Seorang pria yang masih tampak seperti pemuda berumur belasan tahun, Cecil, terbangun sekali lagi tepat tengah malam di rumah yang diwariskan kepadanya oleh Kakaknya yang telah meninggal dunia. Ada lingkaran hitam besar di bawah matanya, menandakan bahwa dia hampir tidak dapat tidur selama beberapa hari semenjak pindah ke rumah ini.
Krieet!
Krieet!
Krieet!
Suara yang terdengar seperti tangan yang mencakar kaca jendela mewarnai kehidupan lain tepat tengah malam. Kemudian, ada suara langkah kaki yang mengusir suara tangan mencakar tersebut, ini lebih menakutkan sebab Cecil akan melihat bayangan besar di balik jendela kamar tidurnya yang tertutup tirai putih.
Cecil terduduk, dia menatap waspada pada bayangan besar itu yang terus berdiri lama di sana, bulu kuduknya berdiri tegak, siap menjerit.
Dia memahami pola kemunculan bayangan gelap tersebut setelah mengalaminya berhari-hari. Cecil diam-diam melirik jam weker di meja samping tempat tidurnya. Jarum detik tepat di angka 12 dan waktu tepat tengah malam berlalu. Begitupula dengan bayangan itu yang menghilang tanpa jejak.
Cecil menelan ludah, tenggorokannya kering, tetapi dia terlalu takut untuk pergi keluar dan mengambil air minum. Dia tidak punya kebiasaan mengambil air minum dan meletakkannya di kamar tidurnya.
Lama kemudian, rasa takutnya menyusut ketika tak ada apapun lagi yang terjadi selain dua hal tadi. Sebenarnya, suara jari mencakar itu baru tengah malam ini terjadi, sementara suara langkah kaki yang dia anggap sebagai milik bayangan itu sudah ada sejak dia tinggal di rumah ini.
Cecil menghela napas lega, dia kembali berbaring dalam posisi meringkuk, menata selimutnya sehingga hawa dingin tidak membuatnya menggigil. Dia berbaring membelakangi jendela di sisi kanan tempat tidurnya, dia tidak berani menghadap jendela setelah semua yang dia alami.
Mengapa dia tidak pindah ke kamar lain? Itu sia-sia! Cecil tetap terbangun tengah malam dan suara langkah kaki itu seperti hantu yang menerornya sampai dia hampir gila.
Dia tidak punya tempat tinggal lain, setelah dipecat dari tempat kerjanya akibat perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, Cecil tidak bisa tinggal di apartemennya karena uang sewanya habis. Dia lalu teringat pada rumah warisan yang diberikan oleh Kakak laki-lakinya yang telah lama meninggal.
Dia selalu mengabaikan rumah ini dan hanya melakukan perawatan sederhana agar tidak seperti rumah yang benar-benar ditinggalkan dan berjamur.
Namun, dia tidak berani untuk tinggal di rumah ini karena dia takut akan kembali depresi seperti ketika Kakak laki-lakinya meninggal. Saat itu, Cecil sungguh seperti boneka kosong, dia bahkan pernah berpikir untuk mengikuti Kakak laki-lakinya yang sangat dia sayangi. Kakak laki-lakinya adalah segalanya baginya, dia adalah dunianya. Dunia itu sudah pergi.
Apa boleh buat bila dia bahkan tidak dapat makan dengan benar di kota tempatnya bekerja, dia bekerja sambilan, tetapi itu tidak cukup untuk biaya hidupnya dan membayar hutang yang dia miliki. Jadi, Cecil menggigit peluru dengan tinggal di rumah ini. Bagaimanapun keadaannya, dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu sampai menemukan pekerjaan tetap dengan gaji yang bagus.
Letak rumah ini ada di pinggiran kota, jadi lalu lintas jarang sehingga suara-suara yang lebih sering terdengar adalah suara binatang baik siang maupun malam. Akan tetapi, kasus malam hari, tepatnya, tengah malam, berbeda.
Cecil berhenti memikirkan kondisi tragisnya dan menutup matanya, menghitung domba di benaknya agar bisa melawan insomnianya setelah melihat dan mendengar hal-hal menakutkan.
Entah mengapa, Cecil langsung mengantuk dengan mudah, dia terlelap ke alam mimpi tanpa menyadari bahwa ada bayangan besar yang tengah memeluknya dari belakang.
***
Warna keemasan menghiasi kamar tidur Cecil, cahaya yang cerah menyebabkan kesadarannya kembali dari tidur tanpa mimpi. Cecil tampak seperti pemuda imut dengan sweter putih, dia lupa mengganti ke baju tidur karena kelelahan sehabis mengajukan lamaran pekerjaan ke banyak tempat.
Alasannya adalah tampangnya tampak terlalu muda untuk seumurannya, itu menyulitkan Cecil yang ingin dianggap sebagai pria dewasa. Tentu saja, dia tidak menyerah, dia akan terus berusaha sehingga dia bisa cepat meninggalkan rumah berhantu ini.
Cecil menguap seperti kucing, tenggorokannya sakit karena efek ketakutannya semalam. Kepalanya juga berdenyut-denyut, Cecil mengerutkan keningnya sambil beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dapur.
Rumah ini sebenarnya cukup besar dan mewah seandainya saja tidak memiliki nuansa suram semenjak kematian Kakak laki-lakinya, Louise.
Menatap kosong ke kamar di depannya ketika dia keluar dari kamarnya sendiri, Cecil menggigit bibirnya. Itu adalah kamar Louise, masih ada barang-barangnya di sana, tetapi Cecil tidak pernah berani masuk atau dia mungkin akan menangis karena merindukannya.
Di dapur, Cecil meminum dua gelas air mineral sampai tenggorokannya terasa lebih baik. Tatapannya goyah sesaat disebabkan oleh halusinasi bahwa Louise sedang memasak dan menyuruhnya untuk minum air lebih banyak.
"Kakak ...."
Cecil merasakan matanya berair ketika dia berkedip dan halusinasi itu lenyap. Kehilangannya terlalu besar untuk ditanggung, Cecil selalu bergantung padanya untuk setiap hal kecil sekalipun. Sekarang, dia hidup sendirian, dia hampir tidak dapat bertahan.
Sesudah menenangkan diri, Cecil mengambil bahan-bahan di lemari es dan memasak sarapan sederhana. Louise mengajarinya memasak agar dia tidak terlalu bergantung padanya dan menunggunya pulang.
Cecil tidak tahu apa pekerjaan Louise, yang pasti Louise cukup kaya untuk memiliki rumah ini dan membiayainya dan merawatnya sejak kecil. Umur mereka terpaut 10 tahun, ketika Cecil berusia 2 tahun, orang tua mereka telah meninggal dan Louise mengambil alih bisnis kecil orang tua mereka untuk bertahan hidup sambil merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Itu sampai bisnis kecil tutup karena Louise melakukan pekerjaan lainnya yang tak diketahui Cecil. Semenjak itu, sikap Louise menjadi agak dingin padanya, tetapi pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Louise tiba-tiba memperlakukannya dengan sangat baik sama seperti ketika bisnis kecil yang diambil alih olehnya masih ada.
Mereka tidak punya kerabat lain. Jika ada, Louise mungkin menitipkan Cecil, sementara dia mengambil alih bisnis orang tua mereka. Apakah itu kutukan atau sesuatu, kerabat mereka juga meninggal lebih awal, tepatnya sebelum orang tua mereka meninggal.
Di usia yang begitu muda, dipaksa menjadi dewasa, sama seperti Cecil yang bergantung padanya, Louise sendiri juga sangat bergantung pada Cecil untuk meluapkan kasih sayangnya, mereka hanya memiliki satu sama lain.
Kenangan masa lalu berkelebat sampai Cecil menyelesaikan masakannya dan membawanya ke meja makan, kemudian memakannya meskipun rasanya tidak bisa dibilang enak, tetapi cukup untuk tidak membuatnya sakit perut.
Dia akan mengajukan lamaran pekerjaan lagi, uang simpanan Louise sama sekali tak berani dia sentuh sedikit pun. Dengan keras kepala, Cecil berusaha hidup dengan usahanya sendiri untuk membuktikan bahwa dia baik-baik saja tanpanya.
***
"Maaf, kau terlalu muda untuk pekerjaan ini."
"Tapi, umur saya 25 tahun."
"Tetap saja, kau tampak seperti siswa sekolah menengah, akan menjadi pelanggaran jika aku mempekerjakanmu."
Cecil ditolak dengan alasan yang selalu sama. Apakah dunia sudah gila atau dia yang gila? Cecil putus asa.
***
Di kamarnya, Cecil menatap penampilannya yang terlalu halus di cermin seluruh tubuh. Dia mengakuinya, dia seperti siswa sekolah menengah. Rambut hitam dengan poni panjang, meskipun dia memotong poninya, itu sama saja, lalu mata coklat kemerahan berbentuk bunga persik.
Matanya meredup di tengah renungannya pada masa depannya yang tidak pasti. Dia tidak punya keinginan lagi sekarang, dia merasa kosong. Tekadnya untuk bisa hidup sendiri adalah obsesinya pada Louise, setidaknya bila roh Louise melihatnya baik-baik saja, Cecil akan bangga dengan itu dan mengharapkan pujian.
Sayangnya, segalanya tidak berjalan sesuai keinginannya. Dia tiba-tiba memutuskan sesuatu.
***
Cecil tidur lebih awal setelah minum segelas susu favoritnya untuk meredakan ketegangan. Dia berencana melakukan sesuatu nanti. Dia curiga bahwa kemunculan suara langkah kaki dan bayangan itu tidak sederhana, dia tidak bisa terus mengabaikannya dan meringkuk ketakutan. Jauh di lubuk hatinya, Cecil berharap bahwa mungkin saja itu adalah Louise. Dia tahu pikirannya tidak masuk akal, tetapi siapa yang tahu apakah itu benar atau tidak? Dia akan mengungkapkannya.
Kemunculan itu hanya berlangsung semenit tepat saat tengah malam, jadi Cecil harus menangkap bayangan itu dalam waktu satu menit yang amat singkat.
***
Braak!
Braaak!
Braak!
Cecil tersentak kaget dari tidurnya, dia tercengang mendapati jendelanya terbuka. Itu ditendang angin kencang dan terus menabrak kusen sehingga menimbulkan suara memekakkan telinga. Hampir tengah malam, lima menit lagi, tetapi Cecil terganggu oleh jendelanya yang terbuka sendiri.
Dia merinding. Wajahnya memucat. Nyalinya untuk menangkap bayangan itu langsung ciut. Dengan gemetaran, Cecil beranjak menuju jendela untuk menutupnya. Tangan dan kakinya praktis seperti jeli, siap meleleh dan pingsan. Dia benar-benar penakut.
Namun, sebelum dia sempat menarik jendela agar tertutup, dia membeku karena mendengar suara langkah kaki yang akrab itu. Berbalik menatap jam weker, ini masih 3 menit sebelum tengah malam!
Horror memenuhi matanya, dia berjalan mundur, tidak jadi menutup jendela. Pada saat itu, dia melihat bayangan itu tepat di luar jendelanya dengan tirai jendela yang tersibak. Lampu kamarnya membuatnya dapat melihat dengan jelas bayangan itu.
-"Jangan lihat! Jangan lihat aku! Jangan lihat aku!"
Geraman rendah datang dari bayangan itu, Cecil jatuh terduduk, tetapi masih tetap menatap bayangan yang tak menampakkan fitur wajah.
-"Cecil, jangan lihat aku! Tidurlah!"
Suara rendah itu berubah menjadi suara yang akrab bagi Cecil. Dia membelalakkan matanya.
"Kakak?"
Panggilan tersebut mematahkan ketenangan yang menakutkan, menambahkan teror dari makhluk-makhluk aneh yang menyusup.
Dengan kengerian yang melebihi batas, Cecil menyaksikan makhluk-makhluk mengerikan hendak masuk melalui jendelanya, tetapi dihadang oleh bayangan itu.
-"Cecil, tidurlah! Tidurlah seperti biasa! Ini adalah mimpi!"
Air mata merembes keluar. Tak ada yang tahu lebih baik darinya bahwa ini bukan mimpi. Dia mengangkat tubuhnya yang berat menuju jendela.
"Kakak ...."
"Kakak, aku tidak bisa hidup sendiri ...."
"Kakak, aku merindukanmu ...."
Sosoknya yang kuyu terlihat oleh bayangan itu. Makhluk-makhluk aneh tiba-tiba berhenti berupaya masuk dan menghilang secepat datangnya.
"Keluarga kita dikutuk untuk menjadi Roh Jahat, Cecil. Hanya satu saja yang bisa bertahan, aku berharap kau bisa melakukannya, tetapi tampaknya aku terlalu berlebihan. Kau tidak bisa hidup sendiri. Kemarilah! Mari pergi bersama. Aku juga merindukanmu," lirih bayangan itu yang akhirnya menampakkan penampilannya.
Pria dewasa dengan rambut hitam dan mata biru gelap, dia mengenakan setelan hitam. Ekspresinya yang tak berdaya membuat Cecil berhenti pada langkahnya.
"Kakak, kenapa kau memiliki ekspresi seperti itu?"
Louise tersenyum aneh.
"Kau akan mati jika ikut denganku. Aku tidak ingin itu terjadi, tetapi aku juga tidak bisa terus ada di sisimu seperti sekarang selama kau masih hidup. Maaf, Cecil, sepertinya aku sangat egois."
Cecil memejamkan matanya sejenak. Kemudian z membalas sambil melanjutkan langkahnya ke arah jendela, "Kalau begitu, aku ingin ikut denganmu."
Louise masuk dari luar jendela dan menarik Cecil bersamanya. Mereka ada untuk satu sama lain, sama seperti itu, sekarang mereka tidak akan berpisah lagi.
Louise memeluk adik kecilnya tersayang, dia beberapa kali memeluknya ketika Cecil tertidur, takut Cecil akan ketakutan olehnya, jadi dia selalu berhati-hati. Dia melindungi Cecil dari semua Roh Jahat lainnya yang mengincarnya.
Sekarang, itu tidak perlu lagi, dia bisa bersamanya tanpa harus bersembunyi.
"Jangan lihat aku jika kau ingin hidup. Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk memutuskan," ujar Louise dengan tatapan berharap.
Dia tidak ingin memaksa adik kecilnya. Namun, dia mungkin sakit hati jika adik kecilnya menolak.
Cecil menutup matanya dengan sengaja, itu menyebabkan Louise melepaskan pelukannya dan membeku.
Ketika dia berpikir bahwa itu keputusan Cecil, yang terakhir tiba-tiba membuka matanya dan berseru, "Kakak, ayo pergi bersama!"
"Ya."
***
Di rumah terpencil itu, di kamar tidur yang sehari sebelumnya dihuni, sekarang telah dingin dan sepi tanpa jejak.
***
Terimakasih sudah membaca~
Like jika suka^^