Hari yang begitu melelahkan, terus ku lalui tanpa adanya sebuah kata - kata dukungan dari keluarga untuk menjadi penyemangat hariku, hingga.. suatu hari ada tetangga baru yang tepat pas di sebelah kanan rumahku ia tempati, tetangga baruku tersebut terlihat sangat ramah.
tok tok tok~
"assalamualaikum, permisi.." ucapku
"wa'alaikumussalam, iyaa sebentar!!" teriak seseorang dari dalam rumah yang baru beberapa jam ditempati tersebut.
ceklekk~
"ahh, ada keperluan apa ya?" ucap seorang pemuda yang sedikit lebih tinggi dari ku yang membukakan pintu.
"anu a, ini ada sedikit kue dari mama, katanya buat tetangga baru, nih" balasku dengan menyodorkan sebuah teples berukuran sedang berisikan kue cookies.
"aduh, kenapa malah repot - repot ngasih kue sih dek?, btw makasih banyak buat kuenya" ucap pemuda tersebut dengan senyum manisnya dan tak lupa mengambil teples berisikan kue cookies yang ku sodorkan.
"kalau begitu saya pamit ya a, permisi" kataku dengan sedikit membungkuk tak lupa untuk tersenyum dan bergegas meninggalkan rumah tersebut.
• • • •
beberapa hari kemudia setelah kedatangan tetangga baru tersebut, mama beserta tetangga baruku sudah terlihat sangat akrab, entah mengapa aku merasa lebih bersemangat dari pada di hari - hari sebelumnya, aku yang biasanya menamampakkan wajah yang masam, sekarang menjadi lebih cerah dengan membiasakan untuk tersenyum.
syurr~
syurrr~
(anggap saja itu suara air kak:b)
"assalamualaikum, pagii zya!!" sapa seorang pemuda kepadaku dari sebelah pagar, yang tak lain adalah tetangga baruku sendiri.
"ehh? wa'alaikumussalam, pagi juga a hafiz" balasku dengan tersenyum lalu melanjutkan fokus untuk menyiram tanaman di halaman rumah.
yapss, nama pemuda tersebut adalah hafiz, ia memiliki wajah tampan tak lupa dengan peci putih yang selalu di kenakannya, hafiz merupakan seorang pemuda yang selalu memberikan nasehat beserta saran kepadaku selama sehari setelah ia sudah menjadi tetangga baruku.
"fokus banget nyiram bunganya dek? sampai senyum aja nga ngelirik saya, hha" ucap pemuda tersebut dengan nada bercanda.
"aa hafiz bisa aja deh, ini nyiram bunganya juga harus teliti a, dosis airnya juga harus di pantau, nga boleh kebanyakan nga boleh kedikitan juga, nanti bisa mati kan kasian a"
"iya deh iya, oh ya ezya mau nga nemenin saya kewarung? saya belum hafal jalanan disini, nanti biar saya yang minta izin ke mama kamu"
"emm, boleh deh a, tapi saya siram tanamannya dulu ya, masih banyak nih yang belum di siram" balasku.
"iya dek, kalau boleh saya bantuin mau?" tawar aa hafiz.
"nga usah a, aa minta izin dulu aja sama mama saya buat temenin aa kewarung"
"baiklah kalau begitu" balas hafiz sembari berjalan keluar dari halaman rumah dan bergegas kerumahku.
"assalamualaikum" salam a hafiz yang sudah berada di depan pintu rumahku.
"wa'alaikumussalam, aa masuk aja, mama ada di dapur kok lagi masak keyaknya" balasku
"nga usah deh, saya disini aja sekalian liatin kamu nyiram bunga"
"hahaha, hadehh, aa keyak nga ada kerjaan lain aja"
"ini juga kerjaan dek, liatin kamu aja udah termasuk kerjaan, hahaha" balas aa hafiz
"aduhh aa bisa aja deh buat anak orang saltink!!" kataku sedikit ketus
"mulai deh judesnya, nga baik tau dek kalau judes gitu"
"iya deh a iya" balasku pasrah
~beberapa menit kemudian~
aa hafiz dan aku sudah diberi izin oleh mama.
aku dan aa hafiz pun berjalan menyusuri jalan yang sedikit ramai anak - anak kecil yang sedang bermain.
"wahh, disini banyak anak kecil ya dek" ucap a hafiz sedikit kagum.
"disini mah itu - itu aja a, di komplek sebelah lebih ramai lagi" balasku sedikit tersenyum.
aa hafiz yang mendengar perkataan ku tersebut hanya mengangguk.
sesampainya aku dan aa hafiz di warung yang terbilang sedikit jauh dari arah rumah.
"mau beli apa nak?" tanya ibu - ibu penjual di warung itu.
"ini bu, mau beli terigu 5 liter, telur 1 rak, mentega setengah kilo, sama gula 3 liter" ucap a hafiz yang melihat daftar belanjaan yang di berikan bundanya.
"ohh sebentar ya, ibu bungkusin dulu"
"wahh aa mau ada acara keluarga ya?" tanyaku ke a hafiz
"nga juga"
"ohh kirain gitu a, hhe"
"kenapa emangnya hm?" tanya a hafiz sembari tersenyum.
"nga kok a, cuman nanya doang"
~beberapa menit kemudian~
"ini nak, totalnya semua RP. 125.000 ya" kata ibu penjual di warung yang menyodorkan sebuah kardus dan satu kantong berisi belanjaan a hafiz.
aa hafiz pun segera mengambil belanjaannya
"ah iya, ini bu uangnya, kembaliannya buat ibu aja ya" memberikan uang sebesar RP.150.000.
"alhamdulillah, makasih banyak nak, semoga rezeki kamu lancar ya" ucap syukur ibu penjual tersebut.
"iya bu sama - sama, dan terima kasih kembali bu" balas a hafiz tak lupa dengan senyum
aa hafiz dan aku pun bergegas pulang kerumah.
"a, sini biar saya bantu bawa belanjaannya" tawarku ke aa hafiz.
"nga udah dek, ini nga berat kok"
"sini aja separuh belanjaannya a, mau bantu bawain, saya liat juga aa sedikit kesusahan" tawarku lagi
"yasudah kalau begitu, kamu bawa kantong ini aja ya" a hafiz memberikan kantong kresek berisikan terigu dan gula, aku pun dengan segera membantu mengambil kantong kresek tersebut.
diperjalanan kami saat pulang penuh dengan canda, tawa dan saling menceritakan kisah saat masih kecil.
sesampai dirumah a hafiz dan membantu membawa barang belanjaannya, aku pun bergegas untuk pulang kerumah.
• • •
2 tahun kemudian..
aku dan a hafiz menjadi semakin dekat, begitupun dengan mamaku dan bunda a hafiz.
hingga suatu hari dimana semua canda dan tawa ku bersama a Hafiz sepertinya akan berakhir
BRAKKK~
BUGGG~
suara tersebut begitu nyaring di tengah trotoar jalan yang sekarang menjadi padat, suara tersebut berasal dari seorang pemuda yang mengalami kecelakaan tunggal saat mengendarai motor sport, pemuda tersebut adalah tak lain selain aa hafiz..
aa hafiz pun dibantu oleh pengendara yang lewat untuk segera dilarikan kerumah sakit.
keluarga a hafiz beserta aku yang mendengar berita tersebut seakan - akan ditusuk sebuah pedang yang amat - amat tajam.
• • • •
[dirumah sakit]
terlihat lah a hafiz dengan wajah yang sangat pucat dengan di bantu alat bantu pernafasan dan banyak lagi alat yang menempel tubuh pemuda itu, beserta sedikit luka - luka di wajahnya.
aa hafiz saat itu sedang mengalami pendarahan besar, hingga membuatnya koma.
entahlah, perasaanku saat melihat itupun terasa sangat sesak.
hingga beberapa hari kemudia aa hafiz menggerakkan tangannya
"a hafizz.. udah bangun?.." perkataan ku tersebut sontak membuat keluarga besar beserta mamaku yang sedang mengobrol menoleh dan menghampiri aa hafiz.
perlahan aa hafiz membuka matanya seraya tersenyum menatapku.
tangis haru semua orang termasuk aku yang diruangan a hafiz di rawat tersebut mulai pecah.
"ehh kok pada nangis? gimana dong kalau saya nanti udah mau pergi?" ucap a hafiz lemah.
"hiks.. aa hafiz ngomong apa sih!! hiks.. a-aa hafiz jangan ngomong gitu dong.. huwaa" kata ku dengan berlinang air mata.
"utututu, ccantik.. nga boleh nangis, s-sini peluk dulu" ucap a hafis dengan sedikit merentangkan tangannya.
aku pun dengan cepat memeluk a hafiz walaupun pelukan tersebut tidak terlalu erat takutnya a hafiz sesak.
"hikss.. hikss, aa hafiz.. ezya kangen!!, huhuhu" ucapku tanpa sadar
"hahaha, ada yang kangen nih?" ucap a hafiz sembari mengelus pelan kepalaku.
ucapan ku tersebut sedikit mengundang tawa orang - orang yang ada diruang tersebut. setelah berbincang sedikit lama dengan a hafiz, kini a hafiz sedang berbincang - bincang di keluarganya mengenai bagaimana ia bisa kecelakaan.
beberapa menit kemudian..
"uhh~ semuanya.. hafiz mau pamit duluan boleh?.." ucap a hafiz lemah menahan sakit.
"ehh a hafiz ngomong apa sih?!" ucapku dengan mata yang sedikit berkaca - kaca.
a hafiz hanya tersenyum mendengar pertanyaan ku tanpa di balas sama sekali.
"kalian semua jaga diri baik - baik ya.. jaga kesehatan terutama.. makin rajin ibadahnya jangan bolong - bolong ya?" ucap a hafiz lemah
semua orang menggelengkan kepalanya pelan tanda tak terima kalau hafiz akan pergi. lagi - lagi a hafiz hanya tersenyum
"dek ezya sini dulu disamping aa, aa mau ngomong sesuatu yang penting sama ezya sebelum aa pergi"
saat itu aku baru pertama kali melihat aa hafiz menyebut dirinya "aa", setelah a hafiz berkata demikian, aku pun menghampirinya dengan air mata yang tak kuat terbendung.
"hiks.., iya a? aa mau ngomong apa?" balasku
"dek tau nga? aa sebenarnya.."
"sebenarnya aa suka, sayang, dan aa cinta sama kamu kedua setelah bunda" ucapa a hafiz lemah dengan senyum yang tak pudar.
"hikss.. a-aa hafiz serius?! perasaan ezya nga bertepuk sebelah tangan dong, jujur ezya juga demikian sama aa, ezya nyamaaaaann banget sama aa" balasku dengan perasaan senang.
"hahaha, kalau begitu aa izin pamit ya? aa udah capek nih, kamu jaga diri baik - baik, kalau kita nanti ketemu dikehidupan selanjutnya aa bakalan ajak ezya buat ta'arufan.." ucap a hafiz dengan mata yang perlahan tertutup.
tiiiiitt~
"a?!! a hafiz?!! lhoo mata a hafiz kok di tutup sih?! a hafizz bangun dongg!! A HAFIZZZZ, HUWAAA A HAFIZZ, HIKSS.. a hafiz.. a hafiz jangan tinggalin ezya.. a hafiz nga kasihan ninggalin bunda sama keluarga a hafiz yang lainnya?! a hafizz!! hikss.. hikss.."
ya.. a hafiz udah nga ada, a hafiz udah tenang di alam sana..
• • •
"a hafiz kok tega banget sih ninggalin ezya.. hikss" ucapku seraya mengelus nisan yang bertuliskan MUHAMMAD HAFIZ RAMADHAN BINTI SULAIMAN RAJAB.
• selesai •
Sorry kalau alurnya gaje..
Jangan lupa like dan komen ya bestie😾!!