Suasana ibukota pada sore hari ini kurang bersahabat. Hujan turun sangat deras. Banyak orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Seperti halnya diriku. Seharusnya aku sudah berada di dalam transportasi umum menuju rumahku. Namun aku harus terjebak di lobby tempat aku bekerja. Karna saat ini aku tidak membawa payung. Jadi aku memutuskan untuk menunggu di lobby.
Aku Laras Ayu Senja. Orang-orang sering memanggilku Laras. Orang tuaku selalu bilang kalau aku begitu cantik. Hari ini aku keluar kantor lebih telat dari biasanya. Karena aku harus mengerjakan deadline yang sudah diminta oleh bos ku. Di lobby, aku melihat banyak teman kantorku yang beda divisi denganku. Banyak dari mereka yang mengeluh mengapa hujan turun dengan deras secara tiba – tiba.
Sambil menunggu hujan berhenti, entah mengapa aku teringat masa laluku yang begitu menyenangkan dan menyedihkan yang pernah terjadi di hidupku 10 tahun yang lalu. Aku mengingat kenangan tentang dirinya. Dia… sahabat sekaligus cinta pertamaku.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dulu, saat aku masih kecil aku mempunyai sahabat bernama Bayu Angkasa Wiharja. Dia memiliki paras yang tampan. Dia juga orang yang sangat supel, mudah bergaul, humoris, dan juga bisa membuat orang – orang yang berada disekitarnya tertawa. Rumah kami sangat dekat ya bisa dibilang sebelahan alias tetanggaan. Mungkin hanya lima langkah dari rumahku.
Dari kecil, hanya dia yang mau menjadi temank. Anak – anak diperumahan tempat tinggal kami, jarang mau bermain denganku. Kata mereka, aku ini anaknya pendiam dan susah bergaul. Jadi anak – anak tersebut jarang bermain denganku. Sekolah pun aku maunya bersama dengan Bayu. Satu sekolah, satu kelas, hingga satu bangku hanya dengannya. Dari dulu aku tidak mau jauh – jauh darinya.
Hingga akhirnya perasaan itu datang. Perasaan yang membuatku tidak karuan jika berdekatan dengannya. Jantung ku sering berdebar-debar setiap menatapnya. Aku selalu tersipu jika mendapatkan perlakuan yang begitu manis darinya. Aku tidak tahu apakah ini cinta atau hanya rasa sayang sebagai sahabat.
Aku kesel… aku marah jika ada perempuan yang mencoba mendekatinya. Aku mau dia untukku saja tidak boleh ada yang mengambilnya dariku. Sampai ada yang bilang aku ini pacar yang posesif. Padahal aku bukan pacarnya, aku hanya SAHABAT!!!
Namun suatu hari sikap Bayu berubah. Sudah sekitar 3 bulan ia berubah. Dia menjadi pendiam dan juga wajahnya selalu pucat. Aku selalu bertanya kepadanya. Apakah ia baik – baik saja. Ia selalu mengatakan bahwa ia baik – baik saja sambil tersenyum dengan bibir yang pucat. Aku merasa ada yang disembunyikan oleh Bayu dariku.
Setelahnya Bayu juga mulai menjaga jarak dariku. Aku merasa sangat sedih. Aku tidak tahu apakah aku memiliki salah yang tidak sengaja ku buat hingga dia menjauhiku. Aku rindu senyumnya. Aku rindu tawanya. Aku rindu perlakuan manisnya. Aku rindu semua yang ada pada dirinya.
Aku selalu memikirkannya. Memikirkan apa salahku hingga dia menjauhiku. Bahkan sudah 2 minggu ia tidak masuk sekolah. Aku selalu mengunjungi kerumahnya. Namun rumahnya selalu kosong. Aku selalu mencari kabar dan keberadaanya. Entah dimana ia berada.
Hingga saat aku pulang dari sekolah, aku melihat mamaku sedang memeluk mamanya Bayu diruang tengah. Aku tidak tau apa yang membuat mereka menangis begitu sedihnya. Perasaanku tidak enak. Seperti mengatakan terjadi sesuatu yang tidak aku ingin kan. Akhirnya aku memutuskan mendekati mereka.
"Ma.." aku memanggil mamaku
Secara bersamaan mereka menoleh kearah ku seraya melepas pelukan mereka.
"Mama sama tante Tina kenapa nangis? Ada apa?" ujarku dengan rasa penasaran yang sangat mengebu-gebu. Mereka hanya saling melempar pandangan seakan bingung harus menjawab apa.
"Kamu udah pulang , Sayang?" Bukan menjawab pertanyaanku, Tante Tina malah balik bertanya.
"Iya"
"Ma.. Mama belom menjawab pertanyaan dari Laras. Kenapa menangis? Ada apa?" Tanyaku menuntut jawaban dari mama
"hmmm..." Mamaku seakan bingung ingin menjawab pertanyaan dariku. berkali-kali mama selalu melirik kearah Tante Tina seperti meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan dariku.
"Ma.." Ujarku seraya sedikit membentak mamaku. Sebenarnya aku tidak ada maksud untuk meninggikan suaraku. Tapi rasa penasaran yang ada didalam hatiku membuatku harus melakukannya.
Aku bingung sebenarnya apa yang terjadi sehingga membuat Mama dan Tante Tina menangis. Tiba-tiba pikiran ku tertuju satu nama...
"Bayu.." dalam hatiku.
Entah mengapa setelah menyebut nama Bayu dalam hati, perasaanku semakin tidak enak. langsung aku memutuskan untuk bertanya kepada Tante Tina.
"Bayu kemana ya, tan?" aku bertanya dengan nada rendah sambil melihat tante Tina.
Aku melihat Tante Tina seperti terkejut aku menanyakan keberadaan Bayu. Ia seperti bingung ingin harus menjawab apa.
"Tante kenapa diam aja. Aku nanya Bayu kemana. Udah 2 minggu dia enggak masuk. Bahkan aku kerumah pun, Kalian enggak ada. Sebenarnya ada apa. Plis... Tante tolong jawab aku. Bayu kemana?" tanyaku seakan menuntut jawaban dari tante Tina.
Bukannya menjawab pertanyaanku, Tante Tina malah kembali menangis. Aku bingung. Pikiran buruk ku akan keadaan Bayu terus bermunculan di kepala ku. Aku melihat Mamaku sedang menenangkan Tante Tina yang menangis.
"Bayu baik-baik aja kan tante?" Tanyaku sambil menahan tangis. Aku takut hal buruk yang ada di pikiran ku benar terjadi.
"Maafin Bayu ya, Sayang. Maafin Om dan Tante juga. Tante..." Tante Tina menghentikan omongannya. Seperti tidak bisa mengungkapkan apa yang sedang terjadi.
"Plis.. kasih tau aku Bayu kenapa.. hiks...hiks.." Akhirnya pertahananku jebol juga. Aku tidak bisa lagi menahan laju air mataku. Aku menangis begitu sendu. Seakan yang ada didalam pikiranku benar terjadi.
"Maafin Tante karna harus menyembunyikan semuanya dari kamu sayang. Maaf" Ujar Tante Tina sambil menangis.
"Me..Menyembunyikan apa tante.." Tanyaku sambil terisak.
"Menyembunyikan fakta, kalo Bayu..."
"Bayu kenapa"
"Bayu.... Bayu koma, Ras."
Duarrr
Jantungku seperti berhenti berdetak setelah mendengar kabar tersebut. Aku kaget. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bias berkata apa – apa. Aku hanya bisa menangis saat itu. Kemudian aku menanyakan dimana Bayu dirawat. Setelah tante Tina memberikan informasi dimana Bayu dirawat, aku langsung berlari keluar rumah untuk langsung bergegas kerumah sakit. Tanpa mengganti baju sekolahku. Karna yang aku pikirkan hanya Bayu, Bayu dan Bayu.
Sesampainya dirumah sakit, aku menanyakan kepada bagian informasi dimana Bayu dirawat. Petugas tersebut meminta waktu untuk mengecek dimana ruangan Bayu dirawat setelah aku menyebutkan nama panjang Bayu. Setelah menunggu beberapa menit, petugas tersebut memberitahukan bahwa Bayu dirawat di ruang ICU.
Selama perjalanan menuju ruang ICU, aku bertanya – tanya didalam hati. Apakah penyakit Bayu begitu parah hingga harus dirawat diruang ICU? Tanyaku dalam hati. Sesampainya didepan ICU aku melihat ada Papanya Bayu - Om David sedang duduk dikursi ruang tunggu. Kemudian aku menghampirinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Bayu.
Om David hanya diam. Aku mendesak om David untuk segera menjawab pertanyanku. Akhirnya Om David mengatakan kalau Bayu mengidap penyakit yang sangat serius yaitu Kanker Otak Stadium Akhir. Setelah mendengar penyakit yang diderita oleh Bayu aku merasakan tubuhku lemas seketika. Saat itu aku hanya bias menangisi apa yang terjadi oleh Bayu.
Papanya Bayu berusaha menenangkan aku dan meminta aku mendoakan Bayu agar Bayu bisa melewati semua ini.
Apa kalian pernah berada di posisiku sekarang? Apa kalian pernah merasakannya? Mungkin yang pernah merasakannya pasti rasanya sama seperti yang aku rasakan sekarang. Pasti rasanya sakit sekali saat orang yang kita sayangi harus terbaring didalam ruang itu. Aku tidak bisa berbuat apa – apa selain berdoa untuknya dan berusaha untuk menguatkan diriku.
****************
Sudah seminggu aku menunggunya. Sampai saat ini Bayu belum juga bangun. Perkataan dokter beberapa menit yang lalu terngiang – ngiang di pikiranku. Dokter mengatakan jika tidak ada yang bisa dilakukan lagi selain doa dari orang – orang terdekatnya. Aku hanya bias menangis dan berdoa semoga Allah mau mengangkat penyakit yang diderita oleh Bayu.
Aku masuk keruangan ICU menggunakan baju steril yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Aku berjalan perlahan – lahan kearah Bayu terbaring lalu aku mendekatkan bibirku kearah telinganya.
“ Kamu harus kuat. Kamu harus bertahan. Demi orang tua kamu dan aku. Karna kami selalu menunggu kamu disini.” Ucapku terbata – bata karna menahan tangis.
Saat aku ingin berbalik untuk keluar, tiba-tiba tubuh Bayu kejang-kejang. Aku kaget. Aku langsung memencet tombol yang berada di samping tempat tidur sebelah kanan Bayu. Tidak berapa lama dokter datang dan menyuruhku keluar untuk memeriksa Bayu.
Saat diluar aku melihat orang tua Bayu sudah menunggu. Mamanya Bayu langsung menghampiriku dan menanyakan apa yang terjadi didalam. Aku yang tidak bisa berkata apa – apa hanya bisa memeluk mamanya Bayu sambil menangis. Sudah 30 menit dokter memeriksa tapi tidak ada tanda jika dokter keluar. Aku dan orang tua Bayu menunggu dokter diluar ruangan dengan perasaan cemas. Aku menundukkan kepala sambil berdoa semoga tidak terjadi apa – apa dengan Bayu.
Ceklek
Aku mengangkat kepala setelah mendengar suara pintu dibuka. Kami langsung menghampiri dokter dan menanyakan keadaan Bayu. Namun dokter hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata maaf.
Ternyata Bayu tidak bisa bertahan. Ia pun meninggalkan kami semua. Saat itu perasaanku sangat hancur. Aku kehilangan sahabat sekaligus cinta pertamaku. Ternyata selama ini dia juga mencintaiku. Aku mengetahuinya dari buku diary yang ia tulis setelah tau apa penyakitnya. Aku menyesal mengapa tidak mengatakan perasaanku dari dulu kepadanya. Aku juga tidak tahu kalau Bayu mempunyai perasaan itu.
Namun sekarang aku harus melanjutkan hidupku tanpa dirinya. Aku harus bisa melakukan itu. Bersosialisasi dengan orang banyak dan mendapatkan teman. Aku berdoa semoga Bayu tenang didalam sana.