamdulillah sudah dan dia adalah..." Ucap Ahmad menggantung ucapan nya karena ada seseorang di balik jendela seakan-akan memang ingin menghentikan ucapan Ahmad. Dengan segera Ahmad membuka gorden jendela tersebut lebar - lebar karena setiap Ahmad berbicara hal itu selalu saja tergantung karena orang misterius yang hobi mengetuk jendela, "dia siapa bang?" Tanya Amir dan Hamzah penasaran "Dia adalah mantan pegawai disini yang telah meninggal tiga tahun silam" ucap pak Sholeh menemui ketiga orang itu. "Sebelum arwah itu meneror kalian lebih baik kalian segera tinggalkan tempat ini" sahut pak Andri "Iya itu benar nak, lebih baik kalian segeralah pergi" sambung Bu Diyah.
Tok.... Tok..... Tok......
Seorang wanita berlumuran darah mengetuk jendela dan menulis kata 'Semoga kau mati Ahmad' di jendela itu, Ahmad pun menjawab "Semoga kau cepat naik ke surga dan menemui sang Khaliq" jawab Ahmad dengan nada lembut dan halus.
"بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْم "
Artinya: Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.
Setelah membaca ayat kursi kepada arwah tersebut, arwah itu pun hancur menjadi butiran debu "Pak saya ingin melihat mobil jenazah" ucap Ahmad "baik mari nak Ahmad" dugaan Ahmad benar "Amir segera beli kopi 3 kg, Cepat!!" Ucap Hamzah. "Ini" mereka bergegas membuka semua pintu mobil jenazah tersebut. Bau anyir menyebar kemana-mana, dan mereka segera bergegas menaburi mobil itu dengan kopi dan garam untuk menghilangkan bau amis dan menetralkan aura negatif. "Cepat semua sebelum jam 5 sore, aku hanya menahan nya bukan menghancurkan nya" ucap Ahmad, karena Amir ketakutan ia dengan cepat menaburi mobil itu dengan kopi dan garam serta segera menjauh dari mobil jenazah itu. Mobil jenazah bergerak sendiri sedangkan semua membaca alfatihah, di dalam mobil ada seorang wanita yang tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Saat wanita itu naik bersamaan dengan mobil jenazah yang meledak dan selesai lah kasus tentang teror hantu misterius.
«Queen. X : Maaf cerita nya monoton dan mungkin agak gak jelas karena ini cerita nya langsung muncul pas malam banget, jadi intinya hikmah cerita ini se takut apapun kita jangan sampai melebihi rasa takut kita kepada sang pencipta. Atau mungkin ada hikmah lain tulis di kolom komentar untuk kritik dan saran nya yah, Dah readers yang cantik dan ganteng 😘"